Selesa Rindu

Selesa Rindu
Kangen


__ADS_3

mari menepi pada jejak hari


menggores makna tentang tak kenal lelah


menapak rindu pada langit keheningn


-Wisnu-


Jakarta, Wita-Wisnu


Pagi ini, hari pertama bagi Wita bersama teman kerja sekaligus yang akan menjadi asisten pribadinya itu, menetap di rumah sewaan yang disediakan Pak Hermawan atau perusahaan UniShei Consultant di kota Jakarta. Rumah yang terletak di Mampang Prapatan Jakarta Selatan yang akan memudahkan Wita dan perusahaannya melakukan proses kerjasama yang disetujui oleh kedua belah pihak.


Rumah berlantai dua dengan nuansa modern dilengkapi pendingin ruangan dan sebuah garasi besar yang akan memudahkan timnya ikut terlibat pada beberapa program yang telah disepakati, nampak nyaman untuk dihuni.


"Ini pengalaman pertama aku lho mba Wita, ada di djekartaaah... ", teriak Revita sambil menjatuhkan badannya terlentang ke atas kasur empuknya. "Ngomong-ngomong pak direkturnya kayaknya baik banget ya mba? mau ngasih kita kontrak bertarif besar kayak gini", lanjut Revita.


"hmmz... dia memang baik Rev", jawab Wita sambil merapikan baju-baju yang ia bawa ke dalam lemari kamar rumah sewaannya itu.


"Dokumen untuk besok sudah kamu siapkan?" tanya Wita pada sang asisten.


"Dua puluh lima persen lagi rampung, aku rebahan dulu lah mba. Habis ashar aku lanjut" jawab Revita.


"Ya sudah.. aku siapkan dulu makan siang ya. Masak atau pesan?", tanya Wita.


"Aku gak makan sekarang mba, mo tidur dulu ah. Cape banget", keluh Revita dengan mata tertutup bersiap menuju alam mimpi.


Berbeda dengan Wita. Bagi Wita, berada di kota ini ia tak boleh membuang waktu. Jika bisa, kontraknya selama satu tahun akan ia rampungkan dalam enam bulan agar tak lagi harus berurusan dengan Wisnu. Sebab dengan itu, ia tak perlu menambah daftar luka yang ia torehkan untuk lelaki di masa lalunya itu.


Siang ini ia memutuskan memesan makanan di layanan pesan antar dalam aplikasi ponselnya. Tubuhnya yang lelah harus ia persiapkan untuk hal-hal yang akan di hadapannya.


Hingga menjelang senja, Wita masih setia berada di depan laptopnya untuk merampungkan segala target yang ia buat. Besok ia akan mempresentasikan program pertama yang akan dilakukan perusahaannya untuk kliennya. Persoalan sumber daya manusia yang telah dibicarakannya bersama Andra menjadi target utama dalam layanan jasa perusahaannya.


Wita perlu mengidentifikasi kebutuhan perusahaan Wisnu guna mencapai target yang telah dirumuskan bersama kemarin dengan Andra. Tahap awal yang perlu dilakukannya adalah dengan cara melakukan konseling karir.


Konseling ini dilakukan dengan proses mengidentifikasi masalah-masalah yang berhubungan dengan karir para pegawai perusahaan ARC serta mencari alternatif jalan keluar dari berbagai masalah tersebut. Dalam organisasi perusahaan Wisnu itu, terdapat berbagai masalah yang berhubungan dengan karir pegawai. Ada yang tidak terlampau serius sehingga dapat dipecahkan dalam tempo relatif cepat. Ada pula yang sangat serius sehingga mengganggu pekerjaan pegawai sendiri maupun pekerjaan rekan sejawat lainnya. Dalam keadaan seperti ini, Wita tentu perlu melakukan langkah yang cepat dan cermat.

__ADS_1


Kemarin, ia melakukan meeting bersama Andra dan Revita serta Pak Sapta untuk merepresentasikan job list yang sudah dirancang menjadi program bersama antara UniShei Consultant dan ARC Group. Satu hal yang membuatnya lega adalah bahwa Andra mewujudkan permintaannya untuk tak menghadirkan Wisnu dalam rapatnya itu. "Saya rasa pembahasan kita kali ini belum memerlukan keterlibatan pak direktur, pak Andra".


Namun ada satu hal yang terlewatkan dari rencananya kemarin adalah, program konseling karir yang ditargetkan memakan waktu satu bulan ini akan dimulai dari divisi tim direksi atau pimpinan. Ia hanya bisa berharap jika sang direktur perusahaan mendapatkan jatah konseling oleh timnya yang lain.


*****


"Terimakasih Pak Hari, semoga kerjasama kita ke depan berjalan dengan lancar", Wisnu menjabat tangan kliennya itu dengan penuh optimisme siang ini. Tetapi tidak dengan pikiran dan hatinya, sebab sejak kemarin ia telah menghadiahi Andra dengan makian tak berguna.


"Ayolah Andra, kamu jangan terus buat aku sibuk. Kalau begini kapan waktunya aku bertemu Wita?". Ocehan Wisnu dalam pesan ponselnya saat ia tengah berada pada rapat project perencanaan Tehnofuture Living Apartment.


Atau.. saat ini ia mendumal sendiri di ruangannya seraya membaca laporan-laporan divisi Urban Design dan Divisi Drafting. "Dasar Andra sialan!!, kapan laporan-laporan ini selesai????"


Ia lalu menghentikan segala aktivitasnya. Nampaknya wudhu akan membuatnya lebih tenang. Ia lalu memutuskan shalat ashar, hingga salamnya terucap suara ketukan di pintu ruangan kerjanya terdengar.


"Masuk Ndra!"


"Apa? mau ngasih lagi dokumen baru?", tanya Wisnu seraya melipat sajadahnya.


"Enggaklah pak, santuy doong", goda Andra


*****


Wita hari ini, bersama timnya, telah membuat dua puluh daftar tim direksi yang akan ia undang untuk melakukan konseling bersama dirinya dan tim yang ia buat.


Proses konseling karir ini berjalan cukup alot sehingga memakan waktu yang tak sebentar. Namun demikian Wita tetap melakukan yang terbaik untuk kliennya. Wita memberikan perhatian sepenuhnya dan menunjukkan minat yang murni terhadap kata-kata klien. Mendengar secara aktif, tidak hanya mendengar tetapi memahami perasaan klien dengan mendalam.


Hingga akhirnya Revita mengetuk pintu ruangan Wita setelah kliennya ke luar dari ruangan.


"Mba Wita.. mo lanjut besok atau tuntasin sekarang?" tanya Revita di balik pintu ruangan yang Wita pakai.


"Berapa orang lagi?", tanya Wita.


"Dua orang, tapi bu Delia kayaknya udah mau beres. Dia udah minta satu tambahan klien lagi. Jadi mba bisa satu orang lagi", jelas Revita pada Wita.


Wita melirik jam tangannya sejenak. Pukul 15.45, sepertinya kliennya yang terakhir ini tidak akan memakan waktu yang lama. Setidaknya ia punya waktu dua jam untuk melakukan sesi konseling bersama list terakhirnya. "Saya shalat dulu. Simpan saja dokumen profilnya di meja", pinta Wita seraya beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Setelah melipat sajadah yang ia pakai di ruangan yang luas dengan dinding-dinding kaca transparan yang menampakan pemandangan luar, Wita melangkahkan kaki menuju kursi dan meja yang sejak tadi ia pakai.


Namun, langkahnya terhenti dan jantungnya seketika berdebar kencang saat ia melihat punggung seseorang yang tengah duduk di kursi konselingnya. Wita... harus bersiap 'menyingsingkan lengan baju' senja ini, sebab Wisnunya kini telah memerangkap dirinya atas nama profesionalisme dan tanggung jawab.


"Selamat sore pak Wisnu, apa kabarnya hari ini?"


Wita duduk di kursi konselingnya dan membaca dokumen profil yang Revita simpan atas nama 'Wisnu Permana'.


"Sore bu Wita, kabarnya tidak baik". jawab Wisnu


"Apanya yang tidak baik pak Wisnu, bisa anda ceritakan?"


"Sejak kemarin dan hari ini, Andra ngasih saya setumpuk pekerjaan, saya sampai marah-marah terus ke dia".


Wita kini menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menahan senyum yang sudah lama tidak ia pertontonkan, di hadapan Wisnunya sejak 7 tahun yang lalu.


"Ada yang lucu bu Wita?", tanya Wisnu sambil melempar senyum yang sama. Peningkatan yang bagus, spertinya kondisi Wita mulai membaik. Gumam Wisnu dalam hati.


"Tidak!, apa anda kurang menikmati pekerjaan anda?" tanya Wita kembali


"Sangat menikmati. Ini cita-cita saya sejak lama lho bu Wita. Sejak kecil saya mau jadi arsitek, lalu memutuskan kuliah jurusan arsitek, bahkan rela bekerja paruh waktu untuk memperjuangkan kuliah S2, jurusan arsitek pula. Anda.. bahkan ada dalam kisah saya itu", jawab Wisnu membuat Wita terdiam sesaat. Pandangan Wita bahkan kini tertunduk pada kertas yang ia pegang.


Hening kini menemani mereka dalam dinginnya udara ruangan itu. Hingga.. ucapan Wisnu lalu menyapa hati Wita yang telah lama berdiam diri pada ketakberdayaan.


"aku.. kangen kamu Wita. itu yang membuat hariku buruk saat ini".


Kini Wita menatap wajah sang lelaki yang sejak tadi membuat jantungnya tak menentu. Wita, menahan segala sesak yang tiba-tiba menerpa dirinya. Bolehkah ia menyuarakan hati yang sama pada dunia? bahwa sesungguhnya rindu saja tak cukup untuk mengecup hangat masa lalunya.


####


Sesuai janjiku kepadamu ya🤭... aku up hari ini dua bab ya...


Kirim vote dan hadiahnya yang buanyaaaakkkk buat Wisnu nih yang udah berani mèpètin Wita biar ga kaburr lagi..


Thanks super spesial yang hari ini sudah buatin videonya Adhis dan Wita di episode Video Call.. aku terharuuu😭😭😭. Mau tau kaaan Videonya kayak apa? cusss cek IG en FB aku..👉ningtias__ /NingTia's

__ADS_1


Yang mo ikutan ngerasain romansa Wita-Wisnu dan Adhis dalam karya digitalmu aku tungguuh ya...boleh langsung tag akun aku... it's so amazing for me😘😘😘🥳🥳🥳


__ADS_2