Selesa Rindu

Selesa Rindu
Tautan Cinta


__ADS_3

Kupilih namamu sejak dulu


sejak rindu tak lagi mewaraskan diriku


beranjak pada sejarah waktu


tapi goresan itu tetap namamu


kau tahu?


temali itu adalah kamu


-Wisnu-


Jakarta, Wisnu-Wita


Wisnu Pov


"Dia masih memiliki ayah. Meski aku tak sebaik ayah-ayah hebat di dunia ini, Adhis akan aku jaga dengan caraku sendiri, dengan cinta yang aku miliki untuknya".


Aku jawab dengan lantang permintaan wanita yang ada di hadapanku. Ingin sekali aku menjelaskannya sejak dulu. Ia tak memiliki hak apapun atas putriku. Bukan karena dia adalah kakak iparku ia bisa dengan seenaknya meminta Adhisku seperti anak kucing yang diterlantarkan induknya.


"Kalau begitu jadikan aku ibunya. Aku juga bisa merawatnya dengan baik dengan dirimu. Ia tak hanya membutuhkan ayah, ia juga membutuhkan ibu".


Gila! apa yang ada dalam pikirannya saat ini? aku sontak tertawa karena perutku tiba-tiba ingin memuntahkan rasa mual. Nada seriusnya benar-benar membuatku merinding. Geli sekaligus membungkam rasa ibaku untuknya.


"Hahahaha.. aku orang yang sulit digapai Wulan", kujawab sama seperti tujuh tahun lalu. Saat ia dengan entengnya menawarkan diri menjadi ibu bagi Adhis dan istri untukku.


"Terlebih sekarang ini, jiwa dan ragaku tergembok kuat dalam cinta seseorang". Kulontarkan kata-kata yang dapat menohok kegilaannya. Aku tak peduli lagi jika ia adalah kakak iparku, tapi ulahnya tak dapat lagi aku tolelir hari ini.


"Aku akan menjadi kunci untuk membukanya", jawabnya tak menyerah. Suara lirihnya bergetar dengan nada gemetar penuh harap. Kakak iparku yang sesungguhnya adalah kakak tiri Restari itu lalu tersenyum manis. Namun entah mengapa terasa ngeri di mataku.


"Maaf Wulan", kutatap wajahnya yang kini nampak memohon. Jawaban pelanku sepertinya membuat tubuhnya merinding. Takut dan kalut dalam waktu yang bersamaan.


"Kuncinya sudah ada di tangan orang lain". Kusandarkan tubuhku pada sofa dan bersedekap. Senyum sendiri sambil membayangkan Wita dengan rambut panjang tergerai dan senyum manis terurai. Aku bisa apa tanpa Witaku? Hidupku terlalu sempurna untuk aku bagikan ceritanya kepada dunia.


Lalu.. getaran ponsel yang menimbulkan suara tegas di atas meja tamu kantorku membuatku semakin ingin segera pulang.


"Assalamu'alaikum.." kujawab panggilan video di ponselku sesaat setelah berucap pada tamu di hadapanku sebuah kalimat 'maaf saya terima telpon dulu ya?!, Wulan'.


"Wa'alaikumussalam.. Mas masih sibuk? Wita tadi chat Mas Wisnu tapi gak ada balasan. Terus nanya ke Andra katanya divideo call aja mas Wisnunya".


"Iya.. maaf sayang, lagi ada tamu".


"Owh.. Wita tutup aja dulu? nanti disambung lagi. Takutnya ganggu".


"Gak usah, bukan soal kerja kok, saudara lagi silaturahmi aja ke sini, kangen Adhis katanya".


"Waah.. Adhisnya lagi bobo mas, gimana?"

__ADS_1


"Ya gak apa-apa, gak usah dibangunin kasihan!"


"Owh.. beneran gak usah dibangunin?"


"Iya.. gak usah sayaang!"


"...."


"Mas pulang jam berapa? makan malam di rumah? Wita masakin".


"Sekarang juga pulang. Kerjaan udah kelar kok".


"..."


"Ya sudah, mau Wita masakin apa?"


"Apa aja, pasti aku makan".


"Oke.. kalau gitu hati-hati di jalan".


"Baik sayang, makasih".


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Telepon pertama saat aku bekerja yang aku dapatkan dari wanita yang berstatus istri . Membuat jantungku berdetak tak karuan. Mau bagaimana lagi, semenjak menikah Wita tak pernah lebih dulu menghubungiku. Membuatku mengira jika cintaku bertepuk sebelah tangan.


"Mau bertemu Adhis?" tanyaku pada Wulan. "Kata bundanya barusan Adhis lagi tidur, biasanya gak lama kok tidurnya". Aku tak sampai hati untuk membentangkan jarak kasih sayang antara kakak Restari ini dengan keponakannya. Tawaranku barusan semoga bisa sedikit mengobati tolakan 'lamarannya' padaku.


Wulan menatapku tajam, penuh amarah dan benci. Sepertinya ayah mertuaku yang ia sebut papi itu belum sempat memberitahukan bahwa aku telah menikah dengan cinta pertamaku. Tapi aku tak heran, bisa aku bayangkan bagaimana hubungan satu sama lain keluarga Restari. Jauh dari kata harmonis meski kesuksesan karier mereka dapatkan.


"Tidak usah!", jawabnya tegas. "Kamu harusnya lebih selektif mencari orang yang bisa merawat Adhis. Harus pilih-pilih sebelum memutuskan. Gak bisa dibayangkan gimana Adhis di tangan orang yang sembarangan. Dia anak adikku Wisnu, aku gak mau dia salah asuh".


Aku tersenyum dan mengambil beberapa buku tebal diatas meja hias samping sofa, tepat di sebelah kananku. Kusorongkan lima buku bercover warna pastel pada wanita yang baru saja meragukan kualitas istriku.


"Perkenalkan! Dewita Maharani, istriku, bunda dari anakku, cinta pertamaku!!" aku tersenyum dan menegakkan tubuhku kembali. Menatap Wulan yang sedikit terkejut melihat beberapa buku yang ditulis atas nama Dewita Maharani. Buku yang banyak mengisahkan tentang anak, cinta dan pendidikan bagi mereka.


"Maaf aku belum sempat memperkenalkannya sama kamu. Tapi aku sudah bilang sama istriku, setelah pesta resepsi nanti akan aku ajak dia menemui keluarga ayah mertuaku, keluarga Restari", jawabanku telak membuat mata tajam yang sejak tadi menghakimiku tertunduk dan sayu seketika.


****


Aku berada di depan setir mobilku yang masih terparkir di area basement kantor. Sejenak menghela nafas. Merenungkan perjalanan hidupku yang kini tengah berkidung mesra bersama sang cinta. Sedemikiankah perjalanan cintaku menemukan kepingan hati yang seharusnya? Cintaku pada Wita terlalu mengakar, menjalar setiap dasar hati yang kumiliki.


Aku kembali merogoh ponselku. Kuketik layar ponselku yang menampilkan ruang chat bernama 'istri'.


cantik.. lagi apa?


aku sebentar lagi pulang

__ADS_1


iya mas.


lagi di kamar.


iya Wita tunggu mas. Hati-hati*!


Aku belum mau menyelesaikan obrolanku dengannya. Kuketik kembali pesanku pada istriku itu.


Adhis sudah bangun?


Sudah mas.. barusan.


Kamu.. ngapain aja seharian ini?


Aku nganter Adhis sekolah.


Kenalan sama guru dan mamah-mamahnya temen Adhis.


Terus sebelum pulang jalan-jalan dulu sama Adhis


Iih.. kok gak ngajakin aku sih? kamu curang ah!


Pak Direktur kan sibuk..


Hahahaha... jalan-jalan kemana?


B**eli ikan koi. Adhis mau rawat ikan katanya.


Aku gemas sendiri membayangkan wanita pujaanku. Seperti pertama kali merasakan jatuh cinta, dadaku berdetak rindu untuknya. Aku lalu menyentuh tombol video call untuk menghubunginya. Sebab kini diriku tak mampu menahan buncahan rasa ini sendirian.


"Halo mas? assalamu'alaikum".


"Ada apa?"


Kutatap Wita yang kini duduk di atas kursi rias kamar milikku dengan wajah segar dan rambut tergerai. "Kamu.. cantik, mau kemana?" tanyaku parau dan gelisah sendiri melihat betapa cantiknya wanita yang kutatap melalui layar ponselku itu.


"Gak kemana-mana dong mas, habis masak barusan. Teruuus..." ia menjeda ragu.


"Terus apa?" tanyaku.


"Terus ya.. mau menyambut suami pulang kerja".


Ah Wita! bagaimana aku tak jatuh hati? jika setiap yang kamu miliki terlalu menggoda bagi gelenyar kehidupanku.


"Kamu tahu Wita? Jangan pernah berhenti mencintaiku! Jangan pernah lagi lenyap dalam hidupku. Aku.. kacau dibuatnya" ucapku dengan dada sedikit sesak saat mengingat betapa hacurnya hidupku kehilangan Wita di masa lalu.


Kulihat matanya berkaca, tersenyum indah hingga menyentuh sudut hatiku. "Cepet pulang mas!... Wita pengen peluk!!"


Aaah Wita, jatuh cintalah terus seperti ini padaku. Aku akan serahkan seluruh milikku untuk membahagiakanmu.

__ADS_1


"Tunggu aku sayang.. aku pulang!" kini.. cintaku telah bertaut mesra dengan cintanya yang lama tersimpan untukku. Aku.. bahagia karenanya.


__ADS_2