
jika bertanya pada mimpi
ia membalut keindahan
lalu Tuhan selalu berteka-teki
menjawab doa-doa yang terpekik
menembus sakit dan juang
-Wita-
Bandung-Jakarta, Wita-Ibu-Teh Rumi-Wisnu
Malam ini, ibu sedang mengecek sejumlah undangan yang harus disebar. Tak boleh ada satupun yang terlewatkan. Saudara, teman, tetangga dan pelanggan setia bubur daganganya sejak suaminya masih hidup.
Ibu tak dapat mememungkiri, bahwa kini perasaannya bercampur aduk. Anak perempuannya yang selalu dimanjakan oleh suaminya itu kini akan melepas masa lajangnya. Setelah banyak kisah yang putrinya tempuh dengan cerita-cerita yang tak logis.
Mendapati Wita yang tersadar dari koma akibat kecelakaan yang menimpa adalah anugerah terbesar bagi dirinya. Lalu masa-masa tersulit putrinya itu harus dihadapi saat Wita kehilangan ingatan. Hal terburuk yang baru ia ketahui adalah trauma yang dialami Wita yang baru diketahuinya dari Wisnu.
Sesaat ia tersadar dengan sosok Wisnu. Ibu berkaca-kaca mengingat nama itu. Ia lihat tumpukan souvenir pernikahan yang terbilang mewah baginya. Lalu undangan yang tercetak dengan harga fantastis. Belum lagi biaya catering yang mahal. Kesemuanya telah tuntas lunas terbayar tanpa mengurangi sedikitpun isi dompetnya. Bukan keluarga Satria yang telah melunasiya, sebab sebelum keluarga Satria berkunjung memberikan sejumlah uang untuk biaya pernikahan putrinya semua sudah terbayarkan lunas.
Andra melakukan semuanya. Dengan sigap semua kebutuhan pernikahan putrinya itu Andra penuhi. "Jangan nak Andra, ibu sudah menyiapkan biayanya. Ko kenapa begini?". Ia sempat bertanya pada sang Andra. "Kalau begini ibu bisa-bisa gak enak hati. Apalagi kalau Wita tahu".
"Makanya jangan sampai mba Wita tahu. Ini perintah atasan saya bu. Saya bisa dipecat kalau perintahnya tidak saya laksanakan"
"Tolong bilang ke nak Wisnu, gak usah seperti ini. Ibu gak enak"
"Buat pak Wisnu, mungkin inilah satu-satunya cara dia menebus semua kesalahannya. Ia hanya berharap mba Wita bisa bahagia. Ia menyampaikan permohonan maafnya ke ibu dan untuk almarhum bapak juga. Mohon untuk tidak menolak ya bu. Agar bisa mengurangi rasa bersalahnya pak Wisnu".
Ibu.. menghela nafasnya panjang. Jika saja ia tak memaksa Wita untuk menerima perjodohan dengan Satria, mungkin putrinya itu akan dengan leluasa memilih lelaki yang dicintainya. Kecelekaan yang dialami Wita dan disusul dengan meninggalnya sang suami bukanlah kesalahan Wisnu. Ia tak harus merasa bertanggung jawab akan hal itu. Ibu telah merelakannya sebagai takdirnya hari ini.
Ibu lalu memutuskan melangkahkan kaki menuju kamar Wita yang sejak tadi tertutup berisi penghuninya dengan mata sembab selepas pulang diantar Wisnu. Dilihatnya sang putri tertunduk menangkupkan wajahnya pada meja rias miliknya. Terdengar sesegukan samar di telinga.
"Wita.." ibu mencoba menyapa. Wita mendongkak dengan wajah merah penuh air mata.
"Ibuuu...", Wita memeluk sang ibu dan menumpahkan segala tangisnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri! Pernikahan ini bukan hal yang harus dipaksakan. Jika kamu tak yakin, tinggalkan!!" Wita tak menghentikan tangisnya. Suara tangisnya itu terdengar makin kencang saat sang ibu berkata, "menikah bukan untuk menggugurkan sebuah janji saja, tetapi mengikatkan dua hati untuk saling memiliki. Apa kamu sudah memiliki itu untuk Satria?" Ibu menegakkan tubuh Wita meminta jawaban dari sang anak.
"Istikharah Wita!! biar hati kamu tenang", pinta ibu.
"Tapi... pernikahan Wita sebentar lagi", jawab Wita lirih.
"Ini.. pertempuran di medan perang yang belum kita ketahui siapa pemenangnya. Kamu tidak bisa dengan sombongnya menyimpulkan sesuatu", jawab ibu.
"Ibu.. akan malu kalau Wita bertindak gegabah", jawab Wita.
"Ibu akan lebih malu bahkan sakit apabila mendapati pernikahan kamu yang tidak bisa membuat kamu bahagia. Menikah bukanlah permainan bagi ibu".
Wita lalu memeluk kembali sang ibu.. Apa yang harus dilakukannya saat ini. Sakit yang ia rasakan terus menelusuri setiap jengkal hati yang ia miliki. Hingga dalam pertengahan malam ini, ia berpasrah pada ketakmampuan diri, memahami dan menerima segala yang terjadi.
Dalam sujudnya yang panjang ia tumpahkankan segala tangis dan keberpasrahan. Menyandarkan segala kehidupannya pada Sang Pemilik Alam Jagad Raya dan Seisinya, Penguasa Alam Semesta dan Seluruh Jejak Langkahnya yang Menghamba.
"Allah.. sungguh aku tak memiliki kuasa untuk menyakiti siapapun. Akupun tak memiliki kuasa untuk menyombongkan diri menyerahkan kebahagiaan untuk siapapun. Aku hanya dapat berpasrah padaMu untuk kau takdirkan yang terbaik untukku..
__ADS_1
Allaahumma innii astakhiiru bi'ilmika wa astaqdiru bi qudratika as'aluka min fadhlikal a'zham fainnaka aqdiru wa ta'lamu wa laa a'lamu wa anta 'allaamul ghuyuubu..."
Bagi Wita.. Satria adalah teman semasa SMAnya yang tak pernah berhenti memuja dirinya. Satria selalu menempatkan Wita pada singgasana tertinggi dimanapun ia berada. Satria tak memiliki celah noda sedikitpun untuk ia sakiti.
Namun Wisnu, baginya adalah lelaki yang tak pernah terganti. Selalu menawan, menggetarkan setiap relung jiwanya dan mampu merajut indah seluruh dunianya.
.
Keesokan harinya Wita terbangun dari tidur dengan kepala yang sedikit berdenyut. Betapa tidak, seharian kemarian ia menghabiskan waktu dengan menangis. Selepas shalat subuh ia pun memutuskan tidur kembali. Lebih baik bertolak ke Jakarta sedikit siang dari rencana sebelumnya. Lalu menyiapkan beberapa hal untuk urusan kantor di rumah kontrakannya saja.
Dan benar saja, tubuhnya kali ini terasa lebih baik dari tadi pagi. Ia kemudian bersiap dengan tas raselnya untuk bertolak ke ibu kota.
"gak minta libur dulu sehari aja Wit?" tanya ibu sambil menyiapkan sarapan untuk Wita.
"Enggaklah bu, sebetulnya dari kantor Wita diiburkan. Masa berduka gitu. Tapi beda sama Wita bu. Wita kan mau ambil cuti. Ini Wita kelarin dulu sama urusan kantor mas Wisnu. Jadi gak terlalu malu kalo pas cuti", ungkap Wita sambil menyantap hidangan balado terong ungu dan goreng ayam buatan ibu.
"Kamu... sudah yakin? sudah istikhoroh?" tanya ibu menyelidik.
"Istikhoroh bu, baru tadi malam. Wita.. belum tahu jawabannya apa. Wita.. jalani aja apa yang sudah Wita rencanakan. Ibu doakan saja Wita".
Ibu menarik nafasnya panjang. Menyesap teh hitam dengan sekali tegukan. Ia hanya mampu memasrahkan segalanya pada Tuhan Sanh Pemilik Kehidupan.
"Kak, jadi ke Jakarta? pakai mobil kantor atau travel?" Salim dengan kaos polos dan wangi segar parfum menyambar bala-bala (bakwan) hangat buatan ibu.
"Duduk kamu kalau makan!", ucap ibu mengigatkan.
Wita hanya menggelengkan kepala dan tersenyum lalu menjawab, "Kakak pake travel aja, kalau kamu antar ke Jakarta pake mobil kantor juga tetep aja, kakak ga bisa pake. Kakak kan ga bisa nyetir, kamu juga harus langsung pulang lagi ke sini".
"Mba Revita enggak ke Jakarta?"
"Masih harus ngurusin hal-hal di sini. Gak apa kakak sendiri aja".
Menuju travel jurusan Bandung-Jakarta tak membutuhkan waktu yang lama dengan menggunakan motor Salim. Namun, motor yang dikendarai Salim harus berbelok ke pom bensin terlebih dahulu padahal jarak travel sudah tak begitu jauh.
"Isi bensin dulu ya kak, takut keburu habis".
Sambil menunggu Salim mengisi bensin, Wita menyempatkan diri ke minimarket untuk membeli cemilan yang bisa menemaninya saat berada di perjalanan. Namun tiba-tiba sebuah tepukan di lengan membuatnya menoleh.
"Bunda Wita.."
"Èh.. mamah Adhis?"
"lagi di Bandung ternyata. Mau kemana nih?", tanya Teh Rumi saat melihat tampilan Wita dengan tas ransel serta tunik motif kotak coklat dan celana panjang warna broken white dipadu padankan dengan sepatu kets yang Wita pakai.
"Jakarta mah, saya mau ke Jakarta. Mamah lagi di Bandung juga? sama Adhis?"
"iyah sama Adhis. Kemarin Adhis pengen nyusul ayahnya. Manja banget sekarang dia ke ayahya. Ya walau ketemunya pas malam aja. Wisnu mah tadi pagi juga udah ngacir aja ke Jakarta".
"owh..", jawab Wita tak memiliki kata lain untuk mengomentari apa yang dikatakan Teh Rumi.
"Sama siapa ke Jakarta?"
"Sendiri aja mah", jawab Wita tersenyum.
"Bawa mobil?"
__ADS_1
"Enggak mah, saya pake travel", jawab Wita.
"Iiih... kalo gitu bareng teteh aja, kita kan sama mau ke Jakarta. Nanti di anter deh sampai tujuan" bujuk Teh Rumi.
Wita nampak menolak. Ia terus mencari-cari alasan untuk tak ikut berangkat bersama.
"Ayo ih bundaaa... nanti Adhis bakal seneng lho".
Akhirnya dengan jurus bujuk dan rayu Teh Rumi dibumbui gombal recehnya itu, Wita berada di mobil yang sama. Dan benar saja, Adhis kini sudah berada di pangkuan Wita sejak pertama Wita berada di mobil.
Teh Rumi tersenyum licik saat ia telah selesai mengetik sesuatu di handphonenya.
"Nu.. kamu dimana? kata Andra hari ini gak ngantor"
"di rumah Teh, agak gak enak badan. Ini juga lagi tiduran"
"ya sudah sok iatirahatkeun heula we" (ya sudah istirahatkan saja dulu).
Perjalanan Bandung-Jakarta kali ini terbilang lancar. Teh Rumi dengan sifat 'keukeuh'nya itu kini membujuk Wita dengan hal yang lain.
"Mampir ke rumah dulu ya! ada yang mau teteh kasih".
Sekuat tenaga Wita menolak permintaan Teh Rumi, namun pada akhirnya ia mengalah setelah Teh Rumi berkata, "ada kado buat pernikahan bunda Wita, harus teteh kasih sebelum bunda Wita resmi menikah".
Wita mematung mendengar ucapan Teh Rumi. "anggap aja kado pranikah gitu", Teh Rumi cekikikan sendiri menjawab tatapan penuh tanya dari Wita. "bukan.. bukan dari Wisnu. Wisnu mah gak taueun", ucap Teh Rumi.
Mobil Wisnu yang membawa Teh Rumi, Adhis dan Wita serta supir yang bernama mang Ujang itu kini sudah menepi di depan rumah Wisnu. Rumah yang luas dan nyaman, dengan gaya arsitektur berkelas. Rumah ini benar-benar menandakan kepemilikannya.
"ayoo.. masuk. Adhis ajak bundanya masuk", ujar Teh Rumi.
Adhis menyeret genggaman tangan Wita melangkah menuju rumah. Melewati ruang tamu dan beberapa ruangan.
"Adhis.. bunda tunggu di sana aja", bisik Wita pada Adhis seraya menunjuk ke arah ruang tamu.
"Adhis mau pipis dulu, bunda tunggu di sini aja ya!", ucap Adhis yang sekarang berada di ruang makan.
"Eh.. kenapa di sini? ini pasti Adhis ni.. takut bundanya ngilang kayaknya", seloroh Teh Rumi saat mendapati Wita di ruang makan.
"minum dulu bunda Wita!", sambil menyodorkan air putih dingin Teh Rumi menyuguhi Wita.
"Makasih, tapi mah.. saya gak bisa lama-lama di sini", ucap Wita.
"ya.. ko buru-buru sih?", dengan kecewa Teh Rumi menjawab. Sambil menuangkan ramuan wedang jahe yang masih mengepul pada secangkir gelas Teh Rumi berkata, "kalau gitu boleh kasihin ini dulu ke Wisnu?!, kayaknya dia kurang istirahat makanya sakit. Tolong kasihin ya.. kamarnya tanya ke Adhis! Teteh cari dulu kadonya di ruang kerja Wisnu. Biar bunda Wita gak lama disini, jadi kita sama-sama kerja. Bunda ke kamar Wisnu, teteh ke ruang kerja Wisnu", ucap Teh Rumi sambil melenggang pergi setengah berlari. Ucapan yang benar-benar absurd dan konyol.
Wita terus memandang ramuan wedang yang mengepul itu dengan ragu. Hingga beberapa detik.. "ayoo bunda... iih kok lamaaaa", tarikan tangan Adhisnya memecah lamunannya.
Ragu ia melangkah, menuju ranjang yang dihuni oleh sosok yang ia pikirkan semalam. Tengah tertidur dengan balutan selimut dan keringat dingin yang memenuhi sela-sela kulit.
"ayaah.. ayaah.. minum obat dulu!!", Adhis menggoyang-goyang pundak Wisnu.
"Aaa dhiiss.. udah pulang? ayah boleh istirahat dulu sebentar ya.. Adhis mau bobo bareng ayah?" setengah tertidur Wisnu bergumam.
"kata mamah ayah minum dulu.. itu bunda udah bawa minumnya"
"bunda..?" jawab Wisnu masih dengan mata terpejam. Sejenak ia menyadari aroma parfum yang ia kenali, sontak membuatnya terbangun dan kembali bertanya. "Bunda Wita?? kok bisa di sini?"
__ADS_1
Wisnu terkejut mendapati Wita di sini, di rumahnya. Rumah yang sengaja ia bangun untuk seseorang di masa lalunya. Kini orang tersebut benar-benar berada di rumah ini.
"Minum dulu ayah Adhis, biar cepat sembuh!" jawab Wita sambil menyodorkan secangkir wedang jahe yang akan menghangatkan tubuh Wisnu.. dan hatinya!