Selesa Rindu

Selesa Rindu
TARA


__ADS_3

Akankah sentuhan maafmu bernafas di nadiku?


Aku tak patut kau sebut manusia


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Tara


ALUMNI SMA..


DULUUUR .. jangan tarelat nyak. Kita mau ikutan dulu acara temu kangen sama guru-guru di sekolah. Sama Angkatan yang lain.


Wish.. bakalan seru ini mah, ketemu adik kelas euy…


Hahaha.. inget sama istri di rumah Jang!!


By the way, kita emang konsepan acaranya ngajak anak-istri. WAJIB!!


Yang gak bawa pasangan dianggap teu payuu..


Hallah.. jangan begitu, tersinggung yeuh. Hahahaha


Membaca pesan grup di layar ponselnya, mengingatkan Wisnu bahwa pagi ini ia harus bertolak ke Bandung untuk memenuhi janjinya mengikuti acara reuni akbar SMA. Ada beberapa ketentuan yang menurut Wisnu sedikit sulit untuknya. Panitia mengusung tema “kembali ke Djadoel”, yang mengharuskan mereka menggunakan pakaian semasa SMA nya dulu.


Cik ateuh nyak, baju zaman SMA mah udah teu maruat. Ini perut sudah pada mancung.


Tidak menerima alasan, sok we pinter-pinter mensiasati!!


Jawaban panitia acara mengundang banyak protes. Tetapi inilah euforia yang mereka rasakan, mengenang kembali masa-masa terindah saat SMA dulu. Masa pencarian jati diri, masa membangun mimpi, tak jarang bagi sebagian orang akan menjadi masa terindahnya dipanggil guru BP dan masa diberi ceramah-ceramah singkat dari wali kelas.


Wisnu, bawa anaknya juga ya!


Chat Irma dalam ruang pesan pribadinya.


Insya Allah, saya bawa Adhis sama kakak saya juga.


Ia okey lah, jangan lupa pake baju jadul ya. Nanti kaos yang kita bikin bakalan kita pakai pas sesi kumpul di Villa nya Rahma yang di Lembang.

__ADS_1


Oke.


Wisnu memutuskan turun dari kamar hotelnya untuk segera bertolak ke kota Bandung. Burhan sedikit kecewa dengan Wisnu yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak ikut acara penutupan nanti malam. “Padahal gue mo nunjukin cewek sholehah buat jadi target gue nih”, seloroh Burhan pada Wisnu di sela-sela makan malam mereka. “peserta diklat asal Bandung”, Burhan melanjutkan. Wisnu hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. “Moga sukses”, kalimat itu yang Wisnu berikan saat Burhan menjelaskan akan membuat sebuah suguhan acara penutup. “Kita mau buat semacam games perpisahan, tiap kelompok wajib mewakilkan anggotanya buat nyanyi di panggung yang kita siapkan, jurus pikat gitar tua siap mengudara”.


“hahahaha”, mereka lantas tertawa bersama, menertawakan kekonyolan yang akan dilakukan Burhan sang sahabat yang menyebutkan diirnya telah siap memilih pasangan hidup, bukan lagi mainan yang sering ia putus dan campakkan.


Awalnya, Wisnu tak berniat untuk benar-benar hadir dalam acara reuni. Tetapi pertemuannya dengan Wita kemarin membuat Wisnu gerah sendiri. Tak nyaman dengan suasana hatinya yang mulai kacau. Ia lebih baik memutuskan beranjak dari tempat itu dan sedikit memberi ruang untuk sekedar menikmati hidupnya dalam acara reuni akbarnya di Bandung.


“Teh.. nyimpen baju Wisnu yang waktu SMA gak”, tanya Wisnu sebelum ia menstarter kendaraan roda empatnya.


“gak ada atuh Wis, udah teteh kasih ke orang lain”.


“ya sudah gak apa teh”


“Buat apa?”


“hari ini reuni, harus pake baju waktu SMA katanya”


“ah aya-aya wae, atuh udah pada gak cukup. Dulu waktu SMA badan kamu segede Risyad. Sekarang udah rada gendutan. Eh.. eh.. sebentar..”, teh Rumi nampak berfikir mengingat sesuatu.


“ada jaket yang dibeliin almarhum bapak, suka dipake sama Risyad sekarang, coba tanya Risyad!!”.


****


Jaket itu terasa abadi dalam sejarah hidupnya. Ia senantiasa memakainya kemanapun ia pergi. Menemani masa-masa kelulusan SMA, masa-masa menjadi aktivis kampus, dan masa-masa perjuangan Jakarta-Bandung untuk menuntaskan cita-citanya seraya menemani Ibu yang telah kehilangan Bapak.


Dengan jaket itu pulalah, ia bertemu dengan sang Wita yang kini telah menjadi mimpi buruknya. Hingga dengan tergesa-gesa meninggalkan apapun tak tersisa di kota bahkan negara ini untuk lari dari kenyataan.


Wisnu dengan segala masa lalunya bersama jaket pemberian Bapak, memarkirkan mobilnya di bahu jalan sekolah yang sudah dipadati banyak kendaraan. Mobil, motor dengan berbagai plat nomor dari berbagai kota.


Ia lalu menyapa banyak orang, menemui beberapa guru dan menghadiahi mereka dengan beberapa batik yang ia bawa dari Solo satu bulan yang lalu. Memperkenalkan Adhis dan Teh Rumi pada teman-teman seperjuangannya dulu. Beginilah ternyata perjalanan hidup, ia melihat banyak sosok yang berubah. Dengan penghidupan yang berbeda-beda.


Putri kecilnya, Adhis, nampak bahagia dengan suasana yang ramai ini. Adhis dan teh Rumi memilih memisahkan diri dari Wisnu dan bermain dengan teman-teman sebayanya.


Kali ini Wisnu tengah berbincang dengan salah satu sahabatnya dulu. Sahabat yang kerap kali membobol pintu belakang sekolah dan mendapatkan panggilan dari guru BP. Sekarang berubah wujud menjadi sosok tokoh muda Islam yang kharismatik, berwibawa dan berwawasan.


“Gak nyangka jadi ustadz nih”, seloroh Wisnu.

__ADS_1


“insyaf doonk.. kalau saya nyangka kamu jadi arsitek” jawab orang yang memiliki nama Ridwan.


“hahahaha”, tawa mereka lepas tanpa beban. Memang demikian, perjalanan seseorang siapa yang tahu bukan. Sampai kedua matanya tertuju pada sosok wanita cantik yang berjalan ke arahnya. Wanita yang terus menatap lekat ke arah Ridwan dengan senyum yang mengembang.


“masih ingat?, Citra, adik kelas kita. Mantan pacar Ridwan playboy 3F IPA”, bisik Ridwan jemawa.


Namun bukan sosok cantik Citra yang membuat Wisnu terus memfokuskan pandangannya. Melainkan, sosok lelaki yang tengah menggandeng tangan Citra dengan mesra.


“Dia?”, tanya Wisnu pada Ridwan dengan penasaran.


“Suaminya lah..” jawab Ridwan sambil melenggangkan kakinya menghampiri sang mantan yang tak lain adalah adik kelas semasa SMAnya dulu.


Seketika dada Wisnu bergemuruh, amarah kini merasukinya kembali. TARA, berani-beraninya dia menggandeng perempuan lain selain Wita?, sebejad inikah lelaki yang bernama Tara itu hingga mengkhianati Wita?. Ia lalu memutuskam mendekati mereka, Tara tersenyum pada dirinya. Semakin jelas wajah yang ia ingat-ingat dulu di layar ponselnya.


“hai.. Tara.. ikut bergabung di reuni kalian. Suami Citra”.


BUUGGG… pukulan keras ia hantamkan pada Tara, lelaki yang sangat ia benci.


******


“hahahaha.. saya gak nyangka lho, memasukan kamu ke ruangan BP Wis”, Pak Umar yang beberapa bulan lagi pensiun dari dinasnya menjadi guru BP sekolah ini berseloroh dengan suara yang ringan. “kamu tuh waktu sekolah idaman banget. Jadi ketua OSIS, bintang kelas, idaman para guru we pokokna mah. Eh malah udah jadi direktur harus ditatar sama guru BP”, pak Umar kembali tersenyum. “Sok kalian selesaikan dengan bicara nyak!. Bapak keluar dulu. Citra hayu ikut Bapak.. Bapak mau ketemu Ayu yang katanya udah jadi dokter. Suamimu mah biarin disini dulu sama Wisnu”. Memang Pak Umar sang guru BP ini tahu betul apa yang harus dilakukan Wisnu sekarang.


“saya tidak mengkhianati Wita, Pak Wisnu”, Tara membantah sangkaan yang ditudingkan Wisnu sesaat setelah Pak Umar dan Citra meninggalkan ruangan BP.


“karena saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Wita”. Lanjut Tara.


“mengenai informasi yang diberikan Lala, benar!, bahwa saya menginginkan Wita. Tetapi keinginan saya tidak terwujud setelah Wita memberikan ketegasan pada saya bahwa dirinya sedang menunggu seseorang, yang saya sendiri tidak tahu apakah seseorang itu memang ada atau tidak. Karena yang saya tahu, Wita sampai saat ini belum juga menikah”.


“saya melihat anda bersama Wita berada di gedung wedding organizer”. Wisnu mencoba memberanikan diri mengungkap apa yang ia tahu


“itu yang saya sesalkan. Keinginan konyol saya untuk mendapatkan barang-barang pernikahan saya dengan Citra dari tangannya justru membawanya pada kecelakaan yang Wita alami”.


Kecelakaan? Kecelakaan apa yang Tara maksud. Ia tak mengetahui dengan jelas keberadaan Wita setelah kejadian itu. Ia hanya mengira, Wita telah benar-benar pergi bersama lelaki pilihannya.


“saya harap nama Wita tidak terungkap di depan Citra, pak Wisnu!, sebab butuh perjuangan bagi saya untuk meyakinkan Citra bahwa Wita hanyalah masa lalu saya yang tak pernah saya gapai”.


“akhirnya saya tahu, siapa yang sedang Wita tunggu. Namun saya sedikit kecewa Pak Wisnu, pilihan Wita terlalu buruk untuknya. Anda terlalu pemarah dan cepat mengambil kesimpulan”, pukulan telak untuk Wisnu yang mematung dari duduknya di sofa ruangan BP tersebut dengan sekali tepukan di bahu yang Tara alamatkan padanya.

__ADS_1


"Wita.. Wita.. Wita.." gumamnya lirih dan gemetar.


Maaf saja tak cukup untuk ia berikan pada gadis pujaannya.


__ADS_2