Selesa Rindu

Selesa Rindu
Tepati Janji


__ADS_3

Bukan tentang luka yang aku toreh


Tapi tentang takdir yang kau terima


Aku.. terluka


-Wita-


Bandung,Wita-Tarmin-Wisnu


“tolong perjuangkan bunda Tarmin, saya mohoon!” dengan sesegukan Zahra mengucapkan kalimat permohonannya. Di ruangan kepala sekolahnya itu Zahra tengah ditenangkan oleh Uswah, partner kelasnya. Di sampingnya duduk pula Wita yang sejak tadi memandang kosong ke arah surat pernyataan Pak Surya.


“mengeluarkan Adhis bukan merupakan tindakan yang akan saya lakukan, kita akan menghadapi Pak Surya dengan kepala dingin”, jawab Bu Tarmin dengan tegas.


“Adhis anak yang baik, saya tidak akan rela jika Adhis harus dikeluarkan dari sekolah kita. Saya yakin, jika Fahrezan sudah bisa dijenguk, kita bisa bawa Adhis ke rumah sakit. Pak Surya akan melihat bagaimana bersahabatnya mereka”. Zahra kembali mencoba membuat berbagai macam kemungkinan yang dapat memperjuangkan anak didik kesayangannya itu.


“apa surat ini, orang tua Adhis sudah mengetahuinya?” tanya Wita pada sang kepala sekolah.


“saya rasa sudah. Saya lihat Pak Surya bukan orang yang bisa bersabar menunggu”. Jawab bu Tarmin. Ia lalu mendekati Wita yang duduk di ujung sofa miliknya.


“bunda Wita, apa kamu akan baik-baik saja?” tanya Bu Tarmin seketika.


“insya Allah bu, saya anak baik-baik saja. Ibu tak usah khawatir”.


“bagus, kamu hanya perlu menyiapkan mental dan siapkan segala dokumen yang akan membantu kamu. Saya akan menyiapkan pengacara terbaik untuk kamu”.


“terima kasih bunda”, jawab Wita menunduk.


“mulai hari ini kamu diberi surat skorsing dari pihak sekolah. Ini keputusan yayasan, tapi kamu harus tahu dibelakangmu kami mendukungmu. Dan menurut saya ini bisa kamu jadikan sebagai waktu yang bisa kamu gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya di persidangan nanti. Jangan khawatir, saya akan membantu” bu Tarmin, sungguh ia adalah sosok ibu yang menaungi dan melindungi guru-gurunya.


“tapi.. izinkan saya menyelesaikan sesuatu dengan ayah Adhis, bunda. Saya harus menyampaikan kondisi Adhis pada orang tua kandungnya”, pinta Wita pada kepala sekolahnya itu.


“tentu, itu memang harus kamu lakukan. Adhis butuh pertolongan kamu. Saya sudah menghubungi pak Wisnu, agar beliau bisa datang hari ini, kita tidak dapat menunda-nunda. Kamu sampaikan apa yang perlu kamu sampaikan. Setelah itu kamu bisa fokus pada persidangan. Selanjutnya, Adhis.. biar Zahra dan Uswah yang menangani”.


*****

__ADS_1


Wita telah mempersiapkan diri. Untuk saat ini, ia akan bertemu dengan Wisnu. Bisakah ia sedikit berbicara tentang dirinya dan masa lalunya kepada Wisnu? Akankah Wisnu menerima permohonan maafnya saat situasi seperti ini?. Entahlah, biar ia mencobanya.


Memasuki ruangan kerjanya yang selalu memberinya ketenangan kali ini sama seperti memasuki rumah hantu yang oernah ia kunjungi di pasar malam semasa kecilnya dulu , dingin dan menakutkan. Ia memantapkan diri melangkah setapak demi setapak menuju meja kerja di ruangannya. Ditatapnya seonggok punggung yang ia rindu, lebih bidang dari yang ia kenali dulu. Kemeja putih yang Wisnu kenakan dengan gulungan dilengan sungguh membuatnya semakin rindu. Wisnu.. dapatkah aku sedikit saja menggapai kata maafmu?.


“assalamu’alaikum, selamat pagi” Wita memberanikan menyapa sosok yang masih berdiri di depan meja kerjanya.


“ah..selamat pagi” Wisnu meletakan frame foto yang ia pegang di tangan kanannya. “sepertinya, anda guru yang sangat disukai oleh anak-anak ya.. BUNDA WITA!” sungguh irama tegas yang membuat bulu kuduk Wita mulai berdiri. Tolong Wita, kendalikan nafasmu, pikiranmu. Fokus pada hal-hal yang akan membuahkan hasil positif.


Seperti pesan Lanis malam tadi, “kamu hanya perlu fokus pada.., bahwa kamu akan memuntaskan masalahmu. Fokus pada fikiran bahwa Wisnu akan memaafkanmu. Fokus pada bahwa masa lalu kalian bukanlah kesalahanmu. Abaikan rasa mual yang kamu rasakan, tegakkan tubuhmu dan pejamkan mata sesaat jika kamu terasa pusing. Atur pernafasan, dan apa?.. dzikir kan? Yang biasa kamu lakukan?, ya.. dzikir saja”.


“saya harap demikian” Wita mencoba menjawab. Sungguh sebuah hasil yang memuaskan. Berinteraksi dengan Wisnu saat ini dengan kalimat yang ia lontarkan.


“namun.. disayangkan..”, Wisnu mengambil salah satu frame foto, nampak Adhis tertawa di kebun mang Tatang dengan buah jambu di tangan, bersama Wita. “saya harus menyadarkan Adhis, bahwa ia telah salah menambatkan hati”. Pukulan telak yang teramat menyakitkan. Tenang Wita.. kamu hanya harus tenang.


“saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya”. Wita mencoba mengatur irama percakapannya dengan Wisnu.


“silahkan duduk pak Wisnu, ayah Adhis. Di sofa? Atau kursi ini?”.


“di sini saja” Wisnu memilih kursi yang berada tepat di depan meja kerja Wita. Ia lalu bersedekap memindai pergerakan Wita. Hingga wanita dihadapannya duduk tepat di kursi kerjanya.


“mineral” Wisnu memotong. Wisnu memandangi Wita yang terus bergerak; menelpon, membenarkan jilbabnya, memakai kaca mata, meneguk secangkir teh hangat. Lalu.. sesaat mengambil buku abu dan sebuah pensil berwarna jingga. Dibukanya buku tersebut. Perlahan ia memulai goresan pada kertas buku miliknya.


“TANTRUM” ia buat sebuah gambar absurd yang tak dimengerti oleh Wisnu. “Adhis sering mengalami apa yang disebut oleh kami dengan istilah tantrum”. Wisnu mengernyitkan dahi, harus ia akui apa yang sedang Wita bicarakan bukanlah padanannya. Jika ia mengutarakan kata Render, MEP atau Topografi tentu ruangan ini akan menjadi wilayah kekuasaannya.


“Tantrum adalah ledakan emosi dan kemarahan yang tidak terkendali pada anak-anak. Biasanya tantrum terjadi pada usia 1,5 – 2 tahun dan sebaiknya sudah hilang pada usia 4-5 tahun, usia Adhis 4 tahun?”tanyanya.


“ya”, jawab Wisnu dalam sedekapnya yang panjang, seraya menatap berbagai gambar yang Wita buat. Wisnu menjadi semakin mengerti, mengapa anak gadisnya begitu menyukai Wita. Cara bicaranya.., gambar yang dibuatnya.. membuatnya… sangat.. tertarik?. Ia bahkan sejenak lupa telah mempersiapkan berbagai amunisi untuk menyerang Wita.


“Kejadian tantrum pada anak disinyalir erat kaitannya dengan cara berkomunikasi pada anak tersebut. Anak dengan usia 1,5-2 tahun memiliki kendala bahasa yang belum lancar, sehingga anak belum bisa mengenali emosi yang dirasakannya. Peran orang tua sangat penting, ketika anak mulai tantrum dengan melakukan hal seperti nangis menjerit, berguling hingga memukul orang tua terlihat wajar dan normal namun orang tua harus bisa mencoba untuk menghentikan amukannya”. Lanjut Wita.


“tunggu dulu, anda sedang menyudutkan saya? Bunda Wita?”. Wisnu melepaskan sedekapnya dan menyandarkan tubuhnya.


“tidak, saya hanya sedang menjelaskan gejala yang Adhis alami secara teoritis”, jawab Wita seraya menatap Wisnu dengan senyuman. “jika saya tidak salah, Adhis selama ini tinggal dengan kakak anda, Bu Rumi dan Pak Indra. Benar?”.


“iya.. saya titipkan Adhis karena saya harus bekerja di Jakarta. Dan Adhis merasa nyaman dengan kakak saya. Apa itu salah?”.

__ADS_1


“ah.. tentu tidak” Wita mengibaskan tangannya. Bukan itu maksud Wita. Wita tidak sedang mencari kesalahan Wisnu, tidak!.


“saya hanya ingin bertanya, Adhis bersama kakak anda sejak.. kapan?”


“sebulan sebelum Adhis masuk ke sekolah anda, bunda Wita”.


“sebelumnya?”.


“bersama saya, di Jakarta”.


“anda dan istri anda bekerja”.


“tentu saya bekerja bunda Wita, anda tahu itu” Wisnu sudah mulai hilang kesabaran. “apa saya diundang ke sini untu melakukan pendataan penduduk? Apa begini kerja anda?”.


“ah.. maaf, saya mungkin terlalu berputar-putar. Saya mohon maaf!”


Penjelasan panjang, tegas dan lugas yang diberikan Wita sangat membuatnya faham. Ya tentu saja, Wisnu bukan orang tua yang bodoh untuk mencerna berbagai pesan diplomatif yang Wita sampaikan. Kesalahan yang dibuatnya dalam pengasuhan Adhis menjadi penyesalan yang baru ia sadari.


“iya, baby sitter”. Jawaban yang tentu menjadi salah satu pemicu munculnya perilaku luapan emosi Adhis yang saat ini menjadi primadona sekolah. Wisnu terlalu yakin bahwa, materi dan sosok yang bisa menggantikan dirinya melalui jasa yang ia bayar telah cukup menunaikan kewajiban terbaiknya untuk Adhis. Nyatanya, bukan hal itu yang dibutuhkan Adhis. Ia tentu ingat sudah berapa tenaga pengasuh yang ia bayar untuk menemani Adhis. Jika ia mengingat beberapa tahun silam hampir empat kali dalam setahun ia mengganti pengasuh Adhis. Rata-rata dari mereka mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang tak jelas.


Terakhir, Adhis membuat penolakan yang cukup ekstrim terhadap kehadiran baby sitternya yang sudah hampir setahun bertahan mendampingi Adhis. Hingga ia menyadari Adhis memang membutuhkan sosok yang bisa memberinya kenyamanan. Untungnya, sang kakak menjadi sosok pilihan Adhis.


“hmmzz… saya tidak dapat memberikan kesimpulan sepihak pak Wisnu. Tetapi sikap agresif Adhis, kecenderungannya dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya dengan sikap pelampiasan fisik seperti memukul, menggigit, mencubit dan lain-lain tentu tidak muncul begitu saja”


Wisnu kini menyadari, ia telah lama kehilangan momen melihat tumbuh dan berkembangnya anak semata wayang. Ambisi dan keterpurukan hidup yang ia alami terlalu memenuhi misi hidupnya. Hingga ia lupa, buah hati yang setia hadir dalam hidupnya telah ia abaikan begitu saja. Sebuah aib yang kini terkuak di hadapan seseorang yang seharusnya ia permalukan hari ini. Seharusnya, hari ini adalah hari dimana ia bisa membuktikan pada Wita tentang kemenangannya dalam hidup.


“Quality time” Wita membuat suatu rancangan besar yang harus dilakukan untuk Adhis bersama Wisnu dan.. istri. Sebuah tamparan yang nyatanya membuat Wisnu terpental dari titik keemasan yang ia rasakan hari ini tentang karier dan jerih payahnya. Dan pukulan hebat ia rasakan saat Wita mengungkapkan sesuatu yang menurutnya telah menyempurnakan telanjangnya diri dari kelumpuhan yang ia alami.


“Bu Rumi dan Pak Indra merupakan model yang sempurna untuk Adhis, tetapi ia membutuhkan sosok idola dan perlindungan diri dari ayah dan ibu kandungnya. Anda bersama istri bisa menyempatkan diri satu hari dalam sepekan merencanakan suatu aktivitas menyenangkan bersama Adhis. Saya akan memberikan buku harian ini sebagai laporan mingguan yang dapat ayah dan ibunya Adhis isi”.


“saya bisa melakukannya, tanpa ibunya” dengan samar Wisnu menjawab Wita. Bagi Wita, alasan yang selalu dibuat para orang tua seperti Wisnu bukanlah hal yang baru. Sejak awal, Wita menduga mungkin istri Wisnu memang tak ingin banyak terlibat. Seorang perempuan yang merupakan putri dari pejabat negara, lulusan universitas terbaik di Swiss, tentu akan menjadi sosok wanita yang memiliki peranan penting di masyarakat atau perusahaan yang ia miliki, mungkin, atau bercerai? Ah.. jangan.. jangan berfikir demikian, ia tak bisa berspekulasi.


“anda bisa melakukannya secara terpisah, anda dengan waktu luang anda bersama Adhis, dan ibu Adhis dengan waktu luangnya. Hal tersebut akan sangat membantu dalam memperbaiki gejolak emosi yang dialami Adhis”.


Wajah Wisnu seketika mengeras, menatap tajam sorot mata Wita. Tunggu dulu, Wita, apakah kamu sedang menabuh genderang perang?. Tatapan Wisnu begitu yakin dan menghunus perlahan penuh kebencian. “harus anda ketahui BU WITA!!!, Adhis tidak memiliki ibu!!!. Anda memang cukup teledor ya Bu Wita. Apa anda tidak membaca dengan seksama data murid kesayangan anda itu. Restari… meninggal saat melahirkan Adhis”.

__ADS_1


Tatapan Wita seketika meremang, ia memundurkan kursinya demi mengendalikan tubuhnya yang mulai gemetar. Samar-samar ia mendengar suara Wisnu, tak jelas.. bahkan benar-benar tak terdengar. Telinganya mendenging dan tatapannya memudar. Entah apa yang dikatakan Wisnu padanya, ia hanya dapat menghirup aroma tubuh Wisnu yang mulai tajam, mendekat. Namun irama jantungnya mulai teratur dan bayangan dalam penglihatannya nampak perlahan menjadi jelas saat Wisnu mencondongkan tubuhnya, menarik pegangan kursi yang Wita duduki dan berucap, “Saya akui, gambar yang kamu buat lebih baik dari 7 tahun yang lalu. Tetapi kamu tidak berubah Dewita Maharani, mulai hari ini belajarlah untuk tidak teledor dan menepati janji”.


__ADS_2