Selesa Rindu

Selesa Rindu
Luka dan Cinta


__ADS_3

daun itu jatuh ke pangkuan bumi


terhempas dan pasrah dalam kelimbungan


tak dapat kumengerti,


karena ia masih sehangat mentari


-Wisnu-


Bandung, Teh Rumi-Kang Indra


Teh Rumi berjalan dengan tergesa. Ia hampir setengah mati menahan segala kekhawatirannya. “Udah mah, jangan panik begitu!”, pinta Kang Indra saat Teh Rumi tiba di jok samping supir yang tak lain adalah suaminya. “gurunya Adhis kan lagi bawa Adhis ke klinik. Adhis mah anaknya jagoan, mamah kan udah sering tuh lihat Adhis jatuh”.


“iyah, tapi kan enggak pernah sampe berdarah dibagian kepalanya gitu. Sampai harus dijahit segala. Kenapa atuh ih eta anak teh? (kenapa itu anak?)”. Kang Indra hanya memilih diam. Adhis memang unik, iya tentu saja berbeda dengan anaknya Risyad. Ia tak pernah mengalami ruang tamunya hancur dan meja kerjanya babak belur gegara amukan Risyad. Menangis dan merajuknya Risyad semasa kecil dirasa sangatlah wajar. Tapi Adhis?, ia harus sedikit bersabar dalam mengasuh anak yang satu ini, anak yang telah ia anggap anaknya sendiri dengan cinta dan kasih sayang.


Memiliki Adhis sama seperti memiliki anak bungsu yang sangat ia idam-idamkan dari dulu, sejak Risyad berusia 5 tahun. Bahkan Teh Rumi sengaja membuka alat kontrasepsinya untuk segera meminta putra ke-2 pada Sang Pencipta tapi nyatanya nihil. Ya, Allah memang memiliki sejuta cara untuk mewujudkan segala doa yang kita damba, hingga Adhis hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.


Klinik Cipta menjadi tujuan mobil yang Teh Rumi tunggangi.


“katanya masih di ruang tindakan pah”.


“iyah kita langsung ke sana aja”.


Setibanya di klinik Teh Rumi disambut oleh bunda Fitri. Sang guru mengantarkan wali muridnya itu ke ruangan tindakan yang menangani Adhis. Dilihatnya Adhis tengah berada dipangkuan Wita. Nampak darah merah melekat pada kerudung putih yang digunakan Wita, semakin kontras dan terlihat nyata.


“Adhiiis, sayaaang ini mamah” Teh Rumi tak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiannya. Bahkan tanpa dapat ia kendalikan air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Adhis terus mengeratkan pelukannya pada Wita. Nampak dari penglihatannya wajah Adhis begitu sembab, matanya bengkak, hidungnya merah. Dapat ia pastikan, bahwa Adhis telah lama menangis.

__ADS_1


Pasti rasanya sakit sampai menangis begitu.


“mamaaah” jawab Adis tanpa melepaskan pelukannya pada Wita.


“mamah udah datang tuh, Adhis mau dipeluk mamah?” tanya Wita. Adis hanya menggelengkan kepala sambil membuka suara tangisan kembali.


“ya udah, gak apa-apa mamah lihatin Adhis aja di sini”, jawab Teh Rumi.


“katanya harus dijahit mah” bisik Fitri pada Teh Rumi. Kening mulus keponakan kecilnya itu memang nampak robek dan terus mengeluarkan darah. Teh Rumi menghela nafas. Ia bahkan mengusap wajahnya dengan kasar. Diliriknya sang suami yang sudah ada tepat disamping kirinya.


“papa lagi apa ih?”.


“buat laporan fisik ke komandan” jawab Kang Indra. Bisa-bisanya Kang Indra bercanda saat situasi seperti ini.


“udaah, jangan panik. Adhis gak akan apa-apa. Dia anak yang kuat” jawab Kang Indra.


“dokternya mana?” tanya Teh Rumi pada Fitri mengalihkan suasana jantungnya yang mulai menderu tak karuan.


“udah mamah tunggu di luar aja” pinta Kang Indra pada sang istri. Ia tahu kalau sang istri paling tak sanggup jika harus melihat jarum medis, apalagi Adhis harus dijahit. Woow bisa-bisa pingsan. Dan pasien akan nambah satu, pikir kang Indra.


Teh Rumi menganggukan kepalanya.


“bunda Fitri saya tunggu di luar ya, biar papanya Adhis yang nemenin”.


“baik mah”.


Pontianak, Wisnu

__ADS_1


“hahahaha, bapak Atmaja ternyata paling pintar dalam hal ini” suara tawa Wisnu terdengar menggema diantara meja-meja dan kursi-kursi kayu jati yang menambah suasana cerah siang itu. Sebuah café yang menawarkan keindahan alami Kalimantan menjadi tempat yang istimewa bagi Wisnu dan Andra. Projectnya kali ini memang selalui menjadi suntikan vitamin baginya. Dengannya, ia akan terus menyibukan diri untuk menggapai titik kelelahan. Meski lelah saja baginya tak akan terasa cukup. Untuk membuang segala kebencian dan amarah yang telah menghitamkan warna kertas kehidupannya.


“Mewujudkan kota perdagangan dan jasa terdepan di Kalimantan yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Tentu harus segera menjadi kenyataan”, jawab Atmaja sambil menyantap santapan siang hari di café itu. “saya sangat yakin anda dapat mewujudkan impian saya pak Wisnu”, imbuhnya lagi.


Rencana pola ruang kawasan permukiman Pontianak ini diklasifikasikan dengan perumahan kepadatan tinggi, kepadatan sedang dan kepadatan rendah. Perumahan dengan kepadatan tinggi berbentuk rumah susun, flat atau apartemen. Perumahan kepadatan tinggi rata-rata kapling bangunan direncanakan 150 m2, yaitu di wilayah permukiman di pusat kota dan permukiman tepian sungai kapuas. Berada di pusat kota dan permukiman tepian Sungai Kapuas. Perumahan kepadatan sedang rata-rata kapling bangunan direncanakan 300 m2, yaitu di wilayah hampir merata di seluruh bagian kota. Kepadatan permukiman rendah diarahkan di pinggiran kota atau di pusat kota dengan konsep Townhouse.


Untuk pengembangan baru di wilayah Pontianak Barat dan Pontianak Utara akan dilakukan new development yaitu pembangunan baru lengkap dengan ketersediaan sarana dan prasarananya dengan konsep pengembangan kota baru yang memiliki daya tarik tersendiri bagi perkembangan wilayah. Pengembangan kota baru di Pontianak Barat ini dapat dengan konsep pembangunan kawasan siap bangun (Kasiba, minimal 3.000 unit) dan lingkungan siap bangun (Lisiba) yang berdiri sendiri, minimal 1.000 unit.


“saya selalu tertarik dengan hal-hal yang menantang. Keindahan Kalimantan menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Kalimantan dengan segala keunikan alam, budaya, dan sejarah tentunya akan terus mendorong saya untuk melakukan kerjasama ini dengan berdasar pada hubungan timbal balik antara kesehatan dan kualitas lingkungan dengan kesehatan dan kualitas masyarakat. Tentu tata ruang yang dimodifikasi dengan lanskap akan menjadi daya tawar tersendiri bagi Kalimantan”. Wisnu benar-benar memberikan respon positif pada lawan bicaranya ini.


Ia perlu memperhitungkan dua hal penting, yaitu geologi dan iklim. Namun, orang-orang yang dimiliki perusahaan Wisnu akan sangat dapat ia andalkan, ia dapat mewujudkan elemen pembentuk lanskap lainnya yang perlu diperhatikan di kota ini melalui bantuan rekan-rekan kerjanya tentunya. Vegetasi, tanah, topografi, hidrologi, dan tentunya manusia. Indonesia yang memiliki potensi seperti keragaman budaya dan megabiodiversitas sekaligus menjadi tantangan bagi seorang arsitek seperti dirinya.


Perbincangan ringan seusai kontrak kerjasmanya selesai itu terus menghangat, hingga tiba suara notifikasi handphone Wisnu berbunyi memecah kehangatan siang itu.


Ting..


KANG INDRA


Wis Adhis lagi di Klinik


Kalau sudah santai Akang Video Call ya


“mohon maaf, saya permisi sebentar”. Wisnu membungkukkan badannya pada sang klien dan memberi isyarat pada Andra agar dapat menemani kliennya.


Tuuut.. tuuut.. tuuut.


“assalamu’alaikum, Kang Indra Adhis kenapa?”

__ADS_1


Tanya Wisnu saat panggilan videonya tersambung pada kakak iparnya itu.


“ssst…” jawab kang Indra sambil menempelkan telunjuk pada bibirnya. Segera layar kamera handphone kakak iparnya itu mengarah pada anak gadis kecil yang tengah berada di pangkuan seorang wanita yang sangat ia kenali, menemai luka dengan cinta, Wita!.


__ADS_2