
Kuusap lengan jiwa miliknya
merambah ke negeri awan
ia bernyawa mentari
benderang dan hangat!
-Wita-
Bandung, Rumi-Wita
Semenjak 2 bulan yang lalu, aktifitas Rumi menjadi berbeda. Rumahnya semakin hidup dengan celotehan anak kecil berusia 4 tahun bernama Adhis itu. Seperti pagi ini, meja makan menjadi tempat yang ramai setiap paginya. Suaminya, Kang Indra sedang sibuk makan sarapan pagi menu favorit ceplok telur dan tumis tahu, sedangkan anak satu-satunya yang masih bersekolah di SMA menghabiskan nasi gorengnya sambil menggoda sepupunya yang lucu. Sudah lama ia mendambakan seorang adik, tapi apa daya sang ibu tak kunjung hamil untuk yang ke dua kalinya.
“iiih, pipi tembeeem gemmeeezzz”
“aaaaa.. aa cakiit tauuu”
“Aa.. eeeh, tong diheureuyan (jangan digodain)” Rumi melarang anaknya yang dari tadi menggoda keponakan lucunya itu disela-sela waktunya merapikan piring-piring di meja makan.
“Risyad!, eh kamu jangan kayak anak kecil ah” sambung sang ayah yang sudah menandaskna sarapannya habis tanpa sisa.
“anak papa yang cantik, papa berangkat duluan ya!, berangkat sekolah naik motor aja ya sama aa Risyad. Papa udah ditungguin ada acara di kantor nih” Kang Indra menggendong si cantik Adhis yang menggemaskan sampai ke mobil hitam yang sudah tua itu bersama sang istri.
“euh, udah ada Adis mah, mamah udah gak dipanggil cantik-cantik lagi” gerutu sang istri yang cemburu dengan ulah sang suami, untuk seorang anak yang adalah putri dari adik kandungnya sendiri.
“iih, ieu mah udah kolot (tua) juga masih pengen dipanggil cantik” janwab Kang Indra sambil mencium kening sang istri.
“udah kolot tapi gak bosen nyium-nyium” cibir sang istri seketika.
“hehehe.. habis, kolot-kolot juga emang cantik sih”
__ADS_1
Demikianlah kebahagiaan kakak Wisnu yang bernama teteh Rumi itu, memiliki Kang Indra dan anak semata wayangnya Risyad dengan kehidupan yang sederhana. Dinikahi oleh orang yang dicintainya sejak SMA, Kang Indra memberikan kebahagiaan yang paripurna.
Berbeda dengan Wisnu, yang harus merajut benang hitam dalam bongkahan hatinya yang retak. Rumi tahu betul bahwa sang adik tak lagi memiliki semangat hidup penuh cinta semenjak 7 tahun yang lalu. Yang ia temukan pada sosok Wisnu adalah amarah, ambisi dan benci. Pada apa sesungguhnya Wisnu mengepalkan amarah hidupnya, untuk apa sesungguhnya Wisnu melangitkan ambisinya dan pada siapa sesungguhnya Wisnu membentangkan kebenciannya?, ia tak pernah tahu.
Namun, satu hal yang ia simpan rapat-rapat jauh di lubuk hatinya adalah.. ia akan selalu hadir untuk mendekap erat kerapuhan sang adik dengan cinta yang membuncah. Seperti pesan sang ibu sebelum menutup usia, “titip Wisnu.. !”.
Bocah cantik yang menggemaskan itu akan menjadi salah satu kebahagiaan bagi dirinya, untuk membawa Wisnu dari pelariannya yang tak pernah terhenti. “ayoo sayaang kita sekolah! Panggil aa Risyadnya, mamah udah siap”, seutas senyum ia lemparkan pada Adis yang beberapa menit lalu telah berada di atas pangkuannya. Di teras depan ia menunggu sang anak dan putri cantiknya. Luar biasa, bahkan sekarang ia mempunyai seorang putri yang cantik yang dengan tanpa syarat memanggilnya dengan sebutan “mamah”.
“nanti aa gak usah jemput mamah sama Adis, takutnya jadwal pulang aa sore lagi kayak kemarin. Mamah pesen kendaraan online aja, atau mamah nelpon dulu papa. Mudah-mudahan bisa jemput”
“iya mah, assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam”
“dadah Adis, jangan rewel ya kasihan nanti bu gurunya”.
Perasaan teteh Rumi begitu menghangat. Ini seperti de javu. Mengingatkan ia pada kenangan beberapa tahun yang lalu, saat Risyad digendongnya untuk masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Risyad pemalu ketika itu, bahkan hampir satu bulan lamanya ia harus menemani Risyad di kelas belajar bersama bu guru. Berbeda dengan Adhis, anak ini memiliki sejuta kelincahan yang ia tawarkan pada semua orang, sikap percaya dirinya memberikan aura positif pada setiap orang yang menemuinya. Tetapi ada hal yang selalu membuatnya kewalahan, kalau sedang menangis dan ada maunya Adhis siap meraung dan menangis sejadi-jadinya. Jangan ditanya berapa lama Adhis bertahan menangis, karena pada akhirnya dia yang harus mengalah menuruti segala keinginannya. Satu lagi!, lengannya yang mulus putih alami bak selebriti kini nampak lebam, merupa pewarna violet dengan garis-garis samar tanda kenangan gigi putih sang keponakan, gigitan Adis sangat mematikan. Catat!
“assalam’alaikum, Adis sayaang. Apa kabar hari ini? Wish tasnya sekarang gak dibawain mamah nih, hebat. Bintang dari Bu Guru” Bunda Zahra menyambut Adis dengan kehangatan penuh, tak lupa senyuman manis harus ia perlihatkan pada anak didik dan orang tua muridnya itu, suatu pesan yang disampaikan saat pelatihan di Puncak minggu lalu sebagai guru masa kini. SENYUM SIMETRIS!.
Adis menghamburkan dirinya pada Bunda Zahra, memeluk dan menyalaminya dengan sebuah kecupan di punggung tangan sang guru.
Semangaat!
Untuk hari ini,
Adhis kita berdamai hari ini ya..
semangat Zahra!!
Sang guru menggumamkan narasi positifnya dalam hati. Untuk menghadapi perjuangannya dalam mendidik anak-anak hari ini. Terutama gadis cantik bernamakan Adhis.
__ADS_1
“Adis sudah sehat sekarang mamah?” tanya bunda Zahra setelah memastikan Adis disambut di kelas oleh Bunda Fitri dan teman-teman Adis lainnya.
“alhamdulillah Bunda Zahra, kemarin minta dimasakin sup gurame. Mau sehat katanya. Aduuh anak ini ada-ada ajah”
Wita yang sedari tadi berada di kelas Ceria nampak sibuk dengan berbagai mainan yang berserakan di lantai. Dimainkannya boneka kelinci dan beruang bersama anak-anak pagi itu. Beberapa anak terlihat antusias bermain, sedangkan dua orang anak masih memilih nempel dengan mamahnya karena belum nyaman dengan suasana sekolah yang masih dirasa baru oleh mereka.
“waaah, ada Adhis sudah datang nih” seru Wita dengan penuh semangat menyapa sang bocah cantik yang baru saja tiba di daun pintu.
“bunda Wita, ini mamahnya Adis” bunda Zahra memperkenalkan saat Teteh Rumi masuk ke kelas yang suasananya terang dan menyenangkan itu.
“owh yaa.. ini mamahnya Adis? Iih ko cantik ya, pantesan Adisnya juga ikutan cantik” puji Wita.
“ah, Bunda bisa aja” teteh Rumi yang selalu senang dengan pujian terasa melayang jauh ke awan.
“ini perkenalkan Bunda Wita Mah, eh mamah kemarin ikutan parenting ga? Kayaknya udah tahu bunda Wita ya?” tanya Zahra pada orang tua muridnya itu.
“oh, kemarin ayahnya yang datang” jawab teteh Rumi tanpa ragu
“Bunda Wita ini konselor kita mah, insya allah kalau mamah perlu konsultasi apa-apa tentang Adis bisa dibantu oleh beliau”
“ah, bu guru kelas juga akan banyak membantu ko mah, insya allah semua akan berupaya terbaik di sini. Mamah sesekali bisa ngobrol santai juga dengan saya membahas Adhis. Kapan-kapan kita bisa ngobrol-ngobrol ya mah?” tanya Wita yang sesungguhnya kemungkinan akan mengagedakan secara khusus pertemuannya dengan orang tua Adhis itu. Namun, tidak sekarang pikirnya, karena masih terlalu dini kalau harus membuat kesimpulan.
“bunda.. bunda..” tiba-tiba Adis bergelayut manja pada tangan Wita, padahal baru saja ia asyik bermain lego dan boneka bersama teman-teman kelasnya.
“aku mau memetik buah jambu sekarang. Soalnya kemarin aku udah makan sup gurame”
“oke.. janji bunda pasti akan bunda tepati” jawab Wita sambil mencubit gemas hidung macung Adis.
Oh..oh.. sudah ditemukan biang keladi inspirasi sup gurame. Harus kasih ucapan terima kasih nih. Wisnuuu.. oleh-oleh dari Malay tambah satu..
Seringai senyum licik mulai tersungging dari bibir teteh Rumi pagi itu.
__ADS_1