Selesa Rindu

Selesa Rindu
Lonceng Cinta


__ADS_3

kutebarkan asa dan rindu di langit cinta


merebak menari-nari berpegang peluh


sebab aku berlari pada jalanan terjal


mengawang dan membenam di ufuk kerinduan


-Wisnu-


Bern, Wisnu-Adhis


Wisnu Pov


Aku tak dapat memastikan apakah kakiku masih menapaki bumi yang aku pijak atau tidak. Berulang kali aku menarik nafas dalam-dalam selama mendengarkan Andra menjelaskan apa yang terjadi kemarin , hari yang semestinya menjadi hari pernikahan Wita.


"Wita kelihatannya gimana Ndra?", tanyaku memastikan dengan jantung yang masih sama berdebarnya saat Andra membewarakan berita besar itu.


"Saya gak ngobrol langsung dengan mba Wita. Saya antar teh Rumi ke kamar mba Wita. Dia sih kelihatan bersinar gitu, gak tau mungkin habis shalat", jawab Andra mengingatkanku ketika dulu Wita menjadi makmumku dalam shalat yang aku imami, bersama Salim dan Ibu.


"Kamu tolong siapkan segalanya Ndra! Gak boleh ada cela sedikit pun. Aku minta yang terbaik!! lebih dari yang kemarin kamu siapkan. Masalah teknis diskusikan dengan Teh Rumi!! Jangan dulu membicarakan ini dengan Wita, Wita biar saya yang urus". Mulutku seperti tak bisa berhenti mengintruksikan apa yang ada dalam benakku sekarang. Aku tak boleh kalah tanding lagi!!


"Iya bang, saya lakukan persiapan terbaik buat abang. Rugi banget kalo 7 tahun perjuangan disia-siakan", ocehan Andra itu membuat aku sedikit kesal.


"Kamu.. !!!", ucapku.


"iya..iya.. becanda donk bang"


"Hari ini juga aku cari jadwal penerbangan tercepat ke Jakarta, Minta nomor Salim Ndra", aku mengabaikan candaan Andra yang sedang mencoba meredam keteganganku.


"Siap bang.. hati-hati di jalan. Kita disini mulai bergerak sekarang".


"Good".


Aku masih mengamati Adhis dan mertuaku dari tempatku ini. Aku tersenyum, tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku yang tersimpan dalam hati terdalamku. Luka yang aku dan Adhis rasakan seolah mengering tertiup angin kota Bern siang ini.


Keputusanku pergi ke kota ini bukan tanpa alasan. Aku mungkin dianggap pecundang oleh Andra dan kakak-kakakku.


Keputusan ini adalah keputusan terberat. Aku harus membuat tindakan cepat setelah dua pekan yang lalu aku mendapati Adhis dalam keadaan demam tinggi dan bermimpi buruk dengan racauan dan igauan yang membuatku terasa nyeri. Teh Rumi bahkan menghakimiku karena telah gagal merebut kembali cinta yang telah bersemi dalam hatiku dan Adhisku. "bunda.. bunda Wita.. Adhis ikuut..", tangan Adhis merentang dengan mata terpejam dalam tubuh panas yang menerjang.


Atau, pada malam berikutnya tepat pukul 12 malam dalam tidurnya yang gelisah, Adhis tertawa sendiri. "hehe hehe.. Adhis suka.. Adhis suka.. mau bunda.. mau...".


Minggu berikutnya kondisi kesehatan Adhis mulai membaik. Demamnya hanya berlangsung selama tiga hari.Namun.. mimpi-mimpi yang membuat dirinya mengigaukan tentang Wita tetap aku dengar setiap hari.


Hingga hari dimana aku mendengar berita tentang dipercepatnya pernikahan Wita membuat otakku semakin tak waras dan berantakan. Adhis seolah tahu dengan kondisiku. Anakku itu kembali mengalami gejolak emosi yang sulit terkendali. Ia kerap kali mengamuk untuk alasan-alaaan yang tak kumengerti.


Aku tak bisa tinggal diam. Aku memutuskan melakukan serangkaian pemeriksaan tes psikogis untuk Adhis ketika itu. Hasilnya sungguh mengatakan indikasi yang tidak baik.


"kondisi orang tua Adhis yang single parent menjadi salah satu faktor penyebab. Keadaan ini tentu akan berimbang jika anda, sebagai ayah juga dapat berperan sebagai ibu. Tak mudah, tetapi itu bisa anda lakukan".


"Perkembangan sosial emosional Adhis yang lahir dari keluarga single parent cenderung membawanya pada tahap perkembangan yang tidak sesuai dengan fasenya. Pada sebagian kasus terdapat pengaruh yang signifikan antara kelekatan (attachment) anak pada ibu terhadap temper tantrum anak".


Lagi-lagi kehadiran ibu bagi Adhis menjadi PR terbesarku. Aku tidak pernah mendengar perkataan Adhis secara langsung rasa rindu Adhis tentang Wita yang selalu digumamkannya dalam tidurnya, tetapi aku sadar betul jika Wita menjadi salah satu foros kehidupan yang Adhis miliki.


Saat ini aku tidak mampu memaksakan langkah hatiku mewujudkan janjiku pada kang Indra dan Adhis untuk segera mendapatkan ibu sambung bagi Adhis. Maka, satu-satunya cara adalah aku harus segera berperan ganda untuk Adhisku.


Kehadiran Teh Rumi telah banyak membantu hidupku, tetapi perubahan emosional Adhis akhir-akhir ini tentu sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Aku mendiskusikan jalan langkahku ke depan kepada Kang Indra tanpa sepengetahuan Teh Rumi.

__ADS_1


"Kang.. saya mau bawa Adhis ke Swiss. Mungkin hanya sebentar, mungkin juga akan menetap. Ini akan berat untuk Teh Rumi, saya minta bantuannya kang".


Kang Indra dan aku sepakat mencoba membiasakan Adhis untuk tak bergantung pada Teh Rumi. Teh Rumi selama lima hari sebelum kepergianku, ia berada di Bandung. Sedang Adhis aku biasakan selalu berada di sekitarku. Bahkan saat aku bertugas di kantor aku juga akan membawanya.


Ketika Lastri memintaku untuk bertemu, untuk membahas kerjasama perusahaan ayahnya pun, aku tetap mengajak Adhis. Juga saat dimana Lastri meminta kepastian hatiku, aku membawa serta Adhisku.


Aku lalu sering menegosiasi Adhis untuk melupakan Wita.


"Adhis mau ketemu mama kan?"


"Asiiik.. mama Rumi".


"Bukan, mama yang lain, mama yang udah nyimpen Adhis di perutnya".


Sebut aku picik, tapi Adhis telah terbujuk oleh rayuku. Kami sepakat untuk tidak merindukan Wita.


"Adhis gak akan peluk lama bunda Wita, Adhis mau diajak ayah ketemu mama".


Pernyataan yang membuatku merasa menjadi ayah yang paling kejam di dunia ini, karena mama yang ingin segera Adhis temui itu hanya merupa batu nisan yang terbujur membentang ditatap dengan rasa heran oleh putri kecilku kemarin.


Dan hari ini, aku akan menebus segalanya. Adhis akan segera mewujudkan mimpinya. Aku akan memperjuangkannya. AKAN!!


Hari ini, detik ini pula, masih dalam degup jantung yang berat dan getar hati yang memekik kerinduan. Setelah kututup sambungan telepon dari Andra, aku segera menghubungi Kang Indra, kakak iparku yang selalu memberiku dukungan. Ia adalah sosok pengganti ayah bagiku.


"Tentu Wis, akang akan mempersiapkan segalanya. Hari ini akang dan Teh Rumi akan mendatangi ibu Wita".


Setelah segalanya siap tentu aku harus memastikan ibu Wita menerima kehadiranku. Aku menghubungi Salim, ia akan siap membantu menyiapkan semua rencanaku. Namun rasa kecewa menjalar di sudut hatiku saat ibu Wita berkata, "ibu gak enak nak Wisnu, sama ceu Dedeh dan suaminya. Masa baru saja pernikahan Satria batal, seminggu kemudian harus ada berita Wita menikah".


Aku menerima alasan ibu Wita dengan lapang dada. Tentu aku harus lebih bersabar untuk menjemput kebahagiaanku. Aku menyerahkan kesepakatan waktu pada Kang Indra dan Ibu Wita. Hingga aku mendapatkan kabar dari Kang Indra beberapa jam kemudian.


"Bulan depan Wis, kamu masih bisa bersabar kan?"


"Witanya tadi ada kang?", tanyaku penasaran.


"Kata ibu Wita, biarkan Wita tak tahu dulu. Ia tahu banget bakal gimana Wita. Wita anaknya gak enakan katanya, jadi kalau dia tahu kemungkinan bakal nolak lamaran kamu. Maksudnya.., kalau Wita tahu kamu mungkin bakal disuruh nunggu paling cepat setahun mungkin.... Ngaragangan (menghormati) Satria".


Jawaban Kang Indra sungguh membuat aku tak karuan. Jika saja tempatku berdiri sekarang adalah kota Jakarta, aku tak akan menunggu lama menancapkan pedal gas mobilku untuk menyeret Witaku ke penghulu.


Satria lagi-lagi menjadi lelaki yang harus aku perhitungkan dan harus aku hadiahi kata.. terima kasih. Tentu, lelaki yang 5 tahun lebih muda dariku itu menjadi orang yang paling terpukul hari ini. Aku lalu memutuskan menghubunginya.


"Hallo.. dengan siapa ini?", tanyanya dalam sabungan teleponku.


"Saya.. Wisnu".


"Hahahha.. ini dia.. orang yang sedang saya tunggu-tunggu...", jawabnya mengundang senyum tersungging di bibirku.


Aku tak mengira, pengacara muda itu selain cerdas tetapi memiliki kelapangan hati. Ia memintaku untuk segera menghalalkan Witaku, meski dalam pesan terakhirnya ia mengungkapkan hal yang sama dengan ibu Wita. "Wita jangan dikasih tahu dulu, saya yakin dia nolak. Pesona kebaikan hatiku bakal membuatnya gak enak. hahahah".


Sebelum aku bersiap bertolak kembali ke Indonesia dengan jadwal penerbangan tercepat hari ini, aku meminta izin dan restu pada ayah mertuaku. Ayah mertuaku tentu bahagia, "Enkelin-ku (cucu perempuan) akhirnya akan punya ibu".


Beberapa jam sebelum aku menuju bandara, aku sempatkan menyusuri kota tua Bern bersama Adhis untuk membeli oleh-oleh yang selalu dimintanya jika aku pergi dinas luar, oleh-oleh untuk bunda Wita.


Bukan rahasia lagi jika segala sesuatu di Swiss, termasuk Bern, serba mahal. Begitu pula transportasi. Namun, karena aku menginap di hotel kota Bern, aku mendapatkan kartu serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai tiket gratis menggunakan setiap moda transportasi dalam kota. Itu termasuk bus, trem, dan kereta api.


Jalanan Kota Tua Bern tidak terlalu luas dan tidak ada macet sama sekali. Di sini aku menemukan banyak kafe lokal yang nyaman, restoran-restoran dengan menu andalan khas yakni keju dan cokelat panas, gerai-gerai jam tangan dan souvenir, galeri seni, juga beragam museum.


Salah satu yang menarik tentu saja Museum Einstein. Maka tidak heran jika di Bern, aku dapat menemukan banyak monumen Einstein, termasuk Museum Einstein, patung bangku Einstein, hingga kafe Einstein. Aku membawa Adhisku ke kota ini, lari dari kenyataan dan meminta pada Tuhan untuk memberikan takdir terhebat untuk anakku itu.

__ADS_1


"Kamu tahu Adhis?, kamu akan menjadi orang yang hebat seperti Eisntein. Einstein pernah tinggal di Bern, ia menemukan teori relativitas yang terkenal hingga saat ini". ucapku sambil menggandeng tangannya yang kuyakin Adhis tidak akan memahami ucapanku itu.


"Einstein itu siapa?", tanyanya.


"orang hebat, seperti kamu sayang", jawabku diakhiri cubitan kecil pada pipi gembulnya.


Adhis tertawa riang. Aku dan anakku membeli beberapa barang yang akan kami hadiahkan pada Wita kami.


Adhis memilih Trycell Cowbell untuk bunda Witanya. Lonceng yang biasanya digunakan untuk kalung pada sapi oleh para peternak sapi. Lonceng ini bertujuan agar para petani dapat melacak ternak mereka yang sedang digembala didataran tinggi Swiss yang luas. "Biar bunda Wita kedengeran kalo pergi kemana mana", ucap Adhis membuatku tertawa bahagia. Dipikirnya benda ini bisa melingkar di leher Wita sama persis seperti sapi.


Kini, kami tengah berada di bandara Internasional Zurich dengan sebuah koper besar berisi berbagai oleh-oleh yang kami beli. Adhis menunggu dengan semangat kepulangan kami, aku tak melihat raut wajah lelah dalam dirinya, padahal kami baru saja tiba di negara ini beberapa hari yang lalu.


Aku tetiba merindukan Witaku. Salahkah jika aku merindukannya? Adakah dia telah menjadi milikku? Mungkinkah hatinya kini sepenuhnya untukku?


Aku tak bisa menahan lagi rindu yang ku redam. Meski semua orang mewanti-wanti padaku agar tak dulu menghubungi Wita, aku pada akhirnya merogoh ponselku. Kalaupun aku kecewa tak mendapat balasan, biar saja! sebab kali ini aku akan memaksa.


Assalamu'alaikum Wita..


Apa kabar?


Aku dan Adhis mau pulang hari ini


Adhis kangen bunda Wita


ayahnya juga


sebentar lagi pesawatku take off


love you...


Sebut saja aku lelaki bajingan, tapi aku memang tak bisa menahan buncahan cinta yang kumiliki untuknya. Jika bertepuk sebelah tangan adalah nasibku hari ini, tak apa! aku akan menerimanya. Aku hanya akan memastikan Wita akan berada di pelaminanku.


Beberapa menit kemudian aku melihat notifikasi chat masuk pada ponsel baruku.


BUNDA WITA


Iya mas Wisnu..


hati-hati di jalan


Jadilah hamparan dunia ini milikku, karena seketika aku tak menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Langit yang kupadang menjadi cerah menawarkan senyum mentari yang indah. Wita.. aku telah jatuh pada cintamu, sejak dulu!


###


yang punya tabungan vote dan hadiah... sisihkan untuk selesa rindu ya... kado spesial buat double W couple...🤭🙏


Hari ini aku bewarakan desain GA yang mau aku bagikan ya.






Sesuai rencana... pengumuman akan di up setelah novel ini mendekati finish ya.. sehubungan sepertinya masih butuh waktu menuju end, GA ini akan aku perpanjang sampai batas waktu yang belum bisa aku pastikan.

__ADS_1


So... bantu terus buat promoin novel aku ya...🙏😘😘😘😘


__ADS_2