
Mari memainkan peran
Bergelung mesra pada titik jatuh dan pengap
-Wita-
Bandung, Wita-Adhis
Pagi ini Wita akan memulai kegiatannya di sekolah sesuai dengan rencana yang telah dibuatnya secara matang. Seluruh agenda rapat dan pertemuan ia putuskan untuk ia tunda. Kebutuhan anak didiknya saat ini sudah menjadi prioritasnya. Masalah Bagas tempo hari sudah menemukan titik terang. Treatment yang diberikan kepada Bagas dapat dilakukan dengan mudah oleh guru kelas. Selama sepekan ini, Bagas menujukkan progres yang baik. Ia sudah mulai dapat menerima suasana dan situasi yang baru. Aktivitasnya di sekolah sudah mulai dapat ia terima dengan kenyamanan. Meski sesekali Bagas akan memperlihatkan ketegangannya saat sang mamah mengucapkan salam perpisahan di pagi hari setibanya di kelas kesayangannya.
Namun satu hal yang sangat disayangkan Wita. Selama sepekan ini, strategi yang dibuat Wita dalam rangka menangani gadis cantik bernama Adhis tak jua membuahkan hasil. Saat memasuki kelas Adhis akan memperlihatkan semangat empat limanya. Masuk dengan kepercayaan diri yang penuh, hati riang gembira dan senyum selebar lebih dari empat jari. Bersama mamahnya yang ramah dan riang Adis dengan yakinnya memasuki kelas Ceria. Bahkan saat mamahnya berpamitan, maka Adhis akan dengan mantap memberinya salam dan kecupan perpisahan dan berhamburan menuju bu guru atau teman sekelasnya dan bermain bersama.
Lalu, dimanakah masalahnya?. Hari senin tepat pukul 8 Adis mencubit temannya saat sedang mendengarkan cerita dengan Bu Fitri. Sang teman menangis dan mengeluhkan hasil karya cubitan sang Adis kepada bu guru. Diajaknya Adis berbicara oleh bu guru dan ditanya mengapa Adis mencubit temannya. Adis lalu mengamuk dan menarik kerudung temannya tersebut dengan marah sejadi-jadinya. “Fakhira jahaaat” teriak Adis hari itu. Butuh waktu sekitar satu jam Adis menangis. Naasnya, drama tangisan Adis tak berhenti sampai disitu. Tepat pukul 11 siang Adis kembali menangis dengan amukan lemparan buku, krayon, boneka yang ada di kelasnya itu. Apa penyebabnya? Urusan klasik untuk urusan anak, berebut mainan.
Hari selasa, pukul delapan tiga puluh Adis menggigit kaki temannya saat kelasnya bermain fiisik motoric di taman depan kelas. Lho-lho, bermain di luar, itu gigitan sampai nyasar ke kaki teman?. Tak habis pikir bagi Wita, Adis memang sangat unik. Tentu saja sang teman menangis sejadi-jadinya, karena gigitan Adis benar-benar meninggalkan bekas biru. Sang guru dengan berat hati harus mengomunikasikan kejadian tersebut pada orang tuanya. Mamah Adis meminta maaf kepada mamah teman yang sudah menjadi sasaran amarah Adis hari itu. Untungnya mamah sang korban memaklumi dan tak menjadikan hal itu masalah yang besar. “gak apa-apa mamah Adis, namanya juga anak-anak”, jawab mamah teman Adis itu.
Hari rabu, pukul sepuluh kurang lima belas menit Ridwan teman sekelasnya Adis harus menerima fakta jika keningnya menjadi benjol. Buah karya sang Adis. Apa yang terjadi?. Lemparan balok mendarat tepat di kening Ridwan ketika Adis dan kelompoknya bermain di area balok. Ayolah Adis, apalagi ini?. Balok bentuk segitiga atau disebut dengan limas itu menjadi rebutan Adis dan Ridwan. “aku yang duluan ngambil” rengek Ridwan. “aku mauu, itu punya aku” teriak Adis. Ya Allah Adiiis, plisss dooonk. Gumam sang guru sambil mengelus dada.
Hari kamis, pukul delapan tepat raungan tangis Sisi terdengar menggema. Tak hanya Sisi seorang, duet maut Sisi-Adis kali ini menambah riuh suasana kelas Ceria. Fitri, sang guru sampai mengharuskan membawa tiga belas anak muridnya yang lain ke luar kelas. Belajar di gazebo sekolah menjadi satu keputusan darurat ketika itu. Sedangkan Sisi dan Adis, tengah ditenangkan oleh Zahra. Adis mendorong keras Sisi yang berbaris di depan. “akuu duluan di depaaaan” teriak Adis. Sisi tak seperti teman-teman Adis lainnya. Sisi menarik kerudung Adis dengan amarah, dijambaknya rambut Adis yang sudah tak memakai kerudung itu. Dengan cepat Adis mencakar wajah mulus Sisi. Ah.. adegan yang sangat luar biasa!.
__ADS_1
Hari jumat, Wita memutuskan berkunjung ke kelas Ceria. Menyapa kembali Adis yang sepekan terakhir tak ditemuinya. Memetik buah jambu menjadi pertemuan terakhir antara Adis dan Wita. “assalamu’alaikum” sapa Wita saat berada di daun pintu kelas ceria. Adis yang sedang duduk berdoa bersama teman-temannya sontak menoleh ke arah pintu. Segera Adis berlari menuju Wita yang masih dengan tegak berdiri di depan pintu kelas. Dipeluknya Wita dengan erat. “Bunda itaa, aku kangeeen” rengek Adis pada sang guru yang telah ia tunggu kehadirannya sedari kemarin.
“eh Adis apa kabar?, bunda juga kangen nih. Ayo berdoa dulu!” ajak Wita pada Adis. Adis tak mengindahkan permintaan Wita. Ia memeluk erat kaki Wita. Betapa Wita tersentuh, mendapati anak yang menjadi primadona rapat darurat kemarin bersama kedua gurunya. Sama sepertinnya, baginya Adis adalah anak yang butuh pertolongan. Memendam segala emosi yang menghimpit di dada. Kalau saja, ia lahir sama dengan Adis, mungkin ia akan memilih jalan yangn sama seperti yang dilakukan Adis saat ini. PEMBERONTAKAN!.
Wita merendahkan tubuhnya sejajar dengan Adis, ditatapnya lekat Adis dengan kedua mata coklatnya. “berdoa dulu yuk, Bunda Wita temenin”. Memilih menjadi tumpuan duduknya Adis saat ini, Wita memberikan kode baik-baik saja pada kedua guru Adis di kelas tersebut. Biarlah Adis duduk di pangkuannya, jika itu yang membuat anak tersebut nyaman, tenang!.
Bermaksud mengamati Adis selama pemebelajaran di kelas berlangsung, menemukan hal-hal yang menjadi pemicu berbagai kejadian yang terjadi selama ini dengan Adis, namun nyatanya Adis tak mau turun sejengkal pun dari pangkuan Wita. Lalu..
Tininit.. tininit..
“halo, assalamu’alaikum,…. Owh iyah baik bu saya ke sana sekerang”.
“Bunda Zahra, boleh gendong dulu Adis sebentar! Saya diminta ke ruangannya bu kepala”.
Adis tetap tak bergeming. Ia bahkan menolak habis-habisan ajakan Zahra ketika itu. Meskipun pada akhirnya Wita dapat pergi menemui atasannya yang sedang menunggunya tadi tapi Adis tetap menangis tak rela guru trcinta pergi meninggalkannya. “bunda Wita janji kembali lagi ya, gak lama ko” janji Wita pada Adis sesaat sebelum pergi.
“bunda Wita, bulan November nanti ada diklat yang diadakan oleh Lembaga Studi Perkembangan Anak kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Corporate Social Responsibility dari berbagai perusahaan ternama di Indonesia. Saya harus memastikan ini dari sekarang. Diklat ini sangat sayang kalau kita lewatkan, karena peserta yang hadir merupakan peserta pilihan. Untuk kota Bandung, sekolah kita yang terpilih, dan hanya satu nama yang boleh kita ajukan. Intinya yang bisa ikut diklat ini hanya satu orang. Saya sangat berharap kamu yang bisa mewakili sekolah kita ini.”
“tentu saja Bunda Tarmin, ini kesempatan emas bagi kita. Saya lihat dari pemateri yang hadir semuanya kompeten. Bahkan ada Kak Setyo juga, wah bakal menarik ini bund” seloroh Wita dengan antusias.
__ADS_1
“tapi, ini tempatnya di Jakarta Bunda Wita”.
DEG
Sejenak tangannya bergetar. Sedikit menghela nafas dan meyakinkan diri. Tidak apa-apa Wita, bukankah setelah kejadian kemarin dirinya baik-baik saja?. Ya, meskipun dia harus mengalami demam selama dua hari, namun itu tak terlalu berarti. Semua baik-baik saja sampai sejauh ini.
“iya bunda, insya allah saya bisa”
Bola kusut yang pernah menggulung dalam hidupnya teras belum pernah terurai. Dari ujung mana ia harus memulai, dari ujung mana ia harus mengakhiri. Kepedihan yang Wita rasakan sulit untuk ia artikan sebagai sebuah kata ketidakadilan. Karena sejalan dengan itu, kesalahan adalah fakta yang tak bisa ia bohongi. Sedemikian dalamkah kesalahan yang ia perbuat?.
Klek.
Dibukanya pintu kelas Ceria setelah ia menuntaskan kesediannya dengan bunda Tarmin. Seketika wajahnya memucat, ia berlari mengarah pada suara tangis yang menjerit. Bunda Zahra fokus memegang erat tubuh Adis, dilihatnya wajah Adis dengan darah yang terus menetes, sedang Bunda Zahra mebawa kotak p3k dengan setengah berlari ke arah objek yang ia tuju.
“ada apa ini?”
“Adis membentur-benturkan keningnya ke gagang pintu bun”
“kok bisa?”
__ADS_1
“gak mau ditinggal sama bunda Wita katanya bun”
Ya Allah…