
*Mari kita melangitkan rasa syukur
Bersimpuh pada kedalaman hamdalah
pada-Nya.. aku bersujud
-NingTias*-
****
"Yaaang... baju aku mana?", tubuh Wisnu masih segar dengan basahnya air sehabis mandi pagi ini. Handuk yang Wisnu gunakan cukup menutupi sebagian tubuhnya. "Aku pakai yang kaos kemarin aja atau gimana Bund?", teriak Wisnu.
"Sebentar Mas...". Wita masih berada di kamar mandi. Sebab Adhis tak mau ditinggal bunda. Dimandiin bunda Wita pagi ini membuat hati Adhis bahagia.
"Bajunya yang ini Mas". Wita menyerahkan baju taqwa berwarna putih yang bermotif sama dengan baju Adhis. "Kita couplean Mas", lanjutnya.
Wisnu segera memakai baju yang diserahkan Wita padanya. Tak lupa senyumnya melengkung melihat istri cantiknya yang tengah hamil muda itu mengurusi putrinya bernama Adhis.
"Adhis mau ke enin". Adhis bergelayut manja pada gendongan Wita setelah selesai memakai baju untuk acara pengajian hari ini.
"Kamu itu jangan gendong-gendong Adhis terus! Sekarang kamu lagi hamil sayaang... inget itu!" Wisnu mengambil alih Adhis dari gendongan Wita. "Aku tunggu di bawah ya! Mau bantu-bantu ibu sama Teh Rumi dulu takutnya mereka butuh bantuan". Wisnu mengusap lembut rambut Wita dan mengecup keningnya sesaat.
Suasana di rumah ibu sudah mulai ramai. Saudara dan para tetangga mulai berdatangan. Ada tamu yang menurut Wisnu istimewa hari ini. Ibu bilang Ceu Dedeh namanya. Ceu Dedeh bersama suaminya datang dengan membawa beberapa bingkisan yang baru saja ibu letakkan di meja dapur.
"Mereka orang tuanya Satria", bisik ibu pada Wisnu.
"Oh...", Wisnu menjawab tanda mengerti. "Wisnu, menyapa dulu ya bu". Wisnu beranjak menghampiri kedua tamu itu.
"Assalamu'alaikum", Wisnu menyapa papa dan mamanya Satria.
"Wa'alaikumussalam", jawab mereka kompak.
"Terima kasih sudah berkenan hadir".
"Perkenalkan saya Wisnu".
"Oooh ini jadinya yang namanya Wisnu? Satria banyak bercerita tentang kamu. Selamat ya!" Mama Wisnu mengusap lembut lengan sang Wisnu.
Wisnu tak mengira, bahwa hati kedua orang tua Satria ini seluas samudera. Kelapangan hati yang dimiliki keduanya telah mengantarkan Wisnu pada gerbang kebahagiaan saat ini.
"Saya belum sempat mengucapkan terima kasih, pada bapak dan ibu. Atas...".
"Semua karena takdir jodohnya. Wita sudah jodohmya kamu", ucap papanya Satria memotong ucapan Wisnu. "Semoga pernikahan kalian bahagia. Segera diberi momongan".
"Aamiin. Alhamdulillah pak, Witanya sedang hamil sekarang", jawab Wisnu.
"Waaah... alhamdulillah atuh! Duh coba kalau nikah sama Satria, mama pasti udah mau dapat cucu". Ceu Dedeh nampak senang dengan kabar yang diberitakan Wisnu. Mungkin sampai ia lupa dengan apa yag diucapkannya barusan.
__ADS_1
"Mamaa...", papa Satria menegurnya.
"Eh... astagfirullah! Bukan begitu maksudnya nak Wisnu! Aduuuh ieu mulut meni gak bisa di errèm". Ceu Dedeh memukul mulutnya sendiri.
"Ahahaha.... gak apa-apa bu. Semoga Satria segera mendapatkan jodohnya".
"Aamiin", ucap mama dan papa Satria.
"Doakan ya! Eta budak lagi ketemuan sama cewek sekarang. Lagi sama mama jodohin. Moga aja kali ini cocok".
"Aamiin, semoga yang terbaik yang Satria temukan", Wisnu tentu tak akan pernah lupa dengan pengorbanan yang dilakukan Satria. Maka, doa terbaik akan selalu Wisnu berikan untuk lelaki yang sempat menjadi rivalnya itu.
Beberapa menit berlalu. Para tamu sudah memenuhi rumah ibu yang luasnya tak seberapa itu. Bahkan pak ustadz yang Kang Indra undang untuk memberi ceramah di acara pengajian sebelum resepsi nikah digelar sudah hadir lima menit yang lalu.
"Nu... Witanya mana?", tanya Teh Rumi pada Wisnu. "Hayu ah! Acara kita mulai!"
Belum sempat Wisnu memanggilnya ke kamar, Wita sudah terlihat menuruni tangga. Wisnu menghampiri dan menuntunnya turun dari anak tangga.
"Ngapain aja sayang? Kok lama?"
"Wita tadi tiduran Mas", jawab Wita.
"Muntah lagi?", tanya Wisnu khawatir.
Wita mengangguk dan tersenyum.
"Aamiin, Insya Allah".
Acara pengajian dimulai. Para tamu dan tuan rumah duduk bersila di atas karpet yang digelar. Adhis duduk dipangkuan Wisnu dan Wita berada tepat di samping Wisnu.
Pembawa acara membuka acara dengan khidmat. Pembacaan ayat suci al-Quran dibacakan oleh Salim. Prakata dari tuan rumah atau keluarga disampaikan oleh Kang Indra. Lalu tak lupa, Wisnu memberikan pula sambutan singkatnya di tengah-tengah para tamu.
"Bismillahirrahmanirrahim... saya ucapkan terima kasih atas kehadiran bapak dan ibu di acara pengajian ini. Acara ini tak lain sebagai tanda syukur kami, saya khususnya karena telah diberikan jodoh yang terbaik dari Allah".
"Bunda Dewita Maharani. Ia menerima dengan ikhlas keadaan saya yang sudah berstatus duda dan mempunyai anak. Saya bersyukur untuk hal itu. Mohon doa dari semua, istri saya yang saya nikahi di rumah sakit beberapa bulan lalu kini tengah hamil".
Para tamu berbinar bahagia dan mengucap hamdalah. Mengamini kebahagiaan Wisnu dan Wita yang kini telah menjadi sepasang suami istri.
"Pernikahan bukanlah suatu hal yang menjanjikan setiap pasangan untuk hidup selalu senang. Pun, pernikahan juga bukan perkara menjalani hidup dengan kesulitan terus-menerus. Dalam rumah tangga kerap terjadi gejolak yang kerap menyentuh setiap pasangan", ustadz Zaki memulai ceramahnya dengan kalimat bernada tak menyenangkan. Seolah memberi tanda kesiap siagaan yang perlu dimiliki setiap insan dalam menghadapi sesuatu bernama pernikahan.
"Namun demikian, manusia diingatkan untuk mengikuti sunnahnya, yakni Rasulullah, untuk menikah. Lalu, setiap pasangan diingatkan untuk selalu menyandarkan dirinya kepada Allah SWT. Memupuk keimanan, ketakwaan, serta kepatuhan dalam beribadah merupakan modal utama dalam membangun rumah tangga. Dengan modal tersebut, keberkahan akan melingkupi siapa pun yang berada di dalam rumah tangga tersebut".
"Keberkahan, sebagaimana yang terucap dari doa Nabi Muhammad SAW saat menikahkan putrinya, Fatimah Az-Zahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, perlu diselipkan baik di kala susah maupun senang. Beliau pun menceritakan bahwa pernikahan yang sempurna bukanlah hanya milik mereka yang memiliki harta melimpah dan jabatan terpuji".
"Hal itu dibuktikan bagaimana Rasulullah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Padahal jika diukur secara materi, Ali bin Abi Thalib bukanlah berasal dari kalangan berada atau pun seseorang yang memiliki jabatan tinggi. Jika dibandingkan dengan sahabat Nabi lainnya seperti Abu Bakar yang kaya raya dan Umar bin Khatab yang memiliki jabatan ulung, Ali bin Abi Thalib hanyalah pria biasa".
"Namun begitu, ketika Abu Bakar dan Umar bin Khatab mengenali kapasitas diri tak layak bersanding dengan Fatimah Az-Zahra, sosok Ali bin Abi Thalib justru ditonjolkan. Diceritakan suatu ketika Umar bin Khatab bertemu dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan berkata: ‘Ya Ali, innaha laka,”. Yang artinya: “Wahai Ali, sesungguhnya dia (Fatimah) merupakan milikmu (jodohmu),”.
__ADS_1
"Rasulullah, tak sedikit pun beliau meremehkan apalagi menolak maksud baik sahabatnya tersebut. Maka ketika menikahkan keduanya, Rasulullah pun memberi tiga kalimat pesan yang dijadikan doa bagi segenap masyarakat Muslim dunia hingga kini. Barakallahu laka, wa baraka alaikuma, wa jamaa bainakuma fii khair,”. Yang artinya: “Semoga Allah rekatkan keberkahan padamu (di kala senang), dan semoga Allah rekatkan keberkahan kepada kalian berdua (di kala susah), dan semoga Allah selalu menghimpun kalian berdua dalam kebaikan,”.
"Maka dari itu, apabila setiap pasangan hendak mendapatkan kebahagiaan yang abadi dalam pernikahan, maka hendaknya lekatkan keberkahan di dalam rumah tangga tersebut. Tutup aib diri satu sama lain sebagai kekuatan dan bahan evaluasi bersama. Tak layak keburukan rumah tangga diumbar dan dikonsumsi khalayak publik".
Ustadz Zaki memberikan banyak wejangan dan ilmu yang mendalam tentang pernikahan. Acara pengajian berlangsung dengan khidmat. Ditutup dengan ramah tamah, makan-makan bersama alakadarnya.
"Gak pusing?", Wisnu berbisik tepat di telinga Wita yang kini tengah sibuk menata makanan lainnya untuk tamu yang baru datang.
"Enggak Mas... alhamdulillah".
"Makan ya? Dari pagi kamu belum makan. Aku suapin?"
"Enggaklah mas, Wita gak selera makan".
"Sini..!", Wisnu menggenggam tangan Wita dan membawa wanitanya ke kamar milik mereka berdua. "Kamu istirahat! Aku bawain makanan ke sini ya.. anakku sama bundanya harus sehat".
"Mas...", Wita memegang tangan suaminya menghentikan langkah sang Wisnu yang hendak membawa makanan untuknya. "Makasih".
"Aku yang makasih Wita. Aku dengan segala kekurangan dan keegoisanku, masih mampu kamu terima apa adanya. Aku bukan lelaki hebat. Tapi bersamamu aku akan menjadikan kita manusia hebat".
Mendengar apa yang Wisnu ucapkan, rasanya seperti meneguk rindu yang tak pernah berlalu.
"Mas...", ucap Wita ragu.
"Hmmm? Apa sayang?"
"Sebelum makan... adik bayi.. pengen dipeluk ayah".
"Ahahahaha... dengan senang hati bunda cantik. Adik bayi dan bundanya, biar ayah peluk lama..".
Menatap hari dengan segenap cinta, mari kita saling berpelukan mesra di bulan yang mulia ini.
Selesa Rindu adalah sejarah dan cinta pertamaku, darinya aku mengenal kamu. Maka, sedikit dimengerti jika proses cetaknya novel ini sangat lama. Berbeda dengan novel aku berikutnya. Tak apa! Karena demikianlah cinta pertama🤭
Extra Part ini benar-benar bonus buat para pembaca yang baik hati. Sebab Part ini tidak akan ada di Selesa Rindu Versi Cetak. Versi cetak akan mengisahkan part tambahan tentang kehidupan rumah tangga Wisnu dan Wita.
Novel ini akan aku label End mulai hari ini. Tapi... untuk Rindu yang luasnya tak terhingga, mohon bewarakan terus kisah Wita dan Wisnu pada semua ya.. siapa pun itu🙏🤗
Selanjutnya aku akan hadir kembali di platform ini dengan judul Lazuardy Rasa; Antara Cinta dan Cita.
Mulai hari ini yuk nikmati hari bersama Lazuardy Rasa.
Ikuti juga kisah aku berjudul SELAKSA di ******* dengan akun NingTias2021, jangan lupa buat Follow ya😘😘😘
__ADS_1
Mari bahagia.. berkah selalu. Ramadhan Mubarok🤲🤲🤲🤗