
tapak itu aku mulai
dari sebongkah keberanian
tentang cinta dan kasih sayang
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu
7 tahun yang lalu
Wisnu Pov
Senyumku mengembang saat tiba di kostan. Jakarta selalu menawarkan udara yang panas dan menyengat. Aku lempar tas ranselku ke kasur yang masih nampak rapi. Mandi adalah hal pertama yang ingin aku lakukan.
Tubuhku segar setelah keluar dari kamar mandi. Kaos polos aku pakai untuk menemani siang yang panas ini. Kubuka laptop yang baru saja aku keluarkan dari tas ransel. Tugas kuliahku yang menumpuk harus segera diselesaikan.
Tak terasa waktu berlalu, ternyata memutarkan otakku dengan tugas yang dipenuhi dengan angka-angka itu cukup menguras energi. Aku tak beranjak sedikitpun dari meja yang kupakai untuk menuntaskan tugas kuliahku itu, kecuali saat adzan ashar tiba. Sedangkan makanan dan minuman yang ibu sediakan untukku aku simpan separuhnya di meja, kuletakan di samping laptop yang terus menyala. Agar aku tak terlalu jauh menjangkaunya pikirku, meski sampai saat ini tak sampai setengahnya makanan itu memenuhi perutku.
Setelah adzan magrib berkumandang, kuputuskan untuk menghentikan aktivitasku. Sedikit meregangkan otot-ototku sampai isya setidaknya. Lalu aku dapat melanjutkan membuat dokumen presentasi pribadiku besok di hadapan dosen yang telah dikenal “hitler”.
Tok..tok..tok..
“wis, makan malam yuk! Sate maranggi yang di belokan enak nih kayaknya”, suara Burhan terdengar seraya memperlihatkan wajahnya di balik pintu.
“iyah, magrib dulu ya han” jawabku singkat.
Menikmati sate maranggi malam hari di kota Jakarta sekarang memiliki sensasi tersendiri. Aku yang anak kostan ini merasa cukup puas dengan sepuluh tusuk sate ditemani dengan nasi yang menggunung di atas piring. Sedangkan Burhan, seperti biasa ia akan menghabiskan uangnya sesuka hati. Entah sudah berapa tusuk yang ia makan. Aku tak habis pikir, untuk seorang Burhan harus rela hidup bersusah payah di kostan yang sempit bersebelahan denganku. Ia sebetulnya bisa saja hidup di apartemen mewahnya itu. Ah.. aku pikir ia benar-benar jatuh cinta padaku. Kemanapun aku pergi ia akan terus mengikutiku, aku bergidik memikirkannya.
Tapi tak usah hawatir, Burhan adalah playboy cap kakap yang pandai memilih perempuan. Kelas model, artis, anak pengusaha sudah sering ia pacari. Namun untuk urusan sahabat, ia memang nomor satu. Ia bahkan sering menawariku pekerjaan di perusahaan milik ayahnya. Tapi sering aku tolak, karena bagiku kemampuanku belum sepadan dengan nama perusahaan yang menjadi salah satu tonggak ekonomi Indondesia itu.
“han, aku gak bisa lama-lama nih.”
“kemana sih Wis, malam minggu nih”
“tugasku banyak Han, belum kerjaan dari om Danu harus aku kelarin” dalihku, karena seusai isya ini aku berencana menghubungi sang pemilik buku yang sedari tadi pagi aku tunggu dan tak kunjung tiba.
“gak seru lo Wis, malam minggu tuh cari cewek cantik. Jangan urusan buku ajah lo pacarin. Bisa-bisa tu buku ma laptop enek lihat lo tiap hari” sindirnya dengan nada mengejek.
Setelah menuntaskan santapan malam kami, Burhan akhirnya memutuskan melajukan mobil sport mewahnya untuk menelusuri jalanan ibu kota. Aneh memang, turun dari warung sate maranggi yang dilengkapi polusi udara malam lalu beranjak menaiki mobil mewah. Tapi hal itu manjadi pemandangan yang biasa pada akhirnya.
Selepas menyakinkan Burhan dengan rencana tugas-tugas kuliahku, aku segera membuka buku abu pemilik wanita cantik berambut sebahu dengan kuncir sederhana yang selalu ia tampilkan.
Wita Maharani,
__ADS_1
nama itu yang tertera dalam biodata buku abu yang kupegang. Ternyata buku ini tak jauh berbeda dengan buku notebook-notebook lainnya. Kupikir ini buku drawing, ternyata buku tulis biasa dengan hardcover yang menutupi setiap isi lembaran kertasnya. Ya ampuun, apa yang terjadi dengan jantungku?, baru kubaca namanya degup jantungku sudah berdetak tak karuan. Apa aku harus menghubungi Rini temanku yang bertugas di Rumah Sakit Harapan Kita, untuk memastikan jantungku baik-baik saja?.
Lalu kulihat deretan identitas selanjutnya,
TTL: Bandung, 19 April 19**
Hahaha, yang benar saja! jantungku dibuat tak karuan oleh perempuan yang usianya 6 tahun lebih muda dariku? Apa aku tidak nampak seperti seorang pedopil?. Ish.. membayangkannya membuat bulu kudukku berdiri.
Hobi: menggambar.
Owh itu sudah dapat aku pastikan, hampir setiap bertemu dengannya aku tak pernah absen melihatnya menggambar.
Alamat: Jl. Jendral Sudirman ****
Rumahnya dekat dengan tempat menunggu angkotnya tiba ternyata. Jadi penasaran, boleh berkunjung kerumahnya gak ya?. Hadduh.. pikiranku sudah ngawur nih. Bisa-bisa semua planningku gagal di tengah jalan.
No. Telp: 08****
Ah.. BINGO. Ahirnya, bibirku akhirnya tak terasa sedikit menyungging tipis setelah mata ini menangkap deretan angka-angka nomor digit seluler yang dapat aku hubungi. Segera kuraih handphoneku diatas Kasur empukku.
Tuut.. tuuut.. tuuut..
Nomor yang ada tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.
Apa angka yang kupijit salah? Kuulangi angka-angka tersebut dan kutekan beberapa digit ponselku.
Tuut.. tuut.. tuut..
Nomor yang ada tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.
Tuut.. tuut.. tuut..
“hallo..assalamu’alaikum”, suara lembut seorang perempuan kudengar ditelinga sebelah kananku yang sumbernya berasal dari handphoneku sendiri. Aah.. akhirnya.
“wa’alaikumussalam”.
“dengan Wita Maharani?” tanyaku.
“iyah betul, dengan siapa ya?”
“saya Wisnu”.
“owh Wisnu siapa ya?”
“saya yang menemukan buku abu kamu”.
__ADS_1
“owh ya Allah, alhamdulillah”, jawabnya terdengar seperti nada kelegaan.
“saya menemukannya di trotoar tempat biasa kita bertemu” jawabku kembali.
“owh, mas yang suka menunggu bus Bandung-Jakarta?” tanyanya. Entah kenapa pertanyaan itu membuatku melayang ke awan-awan. Apa ia suka memerhatikannku? Hahhaha.. jangan ngarep donk Wisnu.
“apa saya bisa mengambinya?”, tanyanya.
“owh iyah tentu saja, saya memang berniat menegmbalikannya”
“baiklah, insya allah besok saya ambi ya mas. Boleh minta alamatnya?”
“owh gak usah, nanti saya antarkan. Kebetulan saya sedang di Jakarta, paling kita bisa bertemu hari Jum’at.” Jawabku dengan percaya diri, fyuuuh.. pede sekali aku sampai bisa mengucapkan kata ‘bertemu’.
“owh begitu ya. Baiklah tak apa” jawabnya dengan nada kecewa.
Kriik…kriik.. kriik..
Suasana tiba-tiba hening, tak ada pembicaraan selanjutnya. Aku kembali dibuat bingung untuk sekedar membuka obrolan sederhana.
“apa.. masih ada yang ingin disampaikan mas Wisnu?” tanyanya memecah keheningan.
“ah.. gak ada. Gak ada ko..”
“baiklah, terima kasih ya mas saya fikir bukunya hilang”
“sama-sama”
“baiklah mas, assa..”
“eh.. sebentar Wita” sergahku. Aduuh apalagi sih yang mau aku katakana. Ko salam penutup dari pembicaraanku dengan wanita itu teras berat untukku.
“iyah mas?”
“Hmmz.. jum’at kita ketemu di The Abah Caffe sekitar jam 2, bisa?”
“iyah insya allah bisa” jawabnya.
“hmmmzz….” Aku menggumam kebingungan. Jangan dulu ditutup ya.. jangan ditutup. Inginnya aku mengucapkan kata-kata itu.
“bukunya boleh aku baca?”
“ha.. iyah kenapa?” tanyanya keheranan,
“eh, enggak!. Gak apa-apa kalau gak boleh”
__ADS_1
“huahahaha…” ia terdengar tertawa ringan.