
Acara upacara sudah selesai. Nathan berjalan pelan menuju kelasnya yang ada di lantai tiga. Sedangkan temannya yang lain masih menemui bu Lulu untuk mendapatkan hukuman atas apa yang sudah mereka lakukan saat upacara tadi berlangsung.
"Nathan" suara itu membuat langkah Nathan terhenti"Ada apa?" tanya Nathan sambil membalikkan tubuhnya.
"Eeemm aku cuma mau ingetin kamu, Besok malam jangan lupa datang ke rumahku" balas Anya sambil menatap Nathan.
"Untuk apa?" tanya Nathan lagi.
"Aku lagi mau mengadakan party. Mumpung di rumah tidak ada orang. Kamu bisa ajak yang lain kok. Datang ya. Plisss"
"Liat saja besok. Gue gak janji, Liat mood" balasnya dingin dan langsung berlalu dari hadapan Anya dan kedua temannya.
Anya terus menatap pundak Nathan yang sudah menaiki anak-anak tangga"Kenapa dia bisa ganteng banget gitu sih. Perfek tau gak sih. Seperti hanya ada satu di duni. Limited edition" gumam Anya sambil terus menatap Nathan yang semakin menjauh.
"Barang kali Nya limited edition" timpal Rere sambil mengulum bibirnya
Anya menatap tajam Haruka saat melihat Haruka berjalan ke arahnya"Itu kan anak baru yang tadi pagi bareng sama si Nathan. Sebenarnya dia siapa sih" ucapnya kesal.
"Apa jangan-jangan cewek itu adalah pacarnya Nathan. Tapi dia lumayan cantik sih" sahut Wilona sambil ikut menatap ke arah Haruka dan teman-temannya.
Mendengar perkataan Wilona tentu saja membuat Anya tidak suka"Apa kamu bilang. Lumayan cantik. Wajahnya pas-pasan begitu bilang cantik. Masih juga cantikan aku kemana-mana" balas Anya dan langsung melangkahkan kakinya dari sana. Ikut menaiki anak-anak tangga di sana untuk masuk ke dalam kelas nya yang memang sama dengan Nathan.
"Sumpah ya Haruka. Tadi itu kamu keren banget. Kamu melakukan yang sangat terbaik" puji Syila pada Haruka.
"Iya Haruka. Kamu benar-benar hebat. Apa aku bilang, Kamu pasti bisa melakukan yang terbaik" timpal Tia.
Haruka mengangkat kedua sudut bibirnya"Kalian berlebihan. Aku hanya melakukan yang sebisa aku. Tapi semua itu juga berkat Syila sama Amel. Kalian berdua keren bisa menyeimbangi dan menutupi kesalahan aku saat melangkah tadi" balas Haruka sambil melirik pada Syila juga Amel.
Di tempat lain.
Arka, Aril dan Juan berdengus kesal setelah keluar dari ruangan BK. Mereka bertiga melangkahkan kakinya berat menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Hadehhhh. Mimpi apa semalam, Kenapa hari ini harus di hukum. Membersihkan semua toilet pula. Menyebalkan sekali" ucap Juan sambil menghentakkan kakinya.
"Ini semua gara-gara kalian berdua. Coba saja tadi kalian tidak berisik, Sekarang kita bisa enak-enakan di dalam kelas" ucap Arka sambil menoleh pada Aril juga Juan.
Mendengar itu membuat Aril dan Juan menatap Arka sambil menepuk sedikit keras pundaknya"Wah ngadi-ngadi lu, Kenapa malah nyalahin kita berdua. Itu juga salah lu sendiri yang banyak bacot monyet" balas Aril pada Arka.
"Tapi itu semua bermula dari kasian berdua bangsad" timpal Arka lagi.
"Dari pada kalian banyak bacot dan saling menyalahkan, Lebih baik kita cepat ke kamar mandi, Bagi tugas. Itu kan ada 9, Jadi kita masing-masing dapat 3 bagian" ucap Juan
Setelah sampai di kamar mandi. Mereka benar-benar membagi tugas. Masing-masing orang membersihkan 3 toilet. Beruntung karna bu Lulu hanya meminta mereka untuk membersihkan toilet pria saja.
*
*
"Sayang, Nanti setelah pulang dari restoran aku mau kita berhenti di makamnya Keyla sebentar ya, Aku benar-benar sangat merindukannya" ucap Emilia sambil menatap William yang sedang fokus mengemudi.
"Iya, Wil. Sudah 5 tahun berlalu. Dan rasa kehilangan itu masih sangat aku rasakan"
Tanpa terasa butiran bening itu berhasil lolos begitu saja, Emilia menyeka kedua sudut matanya saat merasakan air mata itu basah.
"Sudah, Sayang. Lebih baik kita ikhlaskan Keyla. Biarkan dia bahagia di alam saja." seru William yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengarannya.
Semenjak kematian Keyla, Emilia memang sudah di nyatakan tidak bisa punya anak lagi. Bahkan rahim nya juga sudah di angkat karna waktu kecelakaan, Emilia berusaha menyelamatkan Keyla namun semuanya sia-sia.
30 Menit kemudian. Mereka sudah sampai di di tempat janjiannya dengan Siren. Dari dalam mobil Emilia sudah bisa melihat keberadaan Siren, Damar juga anak mereka.
Emilia turun dan berjalan cepat masuk ke dalam restoran itu. Saat sudah sampai di dalam, Emilia memeluk erat anak Siren yang bernama Senja.
"Senja. Mami sangat merindukan kamu" kata Emilia sambil memeluk erat Senja.
__ADS_1
"Senja juga sangat merindukan mami, Mami lama sekali di luar negrinya" balas Senja sambil membalas pelukan Emilia.
"Mami di sana lama karna sekalian ajak kak Nathan jalan-jalan sekaligus liat-liat kampus. Karna memang setelah lulus SMA, Kak Nathan rencananya mau lanjut kuliah di Paris. Tempat papi dulu kuliah" terang Emilia lagi.
"Wah, Serius Nathan mau kuliah di paris kak?" tanya Siren yang sejak tadi mendengarkan.
"Iya, Si. Nathan minta kuliah di tempat William kuliah dulu. Di sana kampusnya sangat bagus, Si. Mungkin kamu juga may kuliahin Dini di sana" ucap Emilia lagi.
"Kalau soal itu biar aku tanya Dini dulu kak. Kak Emil kan tau sendiri bagaimana Dini. Dia tidak akan mau kalah bukan keinginannya, Seperti saat ini, Dia memilih sekolah di tempat lain dari pada satu sekolah sama Nathan. Padahal kan sekolah Garuda adalah sekolah paling bagus di kota ini" timpal Siren lagi.
"Ya kalau anaknya sudah tidak mau gimana Si. Karna terlepas dari apapun, Kita sebagai orang tua harus bisa memberikan kesempatan pada mereka untuk memilih. Jangan menentukan sesuai yang kita inginkan" ucap Emilia lagi.
"Kakak benar, Biar mereka yang menentukan mau seperti apa masa depannya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mensuport serta mendoakan yang terbaik saja.
*
*
*
Ting......tingg.....ting...
Suara bell pulang sudah terdengar. Semua siswa SMA garuda sudah bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan Haruka dan juga Nathan.
"Kamu pulang sama siapa, Haruka? Pasti sama Nathan ya?" tanya Tia pada Haruka.
"Begitulah. Kalau sampai aku tidak pulang bersama dengan Nathan, Nanti yang ada papa aku bakalan marah. Secara tadi pagi papa sudah menitipkan aku pada pria menyebalkan itu" balas Haruka sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Sudah sana. Nanti pangeran nunggu lama di parkiran" ucap salah satu dari mereka sambil mengulum bibir.
"Pangeran, Mana ada pangeran menyebalkan kayak gitu"
__ADS_1