
serpihan itu mulai menghilang
lalu beranjak menuju sirna
hingga kulihat setapak cerita
menggurat pada nadi keheningan.
-Wita-
Bandung, Wita-Pingkan
“Bunda Wita, assalamualaikum”.
“hei.. wa’alaikumussalam, masuk Bunda Pingkan”
Setelah acara parenting berakhir, semua guru disibukan dengan tugasnya masing-masing. Geliat menyenangkan dalam setiap tahunnya di setiap sudut sekolah mereka. Ah kalau sudah begini siapa yang tak rindu.
Bagi mereka sebagai pejuang pendidikan, mendidik bukan hanya sekedar mempertemukan diri dengan anak, tetapi melantunkan banyak pesan tentang apa dan bagaimana dunia baru bagi anak-anak. Jikalah ada orang yang masih berfikir bahwa berada di sekolah hanya setara dengan angka pada nilai yang terbubuh pada raport, atau berulangnya jadwal masuk-istirahat-pulang, atau PR-ulangan-remedial, maka anggapan itu akan hanya mendulang rasa sedih dan kecewa. Karena sejatinya, bagi para guru di sini, mengajar, mendidik adalah candu tentang memanusiakan manusia.
Seperti nikmatbya candu bagi Pingkan saat ini. Setelah ketegangannya yang baru saja ia lewati, Pingkan melenggangkan langkah kakinya dengan teratur dan duduk di sofa merah minimalis di ruang Wita bekerja. “ini Bun Wit, data anak yang sudah fix. Insya allah siang ini sudah bisa diinformasikan kepada orang tua melalui pesan broadcast. Anak-anak berkebutuhan khusus sudah dipastikan ada di kelas-kelas para suhu” kalimat terakhir sedikit mengundang kerutan dahi Wita, tanda bertanya.
“Bercanda dong bunda Wita, serius amat. Hahahah” seloroh Pingkan tanpa sungkan. Wita baginya adalah atasan yang selalu bisa diajak berbicara santai. Meski Wita penuh wibawa, tapi sifatnya yang mudah berteman, hangat dan ramah, menjadi sosok yang menyenangkan bagi rekan-rekan kerjanya.
“kelas para suhu maksudnya apa sih?” tanya Wita di sela kesibukannya dengan keayboard netbuknya mengetik berbagai program sebagai bahan laporan kepada pihak yayasan. Program di bidang konseling yang harus terus berinovasi dan unggul dalam setiap tahunnya.
__ADS_1
“itu para guru dengan usia lanjut”. jawab Pingkan tanpa basa-basi.
“ish-ish..” bisa-bisanya Pingkan membuat hal seperti ini sebagai bahan candaan. Wita hanya bisa menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan tingkah Pingkan ini. Meskipun usia Pingkan sudah beranjak mendekati angka 3 yakni 28 tahun, tak berselisih jauh dari Wita yang berada dua tahun dibawahnya. Bahkan Pingkan telah memiliki 2 orang anak yang menggemaskan, tapi tingkahnya memang seperti anak TK. Ya.. pertanda dia memang guru TK. Hahahaha.
Wita yang usianya lebih muda dari Pingkan itu pun menjawab “Good job bunda Pingkan. Jempol buat bunda Pingkan dari bu guru” Wita tak kalah membalas godaannya.
“Tadi tuh emang gak bisa ditahan ya?” tanya Pingkan tiba-tiba sambil memasukan dokumen-dokumen kelas pada map-map yang sudah tersedia. Pingkan sang guru centil dan ceria itu, selain memiliki tugas mengajar, ia juga mendapatkan tugas tambahan untuk menjadi asisten Wita. Sesibuk itukah Wita sehingga mengharuskan ia mempunyai asisten?, entahlah, sekolahnya memang terlalu berbaik hati pada dirinya. Tahu betul potensi yang dimiliki Wita, seolah mengikat dirinya untuk tak pergi ke lain hati, untuk terus mencintai sekolah bernama Embun Gemintang.
Wita akan senantiasa disibukan dengan berbagai pertemuan penting sekolah, memberi pengarahan setiap bulannya kepada guru-guru, meghadapi keluhan para orang tua, mengobservasi kelas-kelas istimewa, bahkan menari dan bernyanyi bersama anak-anak sekolahnya. Meski ia tak memiliki kelas sendiri untuk ia miliki, tapi nama bunda Wita selalu menjadi seperti selebriti tanah air, menjadi favorit anak-anak di seantero kelas sekolah Embun Gemintang.
“Ditahan yang mana?” tanya Wita yang sudah mulai beralih dengan kegiatan yang lain. Menjawab pertabyaan Pingkan sambil memainkan stabilo warna hijau di atas kertas nama-nama anak berkebutuhan khusus dengan kasus-kasus yang berbeda. Autis, Diseleksia, Slow Learner, Cerebral Palsy Spastik, Central Auditory Processing Disorder. Kasus-kasus yang harus ia tangani serius dengan bantuan psikolog dan terapis professional tentunya. Kendati ia mengenyam pendidikan tentang ilmu jiwa, namun ia tak memiliki kepercayaan diri untuk menangani anak-anak istimewa ini sendirian. Belum lagi, tugasnya disini bukanlah hanya untuk itu, ia diberi kepercayaan penuh untuk mengamati dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi seluruh anak sehingga dapat dipastikan anak-anak dapat menemukan kesiapan belajarnya nanti di sekolah formal.
“yang tadi sampai lama-lama di toilet, kata Teh Rani, bunda Wita tadi habis dari toilet ya?” sambung Pingkan melanjutkan pertanyaannya yang diikuti pikiran nyelenehnya membayangkan Wita yang tak bisa menahan sembelitnya di gedung pertemuan.
Wita kembali tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Bund... emang bener gak bisa di tahan?" tanya Pingkan lagi penasaran.
“Itu..” Wita menjeda. “maaf ya, kayaknya salah makan”, entah inspirasi dari mana ia kemudian mengambing hitamkan makanan atas kejadiannya tadi.
“ini kejadian pertama kalinya lho bund. Gak biasanya bunda Wita nyampe gak bisa nahan gitu. Untung ajah gak sampai aku yang harus ngasih jawaban-jawaban dari pertanyaan orang tua. Kalau enggak, bisa bubar ini sekolah” sambil berbisik dan menjentikkan telunjuk pada bibirnya yang monyong. Hadduh Pingkan, bisa-bisanya bercanda seperti itu.
“maaf deh, insya allah gak akan terulang lagi” Wita membentikkan jari tengah dan telunjuknya tanda janji yang akan ditepati dengan tawa yang renyah diruangan yang beraroma lavender itu.
selepas Pingkan meninggalkan ruangan Wita, Wita melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa satu persatu nama-nama siswa di tahun ajaran baru sekarang ini, sebelum jam kerjanya berakhir tepat 14 menit 20 detik ke depan. Sekedar memastikan bahwa yang dilihatnya tadi adalah kekeliruan. Bisa saja ia hanya menjadi orang suruhan atasannya untuk hadir di tempat itu, atau, dia salah masuk acara? Aarrgghhh.. yang benar saja!!
__ADS_1
Satu persatu layar laptopnya ia scroll, kacamata berwarna peach yang ia pakai sangat ia andalkan untuk menemukan sesuatu yang tak diinginkannya. Sejurus kemudian nafasnya ia atur perlahan demi perlahan, punggung mungilnya ia benturkan pada kursi kerjanya yang tengah menjadi candu baginya. Ia lalu memejamkan mata, seraya meremas erat kacamata yang telah berpindah pada genggamannya;
Nama anak : Cantika Adhisia Permana
Nama Ayah : Wisnu Permana
Nama Ibu : Alivia Cantik Restari
Kelas : Ceria
Aroma lavender favoritnya di ruangan kesayangannya kini merupa aroma bunga bangkai. Segera, toilet menjadi tempat favoritnya kini. MUAL!!
###########
Reader sayang... senang rasanya berbagi cerita tentang kerinduan kita pada suasana sekolah. Semoga pandemi segera berakhir ya. aamin
like en vote nya juga buat yang suka cerita ini🤗
mampir juga ke ig dan fb-ku ya.🤗😍
kuy ceki-ceki👉 NingTias
di akun medsos kaliaaan😘.
jangan lupa follow dan share ke semua handai taulan kalian di seantero bumi perhaluan kita ya🤭✌
__ADS_1