Selesa Rindu

Selesa Rindu
Sakit


__ADS_3

aku pecah berkeping


bersama kisah tak berurai


-Wita-


Bandung, Rani-Lanis-Wita


Tubuh Wita semalaman terus menggigil. Sejak hari kemarin panasnya belum turun meski sudah diberi obat parachetamol. Kejadian dua hari yang lalu merupakan kali pertama tubuhnya bereaksi seperti ini. Bahkan teh Rani menemukan dirinya pingsan, tergeletak dilantai ruangan kerja Wita. Rani belum dapat mengatakan apapun pada Lanis, setelah sang dokter yang juga merupakan sahabatnya menanyakan kronologis kejadian yang menimpa Wita.


“saya gak tau Teh Rani, tadi bunda Wita minta saya bawain baju ganti ke ruangan Teh Rani. Buat Adhis, kayaknya Adhis buang air lagi di celana. Soalnya sudah seminggu ini bunda Wita melepas diaphernya Adhis”. Zahra menjelaskan.


“Terus pas saya masuk lagi ke ruangan bunda Wita, bunda Wita malah meminta saya menggantikan bajunya Adhis dan pergi ke luar ruangannya. Gak biasanya sih, biasanya kan bunda Wita pasti ngobrol dulu sama mamah Adhis perihal laporan belajar Adhis hari ini. Trus ngasih kartu rekam emosi yang baru ke mamahnya Adhis” Rani masih nampak mendengarkan penjelasan bunda Zahra.


“tapi karena bukan mamahnya Adhis yang jemput mungkin ya, jadi bunda Wita gak ngobrol dulu sama yang jemput” lanjut Zahra.


“siapa emang yang jemput? Papanya? Atau kakaknya?”


“bukan, tapi ayahnya”


“siapa?”


Rani mendapatkan penjelasan yang membingungkan dari Zahra tentang seseorang yang disebut ayahnya Adhis itu. Jangankan Rani, Zahra saja yang wali kelasnya memang benar-benar kecolongan. Bisa-bisanya ia baru mengetahui bahwa walinya yang selama ini selalu berkomunikasi dengannya nyatanya bukanlah ayah dan ibu kandungnya Adhis. Meski mereka memiliki hubungan darah persaudaraan, tapi Zahra dibuat kaget saat mengetahui Adhis adalah putra dari adiknya Teh Rumi yang… ya ampuuun ganteng bangeeet.

__ADS_1


Dua hari ini mamanya Wita menjadi perawat yang baik. Ia tak ingin kejadian 7 tahun lalu yang menimpa putrinya itu terulang lagi. Cukup sudah luka yang ia rasakan, bahkan nyeri itu terus saja menyayat hatinya saat mengingat Tara sang sahabat karib putri tercintanya menemui dirinya dengan sebuah kartu undangan pernikahan. Ia belum dapat memahami apa yang sedang terjadi.


“kepalanya gak kebentur kan Ran?” tanya sang mama pada Rani yang sore ini menyempatkan diri berkunjung menemui Wita dengan membawa sekantong buah apel kesukaan Wita. Meskipun ia tak tahu apakah apel boleh dimakan saat ini, tapi biarlah.. semoga Wita senang.


“saya gak lihat kejadiannya mah, pas saya masuk ke ruangannya Wita sudah tergeletak di lantai”.


“ya allah eta budak..” sang mamah hanya menghela nafas seraya menyiapkan beberapa pakaian yang akan menjadi pakaian ganti untuk Wita. Panasnya Wita sudah mulai turun sore ini, ia memutuskan untuk melap tubuhnya dengan air hangat agar tubuh dan pikirannya terasa lebih segar. “sok masuk we ka kamar, Wita lagi makan bubur barusan” titah sang mama pada Rani. “ada Lanis juga” lanjut mama Wita.


Setibanya di kamar Wita, dilihatnya kedua sahabatnya sedang sama-sama terdiam. Wita duduk diatas ranjang dengan balutan selimut di lututnya yang ia tekuk. Sedang Lanis duduk di atas kursi lipat hijau seraya menatap Wita dengan tajam. Perlahan Rani berjalan dan memutuskan duduk di tepi ranjang Wita. Lebih baik ia diam, karena Rani tak mengetahui pembicaraan apa yang sedang dibicarakan oleh Lanis sang Psikiater dengan Wita sang Konselor sekolahnya, haha.. lucu sekali bukan?.


“ini sudah 7 tahun Wita” ucapan tegas dan tajam terlontar dari bibir Lanis memecah keheningan ruangan yang semakin mendingin. “dan kemarin merupakan kejadian terburuk sepanjat riwayatmu” lanjutnya lagi.


Rani tetap memutuskan untuk diam, karena ia tak pernah tahu menahu tentang apa yang akan dibicarakan Lanis. Ia tak memiliki sedikitpun ilmu tentang itu. Berbeda dengan kedua sahabatnya ini, kepintaran mereka benar-benar menunjukkan jati diri mereka. Tapi Rani, tetaplah sabahat setia mereka dengan sedikit kisah yang berbeda, menikah muda dengan pilihan orang tua.


“aku, Rani atau bahkan keluargamu tidak akan dapat membantu, jika kamu terus memilih diam. Tidak semua luka harus kau kubur dengan diam, tidak semua luka harus kau tutup dengan diam, tidak semua luka akan sembuh dengan diam. Adakalanya kamu harus bicara Wita, ungkapkan! Keluarkan! Agar beban yang kamu rasa berat terasa begitu ringan” Lanis mulai melemah dalam bicaranya untuk seorang sahabat yang masih saja mematung memandangi jemarinya sendiri yang ia tautkan pada selimut tipis.


Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. empat detik.. lima detik..


“Wisnu Pratama, tiga tahun aku akan menunggunya” Wita memecah keheningan. Lanis lalu menggeser kursinya mendekat ke arah ranjang, sedang Rani memutuskan menggenggam telapak tangan Wita yang mulai bergetar.


“aku akan setia menunggunya, selalu..” bulir air mata mulai mendesak di pelupuk mata Wita. “tapi, kesalahan yang aku perbuat tidaklah termaafkan”, Wita menjeda dan menarik nafasnya dalam-dalam.


“kesalahan yang tidak termaafkan!!” ia mengulangi kalimatnya lagi seolah meyakinkan pada dunia bahwa dirinya pusat kehancuran atas hidup orang lain. Hingga ia yang memiliki tanggung jawab atas kebahagaiaan orang lain. Cinta macam apa Wita, kesetiaan macam apa yang sedang kau pertahankan?.

__ADS_1


“aku sudah jatuh pada perasaanku sendiri sejak pertama aku melihatnya. Kami sering bertemu di halte tempatku menunggu angkot menuju sekolah. Aku sering menepisnya, karena aku yakin ia adalah sosok yang sempurna, berbeda dengan diriku”.


“tapi Wisnu ternyata memilih untuk memintaku menunggunya, 3 tahun! hanya 3 tahun”.


“lelaki baik itu harus terluka karena kebodohannku. Saat Tara.. saat Tara melamarku…”.


“Tara?” tanya Rani. Tara Kakak kelasnya memang dikabarkan sangat dekat dengan Wita. Bahkan tanpa harus mengetahui berbagai ilmu dan jurus ia pun tahu kalau Tara memang menginginkan Wita. Tapi, bukankah Wita memang tidak menganggap Tara istimewa?, beberapakali bahkan ia meyakinkan Wita tentang perasaan Wita. “aku gak ada rasa sama Tara. Ran!” hanya itu yang selalu terdengar di telinga Rani.


Lamunan Rani lalu terhenti saat Lanis memberikan tatapan tajam tanda tak setuju dengan pertanyaannya. Ia tahu, ia harus mengikuti cara kerja sang dokter. Okelah Lanis, kamu pawangnya di sini.


“aku tolak lamaran Tara, selama sebulan Tara menghilang. Lalu ia datang dengan wajah sendu dan memohon padaku untuk yang terakhir kalinya, menemaninya membeli barang-barang pernikahannya”.


“harusnya.. harusnya aku dapat menjelaskan pada Wisnu bahwa selain dirinya, aku memiliki seorang sahabat yang pernah menolongku dari keterpurukan. Seorang sahabat yang telah lama memposisikan dirinya sebagai lelaki di sampingku hingga aku melukainya dengan penolakannku karena cintaku hanya untuk Wisnu”. Wita lalu mendongkakkan wajahnya dan menatap Lanis dengan sendu.


“aku.. aku menerima telpon Wisnu saat memenuhi keinginan Tara untuk yang terakhir kalinya. Wisnu tampak kecewa, aku berlari ke luar mencari Wisnu. Tapi nyatanya itu hanya dugaanku. Wisnu tak ada disana, hanya suara amarah Wisnu yang terdengar dari telephonku yang aku dapatkan. Hingga.. sebuah mobil merah menghujam tubuhku”,


ya.. kecelakaan 7 tahun yang lalu.


#####


hai readers.. maafkan ya aku baru bisa up hari ini. minggu-minggu ini agendaku padat. ups.. seharusnya bukan alasan ya... hihihi.


semoga episode ini bisa mnjadi penawar rindu buat kaliaaan. jangan lupa like, share dan komen tiap episodenya ya... biar aku tambah semangaaaat😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2