
Maukah kau bagi lukamu?
Agar aku tak lagi merasa kerdil di hadapanmu
-Wisnu-
Bandung, Wita-Salim-Ibu
Selang infus di ruangan rumah sakit ini baru saja terpasang di tangan sebelah kiri Wita. "Demam Tifoid atau tipes. Ibu Wita harus kami rawat", ungkap dokter pada ibu dan adiknya Wita. Semalam, ibu tiba-tiba menerima telepon dari Lanis. Memberitahukan bahwa Wita sekarang berada di Rumah Sakit. Kepanikan sang ibu tak bisa dibendung. Ia bahkan berteriak memanggil Salim yang masih setia mengerjakan tugas-tugas kuliah di ruang tengah.
Mendapati kabar tentang Wita berada di Rumah Sakit adalah bagian terhoror bagi ibu. Ia masih mengingat dengan betul bagaimana kejadian 7 tahun yang lalu membawa keluarga Wita pada masa-masa terberat.
"Rawat saja dok, nu penting anak ibu sehat", jawab ibu dengan nada memohon.
Salim, sang adik kini mengurus segala sesuatunya, ia tak boleh membiarkan sang kakak yang selama ini berperan sebagai tulang punggung keluarga mengalami hal seperti ini. Kakak satu-satunya itu adalah sosok yang berharga, ia dapat menyaksikan dengan kasat mata bagaimana sang kakak dulu berjuang melawan lukanya, lalu pulih dan berubah menjadi sosok ayah yang sudah tiada.
Menjalani hidup tanpa ayah mengubah Wita yang manja menjadi sosok tangguh bagi Salim. "Kakak uangnya simpan buat keperluan kakak!. Salim sekarang bisa kuliah sambil kerja". Salim pernah meminta sang kakak untuk tak terlalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Biarkan Salim membuktikan bahwa dirinya saat ini adalah anak lelaki ayah yang mampu menjaga kakak perempuannya. Namun permintaannya itu tak diindahkan oleh Wita. Wita.. merupa pahlawan baginya yang tiada tanding.
Wita adalah segalanya bagi Salim dan ibu. Saat ini ibu bahkan terus terjaga menemani Wita yang tengah terbaring di ranjang pasien. "ibu tidur aja, sudah malam", pinta Wita. "Sok kamu we yang tidur, ibu mah gak ngantuk".
Ibu.. seluas inikah kasih sayangmu?, pada usia serenta ini ia tetap mewujudkan diri menjadi sosok yang tak kenal lelah. Inikah yang dinamakan cinta tak bertepi?, hingga dalam balutan doa namanya menyimpan jutaan kebaikan sepanjang hayat; kasih sayang semasa putrinya kecil hingga sekarang. Kesedihan apalagi yang akan Wita beri untuk sang ibu?.
__ADS_1
Cukuplah sudah Wita memberinya tangis. Apakah Wita kini harus mewujudkan permintaan ibu?, permintaan yang tadi pagi telah ia dengar kembali. "Melihat kondisi kamu sekarang, ibu gak menerima lagi penolakan. Kamu sekarang sering pingsan, sekarang malah dirawat, ibu juga semakin tua. Ibu mau lihat kamu ada yang mendampingi. Ibu mau menerima lamaran bu Dedeh, kamu gak punya alasan untuk menolak permintaan ibu. Kamu belum punya calon kan?".
Helaan nafas panjang Wita lepaskan dalam gelapnya malam yang terselip pada jendela kamar Rumah Sakit malam ini.
****
Bandung, Wisnu-Lanis
"Bunda Wita sudah tidak lagi mengajar di sini Pak Wisnu. Yayasan meminta beliau untuk berhenti mengajar di sini setelah kejadian tuntutan sidang tempo hari. Bu Wita mulai berhenti terhitung sejak diklatnya di Jakarta selesai", pernyataan bu Tarmin membuat Wisnu tak percaya. Setega inikah sekolahnya memperlakukan Wita yang nyata-nyata penuh kasih sayang itu?. Seburuk itukah akibat yang dilakukan putri kecilnya Adhis pada Wita?. Kesalahan apalagi yang telah diperbuat Wisnu untuk Wita?. Wita, semoga kau baik-baik saja.
"Bunda gak ada ayah?", tanya Adhis yang berjalan dalam genggaman tangannya memecah pikirannya yang tak menentu. "Ada.. kita akan menemui bunda Wita di rumahnya", jawab Wisnu menenangkan Adhis yang sejak kemarin menangis meminta kehadiran Wita, melempar apapun yang ada di hadapannya, memukul dada ayahnya, hingga tertidur pulas karena lelah. Jangankan kamu Adhis, Wisnu bahkan ingin marah pada keadaan saat dirinya kehilangan Wita. Bisa-bisanya panitia mengizinkan Wita untuk pulang lebih dulu sebelum acara selesai. Peserta yang lain bahkan pulang pada jadwal check out hotel esok harinya.
"Pak Wisnu?", langkah Wisnu terhenti saat Teh Rani memanggil dirinya.
"Alhamdulillah baik", jawab Adhis malu-malu.
"Kemana aja nih Adhis? Bunda-bunda di sini kangen nih", goda teh Rani dengan senyum ringannya.
"Adhis juga kangen. Mau ketemu bunda Wita tapi gak ada", jawab Adhis lirih.
Rani lalu menatap Wisnu dan meyakinkan diri untuk berkata, "Wita sedang dirawat di Rumah Sakit, Pak Wisnu", semoga tindakannya memberi tahu Wisnu tentang keberadaan Wita bukanlah hal yang keliru.
__ADS_1
***
Wisnu kini mengendarai mobilnya dengan berbagai perasaan yang berkecamuk. Witanya kini tengah terbaring sakit.
"Ayah.. kata mamah kalau mau nengok orang sakit harus bawa kue. Kemarin mamah nengok teman Adhis bawa kue", ucap Adhis yang tengah duduk di samping Wisnu. Ya.. Wisnu sampai lupa untuk hal itu. "nanti saja, yang penting kita ketemu dulu bunda Wita ya..", jawab Wisnu seraya mengusap lembut puncak kepala Adhis putri kesayangannya.
Sesampainya di Rumah Sakit yang telah teh Rani informasikan, Wisnu segera berjalan menuju kamar Permata ruang 21 tempat Wita dirawat. Angka 21 yang dicarinya sudah dapat ia lihat dengan jelas. Langkahnya tak dapat ia hentikan untuk terus tertuju pada kamar tersebut. Bersama Adhis ia akan menemui cintanya yang telah lama ia tinggalkan. Namun belum sempat langkahnya itu sampai pada bibir pintu, ia lihat sosok perempuan berbalut jas putih dengan sebuah nama tersemat dr. Lanis keluar dari pintu kamar 21.
Seketika wanita yang Wisnu lihat itu menoleh ke arahnya. Lalu dengan ramahnya berkata, "hai.. ini Adhis?", tanya sang dokter pada putri kecil Wisnu. "iya..", jawab Adhis ragu.
"dan anda.. Pak Wisnu?, mau menjenguk Wita?", tanya Lanis sontak membuat Wisnu heran. Mengapa dokter ini tahu siapa dirinya.
"sebelum anda menemui Wita, baiknya kita bicara terlebih dahulu, Pak Wisnu", Lanis menatap Wisnu lalu mengarahkan pandangannya pada Adhis. "empat mata", lanjutnya lagi.
Meski belum dapat menerima alasan rasional yang dipersyaratkan dokter bernama Lanis itu, Wisnu tetap mengikuti permintaan sang dokter. Ia membujuk dan membawa Adhis untuk pulang ke rumah teh Rumi. "bunda Wita sedang istrirahat, belum bisa kita jenguk katanya. Adhis ke rumah mamah dulu ya!, sekalian kata mamah mau buat kue dulu buat jengukin bunda Wita", bujuk Wisnu pada Adhis.
"Sok bawa pulang dulu we Adhisna ke rumah. Urang bikin kue heula, sakalian teteh mau ikut ngajenguk nanti", jawab Teh Rumi saat Wisnu menjelaskan bahwa Wita dirawat dan belum bisa ia jenguk.
Sampai tiba pada waktu yang Lanis tentukan, Wisnu kini tengah duduk bersejajar dengan sang dokter yang tak lagi menggunakan jas putihnya di sebuah cafe dekat Rumah Sakit tepat pukul 13.00, waktu istirahat sang dokter.
Wisnu kini mengetahui sosok yang bernama Lanis itu adalah sahabat kekasihnya -dulu-, Wita. Sejak dulu ia mencari siapa saja yag menjadi sahabat Witau ntuk sedikit membantu dirinya menemukan Wita. Namun harapannya itu gagal mengantarkannya pada titik ini sekarang. Perasaan dan pikiran Wisnu lalu seketika berkabut. Bergemuruh pada sesal yang mendalam dan mengeras pada titik rasa bersalah tak berujung pangkal, saat Lanis berkata,...
__ADS_1
"PTSD atau Post-Traumatic Stress Disorder, itu yang sedang dialami Wita".