
memekik rindu kini tak lagi menapak.
pada hati sang pelakon
yang kukira belahan jiwa
-Wisnu-
Bandung, Wita-Satria-Wisnu
Senja ini, adalah senja yang tak akan pernah Wita lupakan. Bersama ibu dan adikya Salim, Wita menerima keputusan terpahit yang harus ia hadapi. Kejadian malam lalu nyatanya menyeret dirinya pada takdir yang mulai mendekati ajalnya, sebut saja demikian.
Malam itu, Wita yang telah mengalami kejadian buruk tak pernah meminta pada Tuhan untuk dibuatkan skenario semenyakitkan ini. Mendapati adegan yang sama tentang masa lalunya saat kecelakaan menghantam tubuhnya.
Memasuki kamar rumah sewaannya tepat pada pukul dua dini hari. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah dikhawatirkan banyak orang, saat dibukanya ponsel dalam tas yang sejak tadi tak diindahkanya..
Panggilan tak terjawab
Revita, 23 panggilan
Andra, 31 panggilan
Ibu, 47 panggilan
Salim, 35 panggilan
.
.
Mas Wisnu, 73 panggilan
.
.
Satria, 70 panggilan
__ADS_1
Maka senja ini, adalah pembayaran yang harus ia lunasi atas kejadian kacaunya malam itu. Setelah keesokan harinya, tepat pada pukul delapan pagi hari Satria telah berada di rumah sewaannya, Jakarta. Lalu menyuarakan titah yang membuat hatinya terhantam pukulan ngeri dan sakit tak tersembuhkan, "kita pulang ke Bandung!!"
Wita harus menerima kenyataan tentang keputusan yang diterimanya dengan sakit dan perih. "Beri waktu aku dua minggu, aku harus menyelesaikan project yang sudah aku tanda tangani di Jakarta!"
Kejadian hilangnya kabar selama setengah hari dari Wita malam tadi memaksa Satria dan keluarganya berada di rumah Wita sore ini.
"Saya mah gak mau lagi menunda-nunda pernikahan anak kita ceu. Khawatir aya gogoda nu lain ti sisi ti gigir (khawatir datang penghalang yang lain dari berbagai arah)", ungkap bu Dedeh di ruang tamu yang terasa dingin untuk Wita, ibu dan Salim.
"Saya mohon izin minggu depan saya akan segera menikahi Wita bu", sela Satria dalam suara tegasnya.
"Mohon maaf bu Dedeh, Pak Maman dan nak Satria. Kalau waktu yang saya minta tidak bisa Satria tunggu, kita.. bisa membatalkan pernikahan ini. Saya masih harus ada yang perlu disiapkan dulu ieu teh agar pernikahan ini yakin bisa saya selenggarakan", jawab ibu Wita pada mereka.
"ibu...", Wita menyela ucapan tegas ibunya. "ibu siapkan saja pernikahan Wita seadanya! Benar apa yang dikatakan bu Dedeh. Nanti biar Wita dan Satria bicara dulu".
Wita, rasa lelah apa yang telah menderamu?, hingga keberpasrahan kini menukik pada keputusan yang teramat fatal. Wita menjamu cinta yang dimiliki Satria dengan seteguk air dingin bercangkir retak bernama cinta bertepuk sebelah tangan.
"Dua minggu? tidak ada toleransi lagi! Kamu fokus sama kerja kamu, aku gak menerima alasan lagi pekerjaan yang belum kelar trus rencana nikah kita tertunda. Untuk persiapan pernikahan biar aku yang siapkan", ucap Satria di teras depan setelah Pak Maman dan Bu Dedeh berpamitan membawa senyum yang mengembang sebab putri tetangganya yang selama ini menjadi impian akan segera dijadikan menantu idaman.
"iyah..", jawab Wita lirih.
***
Wisnu segera membuka ponselnya dan menghubungi Wita tanpa berfikir panjang. Ia benar-benar tak percaya, rasa manis yang ia terima malam tadi belum sempurna ia telan dan nikmati kelezatannya. Tetapi kini, Witanya benar-benar memutuskan untuk pergi.
"Aarrghh... siaalll!!", umpat Wisnu saat ponselnya tak kunjung memberikan tanda teleponnya diterima oleh sang Wita.
"Andra!!, batalkan semua agenda saya hari ini. Kita ke Bandung!!!" Amarah Wisnu kini menggila dan menjalar sampai pada darah di tubuhnya. Mendidih hingga ke ubun-ubun. Mengantarkan ketakwarasannya kembali menyerang. Membidik janji pada diri tentang kepemilikan hati seseorang.
"Kita mau ke mana Bang?", tanya Andra di balik kemudinya.
"Satria... kita temui Satria!".
Andra, dapat melihat dengan jelas mata nyalang sang atasan. Mata itu mengkilat belati siap menghunus pada musuh yang sejak awal mengelukan pertarungannya, Satria!
"Abang bisa mengendalikan diri?", tanya Andra ragu. Sebab, kendati ketenangan yang dimiliki Wisnu kali ini terhampar jelas, namun nafas terengah itu tentu menjadi tafsiran nyata tentang Wisnu yang tak baik-baik saja.
"Hidup saya terlanjur tak terkendali sejak awal Ndra. Saya akan menantangnya sampai sejauh mana diri saya hancur!"
__ADS_1
Sungguh, benar yang diduga oleh Andra. Wita telah membuat Wisnu kehilangan arah dan kendali. Apa Wita tak tahu, sedemikian dalamnya cinta yang dimiliki sang Wisnu hingga ia terjebak dalam kubangan amarah yang menggelap.
"Saya.. akan selalu berada di samping abang", ucap Andra. Ya.. sehancur apapun Wisnu maka bagi Andra ia adalah sosok tangguh yang dapat bertarung pada kehidupan dengan judul apapun.
"Kita sampai bang. Menurut informasi Pak Satria sedang ada di kantornya".
Wisnu berdiri di depan mobilnya, membuka dasi dan kancing leher kemeja kerjanya. Berharap sedikit memberinya nafas yang semenjak tadi terasa menyesakkan. Menyiapkan diri menghadapi Satria, rivalnya yang tak kunjung menyerah.
"Saya antar bang?", tanya Andra pada Wisnu.
"Gak usah, kamu tunggu disini!", seraya melangkah pergi nada tegas itu terdengar mengerikan bagi Andra.
Tiba di ruangan Satria, Wisnu kini memutuskan duduk di sofa tamu sang rival. Berharap dengan duduk ia dapat mengatur emosinya yang sejak tadi terasa berantakan.
"Selamat siang pak Wisnu, lama tidak bertemu", Satria kini menghampiri Wisnu dengan percaya diri. "Kopi?"
"Tidak! terima kasih" jawab Wisnu dingin.
"ah.. baik. Saya boleh menduga sesuatu atas kedatangan anda? atau anda sendiri yang akan menyampaikan maksud kedatangan anda?", ungkap Satria memberinya kesempatan untuk bicara.
"Saya minta tolong batalkan pernikahan kamu dengan Wita, Satria!", dengan nafas tersengal Wisnu mengatakan permohonannya tanpa basa-basi. "Wita, wanita yang saya cintai dan saya lelaki yang dia cintai".
"Hahahaha... apa saya harus percaya begitu saja pada anda? Saya tidak memaksa Wita untuk menerima lamaran saya, dia juga tidak menolak untuk mempercepat tanggal pernikahan kami. Apa itu cukup membuktikan bahwa ia mecintai anda pak Wisnu?"
"Andra.. pikirkanlah. Wita memiliki masa lalu bersama saya yang harus saya tuntaskan. Ia mengalami banyak kepedihan yang harus saya sembuhkan. Kali ini.. saya memohon!!"
"Jika kali ini anda memohon pada saya pak Wisnu, maka hal yang sama akan saya lakukan. Saya mohon kepada anda agar dapat merelakan Wita untuk menikah dengan saya, seperti dulu ia merelakan anda menikahi almarhum istri anda".
Kalimat pedih itu menajam di sudut hati sang Wisnu. Gontai ia langkahkan kaki menuju parkiran mobil yang menunggu kekalahannya hari ini. Lalu memutuskan menepi pada tubuh kendaraannya yang bertengger di tengah parkiran basement.
Mencoba mengulang kembali ingatannya tentang kalimat Satria sesaat sebelum dirinya pergi, "saya akan melepaskan Wita pak Wisnu, jika memang benar Wita mencintai anda. Apakah selama ini Wita menerima permohonan anda? Atau justru menolak anda? Apa Wita menginginkam anda? Mengatakan bahwa andalah cintanya? atau jangan-jangan, cinta yang anda maksud adalah cinta anda yang bertepuk sebelah tangan!"
Wisnu, tengah berada pada titik terendahnya kali ini. Gemetar ia kencangkan pegangannya pada tubuh mobil miliknya. Hari ini, hari tersesak sepanjang sejarah baginya. Kini, menangis adalah sejatinya penawar yang mampu menemani kegundahannya. Air matanya membuncah menyeruak memanas ke sudut-sudut kedua matanya.. teriak ia pekikan dalam gamangnya hati "aaarggghhhhhh.... !!!!"...
Dipukulnya kendaraan miliknya berkali-kali menyadari jika cintanya telah kandas sejak lama, sejak amarah tak beralasan itu teralamatkan pada sang wanita yang menyimpan banyak kesetiaan.
"AAARRRGGGHHHHH.... !!!!"
__ADS_1
###
ngomong-ngomong... hari ini hari senin ya.. hadiahi aku dengan vote yang banyaaaak doooonkkkk...😘😘😘😘😘