Selesa Rindu

Selesa Rindu
Memohon


__ADS_3

kamu lalu mulai merentangkan jarak


antara rindu dan amarah


aku menghunus cinta sederhanamu


bak perahu berkibas layar ke arah tepian pantai


aku.. menantimu


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Kang Indra-Teh Rumi-Wita


"Kamu mah atuh da telat Wisnu. Matakan jadi lalaki tong suudzonan", tolonglah teh Rumi berkomentarlah sedikit manis dalam kondisi seperti ini. Wisnu belum dapat berfikir jernih untuk mencerna keadaan. Dalam sekejap Witanya mungkin akan benar-benar hilang dalam hidupnya. Pantaskah waktu yang ia torehkan dalam kubangan luka itu ia relakan sirna begitu saja?


"Teteh mah pokokna teu ridho ah bunda Wita kalau direbut orang".


Siapa memang yang rela?, bukankah jalan kepedihan yang Wisnu pilih adalah ketidakrelaan dirinya kehilangan tambatan cinta bernama Wita? Teh Rumi mungkin tak memahami bagaimana naasnya merasakan cintanya terpental saat manis rindu dan cita sedang ranum dalam heningnya hati.


Wisnu mengerti dan teramat menyadari bahwa kenaifan menyeretnya pada keharusan dirinya menerima Wita kini mempunyai keputusan yang menyakitkan. Tetapi cinta butuh diperjuangkan bukan?, seperti cinta ayah yang terus memperjuangkan dirinya agar dapat mengibarkan bendera kehormatan ilmu dan pendidikan, seperti cinta ibu yang setia menegakkan tubuh keriputnya untuk selalu memberi kata semangat merajut segala mimpi, seperti cinta Teh Rumi yang menjelma menjadi sosok ibu yang telah lama pergi, seperti cinta Adhis kecilnya yang setia menemani warna kehidupannya. Pun halnya wanita bersematkan nama Wita, menebus mahal dalam langkah pengorbanan adalah harga mati bagi Wisnu.


"Udah mah ah... bikinin papah sama Wisnu kopi aja, papah mau yang anget-anget", kang Indra mencoba menghentikan ocehan teh Rumi yang terus terdengar seperti suara dagangan tahu bulat yang berputar berulang-ulang. Teh Rumi ayolah..!!


"kessel atuh da, tahu gini mah dijodokeun ti baheula. Pantesan perasaan mamah teh meni aneh pas ketemu bunda Wita, hatè teh langsung klik we kitu pah. Jatuh cinta mamah mah sama bunda Wita teh. Ngan gak berani bilang ka ieu budak, palingan sok ditolak wae", ocehan teh Rumi kembali terdengar dengan tatapan kesal.


"iya..iya.. papah faham", timpal kang Indra menenangkan. Kang Indra sering mendengar nama Wita dari istri dan Adhis yang sudah ia anggap seperti anaknya itu. Beberapa kali bertemu dengan sosok favorit istri dan anaknya itu, membuat kang Indra dapat menarik kesimpulan bahwa Wita adalah sosok yang menarik, cerdas dan penuh kasih sayang.


Kang Indra sering mendengar ide-ide iseng istrinya untuk menjodokan Wisnu dan Wita, tapi keinginan istrinya itu tak pernah terwujud karena nyali teh Rumi selalu ciut sebelum bertanding. Suatu hari Kang Indra melakukan panggilan video call, memperlihatkan kasih sayang yang Wita berikan untuk Adhis tetapi tak ada respon apapun dari Wisnu hingga kang Indra dapat menyimpulkan jika Wisnu tidak memiliki ketertarikan pada guru Adhis itu.


"Kita juga kan gak bisa nyalahin terus Wisnu mah", lanjut kang Indra.


"Teteh mah gak mau tau.. keinginan ibu harus kamu wujudkan, ibu teh pernah bilang Wisnu mah bakalan nikah sama perempuan yang berinisial W. makana teteh aneh naha jadina inisial R".

__ADS_1


"Astagfirullah.. mamaaah.. kopi ih cepetan!!", kang Indra memerintah tegas pada teh Rumi yang terus mengeluarkan kekesalahn hatinya yang sudah terlalu melampaui batas.


"iyah maaf, habis kessel mamah teh", jawab teh Rumi dengan nada dan tempo suara yang mulai menurun.


"Sekalian ku teteh dibawain kolek waluh nya buat kamu Nu, kamu acan makan nanaon ti tadi", ungkap lagi teh Rumi sambil beranjak dari kursi rotan yang berada di area rooftop garden rumahnya.


"iyah makasih teh", jawab Wisnu dalam posisi yang masih sama kaku dan tegangnya seperti sore tadi.


"Fokus kamu sekarang hanya satu", kang Indra mulai memberi masukan pada adik iparnya yang sudah sejak dulu ia sayangi. Waktu kang Indra masih berstatus pacar teh Rumi masa-masa SMA dulu, Wisnu masih berusia sekolah dasar. Tidak memiliki adik membuat kasih sayang yang dimilikinya terlimpah murni untuk sang Wisnu.


"Bantu Wita menyembuhkan traumanya".


"Tapi saya tidak yakin mampu kang, mendengar jika ia sudah dilamar orang lain saya menjadi tak seimbang", jawab Wisnu lirih.


"Itu perjuangan dan pengorbanan kamu, bantu gadis itu dengan tulus dan murni!", permintaan kang Indra sungguh berat. Wisnu lebih baik berada dalam perang tendernya bersama berbagai musuh perusahaan ternama di Indonesia atau membuat tanda tangan kontrak membangun rancangan konsep Agro Wisata di tanah Papua dari pada harus memutuskan berhenti mencintai Wita.


"Membuat Wita sembuh dari traumanya, itulah cinta kamu yang sesungguhnya".


Sungguh menangis saja tidaklah cukup. Kalimat apa yang setara dengan rasa sakit yang Wisnu rasakan malam ini? Rasanya tak ada kata yang dapat menggambarkan betapa perih mencinta untuk melepas.


****


Temui aku sebentar saja Wita!, hanya 5 menit.


Pesan terakhir yang Wita terima sejak kemarin di ponselnya. Tiga puluh satu panggilan tak terjawab dan dua puluh tujuh pesan tak terbaca ia abaikan. Tentu saja, karena ia tak ingin lagi berurusan dengan Wisnu. Kisahnya sudah berakhir sejak lama bukan?, kini ia tak ingin membuat luka yang sama pada orang lain, Satria, teman semasa SMA nya yang baru saja melamarnya di Rumah Sakit beberapa hari lalu.


Ia juga tak lagi harus berurusan dengan trauma masa lalunya, meski semalam mimpi buruk kembali ia alami. Lebih dari biasanya, sakit dan membekas pada hati dan dadanya. Tetapi Wisnu memanglah harus menjadi bagian dari sejarah yang mengeras dan beku. Tak terpahat dan terpatahkan meski ia telah hadir dalam banyak kisah saat ini. Maka keputusannya menerima Satria semoga dapat menghapus segala jejaknya.


Baik saya tunggu di cafe Mozaku jam 4 sore


Wita membalas pesan yang Wisnu kirimkan.


****

__ADS_1


Wisnu menunggu sejak tiga puluh menit yang lalu. Ia tak boleh terlambat sedetikpun sebab wanita yang akan ia temui adalah wanita 'termahal' yang ia miliki. Beberapa saat kemudian senyumnya tersungging saat melihat sosok wanita berfaras ayu yang ia nanti berjalan ke arahnya.


"Hai.. assalamuialaikum".


"Wa'alaikumussalam", jawab Wita datar seraya menggeser kursi makan yang terpisah dengan meja kayu jati berhadapan dengan keberadaan diri Wisnu. Duduk berhadapan dan memesan beberapa makanan.


"Makannya jangan yang pedes-pedes dulu ya!, tubuh kamu masih dalam pemulihan". Ucap Wisnu sambil menyebut tiga makanan favorit Wita dan dipesan pada pelayan yang mencatat pesanannya itu.


Wita hanya mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, tak peduli dengan ucapan Wisnu yang baru saja terlontar. Ia tentu sedang mengatur segala emosinya, meremas jemarinya yang mulai basah dengan keringat. Tetapi nafasnya yang mulai teratur memberinya ruang untuk dapat mengendalikn diri, beberapa detik kemudian ia merasa aman dalam situasi cafe senja ini.


"Sudah baikan?", tanya Wisnu


"alhamdulillah" jawab Wita tanpa ekspresi.


"Tadinya Adhis mau ikut, cuma.."


"waktu kita 5 menit, bisa langsung ke maksud dan tujuan?", tanya Wita menghentikan pembicaraan Wisnu.


Wisnu sejenak mematung, menatap jemari Wita yang nampak gemetar, menilik cincin yang Wita pakai. Katakan!, inilah pedih itu!


"Berhentilah dengan tunanganmu itu Wita, kita bisa merajut mimpi kita kembali bersama.. kan?".


Wita hanya diam menunduk mengatur nafasnya.


"Aku melakukan banyak kesalahan padamu Wita, tapi tolong.. jangan hukum aku seperti ini! Aku tak yakin aku sanggup melaluinya", lanjut Wisnu.


"bagaimana perasaan mas Wisnu saat janji yang aku pegang beberapa tahun lalu aku ingkari?" tanya Wita.


"Aku minta maaf Wita, aku terlalu cemburu. Aku tak tahu. Hatiku sakit dan marah waktu itu. Hidupku bahkan terasa hancur".


"Maka dari itu mas Wisnu, Wita tidak akan mengulangi hal yang sama, membuat amarah dan luka pada orang yang menginginkan Wita, karena janji harus Wita tepati".


"Tetapi menikah bukan hanya sekedar memegang janji Wita!!, kamu mencintainya??, ha?? apa kamu benar-benar sudah melupakan aku? apa cintaku kali ini bertepuk sebelah tangan?" tanya Wisnu terengah.

__ADS_1


"Anggap saja demikian mas Wisnu, kita sudah berakhir sejak lama, jika mas Wisnu lupa".


__ADS_2