Single Mamy

Single Mamy
Rencana


__ADS_3

1 jam kemudian. Emilia mengerjab kan kedua matanya yang masih begitu samar-samar melihat secercah cahaya yang mulai masuk pada indra penglihatannya.


Setelah semua kesadarannya terkumpul sempurna. Emilia menoleh pada sosok pria tampan yang memiliki postur tubuh tinggi tegap.


"Aku dimana, Dan kamu siapa?" Tanya Emilia sambil menatap Ferdian yang saat ini sedang memangku kepalanya


"A.....aku Ferdian" Jawab Ferdian terbata


Mendengar nama Ferdian membuat Emilia memijat kedua ruang alisnya. Nama itu seperti tidak asing untuknya.


"Ferdian siapa?" Tanya Emilia sambil melihat ke arahnya


"Ferdian SMA MERAH PUTIH" ucap Ferdian lagi


"Kenapa aku bisa ada di sini?"


"Tadi aku menemukan kamu dalam keadaan pingsan di depan sebuah restoran. Karna wajah kamu tidak asing, Akhirnya aku membawa kamu ke tempatku. Dan ternyata aku benar, Kamu Emilia kan?"


"Iya" Ucap Emilia singkat


Ferdian menatap wajah Emilia yang terlihat semakin cantik. Apalagi terakhir pertemuan mereka 5 tahun yang lalu. Semua anak SMA MERAH PUTIH sudah mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada Emilia. Ada beberapa dari mereka yang merasa iba. Ada juga yang merasa bahagia atas apa yang sudah menimpa wanita itu


"Maafkan aku yang sudah membohongimu Emilia. Maafkan aku yang sempat punya niat jahat atas kamu. Aku benar-benar minta maaf" Ferdian bermonolog dalam batinnya


"Kenapa kamu liatin aku seperti itu Ferdian?" Tanya Emilia saat Ferdian memandangnya begitu intens


Mendengar suara Emilia membuat Ferdian mengalihkan pandangannya dari wajah Emilia. ada apa dengan pria ini! Kenapa dia harus memperhatikan wajah Emilia begitu intens


"Tidak ada. Aku hanya merasa pangling saja dengan penampilanmu saat ini. Kamu terlihat jauh lebih cantik"


"Masa iya. Kamu juga terlihat lebih tampan. Makanya aku seperti tidak pernah mengenalmu. Kamu sudah benar-benar berubah" Ucap Emilia dan berhasil membuat Ferdian mengangkat kedua sudut bibirnya


Emilia baru tersadar saat melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah berapa jam dia keluar rumah. pasti Nathan juga Widi sudah sangat menghawatirkan nya


"Ya ampun. Sudah jam 23:00. Aku harus segera pulang. pasti anakku sangat menghawatirkan ku karna belum pulang jam segini" Ujar Emilia dan langsung bangkit dari duduknya


Namun saat Emilia melangkah ke luar. Tiba-tiba suara Ferdian kembali berhasil menghentikan langkahnya.


"Emilia" Ucap Ferdian sambil mengejar Emilia


"Ada apa?" Tanya Emilia sambil membalikkan tubuhnya


"Bolehkah aku mengantarmu. Ini sudah mau masuk tengah malam, Aku tidak mau terjadi sesuatu hal buruk padamu. Oleh karena itu izinkan aku untuk mengantarmu pulang. Malam ini saja"


"Tapi Ferdian. Pa itu tidak merepotkan mu?"

__ADS_1


"Tidak Emil. Malah aku seneng bisa mengantar wanita yang sudu sudah menyelamatkan sekolahku. Kalau bukan karna kamu, Mungkin aku tidak akan pernah bisa lulus dari SMA MERAH PUTIH dan menjadi orang sukses seperti saat ini. Izinkan aku mengantarmu untuk embalas semua kebaikanmu Emil" Ucap Ferdian yang terlihat begitu tulus


Melihat raut wajah Ferdian membuat Emilia dengan terpaksa menerima tawaran pria itu. Biarpun dengan hati yang berat, Tapi yang pasti Ferdian sudah memiliki niat baik untuk mengantarnya pulang


"Baiklah. Oh iya Ferdian. Kemana bundamu. Apa kamu tidak mau pamit padanya terlebih dahulu?" Tanya Emilia pada Ferdian. Karna memang yang Emilia tau Ferdian hanya memiliki seorang bunda saja.


Mendengar kata bunda membuat Ferdian menundukkan wajahnya. Rasa sakit karna kehilangan itu masih bisa menyayat hati Ferdian. Rasanya teramat pedih saat mengingat kejadian yang menimpa sang bunda 4 tahun yang lalu.


"Ferdian. Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Emilia saat menyadari raut sedih wajah Ferdian


Ferdian mengambil nafas berat sebelum mengatakan jika sang bunda sudah tidak lagi bisa menemani Ferdian. Kejadian yang masih terekam jelas masih bisa Ferdian ingat.


"Bunda sudah meninggal 4 tahun yang lalu" Ucapnya sendu


Emilia yang mendengar itu merasa begitu terkejut. Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Masih tidak menyangka jika wanita paruh baya yang dulu sering Emilia temui sekarang sudah tidak ada lagi.


"Apa!! Apa yang terjadi. kenapa bunda kamu bisa meninggal?" Tanya Emilia dengan raut wajah sendu


"Ada seseorang yang sudah menyebabkan bundaku pergi. Dan aku akan memberikan pelajaran pada orang-orang itu" Ucap Ferdian dengan penuh penekanan


"Siapa Ferdian?'


"Kalau soal itu aku masih belum bisa cerita sama kamu. Lebih baik aku antar kamu sekarang juga" ucapnya


Sejak tadi Widi dan Nathan begitu menghawatirkan keadaan Emilia yang belum pulang hingga saat ini. Bocah kecil itu jalan mondar mandi sambil menunggu kedatangan maminya.


"Aunty. Mami kemana kok sampai jam segini belum pulang juga?" Tanya Nathan dengan nada dan raut wajah gelisah


Widi yang mendengar rengekan Nathan langsung mendekat lalu memeluk Nathan dan mencoba menenangkannya


"Mami lagi ada meeting penting sayang. Palingan nanti mami juga bakalan datang. Nathan lanjut bobok lagi ya, Nanti mami bisa marah kalau pulang Nathan belum tidur" Ucap Widi yabg pura-pura tenang di depan Nathan.


Padahal sebenarnya Widi juga merasakan apa yang saat ini Nathan rasakan. Karna tidak biasanya Emilia meeting hingga tengah malam seperti ini belum juga pulang


"Kemana kamu Em. Tidak biasanya kamu belum pulang hingga tengah malam seperti ini" Ucap Widi dalam batinnya sambil mencoba menenangkan Nathan


Ini memang pertma kalinya Emilia tidak pulang hingga jam segini. Hal itu membuat Widi benar-benar khawatir dan panik. Apalagi setelah mengingat cerita Emilia saat mau di culik beberapa hari yang lalu


Rasa takut, Panik, Khawatir menjadi satu. Emilia sudah benar-benar membuat Widi khawatir yang berlebihan. Apalagi ponselnya sejak tadi tidak dapat di hubungi


"Jangan-jangan Emilia" Ucap Widi tiba-tiba dan langsung mengambil ponselnya untuk meminta bantuan pada Liana. Calon mertua Emilia. Karna hanya nomor Liana yang Widi miliki


Saat Widi sudah mau menghubungi Liana. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dan berhasil membuat Widi meletakkan kembali ponselnya


Tok....tok...tok...

__ADS_1


Mendengar suara itu membuat Widi berjalan ke arah pintu dan membuka pintu rumahnya bersama dengan Nathan yang mengekor di belakang tubuhnya


"Mami" Teriak Nathan saat pintu sudah terbuka lebar


"Hai sayangnya mami. Kenapa kamu belum tidur jam segini sayang?" Tanya Emilia sambil menggendong tubuh mungil Nathan


"Habisnya Nathan menghawatirkan mami. Mami kemana saja kok baru pulang jam segini. Mami tau kan kalau Nathan sama Aunty Widi mencemaskan keadaan mami" Ucap Nathan dengan nada manja


"Iya maafkan mami ya sayang. Tadi mami masih ada urusan penting. Sekarang Nathan ke kamar lalu bobok ya. Besok kan Nathan sekolah" Ucap Emilia pada Nathan


"Besok Nathan libur karna tanggal merah mami. Apa mami sudah lupa tentang janjinya sams Nathan" Ucap Nathan sendu


Mendengar ucapan Nathan membuat Emilia menepuk jidatnya. "Ya ampun sayang. Mami benar-benar lupa nak. Ya Udah sekarang Nathan sikat gigi cuci kaki lalu tidur ya" Ucap Emilia lembut pada anak mungilnya


"Tapi mami. Nathan masih merindukan mami" Ucap Nathan lagi


"Sayang. Katanya besok mau jalan-jalan sama om baik. Kalau gitu Nathan bobok sekarang ya nak"


"Iya deh mami. Tapi janji ya besok kita jalan-jalan sama om baik" Ucap Nathan sambil mengangkat telunjuk kelingkingnya


"Iya mami janji sayang. Sudah sana Nathan tidur sekarang" Ucap Emilia lagi


"Tunggu sebentar mi. Nathan punya sesuatu buat mami" Ucap Nathan sambil berlari ke arah dapur. Emilia dan Widi hanya memperhatikan tingkah Natha


"Em, Kalau boleh tau memangnya kamu kemana aja kok sampai pulang jam segini?" Tanya Widi yang begitu penasaran


"Nanti biar aku ceritakan ya kak. Tapi" Belum sempat Emilia menyelesaikan omongannya Nathan keburu datang dengan membawa piring yang isinya nasi goreng yang telah Nathan hias


"Ini buat Mami" Ucap Nathan sambil memberikan piring itu pada Emilia


Melihat itu membuat kedua mata Emilia berkaca-kaca. Rasanya baru kemarin dirinya menghadirkan Nathan dalam hidupnya. Sekarang anak itu sudah bisa membuat Emilia terharu


Emilia memejamkan kedua matanya yang sudah mulai panas. Ingin rasanya menangis detik ini juga. Namun dengan cepat Wanita itu menepis agar tidak menangis di depan anaknya


Emilia berjongkok dan mencium pucuk kepala Nathan penuh sayang. Sambil menitipkan beberapa harapan di sana.


"Mami sayang banget sama Nathan. Nathan adalah harta terbesar yang mami miliki" Ucap Emilia


30 menit kemudian. Emilia dan Nathan sudah masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu melihat ponselnya yang ada satu notifikasi


[ Jangan lupa besok quality time bersama aku dan Nathan ya mami ]


Membaca pesan masuk itu membuat Emilia mengukir senyum tipis.


[ Baiklah ] Send

__ADS_1


__ADS_2