
Sebut saja aku bodoh
tetapi aku memilih serakah
meminta cintamu yang teramat murni
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Teh Rumi-Lastri
"Pak polisi.. Adhis mau di foto!", pinta Adhis pada sosok polisi paruh baya yang baru saja meninjau keadaan mobil Wisnu. Body mobil sport miliknya kini harus terlihat sedikit penyok akibat benturan keras pada beton (concrete barrier wall) ruas tol Cipularang. Kendaraan yang dikendalikan Wisnu harus mengalami limbung saat kecepatan tinggi mobil tersebut tak dapat terkendali pada sebuah belokan yang sebenarnya tak sedemikian tajam.
Body roll atau daya lempar bodi mobil Wisnu ke arah luar jalur, saat kendaraan Wisnu sedang bermanuver. Seperti halnya gaya sentrifugal saat merasakan berbelok kencang ke kiri tubuh mobil Wisnu cenderung terlempar ke arah kanan, membuat Adhis dan Teh Rumi berteriak. Beruntung ia dapat mengijak pedal rem disaat yang tepat.
Andra kini bahkan harus menghentikan rapat bersama staf desain interior untuk segera meluncur ke lokasi yang baru saja Teh Rumi informasikan. Wisnu mengabaikan segala ocehan kakaknya itu. Ia lebih memilih menepikan diri di sela-sela mengatur segala ketegangannya barusan setelah mobil yang dikendarainya selamat dari ancaman kecelakaan. Sesaat, setelah sebelumnya ia memastikan terlebih dahulu bahwa Adhis putri kecilnya dan Teh Rumi sang kakak dalam kondisi baik-baik saja.
Pertemuannya dengan Tara hari ini telah mengurungkan semua rencananya untuk bersenang-senang dengan kaos reuninya di Villa Lembang. Kekacauan fikirannya semakin menjadi saat sang sahabat Burhan mengirimkan sebuah foto pada ruang chat pribadinya.
"Target serius gue". Tulis Burhan pada sebuah foto yang teramat indah untuk ia pandang. Wita.. sungguh ia sangat merindukannya. Hingga umpatan Teh Rumi memekik di telinga Wisnu saat mobil yang dikendarainya melesat dengan kecepatan penuh. Ia tak boleh lagi kehilangan Wita!!!
Lalu senja ini, di tengah luasnya awan yang mengantup pada langit, di tengah semilir udara tanpa aling-aling, di tengah suara lesatan kendaraan, ia memberanikan diri menghubungi Burhan. "jangan Han, jangan perempuan itu...!!".
Sebuah permohonan yang membuat lidahnya kelu. Masihkah pantas untuk dirinya memohon pada Tuhan bahwa hanya wanita ini yang ia inginkan?. Masihkah takdir akan memberinya kesempatan menghapus segala noda yang ia tinggalkan?, dalam rentang jarak dan waktu yang menembus pada kedalaman rindu hingga ia sesat dalam jalan prasangka.
"loh, kenapa emang Wis? lo kenal dia. dia itu tipe-tipe istri soleha. Gak bisa sembarangan orang bisa nyentuh. Cerdas, cantik.. beuh sempurna, lo kenal?"
Kenal?, pertanyaan yang baru ia sadari sulit untuk ia jawab. Ia terlalu sombong pada dunia bahwa Wita adalah cintanya yang tak luput dari kata mengerti dan memahami. Nyatanya, ia terlalu bodoh dan dungu untuk menyelami seberapa dalam kelembutan hati sang Wita. Segala pikat yang Wita miliki dulu membuatnya pasrah pada kenyataan bahwa dirinya memiliki ketulusan cinta yang tak perlu dibayarkan dengan pertemuan apapun layaknya sepasang kekasih.
"Wita.. Wita.. Wit," dengan terbata Wisnu mencoba menjelaskan.
"Hahahaaha...", belum sempat Wisnu menuntaskan ucapannya yang lirih, suara tawa Burhan menggelegar. "apa gue kalah sebelum bertanding nih ceritanya?". Burhan, ia memang sahabat sejati, yang selalu mengerti apa yang menjadi kerisauan hati Wisnu sejak dulu.
"Pastikan tidak sampai ke tangan orang lain!", pesan Burhan di akhir obrolannya. "Tentu", jawab Wisnu penuh keyakinan.
"Ke rumah pak?", tanya Andra di balik kemudi mobil miliknya.
"ke hotel kemarin!!!".
****
__ADS_1
Memasuki gedung hotel menjelang malam, Wisnu mengedarkan segala pandangannya ke arah taman hotel yang sudah dihiasi dengan berbagai dekorasi dan lampu-lampu sederhana yang indah. Sepertinya acara yang dibicarakan Burhan malam tadi tidak jadi di taman ini.
"kalau lo mo nyari dia, dia lagi di ruang acara kemarin. Garden party nya batal. Tadi sore hujan lebat. Tahu kayaknya gue lagi patah hati. hahaha".
Pesan Burhan masuk sebelum ia berhasil menghubunginya. Wisnu lalu memutuskan untuk segera ke lantai atas. "Adhis sayang dan Mamah Rumi, makan dulu di resto ya!. nanti kalian boleh nyusul ayah". Wisnu tak boleh abai tentunya dengan keberadaan Adhis dan Teh Rumi. Mereka sama berharganya dengan wanita yang akan ditemuinya malam ini. "Andra tolong temani!", pintanya pada Andra yang segera dibalas dengan anggukan. Tentu saja, Andra akan mengurus segalanya.
Sesampainya di bibir pintu area convention hall, Wisnu mendapati Lastri yang tersenyum ke arahnya.
"hai Wis? ikut acara penutupannya juga?", tanyanya. Ya.. Wisnu agaknya lupa bahwa hari ini adalah waktunya penutupan acara diklat yang diramaikan dengan berbagai rangkaian acara dan tentunya melibatkan sang artis sebagai tontonan hiburan dalam performa akting dan kolaborasi guru dengan teman sejawat.
Wisnu hanya mampu melayangkan senyuman dan menjawab, "saya masuk duluan". Saat pintu ruangan ia buka, ia dengarkan riuh suara tepuk tangan dan tawa yang menggelegar. Siapa lagi jika bukan Burhan yang menyuguhkan tontonan yang menghibur.
Lalu, degup jantungnya kini berdetak dengan kencang saat Wita melenggang ke arah panggung memegang mik dan berkata "ini benar-benar hukuman, semua anggota kelompok saya yang nyuruh saya maju. saya sebetulnya gak bisa nyanyi. walaupun saya guru TK, tapi nyanyinya ya memang bisanya seputar topi saya bundar", tawa para peserta menghangatkan suasana.
"jadi.. mohon maaf kalau suara saya bikin sakit perut", penoton kembali tertawa. Wisnu menatap Wita yang nampak dari sudut matanya tersenyum manis nan indah. Namun seketika ia mendapati wajah Wita menegag saat matanya beradu pandang. Degup jantung Wisnu harus benar-benar ia atur dengan baik. "Bu gurunya Adhis emang bisa nyanyi?", tanya sosok wanita yang tiba-tiba menggandeng lengannya. "maaf Lastri!", Wisnu menurunkan kedua tangan sang artis untuk melepaskan gandengannya.
"Hahahaha.. Baiklah pak Wisnu, aku mau dengerin gurunya Adhis nyanyi aja", jawab Lastri sambil melepaskan tangan cantiknya. Wisnu hanya mampu menyimpan rasa kesalnya dalam diam. Ia terus menatap sosok Wita. Cantik!!!
"untuk kalian semua, mencari cinta sejati, cakra khan", suara Wita memecah keheningannya dalam tatap yang merindu menghunus pada bola mata Wisnu. Tatapan apakah itu Wita? jangan!! jangan kau simpan benci di hatimu! teruslah simpan tatapanmu dengan cintamu itu, sungguh aku tak yakin padaku apa bertekuk lutut dihadapanmu masih mampu memberikanku kata maaf.
Wita yang terus mengalamatkan tatapannya pada Wisnu, bersuara dalam lirih dan kehangatan cinta:
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Kuharus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganmu
Senyumku melepaskan kau pergi
Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
__ADS_1
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Kuharus jujur pada hatiku
....
Suaranya mengapa semerdu ini?, alunan kata dan dentingan musik yang mendayu seketika menghipnotis semua yang hadir. Wita tentu tengah mengendalikan diri dengan sekuat tenaga, Berdiri di atas panggung panasnya, ditatap lekat oleh sosok Wisnu yang terus membatu. Hingga sosok Adhis tiba di ruangan itu dan berlari tanpa aba-aba ke arah Wita yang mengundang banyak perhatian.
Wita mendekap sosok mungil Adhis dengan terus berkonsentrasi pada lirik lagu yang dinyanyikannya. Teh Rumi bahkan mencoba membujuk Adhis dari pinggir panggung karena merasa tak enak hati mengganggu penampilan Wita yang masih belum menuntaskan nyanyiannya.
Lastri lalu mencoba melangkah untuk mengambil Adhis yang terus memeluk dan menyembunyikan wajahnya pada leher Wita. Namun langkah Lastri terhenti oleh tangan Wisnu.
Wisnu lalu melihat Wita mencoba membujuk Adhis untuk lepas dari gendongnnya. Sungguh paemandangan yang indah. Namun reaksi Adhis yang semakin erat memeluk Wita membuat Wisnu faham bahwa Adhis tak ingin beranjak darinya.
Seketika Wita nampak membisikan sesuatu pada telinga Adhis yang disambut dengan sebuah anggukan kecil Adhis. Adhis lalu turun dari gendongan dan memegang mik yang Wita pegang. Wita lalu mengambil mik yang lain dan berkata, "Pak Burhan boleh saya pinjam gitarnya?".
Wisnu menyaksikan setiap pergerakan Wita. Memakai gitar, mengecek setiap senarnya, berbisik sejenak pada Adhis lalu duduk di sebuah kursi menyejajarkan diri dengan Adhis.
"Persembahan dari kami, guru - murid yang selalu merindu. Serta berjuang untuk menunjukan pada dunia bahwa, walau bagaimanapun kami pasti bisa!!!". tepuk tangan kini menemani kalimat Wita. Wita memberi senyuman yang merekah pada sosok putri cantik kesayangan Wisnu.
"Adhis..., Meraih Bintang".
JREEENGG...
Wita.. apa telah kau lakukan. Bahkan putri kecilnya yang bernama Adhis itu memiliki cinta yang sama mendalamnya dengan dirinya. Wisnu tak mengira, kejutan kembali menerpanya hari ini. ?!?!?!...
####
maaf ya readers.. segitu dulu buat hari iniπππ
sing penting lebih dari seribu kataπ€π
besok kita ikutan nyanyi sama Adhis ya... kuy ahπππβ
__ADS_1