Selesa Rindu

Selesa Rindu
Nyanyian Rindu


__ADS_3

bertabuh rindu pada kalbu


menyayat dan perih dalam diam


hingga saat waktu menunggu


kau menjelma alunan lagu rindu


-Wisnu-


Jakarta, Wisnu-Wita-Adhis


Wisnu Pov


"Pelan-pelan Pak!!", kudengar perintahnya pada petugas kesehatan di perusahaanku itu dengan lirih menahan rasa sakit. Kakinya yang putih bersih kini dilengkapi dengan luka akibat seretan motor pengantar makanan online. Ada sedikit rasa nyeri di hati, saat kulihat ia meringis. Dan.. rasa tak rela menghujam dadaku tatkala melihat lelaki berbaju perawat itu menyentuh kaki putihnya yang selalu ia tutupi dengan baju panjangnya, ah.. SIALLL!!


Wita, wanita yang aku hindari beberapa hari ini. Aku hanya sekedar mengumpulkan keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa, Witaku kini tak lagi menginginkanku. Kenyataan yang kurasakan pahit yang telah menenggelamkanku pada luka berlumpur penuh kepedihan. Aku harus mulai percaya bahwa rentang waktu tujuh tahun telah benar-benar menghapus jejak namaku di hatinya.


Wanita yang dengan egois ingin aku miliki, kini menahan rasa sakit akibat ulahnya menyelamatkan Adhisku. Sedang Adhis tak mengalami sedikit pun luka atau lebam. Sepertinya, cara Wita menyelamatkan Adhis benar-benar tepat sasaran. Lalu.. aku masih tetap berada disini sebab Adhis enggan lepas dari gendongannya. Aku hanya dapat menyimpulkan Adhis mengalami shock akibat insiden tadi di halaman gedung perusahaanku ini.


Bukan hanya Adhis yang mengalami shock atas kejadian tadi. Aku.. menyaksikan dengan baik bagaimana Wita berteriak pada pengendara motor dengan sorot mata penuh amarah. Suaranya meninggi, tak henti meneriaki sang pengendara yang tak sedikitpun melakukan perlawanan dan pembelaan. Ini.. kali pertama aku melihat emosinya meledak melalui amarah.


Aku dengar dengan jelas kalimatnya membuatku berdenyut nyeri.


"Gak lihat apa ada anak kecil heu? kalau terjadi apa-apa sama anak saya, saya gak segan-segan nuntut kamu ke pengadilan ya! Kamu sebetulnya bisa bawa motor ga sih? jangan-jangan gak bawa SIM. Awas saja!!, kalau anak saya ini ada yang luka kamu harus bertanggung jawab!!"


Aku hanya dapat mematung, mencoba mencerna ucapan dan reaksi emosinya. Apa katanya barusan? Adhis.. anaknya?


Apakah ia tak menyadari apa yang diucapkannya? Bahkan kerumuman para karyawanku tak lagi dihiraukan olehnya, dengan terengah ia melontarkan kalimat per kalimat untuk meluapkan amarah. Revita mengelus-elus punggungnya mencoba meredakan dirinya.


Aku hanya bisa mencoba menyelami rasa sakitnya. Sedemikiankah kecelakaan di masa lalu itu mendera jiwanya? menjadi perih yang tak terkira. Menghujam setiap degup jantungnya yang merapuh pada ketakberdayaan. Hingga kejadian hari ini menyeretnya pada kontrol diri yang tak terkendali.


Kejadian insiden yang dialami Adhis dan Wita sesungguhnya akibat dari ulahku. Aku membawa Adhis hari ini ke kantor. Sehabis menjemput Adhis dari sekolah, Adhis merengek padaku, dia tak mau aku tinggal di rumah bersama bibi karena teh Rumi hari ini masih di Bandung untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat kantor kang Indra.


Aku tak bisa egois dan serakah meminta teh Rumi ada di samping Adhis setiap saat. Dan sepertinya aku harus segera memutuskan berjuang sendiri mendampingi Adhis sekuat dan sebisaku.


Adhis siang ini berada di kantorku. Aku bawa ke ruanganku karena ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di sana. Tetapi gadis kecilku tiba-tiba menangis meminta sesuatu.


"Adhis mau minuman kayak Naswa ayaah", rèngèknya.


"Apa namanya sayaang? Adhis tau?" tanyaku.


"Enaaak ayaaah, ada coklatnya.. ada bobanya", ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku tak mengerti harus mendapatkan minuman itu darimana. Hingga tangis Adhis pecah, senjatanya yang tentu sangat mujarab untuk memenuhi keinginannya di hadapanku. Hingga Lastri datang ke kantorku dan seperti biasanya memasuki ruanganku dengan tiba-tiba.


"Tante tahu tempat beli minuman itu, kita bisa pergi bareng buat beli minuman yang Adhis suka", ia menawarkan diri.


Tangis Adhis perlahan mereda. Ia lalu berucap, "ayaah.. mau beli sama tante. Adhis mau", rajuknya.


Aku akhirnya memutuskan menghentikan pekerjaanku demi mengikuti keinginan Adhis, daripada mendengarnya menangis gak berhenti, pikirku.


Aku, Adhis dan Lastri melangkah menuju lantai bawah. Setibanya di lantai bawah langkahku terhenti saat seseorang menyapaku, "Wisnu.." teriaknya.


"Burhan?", tanyaku heran.


Kami lalu berbincang-bincang sejenak, ya.. kami, aku-Burhan-Lastri, lalu Adhis?? aku luput memperhatikannya. Seketika aku melihat karyawanku berlarian ke arah taman, hingga.. di sinilah kini aku berada, ruang perawatan kantorku sendiri.


"Apa perlu dibawa ke rumah sakit?", tanyaku pada Khalif petugas kesehatan di kantorku.


"Harus pak, biar dokter ngasih obat anti nyeri. Biasanya suka ada demam juga", jawab Khalif membuatku semakin merasa menaruh rasa sayang untuk sang Wita.


"Ya sudah.. kita ke rumah sakit sekarang ya?", tanyaku pada Wita. Ia mengangguk sambil meringis. Aku lalu coba bujuk Adhis untuk pindah ke gendonganku. Namun semakin aku bujuk maka semakin pelukannya erat pada Wita.


Wita lalu membisikan sesuatu pada Adhis. Dan.. entah mengapa Adhis tiba-tiba beringsut turun dari gendongannya.


Wita, dibantu oleh Revita berjalan menelusuri gedung kantor. Aku bisa melihat ia menahan sakit, sesekali ia terhenti untuk melangkah.


"Eh.. kok mobil pak Wisnu?", tanyanya kaget.


"Aku masih ada yang harus diselesaikan mba, besok lho ini acaranya", jawab Revita mengiba.


Wita nampaknya pasrah dengan jawaban Revita. Ia lalu masuk ke dalam mobilku. Aku kemudian memindahkan Adhis ke pangkuannya, sebab anakku itu merengek ingin bersama bundanya.., euh bukan!, bunda Wita.


Kulajukan mobilku menuju rumah sakit. Selintas kulihat noda darahnya membekas di baju yang ia pakai, aku nyeri membayangkannya.


Kulihat Adhis tertelap dalam pelukannya. Aku hanya diam, mencoba menahan diri untuk tak mengucapkan sepatah kata pun, sebab jika tidak, aku bisa memaksanya kembali untuk 'melihat' dan berpaling padaku. Kami sama-sama diam dalam hening.


Setibanya di rumah sakit, kubawakan kursi roda untuk membantunya menuju ruang pemeriksaan. Sedangkan Adhis sudah beberapa menit yang lalu terbangun dan turun dari gendongannya. Memahami jika Wita harus turun dari mobil untuk diperiksa.


"Sakit banget?", tanyaku khawatir sebelum aku persilahkan ia keluar dari mobil. Mulutku ini benar-benar tak bisa kukontrol untuk tak menanyakan keadaannya.


"Sedikit", jawabnya singkat.


Ia lalu mencoba keluar dari mobilku, kulihat ia berkepayahaan melangkah menuju kursi roda. Aku sontak memapahnya. Seketika ia menegang, entah apa penyebabnya.


Pemeriksaan dokter terhadapnya tak berlangsung lama. Aku langsung mebawanya kembali ke mobilku. Aku memutuskan untuk melajukan mobilku, tanpa obrolan sedikitpun dengannya.

__ADS_1


Berbeda saat keberangkatan menuju rumah sakit, suasana mobil kali ini lebih hangat. Adhis mendominasi ruang mobilku dan membuat Wita angkat bicara, dan sungguh!! suaranya itu membuatku rindu!


Wita, hanyut dalam dunianya. Ia nampak bahagia bersama Adhis. Dan.. sepertinya, ia lupa tentang kehadiranku yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.


"Waah Adhiis udah pinter bercerita nih", ungkapnya. "Suka dengerin cerita dari siapa?"


"Ayah Wisnu..", jawab Adhis jujur. Ia lalu berceloteh lagi tentang hal-hal yang dilakukannya di sekolah, guru-gurunya yang baik dan menyebutkan nama teman-temannya.


"iiih... pinter sekali ini anak siapa ya?", goda Wita pada Adhis sontak membuat senyumku tersungging. Ia lalu mendendangkan sebuah nyanyian untuk menggoda Adhisku..


Hai adik berbaju meraaaah


namanya Adhisiaaaa


orangnya baik hati


kalau senyum cantik sekali


Adhis kemudian menjawab nyanyiannya dengan suara mungilnya yang lucu.


Hai bunda berbaju unguuuu


namanya bunda Witaaa


orangnya baik hati


kalau senyum cantik sekali


Aku tak bisa menahan tawaku mendengar nyanyian mereka berdua. Mereka lalu menatapku bersama, dan melemparkan senyuman seraya bernyanyi;


Hai ayah berbaju putiiiih


namanya ayah Wisnu


orangnya baik hati


kalau senyum ganteng sekali


"ahahahahaha...", aku tertawa kembali. Tawa lepasku setelah beberapa hari ini memendam rindu tak tertahan dan kekalahan yang mendalam atas ketakberdyaanku memiliki wanita yang tengah memangku anakku dengan penuh kasih dan sayang.


###


happy week end..

__ADS_1


liburan mah up nya jangan yang mellow mellow ah...🤭 yuk kopi-kopi....☕☕☕


__ADS_2