Selesa Rindu

Selesa Rindu
Istikharah dan Jawaban


__ADS_3

Kau tak usah berlari menjauh


cukup diam di tempatmu


sebab aku adalah jejak perindu


merasuk dalam cinta dan doa


-Wisnu-


Bandung, Wita


"Kamu bisa melakukannya Wita!, saya benar-benar minta tolong kali ini", pinta pak Hermawan di ruangannya hari ini. Permintaan yang menurut Wita tak masuk akal, untuk orang baru seperti dia rasanya tak layak mendapatkan mandat seperti ini.


"Bu Fenty yang lebih tepat untuk melakukan tugas ini pak", kilah Wita demi meyakinkan kekeliruan atasannya atas keputusannya memilih Wita untuk melakukan tugas perusahaannya itu.


"Dia lagi hamil muda Wita, saya gak berani minta dia bertugas keluar kota. Apalagi kontrak yang diminta klien kita cukup lama", jawab Pak Hermawan menjelaskan.


Benar juga apa yang dikatakan Pak Hermawan. Tapi bukankah ada yang lebih kompeten untuk melakukan tugas ini? Bukan Wita tak tahu, tetapi mencoba menjadi tenaga konsultan di bidang perusahaan atau industri adalah hal yang baru untuknya. Meskipun ilmu yang ia pelajarinya dulu melibatkan banyak bidang yang menjadi kebutuhan tenaga konsultasi psikologi, tetapi track recordnya di bidang pendidikanlah yang menjadi kekuatannya selama ini.


"Ini kesempatan kita Wita, saya benar-benar butuh bantuan kamu, bener-bener gak ada orang nih". Pak Hermawan sepertinya serius dengan permintaannya itu. "Ini proposal kita yang ke tujuh kalinya lho Wit, yang kita ajukan ke perusahaan itu, baru sekarang di aprove. Saya bersyukur banget, apalagi mereka minta kontrak kerjasama selama satu tahun penuh kalau program yang kita ajukan dapat menarik perhatian mereka. Nah.. kemampuan kamu dalam mempresentasikan jadi alasan saya mengutus kamu memegang project ini. Kamu gak usah khawatir, kita punya tim di lini eksekutor yang akan membantu kamu".


Penjelasan Pak Hermawan tentang kontrak dengan perusahaan besar ibu kota itu memang sungguh menggiurkan. Bagi Wita ini adalah kesempatan bagi dirinya mengembangkan diri, bukan!, tapi.. untuk melepaskan diri dari segala suram masa lalunya dengan sibuk dan lelah. Terlebih, ia dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk melupakan sejenak tentang kesiapan dirinya menghadapi rencana yang telah ia setujui tiga bulan ke depan. Pernikahan!


"Baik Pak Wita coba". Jawab Wita mencoba meyakinkan diri untuk melangkah dengan hal yang baru kembali. Ibu kota bukanlah lagi menjadi tempat terburuknya dalam menghadapi peperangan hatinya bukan?


****


Jakarta, Wisnu-Andra

__ADS_1


Wisnu Pov


Tiga pekan sudah sejak pamitnya aku pada Wita di mushola miliknya, kini hari-hariku tampak kacau. Aku bahkan tak dapat menunaikan janjiku untuk menemui Wita pekan ini. Pesan yang sering aku kirimkan untuk Wita dalam setiap malamnya kini juga harus aku hentikan sejak Lanis mengatakan padaku bahwa kebiasaan Wita mengonsumsi pil tidur sudah tak lagi dilakukannya. Aku hanya dapat mengira bahwa kehadiran Satria itu kini sudah menempati ruang hati bagi Wita. Memudarkan segala sakit yang telah aku tabur. Kupikir Wita kini memang telah beranjak pulih.


Emosiku kali ini memang sedang berada pada ujian yang berat. Sebab laporan perusahaan yang disampaikan Andra hari ini telah menambah penatnya pikiranku akhir-akhir ini. Aku sejenak merasa berada pada titik terendah, aku memang manusia yang tak sanggup menjadi nahkoda di setiap kapal yang kubawa. Hatiku, Adhisku, kakakku, orang tuaku dan bahkan perusahaanku. Semua remuk dalam genggamanku sendiri.


Mendapatkan banyak kontrak dari berbagai klien bertaraf nasional dan internasional menjadikan perusahaanku berada pada titik tertinggi. Menjulang dengan segala keberhasilannya. Tapi tentu aku tidak akan lupa, semakin perusahaanku berada pada titik itu bukanlah lagi hembusan angin yang menerpa perusahaanku. Kencangnya riuh angin cobaan kerap menyapa dan menanggalkan sebagian kekuatanku.


Ya.. seperti yang Andra katakan padaku, potensi karyawan dan staf yang kumiliki tentu akan menjadi salah satu ujung tombak kokohya perusahaan yang kupimpin.


"Saya sudah meninjau beberapa perusahaan yang mengajukan proposal kerjasama dengan kita Pak Wisnu. Semoga bisa membantu memperbaiki sistem kerja perusahaan kita menjadi lebih baik", Andra menjelaskan satu rencana yang bulan lalu telah ia usulkan padaku. Dengan usulnya ini ia telah memetakan beberapa kebutuhan perusahaan berkaitan erat dengan identifikasi potensi dan kompetensi karyawan.


Menurut laporan yang ia sebutkan, terdapat beberapa perusahaan yang sedang berada pada tahap pemeriksaan berkas dokumen proposal. Aku tak tahu kapan ia akan mengeksekusi usulnya itu. Ia hanya pernah berkata padaku, "tenang Pak Wisnu, kita tidak usah terburu-buru. Saya ingin kita mendapatkan company partner yang tepat. Perusahaan kita gak mudah oleng begitu saja karena kegagalan project kita bulan lalu. Nyatanya kita masih dapat meyakinkan para investor dan klien untuk tetap berada di pihak kita".


Jika saja Andra tahu bukan itu maksudku. Maksudku adalah aku hanya perlu meluangkan waktuku untuk sedikit berkonsentrasi pada perjuangan merebut kembali hati seseorang. Tolong jangan biarkan perusahaan menjadi rantai untuk mengikat gerak kakiku menuju Witaku. Aku sudah tak sabar untuk segera berlari ke kota Bandung, tempat dimana wanitaku merapuh dan ingin kembali kuraih meski aku sendiri tak tahu apakah masih ada sedikit sisa hatinya untukku.


"Kalau kamu gak cepet-cepet menangani ini, kamu membunuh saya secara perlahan Andra!! Kalau sudah jatuh cinta baru tahu rasa kamu!!", aku kesal dengan ulahnya yang sok selektif dan menghabiskan kesabaran dan waktuku.


"Abang tak usah khawatir, saya akan jatuh cinta pada waktunya. Dan abang akan mendapatkan cinta pada waktunya. Gak usah kemana-mana, duduk manis saja di Jakarta", jawabnya sambil tersenyum licik seraya melihat laptop silvernya itu. Sungguh, kalau aku tak sedang menjaga wibawaku di tengah keramaian ini, akan aku pukul kepalanya dengan kepalan tanganku.


Keesokan harinya Andra kembali berulah. Meminta waktuku yang berharga untuk sekedar mendengarkan ocehan mitra perusahaan yang sesungguhnya bisa dilakukan oleh dirinya, atau Sapta yang berwewenang pada bagian Human Resource Department.


"Pukul sepuluh nanti anda bisa mempelajarinya Pak Wisnu. Seperti keinginan anda, anda tak ingin membuang waktu kan?", ucap Andra pagi ini dengan sodoran setumpuk dokumen yang harus aku pelajari. Aku sempat mumet dibuatnya, lihatlah! dokumen ini saja belum tuntas aku pelajari dan nanti dua jam ke depan aku harus menyisihkan waktuku untuk hal yang sepele?


"Baiklah", hanya itu jawabku. Biarlah toh memang aku mulai saat ini harus belajar bersikap pasrah.


Hingga dua jam berlalu aku terus menekuri dokumen-dokumen yang membuat kepalaku pening, suara ketukan pintu terdengar di ruanganku.


"Masuk!", perintahku. Kudengar suara Andra di telingaku.

__ADS_1


"Tamu anda sudah datang Pak Wisnu", ucapnya.


"Suruh masuk!", pintaku tanpa mengalihkan perhatianku pada dokumen yang sedang aku tandai dengan bulpointku. Namun, aktivitasku seketika terhenti ketika aroma tubuh yang aku kenali menepi di hidungku.


Aku tegakkan kepalaku menatap sosok yang berdiri dengan wajah yang sama tegangnya denganku. Aku picingkan mataku ke arah Andra yang berada di belakang tubuh wanita itu. Andra hanya memberiku tawa dan tanda v pada jari perdamaian yang ia lontarkan.


"Pak Wisnu, ini yang saya rekomendasikan untuk bermitra dengan perusahaan kita. Beliau nanti akan menjelaskan semuanya. Semoga cocok dengan apa yang anda cari", ucap Andra sambil menyodorkan sebuah dokumen proposal dan tersenyum pada wanita cantik itu.


"Saya tinggal dulu ya mba, nanti biar saya minta Putri untuk bawain mba teh hangat", ucap Andra pada tamuku hari ini. "Duduk mba..", ucapnya lagi memecah ketertegunan wanita yang terus aku tatap dengan rindu itu.


Ya.. wanita yang dua pekan lalu selalu mengintip langkahku saat membuka gerbang untuk pulang dari rumahnya, di balik tirai kamarnya. Wanita yang meneteskan air mata sendunya saat aku meminta dirinya untuk berbahagia dalam jejak terakhirku melihatnya. Aku hias wajahku dengan senyum, mensyukuri pemandangan yang hadir hari ini. Ia-lah wanita itu, wanita termahal dalam hidupku, yang hilang tanpa kuizinkan dan datang tanpa kuduga. Wita...mungkin, inikah jawaban istikharahku yang panjang ini?


###


hai hai hai..


hallo hallo hai..


reader maaf ya kemarin aku sempat off. Tapi gak nyesel kan sebab hari ini aku up dua bab sekaligus ya..


Buat Part ini irisan bawangnya aku simpan dulu ya.. soalnya bawang lagi mahhalll. heheheh


enggak deng.. ciyus cuma canda.. stok bawangnya disimpan dulu lah ya.. meski sekarang juga tetep kebawa baper nulisnya.โœŒ๐Ÿคญ


hadiahi vote, like, komen dan share novel aku ya... pliss pliss plisss๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


daaan... yang mo ikut ngerasain nyeseknya kisah wita-wisnu follow IG dan FB aku ya...


๐Ÿ‘‰ningtias__

__ADS_1


love you all...


sehat dan bahagia selalu๐Ÿคฒ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2