Selesa Rindu

Selesa Rindu
Maafkan Aku!!


__ADS_3

Sebab cinta yang kurenggut


pada kubangan hati yang luka


menapak dan menggema dalam jiwa


sudikah?


kau berikan aku maaf!


-Wita-


Bandung, Wita-Wisnu


Gerimis siang ini membawa langit Bandung nampak sendu. Mendung kelabu berkabut duka dalam. Seolah alam tahu jika kepergian pak Hermawan kini ditangisi oleh kesaksian hidup banyak orang. Wisnu menatap pedih sosok yang sekarang sama-sama duduk di sebuah saung kecil. Berteduh dari gerimis yang mulai berubah menjadi gemericik hujan.


Wita nyatanya tak dapat membendung ingatannya tentang ayah dalam kenangan manis bertabur kasih sayang dan perjuangan. "nanti ayah beliin yang banyak ya.. jangan nangis atuh!". Ucapan ayah benar-benar menjadi nyata. Boneka yang ia inginkan semasa usia 7 tahun itu telah ayah belikan dari uang rècèhan yang terkumpul di kotak uang roda dagangan ayah. Boneka yang kini ia simpan dalam kotak bersejarah dan tak pernah ia sentuh.


Jika saja, waktu dapat Wita putar, ia tak akan merèngèk menginginkan boneka itu karena ulah tetangganya yang tak mau meminjamkan boneka yang terlihat cantik itu. Jika saja, Wita kecil tahu bahwa dengan uang berbau keringat dan bekesusahpayahan itu sang ayah membeli boneka itu, tentu Wita tak akan mengeluarkan rèngèkan yang tak ubahnya tangisan bocah yang sebenarnya akan terhenti dengan sendirinya.


Lalu tangis Wita terus mendesak dada dan deru nafasnya dengan terengah saat mengingat sang ayah berkata, "Jadi.. cuma itu aja cita-cita anak gadis ayah itu?", tanya sang ayah seraya membelai lembut kepala Wita yang tengah terduduk di kursi rotan menghadap ke arah televisi di rumah mungilnya. "Kalau cuma jadi ibu dan punya anak mah, ibu kamu juga bisa. Anak ayah mah pasti bisa lebih dari itu atuh".


Dulu, Wita yang masih menyandang status anak SMA memberikan tawa renyah menjawab candaan sang ayah. Ia memang tak punya cita-cita apapun selain ingin menjadi seperti ibu. Memiliki suami sehebat ayah, dan memiliki anak yang sangat ia mimpikan.


Ayah lalu merangkul bahu Wita. Rangkulan yang tak ia ketahui sebelumnya akan membuatnya menyesal di sepanjang hidupnya. Rangkulan yang mengantarkan ayah berkata dengan sebuah map berisi sertifikat tanah, "dari sejak ayah menikah dengan ibu, ayah mulai menabung. Alhamduliah ayah akhirnya bisa membeli sawah, ya.. walaupun cuma sepetak. Sawah ini rencananya akan ayah jual, buat kamu kuliah nanti. Jangan cuma seneng sama anak-anak. Kamu bisa jadi dokter anak!"


Sertifikat tanah yang harus berganti kepemilikan, bukan karena tergadai untuk menebus cita-cita sang ayah, namun terjual demi menyelamatkan dirinya dari kecelakaan yang membuat Wita koma dan kehilangan ingatan. Ingatan yang tak dapat mengungkapkan betapa besar dan luasnya cinta yang Wita miliki untuk sang ayah hingga sosok idola itu tutup usia. Sungguh bentangan kasih dan sayang sang ayah tak dapat tertandingi oleh apapun.


Tangis Wita yang tadi terdengar kini mereda. Memandangi tetesan air hujan yang terjatuh menyetuh bumi. Sedang lelaki di sampingnya, memandang lekat dirinya tiada henti


"Mas Wisnu.." ucap Wita lirih.


"iya.. Wita. Sudah baikan?", tanya Wisnu dengan lembut.

__ADS_1


"maaf.., Wita.. sebenarnya tidak menginginkan menjadi.. seperti ini"


"Kamu hebat Wita!, ayah kamu... pasti bangga memiliki kamu". Jawab Wisnu seraya tersenyum. "Kita pergi? hujannya sudah reda".


Wita mengangguk pelan. Ia bediri lalu meyakinkan diri untuk berjalan mengikuti arah jalan sang lelaki yang sejak tadi menemani kegundahan hatinya.


Wita dan Wisnu kini berada di dalam mobil dengan aroma kopi. Aroma yang cukup menenangakan sedikit kesedihan yang Wita, atau mereka tepatnya, alami. Mobil yang dikendarai Wisnu itu melesat menuju suatu tempat. Tempat yang harus Wisnu tandangi untuk membekali Witanya sesuatu sebelum ia benar-benar melepasnya.


Wisnu akhirnya memutuskan mengabari Andra bahwa ia telah menemukan Wita melalui chat yang ia kirim pada sang asisten.


"Ndra saya lagi sama Wita. Almarhum kapan mau dikuburkan?"


"Rencana ba'da ashar bang. Paling telat jam 5 katanya. Nunggu anaknya yang bungsu masih di perjalanan"


"oke.. kabari kalau sudah mau dimakamkan!"


Wisnu lalu memantapkan diri mengemudikan kendaraannya, dalam hening dan sepi. Ia kini benar-benar tak mampu memberanikan diri untuk bersuara, sebab wanita yang berada di sampingnya ini telah memilih pria lain untuk menjadi pendamping hidupnya.


"kita... mau kemana?" tanya Wita nampak mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"saya janji.. cuma sebentar. Ada yang harus saya sampaikan", ucap Wisnu. "kita turun?!"


Wita tersentak, melihat pemandangan tempat yang tak pernah ia kunjungi. Bukan karena takut, tetapi ia tidak pernah bisa memberanikan diri mengahadapi kepecundangan.


Bernagai batu nisan berjajar menegak pada hamparan tanahnya masing-masing. Menjelaskan tentang sebuah kepastian yang akan dihadapi setiap manusia, kematian! Apa yang diinginkan Wisnu hingga mengajaknya ke tempat ini?


Tubuh Wita gemetar, sembari terus mengikuti langkah lelaki tegap yang membelakangi tubuhnya. Hingga ia terhenti di sebuah tempat.


"Duduk..?!", pinta Wisnu seraya menepuk tanah berlapis rumput jepang.


Wita mengikuti titah Wisnu. Ia duduk di samping sang lelaki seraya menatap dua batu nisan yang sebelumnya telah lelaki tegap itu usap. Mengucap doa seraya menunduk dan menutup kedua kelopak matanya dengan khidmat.


Wita.. mencoba memahami sesuatu, mencoba mengenali sesuatu;

__ADS_1


Diah Halimatussa'diah binti Suherman


Lahir: Bandung, 16 April ...


Wafat: ...


Soepandi Tarmono bin Haryanto


Lahir: Jogjakarta, 7 Juni...


Wafat: ...


"ada tiga kematian dalam hidup aku Wita", Wisnu memecah keheningan yang sejak tadi menjelma dalam semilir angin yang menyibak dedaunan bunga cempaka.


"Restari, wanita yang aku nikahi karena sebuah obsesi. Obsesi untuk menghadiahi kamu dendam dan kesumat. Restari yang sama-sama terluka karena cinta di masa lalunya, telah rela meregang nyawa demi mewujudkan keinginanku berbalut ego untuk memiliki seorang anak. Anak yang kau cita-citakan sejak pertama aku mengenalimu. Restari meninggalkanku dengan membawa cinta masa lalunya dalam hati, tanpa sempat tersampaikan pada pemiliknya. Ia meninggalkan aku dan Adhisku, di sebuah negara, tempat pengasinganku dari dirimu".


Wita.. kini memandangi sang lelaki yang namanya tersemat dalam hati yang tersembunyi. Hati yang tak pernah mampu ia akui keberadaannya. Lelaki itu menceritakan sejarah kelamnya tentang wanita yang pernah Wita pandangi potretnya dalam gawai miliknya melalui pencarian media sosial milik sang Wisnu.


Wita tak pernah mengira, jika wanita yang menyandang nama ibu kandung Adhis itu adalah wanita yang memberi kesempatan pada Wisnunya untuk bertahan hidup, dari segala luka yang Wita beri untuk sang Wisnu. Pengorbanan yang telah wanita itu berikan sungguh pengorbanan tulus atas nama kasih dan sayang.


Wita boleh saja mengangkuhkan diri bahwa dirinya mampu membuat sebuah keputusan yang menajam pada hati yang luka, menikahi Satria, meninggalkan Wisnunya. Tetapi mungkin ia lupa, bahwa lelaki di hadapannya telah rela menggadaikan seluruh hidupnya, di masa yang lalu dan masa yang akan datang.


Dalam lirih ia menggumamkan harap pada Tuhannya, agar sejenak Ia menorehkan kebahagiaan pada lelaki tegap nan rapuh itu; mas Wisnu.. semoga.. akan ada Restari yang lain yang mampu memberikan hatinya padamu, menyembuhkan segala luka hatimu, aku hanya berharap, tolong.. maafkan aku!!!


###


dan aku berharap... tolong hadiahi aku banyak vote, bunga atau teman-temannya, like, komen dan share...


kasih juga aku bintang lima ya.. biar tambah semangat nulisnya...😘😘😘


Makasih buat reader yang kemarin mempublish video kreatif di akunnya.. semoga jadi ladang kebaikan, apapun itu..🤲🤲🤲


ayooo... bantu terus share Selesa-Rindu ya ..😭😭🙏🙏😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2