Selesa Rindu

Selesa Rindu
Aku Suka Anak-anak


__ADS_3

Kau tidak akan pernah faham


karena tanda tanyamu


berujung senapan


-Wita-


Jakarta, Wisnu-Burhan-Wita


Wisnu POV


Permintaan Burhan sebulan yang lalu tak dapat aku tolak. Terlalu banyak kebaikan yang ia berikan untuk dapat aku balas dengan hal yang sederhana seperti sekarang ini. Ada-ada saja idenya itu, aku dicantumkan pada sesi Special Guest bersanding dengan temanku Lastri yang nyata-nyatanya seorang artis. Aku bukanlah tokoh yang dapat dikenal baik oleh mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Aku hanya seorang arsitek yang kebetulan mengajar di Universitas ternama ibu kota yang dimiliki sahabat sultanku, Burhan.

__ADS_1


“Ayolah Wis.. kamu bisa jadi tokoh inspiratif yang akan memberi mereka suntikan motivasi dalam mengajar”, bujuk Burhan tempo hari. Kemudian, hari ini aku berada di gedung Hotel megah kota Jakarta. Aku memilih menginap di hotel ini untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Burhan memintaku untuk kumpul bersama terlebih dahulu untuk alasan briefing acara. Aku tahu betul ulahnya itu, palingan juga ngundang briefing alasan temu kangen. Ayolah Burhan, baru saja 3 bulan ini kami tidak bertemu, karena sejak guru favoritnya Adhis yang tak sudi aku sebut namanya itu menjelaskan betapa buruknya aku sebagai seorang ayah aku memutuskan berhenti menjadi salah satu dosen di kampus milik Burhan. Benar kata Teh Rumi, mungkin aku terlalu sibuk memikirkan diri sendiri hingga melupakan kehadiran Adhis yang teramat berharga.


Sang direktur Asosiasi International The Children’s Education and Learning Centre itu menghabiskan waktu malamku. Hingga jatah tidurku sudah ia ganggu. Briefing yang memakan waktu terlama sepanjang hidup. Hingga aku hari ini harus menikmati breakfast di jam yang tak biasanya, setelah shalat subuh aku memutuskan tidur lagi sebab mata belum bisa dikondisikan, Burhan benar-benar!.


Menghabiskan sarapan sederhana di area restoran hotel ini memberikan kesegaran yang lebih. Setelah jatah tidurku yang disempurnakan di kamar 86 dan jatah cacing dalam perutku aku tunaikan mulailah aku melangkahkan kakiku ke lift menuju area convention hall hotel ini. Lantai 10 menjadi tujuanku.


Aku membuka sebuah notifikasi masuk dalam ponselku saat berada di ruangan lift yang kosong. “Wis, cepetan ke atas! Sesi lo bentar lagi dimulai”. Burhan, aku tak pernah menyangka jika pribadinya yang urakan dan acak-acakan kini berubah menjadi sosok yang dewasa dan.. penuh tanggung jawab. Ya.. waktu memang bisa mengubah segalanya seperti dalam sekejap mata. Dan.. tak dapat aku sangka, dalam sekejap mata pula aku melihat sosok wanita yang begitu cantik dan manis di hadapanku. Wita terus memandangiku tanpa kata, hingga aku merasa kesal dibuatnya. Tolonglah Wita, jangan pandangi aku seperti itu kalau tidak mau aku menjadi seorang perebut istri orang. ****!!


“Jadi masuk?”, aku putuskan bertanya padanya yang masih saja memantung. Ia langsung beringsut memasuki lift dengan tubuh yang gemetar. Dia kembali mematung dan tak menekan tombol apapun di hadapannya. Aku sampai melangkah sedikit maju dan hingga bersejajar dengan tubuhnya, “lantai?”.


Kuilihat tangan kirinya meremas rok yang ia pakai. Namun rasa penasaranku muncul saat melihat sebuah tanda luka jahit di punggung tangan kirinya itu. Apa yang terjadi, apakah Wita sekarang telah berubah menjadi wanita yang super teledor hingga membuat dirinya terluka seperti ini? Setelah memasak, mengasuh anak atau kecelakaan? Atau.. suaminya melakukan tindak kekerasan?. Hei.. hei Wisnu, stop!!! Apa yang sedang kamu fikirkan?.


Saat bayangan kacauku itu merusak dan mengotori fikiranku, Lastri datang memasuki lift kami berdua. “Lastri, teman dekat Wisnu”, aku sedikit kaget mendengar pernyataan Lastri. Teman dekat?, apa maksud dari ucapannya itu. Benar jika dibilang aku adalah temannya, tetapi sulit jika aku katakan bahwa aku dekat dengannya. Bahkan, aku dapat memastikan aku lebih dekat dengan Lala semasa aku kuliah dulu. Ia nyaris aku sebut sahabat yang selalu memintaku mengerjakan tugas-tugas. Berbeda dengan Lastri yang ketika itu dengan terang-terangan menyatakan cintanya padaku. Aku harus terus menghindar dan menjauh dari koordinatnya, bahkan sampai saat ini.

__ADS_1


Aku tatap wajah Wita yang mulai menegang, ia nampak pucat dan gemetar. Kalau dipikir-pikir Wita selalu demikian saat bertemu dan berhadapan denganku sejak perpisahanku dengannya yang memuakkan itu. Mungkin rasa bersalah dan penyesalannya sudah menjadi hantu yang mengikuti hidupnya, ya.. suatu harga yang perlu ia bayar karena penyiksaan yang telah ia buat untukku.


Aku lihat ia berlari saat pintu lift terbuka. Kami sama-sama menuju tujuan yang sama, tetapi ia kocar-kacir tanpa permisi menuju meja panitia dan segera memasuki ruangan. Ah.. ternyata dia menjadi peserta diklat hari ini. Tunggu saja Wita, aku siapkan senapan terbaik untuk mengarahkan peluru kehormatan yang akan memukul telak dirimu hari ini.


Area convention hall hotel saat ini tengah menjadi panggungku. Burhan memberikan sebuah pengantar yang kocak dan menghibur. “Selamat datang kepada arsitek muda dan berbakat bapak Wisnu Permana. Sosok inspiratif yang akan menguak pengalaman hidup tentang kisah from zero to hero. Motivasi hebat yang dimilikinya telah menjadikan dirinya sebagai lulusan terbaik di ETH Zurich, Swiss Federal Institute of Technology. Membawanya pada puncak keberhasilan yang juga memiliki konsen di bidang pendidikan. Awalnya, dia juga terlibat dalam pengembangan program asosiasi ini. Tapi bayarannya sebagai arsitek lebih menjanjikan jadi dia memutuskan keluar”. Suara tawa menggelegar dari para peserta diklat ini.


“Saya mengundangnya hari ini sebetulnya gak penting-penting amat buat dia hadir. Yang bikin penting itu dia adalah teman dari artis yang bapak dan ibu lihat di sini. Berkat bantuannya saya bisa mengundang artis ternama mba Lastri yang katanya padat jadwal itu hadir di tengah-tengah kita”, tawa para peserta kembali aku dengar. Burhan, dia memang selalu begitu. Bukannya aku marah aku malah ikut tertawa.


“tapi saya jamin, akan ada banyak hal yang bermanfaat yang akan bapak-ibu dengar dari beliau, sahabat saya yang selalu menjadi panutan saya, Wisnu Permana”, kali ini riuh tepuk tangan menggema di ruangan ini. Burhan terlalu berlebihan menurutku. Aku menceritakan banyak hal di depan para peserta. Sejarah panjangku dalam dunia asrsitektur. Awal mula membangun cita-cita, awal mula berada di ibu kota serta menceritakan kisah-kisahku tentang para guru yang menjadi teladan bagiku.


Sesekali jantungku berdegup kencang kalau saja tidak aku atur nafasku saat berbicara. Wita seperti seorang juri yang menambah berkali lipat ketegaganku. Meski mataku tak tertuju padanya tapi sudut mata ini memindai dirinya yang tak henti menatap lekat diriku. Sampai aku tiba pada sebuah kalimat yang sontak membuatnya mendunduk entah kenapa. “Sampai akhirnya saya memutuskan mengambil program pasca sarjana di Swiss, untuk membuat cita-cita baru, menghapus cita-cita lama. Selalu ada tujuan tentu saat kita melangkah. Seperti bapak dan ibu memutuskan menjadi seorang guru. Apa tujuan anda, apa alasan anda?. Coba saya tanya pada salah satu peserta di sini. Apakah yang menjadi alasan anda memilih menjadi seorang guru?. Ibu berkerudung merah muda? Yang berkacamata.., apa alasan anda menjadi seorang guru?”.


Aku arahkan mataku pada satu titik dan langkahku mendekat pada posisi Wita yang tengah duduk dan menunduk pada buku yang ia pegang. Sepertinya ia tak menghiraukan kehadiranku, mungkin.. ia juga tak mendengar pertanyaanku yang hendak aku susul dengan pertanyaan lain untuk membuat permainan kami menjadi seri. Hingga suara pembawa acara memecah lamunannya dengan tanya “ibu yang dari kota Bandung, apa alasan anda memilih menjadi guru?”.

__ADS_1


“karena di sekolah Embun Gemintang ada lowongan”, jawabannya sungguh membuat seluruh peserta di ruangan megah ini tertawa. Konsentrasi apa yang dimiliki Wita?. Aku bahkan menggelengkan kepala atas jawabnnya. Seolah tak puas dengan kebencianku yang masih tersisa, aku melontarkan tanya yang sama, “apa yang menjadi alasan anda menjadi seorang guru bu Dewita Maharani?”.


Ia lalu menatap ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca, dengan terbata ia menjawab “karena aku suka anak-anak.., Pak Wisnu!”


__ADS_2