Single Mamy

Single Mamy
Rasa terkejut Emilia


__ADS_3

Danu terdiam untuk beberapa saat. Langkahnya oun terhenti di sana. Hanya hari ini Danu melihat perubahan dari sikap Kumala padanya.


"Aku mohon jangan seperti ini sayang. Aku masih sangat mencintaimu"ucap Danu sambil menatap Kumala


"Aku harap kamu bisa mengerti maksud ku mas, Aku mohon. Sudahi semuanya sekarang. Kamu pergi dari sini dan kembalilah bersama dengan Kanaya"


"Tapi aku sudah menalaknya"


"Itu bukan urusan aku mas. Cepat talak aku sekarang" ucap Kumala tanpa menoleh pada Danu.


"Tapi sayang"


"Ayo cepat! Dan aku minta kamu pergi dari kehidupan aku. Kamu juga tak perlu khawatirkan anak kita. Karna aku bisa menjadi sosok bunda sekaligus ayah untuknya"


Cukup lama Danu hanya terdiam. Mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar. Jujur apa yang di minta oleh Kumala saat ini benar-benar membuatnya berat.


"Ayo, Mas! tunggu apa lagi" sentak Kumala


"Baiklah, Jika memang itu yang terbaik. Aku talak kamu saat ini juga, Kumala" ucap Danu yang terdengar sangat berat.


Setelah mendengar itu, Dada Kumala terasa sangat sesak. Tak bisa iya pungkiri. Rasanya memang benar-benar sakit saat kata talak itu sudah menyapu indra pendengarannya.


Kumala berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata itu di depan Danu"Sekarang pergi, Mas. Urusan kamu di sini sudah selesai" ucap Kumala sambil menoleh ke lain arah.


*****


"Ginjal ibu Widi cocok buat pak Wira. Ibu bisa segera bersiap. Kita akan melakukan operasi transparansi ginjal siang ini" ucap perawat itu pada Widi.


"Baik, Sus. Saya akan mempersiapkan diri akan hal itu" jawabnya dan langsung keluar dari ruangan pemeriksaan.


Setelah keluar dari ruangan pemeriksaan, Widi kembali ke tempat Melinda, Wanita itu menghampiri Melinda yang saat ini di landa rasa cemas.

__ADS_1


"Mama, Mama jangan sedih lagi ya. Karna ginjal Widi cocok sama papa Wira" ucap Widi sambil mendekat pada Melinda.


"Kamu gak sedang bercanda kan Wid. Beneran ginjal kamu cocok. Kok bisa kebetulan ya" ucap Liana sambil menatap pada Widi


"Bukan kebetulan ma, Karna sebenarnya papa Wira adalah papa kandungku"


Perkataan Widi berhasil membuat Melinda mengerutkan keningnya"Apa maksud kamu Wid. Papa kandung?" tanyanya penasaran.


Widi mengangguk"Iya, Ma. papa Wira adalah papa kandung Widi. mungkin mama akan sangat shock, Tapi memang ini kenyataannya ma. Aku anak papa Wira dengan mama Mira"


"Apa!! Mira? Jadi kamu"


"Iya ma. Aku anaknya mama Mira"


Melinda tak menjawab. Wanita paruh baya itu terdiam seketika saat mendengar perkataan Widi. Ada raut kecewa dari wajahnya. Widi bisa lihat itu. Widi mendekat dan langsung memeluk Melinda.


"Ma, maafkan Widi ya. Widi benar-benar minta maaf" ucap Widi sambil memeluk melinda


Mendengar perkataan Widi, Tentu saja Melinda merasa sangat terkejut. Baru kali ini dia mengetahui sebuah fakta yang tak pernah dia duga sebelumnya. Pantas saja wajah Widi memang sedikit ada kemiripan dengan Wira.


Widi menggeleng"Tidak, Ma. Papa Wira tidak tau menahu soal ini. Karna memang mama Mira merahasiakan semuanya. Bahkan aku juga baru tau beberapa minggu hari yang lalu kalau papa Wira adalah ayah kandungku. Tepatnya sebelum pernikahan Emilia"


"Jadi, Saat acara pernikahan Emil, Kamu sudah tau semua kebenaran ini?"


"Iya, Ma. Aku sudah tau semuanya. Maka dari itu, Waktu itu aku minta foto bersama dengan Emilia dan juga papa, Karna aku ingin merasakan bagaimana memiliki foto keluarga" ucap Widi yang terdengar sanga lirih.


Melinda mendekat dan memeluk Widi. Mengusap lembut rambut panjang Widi. Melinda tau pasti apa yang Widi rasakan saat ini.


"Maafkan Widi ya ma. Mungkin apa yang Widi katakan membuat Mama sangat terkejut"


"Sudah, Jangan pikirkan itu lagi. Mama tidak apa-apa" jawab Melinda sambil terus mengusap rambut Widi.

__ADS_1


Kedua matanya terasa sangat panas. Jika di tanya apakan Melinda kecewa? Jawabannya sudah tentu iya. Tau mau bagaimana lagi, Dia juga cukup sadar dengan apa yang sudah terjadi. Mungkin ini memang sudah jalan yang di tentukan.


****


"Sayang. Ayo sadarlah, Aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu sayang" ucap William sambil menggenggam tangan Emilia yang saat ini masih setia menutup kedua matanya di IGD rumah sakit.


Tak berselang lama. Emilia membuka pelan matanya. Mengerjab untuk beberapa saat. Menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.


"Aku dimana?" ucap Emilia dengan suara seraknya.


Mendengar suara itu membuat William langsung mengangkat wajahnya"Sayang, Akhirnya kamu sadar juga" ucapnya sambil mencium punggung tangan Emilia.


"Papa dimana Wil. Papa baik-baik saja kan?" tanya Emilia saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Kenapa kamu diam saja Wil. Papa baik-baik saja kan?" tanya Emilia lagi karna William tak menjawab.


"Papa W-wira baik sayang. Hanya saja"


"Hanya saja apa Wil?"


"Papa Wira kehilangan kedua ginjalnya karna kecelakaan itu"


"Apa!!" jawab Emilia yang terlihat sangat terkejut.


"Tapi kamu tenang saja sayang. Karna ada kak Widi yang mau mendonorkan ginjalnya. Dan satu hal yang harus kamu tau"


"Apa itu, Wil?"


"Ternyata, Kak Widi adalah anak kandung papa Wira"


"Apa!!"

__ADS_1


Lagi-lagi perkataan William mampu membuat Emilia terkejut. William memang tadi mendengarkan perkataan Widi pada Melinda.


"Iya, Sayang. Ternyata kak Widi adalah anak kandung dari papa Willi"


__ADS_2