
apakah teramat rapuh, hatimu
menghangat lalu menghilang
-Wisnu-
Pontianak, Wisnu
Memandangi alam di balik pesawat yang mulai berada di atas langit bumi Pontianak, Wisnu menghela nafas dengan panjang. Ingatannya kemarin yang melayang ke masa lalu hingga menghabiskan dua gelas teh tawar milik sahabatnya bernama Andra jelas memperlihatkan kepiluannya hari itu. “pak.. pak Wisnu.. pak!” bahkan Andra beberapa kali menyadarkan Wisnu dari lamunan panjang berdurasi waktu yang telah lama usang di masa lampau.
Dadanya mulai memanas saat mengingat jika hari ini Wita telah mencapai titik puncak, yakni mewujudkan impiannya menjadi seorang perempuan berstatus istri dan mungkin..? kini Wita bahkan telah mewujudkan mimpi kecilnya memiliki beberapa anak bersama lelaki brengsek itu. Lalu Wisnu masih terpuruk dalam lubang yang terus berkubang pada kepedihan.
Menjadi kekasih Wita merupakan warna baru bagi Wisnu. Ia hanya telah menyadari betapa berharganya kehadiran Wita dalam hidupnya. Mendesak rindu bergelayut dalam kata berjuang untuk lebih memantaskan diri bersanding dengan wanita pujaan bernama Wita. Lalu apa sesungguhnya yang ia targetkan, hingga bidikannya selama ini menghilang direnggut mangsa yang tak pernah ia kenali. Ambisi menggebunya tentang sebuah mimpi nyatanya begitu absurd. Pencapaian apa yang ia inginkan? Bahkan jika titik ini yang ia harapkan ia tetap tak pernah merasa puas.
Wisnu hanya tak pernah berpikir, jika Wita akan membawanya pada sebongkah hati yang benar-benar menggumpal pada rasa yang luar biasa. Keinginan memiliki menjadi tujuan dan gairah bagi hidupnya, dulu.
Wisnu hanya meminta deret waktu sepanjang 3 tahun. Hanya tiga tahun apakah sulit untuk Wita?. Bagi Wisnu bahkan angka tiga terlalu sebentar untuk dapat membentangkan mimpi-mimpinya mendapatkan kata puas.
Menjalani kehangatan hari demi hari bersama Wita meski terpisah jarak, hingga bahkan sulit untuk melepas kerinduan dengan sebuah pertemuan nyatanya tetap membuatnya bahagia. Karena Wita, memberinya sebuah kenyamanan dalam hubungannya yang terikat dengan kata janji, kesetiaan. “apa sebaiknya aku datang menemui ayahmu? Aku takut kamu diambil orang”, pernah beberapa kali Wisnu menawarkan diri untuk serius menemui ayah Wita tapi lagi-lagi hanya tawa renyah yang Wisnu dapatkan dari Wita.
“hahahaha… gak usah, gak percaya banget sih sama Wita”.
“kamu cantik Wita, apalagi kamu udah bukan anak SMA lagi, pasti banyak orang yang mau sama kamu”.
“iya sih, kemarin udah ada dua orang yang datang meminta ke ayah. Yang satu polisi, yang satu mah katanya guru di SMP” tuh kaan ucapannya itu membuat Wisnu sport jantung.
“ayolah Wit, apalagi kita jarang bertemu. Kamu aja gak mau kalau diajak buat week and an, kencan ala-ala anak muda gitu”.
“aku kan harus bantu ayah, kalau mas memang bener-bener mendesak buat ketemu ya Wita mah ayo aja. Tapi baiknya jangan sering ketemu ih, nanti yang ketiganya setan lho”, tahu dari mana teori yang suka ibu Wisnu lontarkan padanya. Ibu Wisnu yang guru agama sering sekali menyeramahinya meski tempo lalu ia malah menjodohkan Wisnu dengan anak temannya. Mungkin agar Wisnu segera menikah, tapi ibu juga mungkin lupa bahwa obsesi anak lelakinya itu adalah untuk menjadi seorang arsitek ternama di negeri ini membuat sebuah prinsip hidup untuk menunda pernikahan.
__ADS_1
“terus kamu jawab apa ke ayah waktu tu pak polisi sama pak guru datang?”.
“ya Wita bilang aja lagi nunggu pak arsitek, nanti kalau udah siap dia akan lamar Wita. Wita minta waktu ke ayah 3 tahun”.
“ayah gak marah?”
“marah kenapa?”
“3 tahun?”.
“enggak marah lah, kan ayah sayang Wita. Cuma ayah bilang, jangan terlalu lama menunda kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Wita mau segera dinikahkan ayah selalu siap. Apalagi ayah tahu betul cita-cita Wita. Punya anak yang lucu-lucu.. hihiihihi” Wita tertawa sendiri.
Manis membayangkan kesetiaan seseorang di masa lalunya. Wisnu hampir lupa bahwa dirinya telah lama merasa sakit oleh sebuah pengkhianatan. Menyadari segala langkah dan rencana yang ia buat menjadi kepingan kehancuran belaka saat itu. Tepatnya ketika sahabat satu organisasi di kampusnya diam-diam melihat sebuah foto cantik terselip di buku tugas Wisnu.
“ih, ko gue berasa gak asing sama wajah ini”, Lala yang merupakan sahabat Wisnu itu mengomentari foto yang baru saja ia temukan. “siapa sih?” tanya Lala. “teman di Bandung”, jawab Wisnu. “aah, gue ingat. Calon istrinya Tara”. Tara? Siapa Tara? Calon istri?. “hush jangan ngaco, tahu dari mana kamu?”. Tanya Wisnu penasaran. Dengan perasaan menggebu ia menunggu jawaban Lala sang sahabat.
“terus?” tanya Wisnu penasaran.
“terus apanya? Kayak tukang parkir aja terus terus” goda Lala. “kamu gak ada rasa kan sama tu cewek?” Lala mendadak penasaran dengan Wisnu yang dikenal paling dingin kalau soal perempuan. Dirinya yakin jika Wisnu sang sahabat tidak mungkin terjerat dengan namanya jatuh cinta pada wanita yang sedang mereka bicarakan. Pasalnya beberapa kali ia menjodokan Wisnu dengan teman-temannya tapi ternyata hasilnya nihil. Bahkan teman sekelas Wisnu yang bernama Jesica yang jelas-jelas seorang model juga ditolaknya mentah-mentah. Wisnu sebetulnya normal gak sih? Sempat terpikir dugaan kotor dalam benak Lala.
“terus gimana?” tanya Wisnu kembali penasaran, ia bahkan tak menjawab pertanyaan Lala tentang perasaannya.
“ya, gue gak tahu sih kelanjutannya. Bulan lalu si Tara ngelamar Wita, terus katanya malah minggu depan Tara mo nikah. Gila cepet banget ya mutusin lamaran ke nikah. Emang tu sepupuku udah gak nahan kali ya? Hihiihi..”
Wisnu menegang dan menghentikan aktivitas makannya di kantin kampusnya itu. Ia menatap Lala tajam dan bertanya “lo yakin?”
“gak tahu sih, kemarin Tara ngechat gue. Nih chatnya!” Lala menyodorkan ponselnya pada Wisnu. Sebuah tulisan yang membuat seluruh tubuh Wisnu memanas dan menggigil. Nafasnya menderu tak menentu.
Gue mau nyari perlengkapan buat pernikahan gue besok. Jadi kita bisa ketemu hari senin aja ya La. Gue gak mau diganggu. Gue mau ditemenin Wita. Ini bakal jadi kenangan manis buat gue. Gue harap lo ngerti.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Wisnu merogoh ponselnya dan mengirim sebuah pesan untuk seseorang yang berada nun jauh di sana. Seseorang yang membuat hatinya selama ini menghangat, seseorang yang menapikan dugaan teman-temannya tentang kenormalan dirinya. Seseorang yang kelak mnegubah semua rencana hidupnya. Wita!.
Kamu lagi apa?
Assalamu’alaikum mas, tumben kirim pesan jam segini. lagi santai?
Lagi dimana Wita? Sama siapa?
Aku lagi di gerobaknya ayah, lagi sama ayah. Bantu-bantu. Alhamdulillah hari ini yang beli bubur banyak banget. Mas Wisnu lagi apa?
Lagi nunggu penjelasan kamu.
Kenapa?
Kamu ada yang mau disampaikan?
Maksudnya apa mas?
-----‐‐-----------
assalamu'alaikum reader.
aku tuh bahagia banget dapat apresiasi dari kalian. tambah semangat untuk up tiap episodenya. 💪💪💪
kalau suka jangan lupa klik jempolnya ya.👍 cht juga di bagian komentar. 🙏
makasih buat 👉Legend, Anggur, Asyifa dan yang lainnya yang udah suport😘😘
makasih banget loh apalagi kalau mau membagikan cerita aku ke temen-temen dekat kalian. lope lope deh🥰😘😘😘♥️♥️♥️😍😍😍😍
__ADS_1