Selesa Rindu

Selesa Rindu
Mandi


__ADS_3

Aku terlelap dalam khayal


membungkus harap dengan pedih


membuka mata lalu tersadar


aku tergeletak


menampani fatamorgana


-Wisnu-


Jakarta, Wita-Wisnu-Rumi-Adhis


Wisnu Pov


"Kamu sudah mastiin alamatnya? tempatnya aman kan Ndra?", tanyaku pada Andra pagi ini. Aku harus memastikan jika Wita kini tinggal di tempat yang aman. Ini adalah kali pertama bagi Wita tinggal di kota Jakarta. Kota keras penuh pertarungan nasib manusia. Meski benar, Jakarta bukanlah kota yang asing untuknya. Ada sejarah kelam yang terdaftar dalam buku hidupnya tentang lenyapnya ingatan di masa lalu akibat kecerobohan yang pernah kubuat.


"Aman pak, sudah saya pastikan", jawab Andra tegas. "Memang kemarin bapak gak nganter pulang dia?" tanya Andra menyelidik. Aku menghela nafasku.


Wita... ia merupa wanita bercadar emas tak bernilai harganya. Aku.. bak petarung yang harus mempersiapkan segala amunisi dan kekuatanku untuk memenangkan kembali hatinya. Sama seperti tertatihnya aku di masa lalu, kini.. Wita mengguratkan cerita tak bertepi untuk kugores setitik hati.


Kemarin, konsultasi karirku berjalan hanya sebentar, meski saat kutanya pada temanku yang lainnya, mereka hanya menghabiskan waktu satu koma setengah jam. Berbeda denganku yang menghabiskan waktu dua jam tiga puluh menit. Aku bahkan shalat magrib terlambat dari biasanya.


Aku tak mengira jika kemarin akan menjadi pertemuan terpanjangku dengan Wita setelah rasa rindu ini bersemayam terlalu lama. Aku ungkapkan segalanya dengan leluasa. Ia merupa teman bicara yang nyaman untukku. Aku tak habis pikir, inikah kehebatan Wita? Ia mampu menjadi sosok lain yang teramat memesona. Mendengarkan, memberi jawaban dan empati. Sedang dirinya?, merapuh di kedalaman luka yang belum sempat aku obati.


Dunia nampaknya memang demikian, senantiasa memparadokskan kenyataan. Tersenyum padahal menangis, bahagia padahal terluka, kuat padahal lemah, tegar padahal rapuh. Witaku.. kini memerankan lakon yang teramat menukik perih di hatiku.


Aku bukan lelaki bodoh yang tak mampu memanfaatkan kesempatan. Benar kata Andra, aku berniat mengantarnya pulang tetapi penolakannya membuatku malu sendiri. "Saya akan ada meeting lanjutan bersama tim saya, mohon maaf pak Wisnu, mereka sedang menunggu di mobil".


...


"Belum berhasil Ndra", aku akhirnya mengakui kegagalanku mengantar pulang Witaku itu. Wita itu selalu berhasil membuatku bertekuk lutut dengan segala pesonanya. Ingin sekali aku katakan padanya, ini adalah wilayah kekuasaanku, kau tak bisa menolak permintaanku. Tetapi lidahku kelu tak mampu menyanggah apa pun yang diinginkannya.


Kadang aku bertanya-tanya, kemana Wisnu yang mempunyai kekuatan memimpin itu. Yang segala titah dan perkataannya tak pernah mampu terbantah oleh apa pun atau siapa pun. Aku nampaknya terlalu berhati-hati dengan apa yang tengah ku hadapi ini. Wita.. jangan sampai lepas kembali dari genggamanku karena kecerobohanku.


"Sudah bang, fokus kerja hari ini!", Andra menghentikan lamunanku hari ini. "Siap-siap! Mba Wita sebentar lagi ke sini, nemuin abang", ucap Andra.


"Eh.. kok bisa?", tanyaku heran, setengah tak percaya sebab selama Wita di sini sulit bagiku untuk menemuinya.


"Ya bisa laaaah, pan bapak lagi kangeen", goda Andra yang kubalas dengan lemparan bolpoin dari mejaku.


"Hahahahaha... naga naganya ada yang rindu berat nih", ejek Andra padaku. Sialan!, jatuh cinta baru tahu rasa lo!!!


Saat kesal mendengarkan tawa Andra asisten hebat sekaligus menyebalkan itu, aku dengar suara riang anak kecil masuk ke ruanganku.


"eh..Assalamu'alaikum", ucapku.

__ADS_1


"salaaaam", jawabnya.


Anak kecil manis itu lalu berlari ke arahku. Aku berdiri dari kursiku dan menyambutnya dengan meggendong putri kecilku itu.


"Adhis ko gak sekolah?", tanyaku karena sepagi ini anakku dan kakakku ini tiba-tiba muncul di kantorku.


"Teteh teu (tidak) baca pengumuman. Semalam ada chat dari gurunya hari ini diliburkan. Teteh katiduran (ketiduran) malem tèh nonton drakor. hehehehehe". Hadeuh, tetehku yang satu ini memang perlu diberi tropi kalau bab drama korea. Usianya saja yang sudah tua, tapi urusan tontonan seleranya yang muda-muda.


"Adhis tadi belum sarapan Wis, gak mau ah diolo tèh (dibujuk)", keluh teh Rumi padaku.


Iyah, harus aku akui menaklukan Adhis bukanlah perkara yang gampang. Kepada Teh Rumi aku harus menghadiahinya banyak terima kasih, patut bersyukur dengan ribuan kata doa untuknya. Sebab dengan kesabarannya Adhis kini tak merasakan kehilangan sosok ibu yang tak bisa aku hadirkan untuknya. Namun sampai kapan tetehku ini akan berkorban? Aku semestinya mengingat betul tentang janjiku pada kang Indra untuk mampu membuka lembaran baru.


"Sini Tèh makanannya, biar Wisnu suapin", sambil melangkahkan kaki menuju sofa sembari menggendong Adhis aku meminta bekal makanan pada Tèh Rumi yang belum sempat dimakan Adhis pagi ini.


Belum sempat aku duduk di sofa, dan menyiapkan makanannya, aku dengar suara ketukan pintu pada ruanganku. Andra kemana?, tanyaku dalam hati. Ko gak bilang-bilang dia pas keluarnya.


"Masya Allah...", kudengar suara Tetehku berteriak kaget. Sontak aku berjalan ke arah pintu yang tersekat oleh partisi kayu dilengkapi oleh pajangan tropi-tropi penghargaan yang pernah kuraih. Aku lihat kakakku memeluk seorang wanita yang tak pernah berhenti aku rindu. Wita melihat ke arahku yang tengah menggendong Adhis.


"Bunda Witaaa... ih kangen banget ini teteeeeh", hei.. ada apa dengan tetehku? Sejak kapan wali murid yang biasa dipanggil mamah ini menobatkan diri menjadi tetehnya bu guru Wita?


"Apa kabar?", Teh Rumi melepas pelukannya.


"Baik, alhamdulillah", jawabnya terlihat kaget dengan apa yang menyambutnya. Jangankan kamu Wita, aku saja belum percaya dengan ulah kakakku ini.


Mendengar suara Wita, Adhis yang ada dalam gendonganku yang semula membelakangi arah pintu sontak menoleh ke sumber suara.


"Teteh ga tau lho bunda Wita ada kerjasama dengan perusahaan Wisnu", kakakku berceloteh di sofa ruang kerjaku setelah aku menjelaskan secara singkat mengapa Wita ada di kantorku. Sedang Witaku, hanya tersenyum dalam duduknya seraya menikmati pelukan hangat Adhisku yang tak lepas dari gendongannya sejak tadi.


"Ya sudah sini atuh Adhisnya, bisi mau ada rapat ya kalian", ucap Teh Rumi sambil membujuk Adhis untuk ia gendong. Namun pemandangan yang membuatku terenyuh dipertontonkan oleh Adhisku, ia tak mau lepas dari pelukan Wita meski Teh Rumi sudah membujuk.


"Tidak apa-apa, biar Adhis disini saja", ucap Wita membuat kakakku terenyum bahagia.


"Adhis mah gitu da pasti, kalau udah ada bunda Wita lupa deh sama mamah Rumi", goda Teh Rumi. "Ya sudah teteh bawain dulu air minum buat kalian ya" lanjutnya lagi sambil melenggang ke luar ruanganku.


Tak bisa aku pungkiri, aku bahagia dengan pemandangan ini. Aku tatap kedua wanita yang aku cintai ini, kini berada tepat di depan mataku.


Memeluk Adhis dalam gendongannya tak lantas menghentikan niat Wita berada di ruangan ini. Dia menjelaskan segala progres program kerjasama yang dilakukan oleh timnya kepadaku. Aku mengamati dan mendengarkannya dengan seksama. Namun fokusku kini terhenti saat Adhis membisikan sesuatu pada telinga Wita. Aku lalu menggerakan bibirku tanpa suara padanya. "Apa?", bisikku.


Wita hanya tersenyum padaku. Ah.. Wita jangan tersenyum begitu, aku bisa mati melihatnya.


Ia lalu berkata pelan padaku, stengah berbisik berucap "Adhis lapar katanya".


Ia kemudian membisikan sesuatu pada telinga Adhis, pemandangan menyenangkan yang aku lihat. Adhis-Wita seperti sepasang manusia yang berkoalisi untuk mengabaikan kehadiranku.


Setelah menerima bisikan Wita, Adhis mengangguk dan tiba-tiba melepaskan diri dari gendongan Wita. Duduk disamping bunda Witanya, pada sofa yang sama.


"makanannya ada?", tanya Wita padaku.

__ADS_1


"Eh.. ada", aku terkesima dengan intonasi bicaranya yang lebih santai denganku.


Aku serahkan bekal makanan yang tadi disimpan di meja kerjaku kepada Wita. Dibukanya bekal makanan itu. Ditatanya makanan yang sudah disediakan Teh Rumi itu di hadapan Adhis. Pada sofa kerjaku yang panjang Adhis duduk bersila melihat semua hidangan di hadapannya.


Wita menyerahkan sepasang sendok dan garpu pada Adhis, "Selamat makaan, baca doa dulu", ucap Wita.


"Bismillah", ucap Adhis lalu menyantap makanan yang Wita sediakan. Aku terkejut melihat tingkah Adhis di hadapanku itu. Aku dan Teh Rumi paling sulit membujuknya makan. Bahkan Adhis belum pernah makan sendiri, ia harus dibujuk lalu disuapi.


Wita melanjutkan laporan kerjanya padaku, aku sesekali melihatnya bergerak mengelap pipi Adhis dengan tissu. Tersenyum ke arah putriku dan sesekali membenarkan wadah makan yang sedang Adhis pakai.


Wita kembali menjelaskan beberapa hal tetang hasil kerjanya. Dan fokus kami terhenti saat Adhis berucap, "Bunda .. udah habis".


Aku terkejut melihat penampakan Adhis, sontak aku ingin marah pada Adhis kecilku itu. Tapi niatku terhenti saat kudengar tawa Wita menghangatkan hatiku.


"hahahaha... Adhis gak pernah makan sendiri ya?" tanyanya padaku. Aku tak menyangka, pemandangan yang membuatku kesal itu ternyata menjadi sumber tawa untuk Wita.


Adhis kini tampak kotor dengan cokelat yang kakakku tuang menjadi pemanis untuk pisang keju. Sedang sisa nasi dan sayur nampak berantakan di sofaku. Baju Adhis basah karena tumpahan susu. Sempurna!


"Adhis bawa baju ganti?", tanyanya yang kujawab dengan mengacungkan tas doraemon yang selalu Teh Rumi bawa. Ia lalu berdiri, membawa Adhisku dalam gendonganya. "Kamar mandi?", tanyanya padaku. Aku tersentak dan segera berjalan dengan tanpa bicara menuju kamar mandi di ruang kantorku yang berada di pojok sebelah kanan.


Aku lihat dia memasuki kamar mandi tanpa ragu. Melepas semua pakaian Adhis yang nampak kotor. Aku dapat melihat tubuh Adhisku lengket dengan susu dan cokelat yang ia tumpahkan.


"Sabun anak?", tanyanya. Aku cari dalam tas yang sedari tadi aku bawa. Kusodorkan padanya seraya masuk ke kamar mandi. "Tunggu saja di luar, nanti basah, sambil tolong siapkan handuk!", perintahnya padaku.


Aku masih linglung dengan apa yang kulihat. Kuikuti saja perintahnya, melangkah pergi menyiapkan handuk yang ia minta. Lalu menikmati pemandangan indah ini di depan pintu kamar mandiku. Ya Tuhan... jadi begini rasanya memiliki keluarga sempurna. Aku sejenak bermimpi jika yang ada di hadapanku bukanlah fatamorgana yang sesaat lagi akan menghilang dan tak dapat kugapai perwujudannya.


Witaku.. ia memandikan gadis keciku dengan penuh kasih. Sesekali mereka tertawa. Apakah ia tak menyadari jika setengah bajunya kini telah basah? Aku mengulum senyumku sendiri. Beginikah bahagia itu?


"Handuknya?" ia kini berada di bibir pintu memecah senyum yang aku lengkungkan di bibirku. Aku sodorkan handuk Adhis. Ia balut tubuh Adhisku, menggendongnya dan memindahkan Adhis ke gendonganku.


Aku lalu membuatnya tersadar dari segala aktivitas yang membuatnya lupa dengan peran dan keangkuhan yang selama ini ia pertahankan.


"Kamu perlu handuk juga... baju kamu basah".


"Eh??!!...", ia melirik seluruh tubuhnya yang kini terbalut dengan baju yang basah kuyup.


###


hai.. hai.. week end an emang enaknya jalan jalan bareng keluarga ya. sedihnya disimpan dulu ya...🥰😍


Khusus buat Adhis, jalan-jalan sama ayah-bunda nya di kantor aja ya... main basah-basahan🤭🤭🤭


Makasih pake banyaaak yang udh tag IG and FB aku dengan hasil karyanya ya..😘😘


untuk hari ini aku up satu bab aja. nnt besok lusa aku coba double up lagi deh kalau vote, like, en komennya banyaaak. soalnya aku butuuuuh suntikaaan nih😭


bunga, kopi, semua mua aja juga boleh nih... yah? yah?

__ADS_1


en masih ngarep nih.. kaleeaaan jadi tim promo terbaik novelku ini. Aku bakal seneng banget kalo karyaku banyak yang baca🥺🤲


__ADS_2