Selesa Rindu

Selesa Rindu
Cemburu


__ADS_3

aku adalah sembilu masa lalu


terkerat pada batang janjimu


lalu beranjak menoleh kedirian


aku.. harus berlalu


karena terlalu menginginkanmu


-Wita-


Jakarta, Wisnu-Wita


"Suka?" tanya Wisnu pada Wita.


Sesaat yang lalu, Wita yang nampak merintih lirih dalam takut dan kalut telah ia coba tenangkan. "Bisa jalan sendiri? atau aku gendong?", tanya Wisnu pada Wita yang secepat kilat mendapat jawaban gelengan kepala dari sang Wita.


"Hahahaha... makin kagum aja nih sama bu gurunya Adhis", goda Wisnu.


Wisnu menemani Wita melangkah perlahan melewati kerumunan orang dari bahu jalan yang terserak pecahan kaca dan darah. "Jangan dilihat, fokus ke depan!", pinta Wisnu ketika Wita menjeda langkahnya.


Sesampainya di mobil Wisnu yang terparkir jauh dari tempat Witanya terjongkok, Wisnu kini menatap Wita yang menutup mata bersandar pada sandaran kursi mobilnya. Dilihatnya dengan lambat dan dalam, Witanya merapuh melabuhkan hatinya sejak ia -Wisnu- menancapkan jangkar hati pada temali janji yang sempat ia ingkari... sendiri!


"Jangan lama-lama lihatinnya!"


"Hahahahah, katauan nih..", jawab Wisnu. Tak dapat dipungkiri, amarahnya tadi siang menyimpan banyak rindu untuk wanita ini. Ketakberdayaan dirinya telah mencoreng kesetiaan juang untuk memenangkan hati wanita yang ia kagumi. "Makan dulu ya?", lanjut Wisnu saat ditatapnya Wita nampak lemah dalam diam dan menyimpan ribuan rahasia hidup. Bibir ranumnya terlihat kering, kantung matanya menghitam dan kulit wajahnya masih nampak berkeringat.


"Gak usah.. saya pulang saja!", jawab Wita pelan.


"Bukan begitu Wit, aku laper banget.. belum sempet makan langsung ngacir ke sini. Sebelum anter kamu pulang temenin aku makan dulu ya!" bujuk Wisnu pada sang Wita.


Wita membuka matanya, menegakkan posisi duduknya lalu membenarkan jilbabnya yang sedari tadi terasa berantakan. "Iyah.. boleh..".


"Good..", senyum Wisnu merekah lalu memasang sabuk pengaman dan mulai menyalakan mobilnya.


Perjalanan menuju tempat Wisnu untuk makan malam pertamanya dengan Wita terasa sangat singkat. Sebab sekarang ia tengah berada di warung sate pinggiran jalan kota Jakarta.


"Udah baikan?", tanya Wisnu pada Wita memastikan saat mobilnya terparkir di bahu jalan.


"Makan di mobil aja? atau di sana?", Wisnu mengarahkan matanya pada warung sate yang kini tengah dipenuhi para pangunjung.

__ADS_1


"Disana saja..", jawab Wita.


"Oke.. tunggu sebentar!", ucap Wisnu sambil membuka pintu mobil dan melenggang keluar. Dibukanya pintu penumpang Wita untuk memastikan sang wanita tercinta baik-baik saja.


"Terima kasih.. ", jawab Wita tersenyum.


"sama-samaa..", ucap Wisnu bahagia.


"Ini tempat favorit aku semasa kuliah dulu", ucap Wisnu sambil menunggu pesanannya tiba. "Aku tuh lelaki pas-pasan yang paling mewah cuma bisa makan di sini", lanjut Wisnu yang mengundang senyum Wita.


Wisnu tak bisa menghentikan senyumnya saat sang Wita memperlihatkan perilaku indah itu. "Terus lah tersenyum seperti ini Wita, jangan lagi menangis seperti tadi!"


Kini Wita menatap erat sang Wisnu. Menilik setiap sudut wajahnya dan berucap, "Maafkan Wita, mas Wisnu...!"


Oh Wita.. tolonglah, ucapan dan tatapanmu telah menggoreskan rasa sesal dan harap yang mendalam untukmu.


"Aku yang harus meminta maaf Wita, akulah yang telah membuat luka itu. aku-lah yang perlu mendapatkan maaf darimu!"


Ya.. tentu, jika Wita harus mencari dalang dari semua yang terjadi dalam luka hidupnya, maka bagi Wisnu, Wisnulah yang tepat mendapatkan tudingan itu.


"Wita yang salah, seharusnya Wita tak memenuhi keinginan Tara"


"Aku memang marah saat itu Wita, merasakan bahwa separuh nyawaku hilang kau renggut dari segala kepercayaanku. Tanpa aku sadari, kaulah wanita yang telah menyimpan cintaku pada tempat yang begitu mahal untuk aku gapai kembali saat ini".


"Kini.. izinkan aku menebus semuanya Wita. Kembalilah padaku yang tak pernah sempurna ini. Kembalilah padaku yang pernah melukai hatimu ini. Kembalilah padaku yang telah menjadi duda ini. Kembalilah padaku Wita!.."


"Percayalah.. aku tak sepercaya diri dulu untuk mendapatkan cintamu, Wita. Tapi aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu!"


Kini.. Wita terdiam menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia tak memiliki keberanian untuk meyakini bahwa bahagia akan menjadi kata finish dalam tujuan hidupnya.


Saat Wita berdiam mencoba mencerna segala yang terjadi hari ini, aroma sate pesanan mereka mulai terasa tajam dalam penciuman.


"Bumbunya pisah kan seperti biasa?", tanya pemilik warung sate seraya menyuguhkan sate yang baru saja selesai dibakar.


"Wish.. abang belum lupa sama serelaku rupanya", jawab Wisnu sambil menyimpan piring kosong untuk dirinya dan Wita.


"abang mah kagak bakalan lupa, kamu yang lupa kayanya. Udah sukses mah tukang sate pinggiran jalan, lewaaat".


"Hahahaha... enggak lah bang, aku baru sempet aja ke sini lagi", jawab Wisnu.


"Kalah sama temenmu yang sering kesini buat makan sate di sini berlama-lama sama kamu dulu tuh, yang artis itu. Kemarin aja baru ke sini. Kangen makan sama kamu katanya", ucap sang pedagang sate.

__ADS_1


"Wallah.. Lastri emang doyan satenya abang, bukan kangen sama aku laaah", jawab Wisnu sambil menaruh beberapa takar nasi ke piring milik Wita. Lalu bersuara pelan dan menatap sang Wita, ia berkata, "Segini??..".


Sungguh Wisnu tengah memperlakukan Wita sedemikian rupa. Membuat Wita merasa menjadi seorang wanita yang tengah menahan rasa sakit dan mengubur kerapuhan hatinya dengan pilu.


Wita hanya dapat mengangguk pelan bersamaan dengan konsentrasinya mendengarkan ocehan pedagang sate langganan Wisnu dan.. Lastri.. dulu.


Wita tak dapat mengatur degup jantungnya yang sekarang berdetak lebih dari 100 kali permenit. Apa barusan yang diucapkan pedagang sate itu? Lastri yang menobatkan diri sebagai teman dekat Wisnu itu memang nyatanya benar telah ada pada hidup Wisnunya sejak lama. Sang acrtis layak bersanding dengan Wisnu yang setara dalam hal apapun. Berbeda dengan dirinya, wanita lemah yang terlahir dari keluarga sederhana dan kini tengah mencoba bertarung dengan mimpi dan kenyataan tentang keadaan jiwanya yang tidak baik-baik saja.


Wajah Wita kini memanas dan segera ingin menandaskan makanan yang ada di depannya.


"Suka?", tanya Wisnu yang melihat Wita begitu lahap memakan makanan yang ia suguhkan "Tambah lagi?", tanya Wisnu kembali.


Wita lalu minum air yang ada di hadapannya, habis tak bersisa dan menyimpannya kembali. Melap bibirnya dengan tissu. "Gak usah ..", jawab Wita singkat.


"Aku bukan mbak Lastri yang suka berlama-lama makan sate dengan mas Wisnu di sini", lanjut Wita dengan kalimat dan nada yang mengundang tanya bagi Wisnu.


Wisnu mengerutkan dahi, mencoba memahami kalimat dan irama suara yang keluar dari bibir Witanya itu. Sejenak menduga-duga, apakah benar perkiraannya itu? atau sekedar keingiannya belaka?


"Bagaimana ini?", ucap Wisnu yang nampak ragu beranjak dari kursi makan sang pedagang sate pinggiran jalan. Ia masih duduk setia di kursinya, sontak membuat Wita terduduk kembali setelah ia berdiri bersiap pergi dari warung sate ini.


"Ada apa?", tanya Wita yang terlihat penuh tanya.


"Aku masih mau mau di sini, apa kita pesan lagi beberapa tusuk?", tanya Wisnu.


"Mas Wisnu masih lapar?", tanya Wita ragu.


"Enggak.. aku masih ingin berlama-lama di sini, sama kamu.. Wita!!"


Ungkapan hati yang menorehkan sejenak cinta yang hendak Wita sirnakan dalam jiwa. Menjadikan malam dalam bisingnya ibu kota terserak keindahan rindu yang menderu pada kalbu. Wita.. kini terdiam terpaku, terjebak pada permainan hati yang ia perankan sendiri.


####


Nah lhooo... siapa nih yang cemburu..


gimana doonk ini...🀭😁😁😁


Reader maafkan ya baru bisa up hari ini. Walo belum bisa double up semoga bisa menjadi penawar rindu. Eeaaa...🀣🀣


Yang request abang Satria nongol sabar dulu ya...


aku tuh pengen banget cerita dan rasa-nya Wita-Wisnu ini nyampe.. jadi perlu penggalan kisah yang lengkap biar rasaya tambah nikmat. hehehe

__ADS_1


Happy Week EndπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa follow, share, like, komen, vote, dan hadiahnya yaa😘😘😘😘


__ADS_2