Selesa Rindu

Selesa Rindu
Malam Panjang


__ADS_3

cintaku bertepi di kedalaman rindu


menggeliat diantara luka dan duri


tak apa!


sebab kau semerbak harum **me**rindu


-Wisnu-


Jakarta, Wisnu-Wita


Wisnu Pov


"Terimakasih mas, atas malam ini".


Aku tak dapat menyembunyikan rasa bahagiaku saat ia mengucapkan kata terima kasih malam itu. Meski harus aku lampaui dengan melihat Wita yang berkepayahan melawan trauma masa lalunya. Kecelakaan yang terjadi malam itu di jalan Kemang Utara membuat traumanya terusik kembali.


Aku bisa gila saat menyadari jika Wita harus terus mengalami hal seperti itu. Ini adalah kali pertama aku melihat tubuhnya menggigil, keringatnya bercucuran dan tangisnya pecah. Aku hanya meringis saat mengingat semasa ia bekerja di Embun Gemintang kudengar ia jatuh sakit setelah bertemu denganku di ruangannya. Kepedihannya baru aku ketahui semenjak bertemu dengan Lanis di Rumah Sakit tempat ia dirawat dulu. Aku memang bodoh.


Semalam kuajak dia makan malam padahal sebenarnya perutku sudah kenyang. Aku hanya khawatir dengan kesehatannya, sebab saat aku selidiki, bibirnya kering, kantung matanya menghitam dan wajahnya berkeringat.


Aku sempat menghubungi Revita saat di perjalanan menuju tempat Wita kehilangan kendali.


"Apa yang terjadi Rev?"


"Gak tau pak, tadi memang mba Wita mau beresin kerjaannya. Saya disuruh pulang duluan. Cuma saya khawatir dari siang beliau gak makan. Pagi juga makannya cuma sedikit. Apalagi semalam di gak tidur, mimpi buruk kayaknya"


Aku kalut mendengar ucapannya, terlebih saat GPS yang menunjukkan posisinya mulai dekat, sedang di sana terdapat kerumunan orang dengan suara sirine ambulance dan polisi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana gilanya aku jika kecelakaan yang ada di jalan tersebut menimpa Witaku.

__ADS_1


Aku lega saat melihat Wita dari kejauhan. Saat kuhampiri dia, dia nampak pasrah dan menyerah pada keadaan dirinya. Kutemani dia hampir selama tiga puluh menit, dalam posisi yang tak berubah. Ia menangis dan menahan gemetar dalam tubuhnya dengan suara lirih istighfar yang kudengar begitu menghanyutkan rasa bersalahku lebih mendalam.


Aku hanya bisa berkata, "jangan menangis lagi", seraya mengusapi punggung mungilnya pelan. Setelah mereda dan menyadari dengan apa yang kulakukan padanya ia lalu berucap, "jangan usap.. bukan muhrim!"


Aku tersenyum sendiri mendapati Witaku yang sedemikian berubah. Waktu dan pengalaman hidup memang mampu mengubah segalanya. Ia merupa ibuku yang selalu cerewet mengingatkan batasan antara laki-laki dan perempuan. Terlebih saat aku memutuskan pergi ke luar negeri yang ibuku ketahui memiliki pergaulan bebas tanpa syarat tentang ***** manusia yang bertahtakan label adam dan hawa.


Hatiku berdenyut rindu. Jika pemilik tubuh mungil itu mengizinkan, aku ingin segera menariknya pada pelukanku, menciumi keningnya, memegang tangannya yang gemetar dan mengusap air mata serta keringatnya yang bercucuran. Namun aku harus menahan diri, sebab waktuku belum tiba.


Harapan akan tiba pada waktu dimana ia akan menjadi wanita halal bagiku kini hadir dalam nada gemetar suara yang ia lontarkan. "Aku bukan mbak Lastri yang suka berlama-lama makan sate bersama mas Wisnu di sini".


Aku bahagia mendengar nada cemburu itu keluar dari bibirnya yang manis. Aku lupa jika kini batasan yang Wita minta harus aku tunaikan. Aku.. bahkan begitu menikmati gestur tubuhnya saat kugoda dengan permintaan konyolku ingin berlama-lama dengannya. Wajahnya memerah dan bibirnya tersenyum seraya berucap, "sudah malam, Wita harus istirahat".


Kulajukan mobilku membelah jalanan malam ibu kota. Kulihat ia terlelap, tertidur setelah lelah yang ia alami hari ini dan kemarin. Entah apa yang terjadi malam lalu hingga mimpi buruknya menyerangnya kembali. Lukanya menyempurna selepas kejadian tabrak lari yang memakan korban luka parah yang ia saksikan malam ini.


Aku hanya dapat mencoba memahami lukanya. Kecelakaan yang tak bisa aku ubah itu nyataya menjadi penyebab traumanya saat ini. Dan.. aku adalah penyebabnya.


Tiba di depan rumah sewaannya tepat pada pukul 12 malam. Aku menepikan mobilku di depan rumah bercat putih-cokelat itu, rumah yang ia jadikan sebagai tempat tinggalnya sementara. Jika boleh meminta, aku ingin membawanya pulang ke rumahku malam ini. Tapi aku harus benar-benar berjuang keras untuk menahan diri akan hal itu.


Tiga puluh menit berlalu, kubiarkan Wita menikmati tidurnya malam ini di mobilku. Hingga tubuhnya bergerak dan matanya terbuka. Ia lalu menyadari jika dirinya telah aku bawa ke rumah sewaannya.


"eh.. sudah sampai?", tanyanya seraya mengedarkan pandangan. "Ko ga dibangunin?" ia melanjutkan pertanyaannya sambil menegakkan tubuhnya.


"Kamu lelap banget, aku gak tega banguninnya", jawabku sambil menatapnya.


"Terima kasih mas, untuk malam ini", ucapnya seraya menatap tangannya yang ia tautkan sendiri. Aku dapat melihat dengan jelas cincin yang tersemat di jari manisnya. Seketika wajahku mengeras dan mencoba menahan diri dengan helaan nafas berat.


"Kamu wanita kuat Wita, aku memohon maaf, aku tak ada di sampingmu saat kecelakaan yang menimpa kamu dulu. Kamu, berhentilah mengingat segala kenangan buruk itu!", ucapku ragu saat mengungkapkannya . Bukan tak mungkin jika ucapanku itu akan mengundang reaksi tubuhnya yang tak baik.


Namun, kakhawatiranku tak terjadi saat Wita justru tersenyum menatapku "Wita sedang mencobanya, doakan saja!"

__ADS_1


Ia membuka sabuk pengamannya dan meraih tasnya lalu mencoba membuka pintu mobil. Namun pergerakannya aku tahan, "Wita...", ucapku. "Kamu.. tidak menyimpan dendam untukku?"


"Tidak!", jawabnya yakin. "mas Wisnu, juga mengalami hal berat yang sama sepertiku. Witalah.. yang layak diberi dendam itu", jawabnya lagi.


"Tidak Wita, kamu layak dihadiahi banyak kebahagiaan, bukan dendam", jawabku.


"pun halnya mas Wisnu. Mas Wisnu berbahagialah! Bersama Adhis, carilah ibu dan istri yang akan mendampingi kebahagiaan kalian" ucap Wita yang membuat hatiku berdenyut nyeri.


"Bagaimana jika ibu dan istri yang kami inginkan hanyalah kamu, bunda Wita" ucapku lirih.


"Sebentar lagi, Wita akan menjadi milik orang lain sepenuhnya. Berhentilah mengharapkan Wita! Berbahagialah mas Wisnu, dengan atau tanpa Wita".


Wajahku seketika mengeras. Ingin rasanya aku menghujani dia dengan amarah. Amarah atas ketakmengertiannya tentang koordinat bahagia bagiku dan Adhis nyatanya hanyalah dirinya. Namun amarah itu tak dapat aku lepas landaskan saat air matanya jatuh membasahi wajahnya yang cantik.


Tak kusadari tanganku terulur mengusap air matanya. Ia mengerjap.. sontak membuat aku menarik tanganku. "maaf!", aku ucapkan dengan rasa penyesalan.


Ia tersenyum dan beranjak turun dari mobilku. Aku ikut turun dari kendaraannku, memindai tubuhnya yang melenggang pergi. Namun, saat ia menyentuh pagar rumah, aku mengehentikan langkahnya melalui suaraku dan berucap dengan penuh harap, "Wita... Aku akan tetap memperjuangkanmu. Kamu tak perlu melakukan apapun. Kamu hanya perlu berdiam diri di sana. Biar aku yang berlari padamu".


Wita hanya tersenyum menatapku, "selamat malam mas Wisnu, istirahatlah! hari ini... hari yang melelahkan untuk kita".


###


merebut hati Wita kembali memang butuh perjuangan ya...🤭🤗😭


temani Wisnu dengan komen kaliaan dooonk... jangan lupa vote, like, hadiah dan share ke orang-orang yang kalian cintaaaaaa🙏🙏😘😘


Makasih.


Semoga Allah senantiasa memberkahi kehidupan kita semua. aamiin🤲

__ADS_1


__ADS_2