Single Mamy

Single Mamy
Semua hanyalah masalalu


__ADS_3

"Apa itu Wil?" tanya Emilia sambil menatap William


William tak langsung menjawab. Masih menatap wajah Emilia yang terlihat sangat penasaran.


"Ternyata kak Widi adalah anak kandung papa Wira" terang William sambil menggenggam tangan Emilia


"Apa! Kamu gak sedang bercanda kan, Wil. Atau aku sedang berhalusinasi?" ucap Emilia yang terlihat cukup terkejut dengan apa yang baru saja William katakan.


"Tidak sayang, Aku tidak sedang bercanda. Dan kamu juga tidak sedang berhalusinasi. Ini kenyataan, Sayang. Kak Widi adalah saudara kandung kamu beda mama" Seru William lagi. .


Mendengar perkataan William ada rasa bahagia yang terselip dari rasa sedih Emilia. Di satu sisi Emilia terkejut sekaligus sedih saat mendengar kondisi papanya. Laki-laki yang menjadi cinta pertama dalam hidup Emilia. Namun di sisi lain ada rasa bahagia ternyata sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah saudaranya sendiri.


"Bawa aku ke ruangan papa Wil" gumam Emilia sambil menoleh pada William.


William mengangguk pelan"Baiklah. Kamu tunggu di sini dulu ya sayang. Biar aku ambil kursi roda dulu"


Di saat William bangun dari duduknya dengan niatan mau mengambil kursi roda. Tiba-tiba saja dokter Dika datang dengan membawa kursi roda untuk Emilia.


"Tidak perlu kakak ipar. Saya sudah siapkan kursi roda untuk Emilia" ucap dokter Dika sambil mengulum bibirnya.


Melihat dokter Dika seperti itu tentu saja membuat William mengangkat sebelah sudut bibirnya. Merasa tidak suka saat dokter Dika saudara sepupu dari Emilia selalu mengganggu dirinya dengan Emilia.


"Kenapa ekspresinya seperti itu kakak iparku? Ada yang salah kah?" ucap Dika lagi yang masih setia mengulum bibirnya.


"Gak ada. Sudah mana sini tu kursi roda" balas William ketus.


"Dih kakak ipar. Slow dong. Jangan seperti itu. Iya kan Em" seru dokter Dika lagi.


"Dika, Jangan kumat deh. Masih pagi ini" balas Emilia sambil menggelengkan kepalanya.


"Pagi apaan Em, Orang ini sudah siang kok. Liat noh" ucap Dika sambil menunjuk ke arah jendela.


Emilia membelalakkan kedua matanya saat melihat ternyata hari memang sudah siang"Hah. Kok sudah siang begini. Perasaan tadi aku sama papa yang kecelakaan masih pagi" ucapnya pelan.


"Sayang, Kamu aja sudah beberapa jam gak sadarkan diri" timpal William sambil menatap Emilia.


"Sudah beberapa jam, Memangnya berapa jam aku tak sadar?" tanya Emilia pada William


"Hampir 7 jam sayang. Ini sudah jam 13:00. Dua jam lagi proses transparansi ginjal akan segera di lakukan" terang William lagi.


"Bawa aku ke ruangan papa sekarang Wil"

__ADS_1


William tak menjawab. Hanya mengangguk dan langsung mendapatkan kursi roda yang di bawa oleh dokter Dika pada Emilia.


"Papa. Semoga semuanya baik-baik saja" gumam Emilia yang terdengar sangat lirih.


Saat mendengar kata operasi ada rasa takut tersendiri, Emilia masih takut jika ada sesuatu hal yang terjadi pada papanya. Karna mau bagaimanapun, Emilia begitu menyayangi sosok itu, Sosok yang sudah menjadi salah satu hal yang membuatnya bertahan.


Setelah itu, William mendorong kursi roda Emilia keluar dari ruangan nya. "Ngapain kamu ikutin kita?" kata William saat melihat dokter Dika mengekor di belakang mereka.


"Aku mau keluar lah kakak ipar, Ya kali aku mau di sini sendiri. Lagian ada apa denganmu kakak ipar? Sensi bener sama adek iparmu sendiri" balas Dika yang masih terus mengekor di belakang Emilia dan juga William.


"Kesel aja saya sama kamu. Bisa gak, Sehari saja jangan ganggu waktu sama sama Emil. Kami berdua ingin memiliki quality time" seru William sambil melirik pada Dika yang sudah mengulum bibirnya.


"Yakin mau Quality time di sini? Gak salah kau kakak ipar? Ini rumah sakit loh"


"Yang bilang ini kuburan siapa? Ngeselin banget sih kamu"


Melihat raut kesal William membuat Emilia ikut mengulum bibirnya. Hal seperti ini saja sudah bisa membuat suaminya itu berlebihan, Apalagi hal yang lain.


"Sudah sudah, Wil. Kamu ituloh kayak anak kecil. Dika kok diladenin. Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia suka" timpal Emilia sambil menoleh pada William.


"Tapi, Sayang. Anak ini sangat menyebalkan. Dia suka menguji kesabaranku"


"Dih apaan kau Em. Kau belum tau ya kalau gue itu jomblo yang berkualitas" jawab Dika yang merasa tidak terima dengan perkataan Emilia.


Mendengar perkataan Dika membuat Emilia saling pandang dan tertawa saat itu juga"Hahha. Baru tau aku Dik. Ada ya jomblo berkualitas tapi gak laku-laku" gumam Emilia di sela tawanya.


"Makanya aku kasih tau kalau saudara sepupumu ini adalah jomblo yang berkualitas tinggi" ucap Dika lagi


"Mana ada jomblo berkualitas gak laku-laku"


"Terserah kalian pada lah" seru Dika dan langsung memutusakan untuk berlalu dari hadapan William dan juga Emilia.


*


*


*


Tanpa terasa jam terus berputar. Saat ini Emilia,William dan juga yang lain sedang menunggu di depan ruangan operasi. Operasi transplantasi ginjal yang di lakukan oleh Widi dan Wirayudo.


"Ma, Jangan panik. Semua akan baik-baik saja" ucap Emilia sambil menepuk pelan pundak sang mama.

__ADS_1


Melinda mengambil nafas panjang sambil menatap Emilia"Semoga operasinya berjalan dengan lancar ya, Em. Semoga papa bisa segera sadar kembali" balas Melinda sambil menatap Emilia.


Satu jam pun berlalu, Lampu ruangan operasi sudah hidup. Dan itu menandakan jika operasinya sudah selesai. Hingga tak berselang lama dokter Dika keluar dari ruangan operasi itu.


"Bagaimana Dik. Apa operasinya berjalan lancar?" tanya Melinda pada Dika.


"Tante tenang saja. Semua berjalan lancar. Kita hanya perlu menunggu om dan juga kak Widi sadar. Sebentar lagi mereka akan di pindah ke ruangan rawat" balas Dika sambil tersenyum.


"Syukurlah, Apa tante bisa masuk Dik?"


"Boleh tante. Tapi gantian ya"


Di Tempat Lain


Danu terdiam di salah satu taman kota. Pria itu menatap sekeliling taman kota yang terlihat cukup ramai. Namun entah kenapa Danu masih saja merasa sangat kesepian. Bayangan Kumala serta Kanaya melintas begitu saja.


"Kenapa sekarang semuanya menjadi seperti ini. Aku kehilangan dua sosok wanita yang sama-sama aku cintai" ujar Danu yang terdengar sangat lirih


Danu mengambil nafas panjang lalu membuangnya kasar. Tidak pernah menyangka jika hidupnya akan berakhir menyedihkan seperti ini.


Di saat Danu masih terdiam di sana. Tiba-tiba saja Danu mendengar suara yang begitu familiar menerpa indra pendengarannya.


"Mama. Nanti Salsa mau bermain di ayunan sana ya"


"Iya, Sayang. Kamu bisa main ayunan sepuasnya" balas Kanaya pada Salsa.


Danu yang mendengar suara Kanaya dan juga Salsa langsung membalikkan tubuhnya dan mencari sumber suara. Ternyata di sana Danu bisa melihat Kanaya bersama dengan Salsa dan juga seorang pria.


"Pria itu, Dia kan orang yang waktu itu menolong Kanaya saat terjebak tawuran" gumam Danu sambil terus menatap Kanaya, Salsa serta Daffi.


Ya, Pria itu adalah Daffi. Setelah kejadian hari itu, Kanaya dan juga Daffi saling berkomunikasi dan semakin dekat.


"Apa sekarang mereka sudah semakin dekat" ucap Danu lagi sambil terus menatap Daffi serta Kanaya.


"Papa" ucap Salsa saat melihat Danu duduk di salah satu kursi di sana.


Salsa berlari cepat menghampiri Danu serta langsung memeluknya sangat erat"Papa. Salsa sangat merindukan papa" ucap Salsa yang terdengar sangat lirih.


"Papa juga sangat merindukan Salsa. Maafkan papa ya sayang, Maafkan apa yang sudah papa lakukan selama ini" kata Danu sambil membelai lembut rambut Salsa.


"Tidak masalah, Papa. Semuanya sudah berlalu. Biarlah menjadi kenangan" balas Salsa sambil mencium pipi kanan Danu

__ADS_1


__ADS_2