
bukan tentang cincin yang akan tersemat
bukan tentang hidangan yang tersuguh
ini, tentang janji yang bertemali pada hati dan keinginan Tuhan.
karena engkau.. adalah jawaban!
-Wita,Wisnu-
Jakarta, Wita-Wisnu
Wita Pov
Aku belum mampu sepenuhnya mencerna apa yang terjadi. Sang perawat terus memakaikan gaun indah ini dengan teliti. Aku lalu melangkah keluar dibantu oleh sang perawat dengan gaun pastel berpayet sederhana namun menampakan keeleganan dan kesempurnaan. Kulihat warna yang senada dengan gaunku melekat pada tubuh lelaki yang sejak pagi tadi aku cari. Ia tersenyum ke arahku dengan kopiah hitam yang bertengger di kepalanya.
Kulihat ia mengalihkan kembali perhatiannya. Tertawa bercengkrama dengan Satria. Tunggu dulu! Satria? aku tidak salah melihat? Aku jelas-jelas menyaksikan ia berbincang-bincang dengan mas Wisnu. Lengkap dengan setelah jas hitam yang nampak sempurna. Kepalaku semakin berdenyut melihat pemandangan hari ini.
Aku juga melihat para petinggi divisi perusahaan yang bercengkrama satu sama lain di ruang inapku ini. Pak Burhan dan Revita bahkan hadir dengan pakaian yang menurutku tak biasa.
"Mba.. kuat duduk di kursi?", tanya perawat sambil memapahku. Aku menggelengkan kepalaku, tubuhku masih lemas dan hatiku masih sesak dengan segala kesal dan marah yang tak bisa aku tumpahkan akibat khawatir yang menggumpal dalam dadaku untuk mas Wisnu.
Aku lalu duduk ditepian ranjang seraya menyandarkan kepalaku. Kugenggam ponselku untuk mengalihkan kegelisahanku, masih dengan diam dan bisu. Lalu ponselku itu berbunyi.
ting..
MAS WISNU
marah?
Aku membalas chat mas Wisnu dengan emoji tangis sebagai jawaban kekesalan. Ia lalu menatap dan melontarkan tanya dari sudut bibirnya tanpa suara; kenapa?
Aku menggelengkan kepala seraya menatapnya. Lalu menunduk kembali memainkan ponsel dengan jemariku.
ting..
MAS WISNU
cantik....
__ADS_1
kamu cantik hari ini
Tulisan yang kubaca di layar ponselku membuat hatiku bertambah berdenyut rindu. Apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar nalar. Aku pasrah menerimanya.
Papahnya Adhis kemudian bersuara di tengah kehangatan ruang kamar inapku. "Kita mulai sekarang? Siap Wis?", tanyanya sambil penepuk pundak mas Wisnu yang sejak tadi bercengkrama dengan Satria dan Salim.
"Siap kang.. Insya Allah", jawaban tegas mas Wisnu menguar keyakinan yang memancar dalam dirinya. Melangkah tegap bersamaan dengan Salim yang akan menjadi waliku.
Tetapi ketegasan yang ia suarakan kini berubah menjadi detik yang menegangkan, sebab sejak lima menit yang lalu ia terus meminta waktu untuk mengatur nafasnya sendiri dan menyeka keringat di kening dan tepian wajahnya dengan tisu yang sengaja mamah Adhis simpan di meja akad, meja yang berada tepat di depan ranjangku.
"Tenang nak Wisnu.. mantennya gak kemana-mana, dari tadi lihatin terus tuh", ucap pak penguhulu mencoba mancairkan suasana. Terdengar tawa dari orang-orang yang hadir di ruangan ini, mencoba menghangatkan suasana yang bagi kami, menegangkan.
Mas Wisnu kemudian menatapku, kubalas tatapannya dengan getar keheningan hati, menyelam pada lautan gelisah yang sama dengan dirinya.
Wajahnya semakin menegang saat matanya menangkap sosok diriku meneteskan setitik air mata. Ia kembali menatap Salim yang sama tegangnya dengan dirinya. Salim kini memikul tugas yang termandat dari almarhum ayahku untuk mengantarkan diriku pada tangan yang tepat.
Sedetik kemudian suara Salim menggema dengan jabatan tangan yang mengerat satu sama lain dengan mas Wisnu.
"issshhhh... sebentar!", mas Wisnu meringis ketika tangannya digenggam adikku.
"Lalaunan (pelan-pelan) Lim!, eta tanganna baru aja dijahit!", ucap ibu sambil menepuk bahu Salim.
"Hehehe... aduuh.. maaf bang..! ini aku juga tegang".
"Hahahahaha...", teman-teman Wisnu, mamah Adhis, ibu, bahkan Satria ikut menertawakan kepolosan mereka.
"Minum dulu minum dulu!!", Pak Burhan menyodorkan dua gelas air putih untuk menenangkan mereka.
"Hhhmmmz.. pak.. insya allah saya siap sekarang!", mas Wisnu memantapkan diri pada sang penghulu untuk memulai ijab kabul yang akan ia ucapkan untukku itu.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Wisnu Permana bin Soepandi Tarmono dengan kakak kandung saya Dewita Maharani binti Rahmat Abdurrahman dengan maskawin berupa cincin berlian 18 karat dan 10 gram logam mulia, dibayar TUNAI”.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Dewita Maharani binti Rahmat Abdurrahman dengan maskawin tersebut, TUNAI".
"Sah?"
"SAAAAHHH"
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir”.
__ADS_1
Mas Wisnu mengusap wajahnya kasar seraya menyeka air matanya yang menetes. Aku menatap
sosoknya dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu menegakkan tubuhnya dan melangkah yakin ke arahku. Bibirnya tersenyum, duduk diatas ranjang yang sedari tadi setia menjadi sandaran tubuhku.
"Aku sudah menetapi janjiku, aku sudah menepatinya sekarang. Maafkan..Wita.. jika kamu menunggu terlalu lama".
Mas Wisnu, bagiku 7 tahun tak lagi berarti jika kini hidupmu menjadi sebongkah harapan yang akan kumiliki tentang senyum dan keyakinan. Mas Wisnu, bagiku 7 tahun bukanlah jarak yang membentang antara asa dan harapan. Mas Wisnu, bagiku 7 tahun telah memastikan kedalaman dan keselesaan rinduku.
Aku menangkup wajah pucatku dengan kedua telapak tanganku. Wajah yang setengah jam lalu terpoles make up tipis ini kini basah dengan air mata yang tumpah tanpa jeda.
"Udah bisa peluk ya?.. sekarang?", tanya mas Wisnu dan kujawab dengan anggukan dalam tangis. Sesegukan aku menumpahkan tangisku dengan wajah yang kututup oleh jemari, tubuhku merasakan kehangatan dekapan lelaki yang kurindu, kini.. telah menjadi suamiku.
Pelukannya mengerat menyalurkan keyakinan bahwa esok akan ada genggaman tangan cinta membalut setiap inci hidupku. Kurasakan tangannya mengusap punggungku. Dagunya kini bertengger di ujung kepala dan berucap; "jangan lama-lama nangisnya, malu sama Adhis.. ko bundanya nangis lama-lama!"
Ia menegakkan tubuhnya dan menundukkn kepala seraya menatapku, "makan ya? teh Rumi udah menyiapkan banyak makanan tuh..".
Aku mengangguk mengiyakan tawaran mas Wisnu. Aku melihat teman-teman, dan orang-orang yang berada di kamar inapku bercengkrama merayakan kebahagiaanku dengan santapan yang telah dipersiapkan oleh mamah Adhis.
"Mau sama apa? aku ambilin.." ucapnya.
"Apa aja!", jawabku.
Mas Wisnu mengambil beberapa menu yang telah tersedia, dan aku kemudian mendapatkan berbagai ucapan selamat dari mereka yang hadir kurang lebih dua puluh orang di kamarku.
Mas Wisnu kini telah menghampiriku kembali dengan sepiring nasi yang mengepul. "Aku suapin ya?"
Kubalas tawaranya dengan gelengan kepala. "Wita bisa sendiri". Aku kemudian mengunyah makanan yang berada dalam piring di pangkuanku dengan perlahan. "Mas Wisnu gak makan?" tanyaku pada sang suami.
"Enggak sayang... aku gak laper. Aku cuma ngantuk", jawabnya lalu menyondongkan tubuhnya dan berbisik di telingaku, "aku cuma butuh tidur berdua dengan istriku.. ranjang di sini cukup ga buat kita berdua?"
Ucapannya membuat tubuhku seketika menegang. "hahahahaha....". Ia membalas reaksi tubuhku dengan tawa serta usapan lembut di kepalaku.
####
kirimin kadooo yang banyaaaak buat Wisnu😭😭
Bunga setruk, kopi segunung, cinta selangit, atau apapun deeeh....
Persiapan bulan maduan nih...🤭🤣
__ADS_1