
"Kamu kenapa sayang? Kok dari tadi aku perhatiin kamu diam saja. Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" Tanya William sambil menepuk punggung Emilia
Hal itu langsung membuat Emilia tersadar"Eh, Iya Wil. Kamu bicara apa tadi?" Tanya Emilia yang baru tersadar
"Kamu kenapa. Aku perhatikan sepertinya kamu tidak fokus. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu ?" Tanya William lagi
"Tidak ada Wil. Hanya saja aku sedang memikirkan Berlin"
Mendengar itu membuat William mengerutkan keningnya. Berlin? Siapa dia? Pikirnya
"Berlin. Siapa dia sayang?" Tanya William sambil duduk di depan Emilia
"Berlin tadi anak kecil yang aku temui Wil. Kasian sekali dia. Anak sekecil itu harus menderita penyakit kanker darah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Wil" Ujar Emilia pada William
"Kanker darah. Kasian ya sayang"
"Iya Wil kasian. Terlebih lagi dia adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggal"
"Innalillahi"
"Selama ini aku pikir hanya hidupku yang tidak adil Wil. Tapi ternyata ada yang lebih dari pada aku. Dari kisah aku bisa menyimpulkan, Jika hidup harus selalu di syukuri" Ucap Emilia dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Mengingat wajah pucat Berlin membuat dada Emilia terasa sesak. Ternyata dia selama ini yang kurang bersyukur. Bukan dunia yang kejam, Tapi rasa syukur Emilia yang terlalu tipis.
"Bersyukur atas hidup yang kita jalani sayang" Ucap William sambil mengusap kepala Emilia.
William membawa Emilia dalam dekapannya sambil membelai lembut rambutnya"Jangan sedih sayang. Semua rasa sakit yang kamu rasakan sudah berakhir. Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu ya" Ucap William yang terdengar sangat lembut
Tanpa mereka sadari, Ternyata ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan Emilia dengan William. Orang itu merekam semua yang sudah mereka lakukan.
Kemudian orang itu mengirimkan video yang baru saja dia ambil pada Kanaya. Sesuai kemauan Kanaya yang ingin melihat pria yang dia kira Danu bersama dengan istrinya.
Dttttt...Dtttt...Dtttt.
Mendengar ponselnya berdering membuat Kanaya melirik sekilas ke arah ponselnya. Melihat nama yang tertera disana membuat Kanaya membuka ponselnya.
Kedua tangannya mengepal kuat saat melihat isi pesan Video yang baru saja dia terima. Kedua matanya terlihat sangat merah melihat itu.
"Bisa-bisanya kamu melakukan ini terhadapku mas. Apa salahku? Kenapa dengan sangat tega kamu mengkhianati pernikahan kita. Bahkan hingga saat ini aku masih begitu mencintaimu mas. Tapi kenapa kamu patahkan perasaanku" Ujar Kanaya lirih sambil menatap layar ponselnya
Dadanya terasa sangat sesak. Seakan pasokan oksigen sangat sulit untuk sekedar masuk pada rongga paru-parunya.
"Kamu liat saja mas. Apa yang bisa aku lakukan kepada istri muda mu itu. Akan aku pastikan kamu menyesali semua itu" Ujar Kanaya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Di Tempat Lain
David mengacak rambutnya sambil mengusap kasar wajahnya. Niat hati ingin merebut Emilia kembali dalam pelukannya. Tapi yang terjadi malah di luar perkiraan David. Bukannya mendapatkan Emilia justru David malah kehilangan semuanya. Semua harta yang David miliki.
"Mama, Papa. Apa yang harus David lakukan. Tolong bantu David" Ucap David yang terdengar sangat lirih.
Setelah itu. David menghubungi sekretarisnya dan meminta nya untuk mengirimkan nomor ponsel William. Selaku CEO BAGASKARA GROUP.
π:Kirimkan nomor ponsel CEO BAGASKARA GROUP sekarang
Setelah itu David langsung memutuskan sambungan telponnya. Tak butuh waktu lama, Sekretarisnya langsung mengirimkan nomor ponsel William.
Melihat sekretarisnya sudah mengirimkan nomor William. David langsung menghubunginya.
Berdering namun tidak di angkat. Bukan David namanya kalau gampang menyerah.
Sedangkan William. Yang merasa ponselnya berdering langsung mengeluarkan ponsel nya. Kedua matanya memicing saat melihat nomor tidak di kenal yang sudah menelponnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak di angkat Wil? Tanya Emilia pada William
"Nomornya tidak di kenal sayang. Biarkan saja. Paling hanya orang iseng saja" Ucap William pada Emilia
Di saat William tidak menghiraukan ponselnya. Lagi-lagi ponselnya berdering dan terasa sangat mengganggu Emilia dan juga William.
Akhirnya dengan sangat terpaksa William menjawab ponselnya yang terus saja berdering.
π:Halo. Siapa?
Orang di ujung telpon tak langsung menjawab. Dia masih terdiam untuk beberapa saat. Masih terlalu bingung dengan apa yang mau dia katakan.
π: Hello. Siapa
π:A....aku David
Mendengar nama David membuat William langsung paham apa tujuan David menghubunginya.
π:Ada apa?
π:Halo William. Aku mohon, Bantu aku. Jangan biarkan perusahaan ku lumpuh total seperti ini. Aku mohon William
π:Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan David. Aku tidak akan pernah mau membantu mu. Apa yang sudah kamu lakukan benar-benar membuat aku murka
Setelah itu Willian langsung memutuskan sambungan telponnya."Siapa yang menelpon Wil?" Tanya Emilia penasaran
"Siapa lagi kalau bukan si David sayang"
Mendengar nama David membuat Emilia mengerutkan keningnya. Untuk apa David menghubungi William. Pikirnya
Memang Emilia belum tau menahu apa yang sudah di lakukan oleh William pada David."Untuk apa David menghubungi kamu? Memangnya dia minta bantuan apa dari kamu Wil?" Tanya Emilia lagi
"Kamu membuat David menyesali perbuatannya. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan Wil?"
"Aku sudah melumpuhkan perusahaan Winarto sayang"
Betapa terkejutnya Emilia mendengar apa yang baru saja William katakan. Antara percaya atau tidak, William melakukan hal itu. Seorang William bagaskara melakukan hal itu.
Emilia belum tau sekaya apa suaminya sampai bisa melumpuhkan perusahaan Winarto yang Emilia tau perusahan yang cukup besar.
"A..apa! Bagaimana bisa kamu melakukan itu Wil?"
"Apapun bisa aku lakukan sayang"
"Tapi kenapa. Apa alasan kamu sampai melakukan itu?" Tanya Emilia lagi
"Sayang, Kenapa kamu masih menanyakan apa alasan ku melakukan hal itu. Tentu saja itu semua karna lah sayang. David sudah membuat kamu terluka, Oleh karena itu, David akan menerima konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan"
"Tapi tidak perlu seperti itu juga Wil. Apa itu tidak berlebihan?"
"Tidak lah sayang. Tidak ada yang berlebihan. Semua itu memang pantas David dapatkan."
"Tapi kan kasian Anaknya Wil. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nasib anaknya Siren"
"Kami tenang saja sayang. Aku hanya ingin memberikan pelajaran untuk David. Setidaknya sampai dia menyesali apa yang sudah dia lakukan pada kamu dan juga Siren"
Mendengar itu membuat Emilia mengerutkan keningnya. "Maksudnya bagaimana Wil. Aku tidak paham" Tanya Emilia lagi yang masih belum terlalu mengerti
"Aku melakukan semua itu untuk memberikan pelajaran sama David sayang. Biar dia tau, Kalau uang bukan lah segalanya. Aku sudah tau bagaimana Siren menjalani pernikahannya dengan David. Aku merasa ikut tidak terima sayang. Karna mau bagaimanapun, Siren adalah adik iparku.
Emilia tak menjawab. Wanita itu hanya mendekat dan langsung memeluk William. Tidak nyangka, Ternyata William melakukan semua itu juga untuk Siren.
__ADS_1
"Terimakasih Wil. Terimakasih karna kamu sudah melakukan itu untuk Siren" Ujar Emilia sambil mengusap punggung William
"Tidak perlu berterimakasih sayang. Siren kan adik kamu, Jadi otomatis dia juga menjadi adik aku"
Di Tempat Lain
Ferdian menahan agar jantungnya tidak berdetak cepat. Berada di dekat Widi seperti ini memang benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Pokoknya nanti kalau sudah sampai di rumah sakit kamu harus di periksa ya Fer" Ujar Widi lagi
"Tidak perlu kak. Tidak perlu seperti itu" Ujar Ferdian sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Aku tidak mau tau, Pokoknya kamu harus di periksa. Soalnya ini benar-benar tidak baik. Jantung kamu berdetak lebih cepat dari pada detak normal Fer. Masa iya 120 denyut per menit. Kan normalnya 60-100 denyut Fer"
"Bagaimana tidak berdetak cepat jika kak Widi terus memegang tangan ku seperti ini" Ucap Ferdian dalam batinnya
"Astaga. Posisi ini benar-benar tidak baik. Bisa-bisa aku kena serangan jantung kalau seperti ini terus" Batin Ferdian lagi
"Ya ampun. kondisi ini sangat tidak baik buat kesehatan jantungku" Ucapnya lagi
Tak berselang lama. Mobil taksi itu sudah tiba di rumah sakit tempat Emilia di rawat. Akhirnya Ferdian bisa bernafas lega. Setidaknya hal itu membuat Widi melepaskan tangannya dari Ferdian.
"Akhirnya sampai juga. Kalau misalnya perjalanan masih lama, Bisa-bisa aku mati karna serangan jantung" Lagi-lagi Ferdian hanya bermonolog dalam batinnya
"Sudah sampai Fer. Ayo kita turun. Kamu bisa turun sendiri kan? Atau mau aku papah?" Tawar Widi pada Ferdian
Mendengar itu membuat Ferdian dengan cepat menggeleng"Tidak tidak kak. Itu tidak perlu. Aku bisa sendiri kok. aku gak papa kok kak" Ucap Ferdian cepat
"Kamu yakin Fer. Detak jantung kamu saja masih 115 denyut per menit"
"Aku beneran tidak kenapa-napa kak. Kak Widi tidak perlu cemas" Ucapnya dan langsung turun dari mobil taksi untuk menetralkan detak jantungnya
"Huuffhh. Akhirnya sampai juga. Ini benar-benar tidak aman. Sepertinya aku harus membuang jam tangan sialan ini. Bunyi tidak liat kondisi" Ucap Ferdian pelan
Setelah itu. Widi dan Ferdian berjalan beriringan. Dari arah kejauhan, Widi bisa melihat Emilia dan William yang sedang ada di taman rumah sakit"Itu mereka" Ujar Widi pada Ferdian sambil menunjuk ke arah Emilia
Ferdian yang mendengar itu mengikuti arah tangan Widi"Oh iya itu mereka kak" Jawabnya pelan
Di Tempat lain
Saat ini Siren masih terus bertukar cerita dengan Damar. Memiliki nasib yang hampir serupa membuat mereka mengobrol tanpa sadar sudah lebih 1 jam.
Siren dan Damar saling sharing. Mengobrol sambil sesekali tertawa. Entah kenapa rasanya mereka sudah seperti kenal lama.
"Terimakasih ya mas. Kalau bukan kamu, Mungkin saat ini aku sudah"
Perkataan Siren terpotong saat Damar menimpalinya"Tidak perlu berterima kasih Siren. Maafkan aku yang sudah membeli tubuh mu pada mami. Akan aku pastikan jika kamu benar-benar terbebas dari tempat ini" Ucap Damar sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Tidak apa mas. Aku masih tidak habis pikir dengan ayah kandung yang baru aku temui. Ternyata dia rela menjual anaknya sendiri hanya karna uang"
Tak berselang lama. Ponsel Siren berdering. Ada sebuah panggilan masih dari pengasuh Dini di jakarta. Melihat itu membuat Siren dengan cepat menjawab telpon itu.
π:Halo mbk. Ada apa telpon saya. Bagaimana Dini. Apa dia rewel?
π:Maaf bu. Ini bukan soal Dini
π:Lalu?
π:Rumah di sita pihak bank bu. Saat ini saya dan juga Dini sedang ada di jalan tidak tau harus kemana
π:Apa!
__ADS_1