
Sebentar saja aku ingin berlari
Melepas amarah yang mengintip
Menenggelamkan pahit
“kau, akan aku lempar hingga menghilang!”
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-The Rumi
Diantara bisingnya ibukota Wisnu memimpin rapat pada project besarnya yang akan digarap oleh perusahaan property terbesar di Indonesia itu. Ini bukanlah perusahaannya tentunya, karena ia bukanlah putra pewaris sultan-sultanan. Ia hanyalah putra seorang ayah pensiunan pegawai kecamatan kota semasa kecilnya dan sang ibu yang mengajar di sekolah dasar. Ini melebihi cita-citanya, sebut saja ia hanya tersesat saat mencari sebuah jalan menuju pulang, ke “rumah”. Rumah yang menjadi sebuah gambaran ketenangan, sesuatu yang akan terus dirindu untuk ia buru. Tetapi sepertinya Wisnu masih harus terus tersesat, amarahnya pada masa lalu menyeretnya pada kenyataan tentang sebuah kata, KETIDAKPUASAN!
Ia harus terus menyibukan diri, memanfaatkan kecerdasannya untuk mengisi seluruh waktunya dengan apapun yang ia bisa. Kalau perlu 29 jam dalam hitungan 1 hari untuk melakukannya ia pun akan sanggup.
“ini adalah cita-cita terbesar saya, mungkin bagi anda semua ini merupakan fikiran terkonyol yang harus difikirkan oleh seseorang yang kecil seperti saya. Tetapi memanfaatkan aset tanah yang tidak luas di pinggiran ibu kota ini oleh perusahaan besar seperti kita dengan design dan perhitungan yang cerdas tentu akan semakin memperkuat kepercayaan atau lebih tepatnya simpati dari para investor”. Wisnu seolah tak kehabisan kata untuk menyampaikan ide-ide tak masuk akalnya itu.
“tetapi kita bukan perusahan property kawe-kawean Pak Wisnu. Mohon untuk dipertimbangkan!”, salah satu anggota direksi mengungkapkan ketidaksetujuannya.
“kita juga tidak akan membuat hunian ini secara kawe-kawean, kita akan secara serius menanganinya. Sehingga mereka yang berhak mendapatkan ini benar-benar layak mendapatkannya. Kita tak hanya hidup diantara tumpukkan uang kertas dalam koper. Tapi menegak dalam sebongkah recehan yang mereka kumpulkan untuk sekedar menyambung hidup. Anggap saja, ini sebagai asset kita menuju masa depan kita selepas menikmati indahnya hidup di dunia.” skak! Jawaban Wisnu seolah mengunci seluruh dewan direksi yang tengah bersihtegang sedari tadi membahas apa yang menjadi ide gilanya Wisnu ini. Ide gila yang ia rancang sejak 6 bulan yang lalu. Cukup matang untuk kemudian digulirkan diantara orang-orang pintar seperti mereka.
“baik, saya setuju!!” salah satu diantara mereka memantapkan suara untuk menyetujui gagasannya. “ini hal yang tak pernah kita lakukan sebelumnya, kita lihat sejauh mana keberhasilan anak muda ini, saya malah sangat memanti-nanti hasilnya. Ide yang bagus, untuk hasil yang bagus. Semoga” ditepuknya bahu Wisnu sebagai sebuah dukungan.
Suasana rapat selalu mengalir dengan baik, hangat dan menggebu. Sejak kehadirannya 3 tahun yang lalu. Iklim kerja di perusahaan ini beranjak terus membaik.
“Pak, hasil rapatnya saya kirim ke mana?”.
“Ke meja saya Put, sambil tolong bawain saya makan siang”
“baik, pesanan yang biasa atau ada yang lain”
“terserah, apapun saya makan”
“baik pak.”
“oke, makasih Put”, Wisnu meninggalkan ruang rapat dengan sedikit rasa lega. Tetapi, mengapa rasanya emosi hari ini berbeda dengan hari-hari yang lainnya. Oh bukan! selama seminggu ini, emosinya memang sangat kacau.
Kejadian minggu lalu, di kota kecilnya itu, atau tepatnya di kota terpahitnya itu, sungguh telah menguras energi. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa dunia itu hanya seluas daun kelor. Ia sempat pergi menjauh dari kota itu, bahkan melampaui sekedar lautan dan daratan hanya untuk melelahkan diri menjauh dari iblis yang bernama wanita itu, Wita Maharani.
Segera ia merogoh HP dalam saku celananya. Sepertinya ia harus melepaskan rasa rindu pada sang cinta yang memberinya ketulusan, satu-satunya sosok yang memberinya kejujuran cinta tanpa manipulasi, tanpa pamrih, tanpa kebohongan yang begitu memilukan.
__ADS_1
“halloo sayaaang…”
“ayaaah… assalamu’alaikum”, dengan riang murni alami, Adis sang buah hati memecahkan kepenatannya minggu ini.
“apa kabar Adis?” tanyanya kemudian.
“jawab dulu salam aku ayaaah!” rengeknya pada sang ayah.
“wish-wish, anak ayah udah pinter ajah nih, anak yang paling sholehaah”
“kata bunda, kalau bertemu orang atau mau menelpon orang harus mengucapkan salam. Daaaan…” adis membentangkan kedua tangannya dan menjeda kalimatnya dengan mengemaskan.
“salamnya harus dijawab juga. Salam adis harus dijawab ayah” lanjutnya sambil membentikkan telunjuk ke aarah kamera. Nampak dalam kamera wajah cantik dan lucu begitu membuat Wisnu dilanda rindu. Rindu pada anak simata wayang satu-satunya.
“bunda?” bukan menjawab salamnya, Wisnu justru bertanya tentang panggilan yang baru saja Adis ucapkan tadi.
“gurunya di sekolah, semuanya dipanggil bunda…” sayup-sayup suara perempuan menjawab rasa penasaran Wisnu.
“owh.. okey!. Wa’alaikum salam Adis cantik. Gimana udah sehat sekarang? Tadi gak sekolah kan?” tanya Wisnu.
“aku tadi sekolah. Seneng banget udah diajak bunda bermain ikan. Ikan itu hebat lho yah, dia banyak membantu orang” Adis dengan antusias berceloteh seperti biasanya.
“membantu orang?”
“oh iya? Gimana caranya. Ayah ko gak tau sih?”
“iyah, ikan nanti bakal bilang ke mamah, hei mamah ayo jadikan aku sup yang lezat, nanti aku akan menyembuhkan Adis yang lagi sakit”
“owh, owh.. teruuus?” Wisnu masih mencerna alur pembahasan gurunya Adis ini yang katanya dipanggil bunda.
“Adis barusan makan sup ikan gurami buatan mamah, enaaak banget. Adis jadi sehat. Besok Adis mau diajak memetik buah jambu di sekolah sama bunda. Karena Adis udah sehat. Udah dibantu sama ikan guramenya mamah”
“wuhahahahaha… Bunda emang hebat”
“eh.. ikan yang hebat donk ayaaah, bukan bunda”
“eh iyah, ayah lupa. Ikan emang hebat. Udah mau bantu adis jadi sehat kayak sekarang”.
“Adis kangen gak sama ayah? Mau dibawain oleh-oleh apa nih sama ayah?”
“boneka marsya, boneka marsya, boneka marsya” sambil berjingkrak-jingkrak Adis menjawab.
__ADS_1
“okey, nanti ayah bawain ya, mamah mana? Ayah mau bicara”
“hallo, iyah Wis, kenapa?”
“tètèh ko ngebiarin Adis sekolah dulu sih? Katanya Adis sakit, baru dua hari lho Adis panas.”
“mau gimana lagi Wis, tu anakmu tahu donk kalau udah nangis kejer. Teteh habis satu meja patah kakinya lho. Harus diamputasi. Tanggung jawab kamu ah!’ jawab sang kakak dengan muka cemberut.
“hahaha, iyah-iyah. Tapi gak apa-apa emang Adis maksain sekolah”
“itu nyatanya, malah pulang-pulang minta dimasakin sup ikan gurame. Teteh malah bersyukur hari ini Adis sekolah. Udah seminggu Adis susah makan. Sampe patah semangat teteh jadinya. Udah diajak jalam jalan sama Kang Indra. Udah diajak maen sepeda sama si Aa, eh hèsè we anggeur (tetap saja susah)”
“tapi kan Adis masih harus dalam pengawasan tètèeeeh” Wisnu masih keukeuh dengan pendiriannya.
“iyah atuh da teteh gè sayang sama Adis, teteh tadi nunggu Adis di rumah temen teteh. Deket sekolahnya Adis. Tahu sendiri kan sekolahnya Adis itu ketat banget, jadi gak bisa nunggu di kelas. Apalagi buat Adis nu ogo (yang rewel), kata gurunya kalau ada apa-apa sekolah bakalan langsung menghubungi teteh. Jadi teteh nunggu di rumah temen teteh. Rumahna Mirna, inget gak kamu? Sekalian ngebaso aci. Hihi” jawab sang kakak malah sambil cengegesan.
“ya udah terserah teteh lah” jawab Wisnu pasrah.
“Adis itu udah memilih teteh daripada kamu, jadi urusan Adis kumaha teteh! Kamu mah transfer uang we sing banyak, buat Adis sama uwana Adis inih. Hehehehe”.
“hadeuuh..” jawab Wisnu tak percaya sama kakaknya yang gak berubah dari sejak dulu.
“tèh, aku nanti mau ke Malay sekitar 3 harian, ya sama ini-itu mungkin jadi sekitar semingguan baru bisa ke Bandung. Nanti teteh mau oleh-oleh apa?”
“euh kamu mah sibuk wae, tugas apa lagi ini tèh?”
“tugas kampus tèh, Wisnu jadi dosen tamu disana”
“tong capè teuing Wis (jangan terlalu cape), inget badan kamu butuh istirahat. Adis juga butuh perhatian kamu. Bukan Cuma uang kamu. Yang butuh uang kamu mah teteh. Ini skin care udah habis. Hihhihii” lagi lagi sang kakak menggoda Wisnu.
“gak capek insya allah tèh. Titip Adis ya, kalau ada apa-apa hubungi Wisnu langsung. Uang udah Wisnu transfer kemarin. Cek aja nanti sama teteh”
“okey, nuhun. Emang adik teteh paling yahut. Padahal uang tranferan bulan kemarin masih banyak ko Wis. Nanti klo udah habis kan kata teteh juga nanti teteh bilang ke kamu”
“hahahaha.. yang sisa bulan kemarin buat skin care nya teteh saja”
“euh, buat satauneun (untuk satu tahun) atuh eta mah” jawab kakak Wisnu menyela
“trus, oleh-oleh buat teteh mah coklat nyak”
“idiih, yang gak boleh cape katanya” ledek Wisnu pada sang kakak
__ADS_1
“biar hidup terus manis donk say, gak kayak kamu. Pahit-pahit asem”
Dan jawaban sang kakak menambah kedutan di kepala Wisnu hingga akhirnya harus memijat pelipisnya saat panggilan video call nya berakhir beberapa detik tadi.