Single Mamy

Single Mamy
Suara yang tidak asing


__ADS_3

"Sudah sudah. Tidak perlu berdebat seperti itu. Kalian ini seperti Tom and Jerry saja"Ucap Emilia sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa sih Wil kamu harus kek gitu sama Dika. Bair bagaimanapun Dika itu satu-satunya saudara sepupu yang aku miliki" Ucap Emilia lagi sambil menatap Dika.


"Ya habisnya sepupu kamu itu benar-benar menyebalkan sayang. Pengen aku cakar deh itu mulutnya"Jawab William sambil menatap Emilia


"Gara-gara dia. Aku gak jadi"


Perkataan William terpotong karna dengan cepat William menimpalinya"Gak jadi apa? Dasar suami mesum. Yang ada di otak kamu itu hanyalah begitu ya Wil" Ucap Emilia pelan


William terkekeh dengan apa yang Emilia katakan. "Ya mau gimana sayang, Bukan kah tujuan orang menikah memang begitu ya" Serunya sambil memainkan sebelah matanya


Mendengar perkataan William membuat Emilia menutup wajahnya"Kamu itu benar-benar mesum level tinggi ya Wil" Ucapnya


"Heheh, Mesum sama istri sendiri boleh dong sayang. Kan halal"


"Awas aja kalau sampai kamu mesum sama wanita lain. Aku potong burungmu, Biarin saja gak punya burung. Biar gak bisa keganjenan"


Mendengar perkataan Emilia membuat William menelan ludahnya kasar. Membayangkan saja William sudah merasa sangat ngeri"Duuuh sayang. Sadis sekali sampai mau potong burungku. Kalau sampai kamu potong burungku, Nanti kamu gak punya burung bagaimana? Memangnya mau?" Ucap William sambil menatap Emilia.


"Ya gampang lah Wil, Aku tinggal cari burung lagi" Gumam Emilia santai sambil menahan tawa yang sudah penuh di perutnya


Lagi-lagi perkataan Emilia membuat William membulatkan kedua matanya. Bagaimana bisa Emilia mengatakan hal itu. Bahkan sebelumnya William tidak pernah menyangka jika Emilia akan mengatakan hal itu.


"Mami ih. Nyebelin banget deh. Masa mami mau cari burung yang lain sih" Rengek William seperti anak kecil


Emilia yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tidak bisa menahan tawa itu lagi setelah melihat raut wajah William yang terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


"Hahahahhaah. Wajah kamu itu lucu sekali deh Wil. Badan aja gede, Kelakuan masih kayak bocil. Hahahah" Ucap Emilia sambil terus menatap raut waja William


Melihat Emilia tertawa seperti itu tentu saja semakin membuat William merasa sangat kesal."Ketawa aja terus. Seneng liat suaminya seperti anak kecil. Seneng, Hah"


"Banget. Hahahhah"


Emilia terus tertawa sampai satu rencana licik muncul dalam benak William."Ketawa saja terus. Akan aku pastikan kamu akan berhenti untuk menertawakan aku" Ucap William dan turun dari ranjang Emilia


Pria itu keluar dari bilik Emilia dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam. Beruntung di sana hanya ada Emilia. Karna memang ruangan rawat Emilia adalah VVIP.


Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya setelah mengunci pintu ruangan. William sudah tau jika di jam segini tidak akan ada pemeriksaan pada istrinya.


Sedangkan Emilia hanya bisa mengerutkan keningnya saat melihat William keluar dari bilik itu. Emilia tidak pernah berfikir apa yang akan William lakukan terhadapnya.


Tak berselang lama, William kembali dengan senyum mereka di kedua sudut bibirnya. Melihat suaminya seperti itu tentu saja membuat Emilia menumbuhkan rasa curiga.


"Ada apa kamu datang-datang kok senyum-senyum seperti itu?" Tanya Emilia sambil menatap curiga pada William


"Iiih mami mah begituan. Selalu saja punya pikiran curiga sama suami sendiri" Ucap William sambil mendekat pada Emilia


"Ya bagaimana aku tidak curiga, Tampang kamu itu seperti tidak meyakinkan dan membuat aku selalu curiga" Ujar Emilia sambil menatap William


"Mami, Tega amat ngomong gitu pada suami sendiri" Ucapnya sambil mendekat pada Emilia


"Ngapain kamu deket-deket. Sanaan, Aku gerah tau Wil"


Bukannya menjauh, William malah semakin mengikis jarak di antara mereka"Kalau kamu gerah, Biar aku bantu lepas bajunya ya sayang"Ucap William tepat di telinga Emilia.


Pria itu sedikit menggigit daun telinga Emilia dan menghisapnya sebentar. Merasakan itu membuat Emilia mendorong tubuh William. Namun yang ada bukannya menjauh, William malah semakin mendekat pada Emilia.


"Wil. Jangan mesum-mesum deh. Ini tuh rumah sakit. Astaga"


"Memangnya kenapa kalau ini rumah sakit sayang. Bahkan pintunya sudah aku kunci, Jadi aman tidak akan ada gangguan dari siapapun itu. Termasuk saudara sepupu kamu yang begitu menyebalkan" Ucap Wiliam sambil menyibak rambut Emilia yang menutupi wajahnya


William menatap wajah itu begitu dalam. Sedetik kemudian, Pandangan William turun dari mata ke bibir ranum merah ceri Emilia.


Menatap bibir yang merah ceri seperti itu membuat William sangat merasa gemas dan ingin sekali melahapnya. Karna sudah tak kuasa, William mendekatkan bibirnya dengan bibir merah ceri Emilia dan langsung menciumnya sangat lembut.


Tidak perduli bagaimana reaksi Emilia saat ini. Tapi yang pasti, William sudah merasa sangat gemas dengan dengan bibir istrinya yang begitu menggoda.


Mendapat ciuman selembut itu membuat Emilia memejamkan kedua matanya, Menikmati setiap kecupan lembut yang William lakukan. Lembut, Sangat lembut. Terlihat jelas dari caranya jika William benar-benar mencintai Emilia.

__ADS_1


Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan semakin intens. Sejenak William memberi Lu ma tan kecil dengan penuh kasih sayang. Hal itu tentu saja membuat Emilia terbuai akan ciuman mereka yang semakin panas.


Tanpa sadar, Emilia membalas ciuman itu. Me lu mat lembut bibir William dengan penuh cinta. Cukup lama mereka sama-sama menikmati ciuman itu. Namun dengan cepat William mengakhiri ciumannya setelah tubuhnya menginginkan hal yang lebih dari pada sekedar berciuman.


William melepaskan pangutan bibirnya saat mengingat keadaan Emilia saat ini. Biarpun William menginginkan hal yang lebih dari pada itu, Tapi dia masih sadar dengan kondisi Emilia yang baru saja selesai di operasi.


"I love you so much istriku sayang" Ucap William yang terdengar sangat tulus dan lembut


"I love you more suamiku" Jawab Emilia dan berhasil membuat William mengangkat kedua sudut bibirnya


"Terimakasih ya sayang" Ucap William sambil menggenggam tangan Emilia


Mendengar kata terimakasih yang William ucapkan membuat Emilia mengerutkan kecil keningnya"Terimakasih untuk apa?" Tanya Emilia sambil menatap William


"Terimakasih karna kamu sudah berkorban nyawa untuk aku. Terimakasih atas apa yang sudah kamu korbankan" Ucapnya sambil mengusap lembut rambut Emilia


"Tidak perlu berterimakasih Wil. Semua itu aku lakukan karna aku sudah mulai mencintaimu. Aku merasa tidak rela jika harus melihat kamu terluka karna David"


"Terimakasih sayang" Ujar William lagi dan langsung memeluk tubuh ramping Emilia.


Di Tempat Lain


Siren dan yang lain sudah tiba di sebuah penginapan tempat Emilia menginap. Narayana Homestay. Setelah kedua orang tuanya dan juga orang tua William masuk ke dalam kamar masing-masing. Siren kembali keluar dari penginapan itu.


Siren naik ke dalam taksi yang sudah dia pesan beberapa saat yang lalu. Entah kemana dia akan pergi, Tapi yang pasti saat ini dia sedang mengarah ke suatu tempat.


"Sesuai aplikasi ya pak" Ucap Siren pada supir itu


"Baik nona" Jawabnya dan langsung melajukan mobilnya


Siren memejamkan kedua matanya saat teringat teringat akan perkataan ayahnya beberapa saat yang lalu.


Datang ke alamat yang akan saya kirim, Atau kamu akan melihat mama mu terluka


Kata-kata itu masih bisa terekam jelas pada indra pendengaran Siren. "Kenapa aku harus memiliki ayah kandung sepertinya." Ucap Siren dalam batinnya


"Akhirnya kamu datang juga" Ucap Baron sambil menatap Siren


"Untuk apa ayah meminta Siren datang ke tempat ini?" Tanya Siren penasaran


Sejenak Siren menatap sekeliling tempat itu, Suatu tempat yang terlihat renang-remang dan juga ada suara musik di dalam. Menurut pemikiran Siren, Ini seperti tempat Psk atau biasa di sebut tempat kupu-kupu malam.


Baron tak menjawab perkataan Siren, Dia hanya meminta Siren untuk masuk ke dalam tempat itu. Awalnya Siren tidak mau, Namun karna kalah paksaan, Akhirnya Siren menuruti perkataan ayahnya dan masuk ke dalam.


Setelah tiba di dalam, Tiba-tiba saja Siren merasa pikirannya tidak enak dengan tempat ini. Hingga tak berselang lama, Keluar seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor serta riasan yang terlihat cukup tebal.


"Akhirnya kamu datang juga cantik" Ucap wanita paruh baya itu pada Siren


Mendengar itu membuat Siren mengerutkan keningnya. Apa maksud wanita ini. pikirnya


"Bagaimana mami. Apa yang saya katakan benar adanya bukan. Jika dia wanita yang sangat cantik" Ucap Baron sambil melirik ke arah Siren


"Sepertinya dia akan jadi primadona disini" Ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Mendengar kata primadona membuat perasaan Siren semakin tidak enak. "Aku mau pulang" Ucap Siren dan langsung membalikkan tubuhnya


Namun langkahnya terhenti saat dengan cepat Baron menarik tangannya"Mau kemana kamu. Kamu tidak akan bisa kemana-mana. Mulai hari ini, Kamu akan menjadi ladang uang untuk saya" Ucapnya sambil mencengkeram kuat tangan Siren


Deg!


Perkataan ayahnya membuat Siren langsung paham apa maksud dari kata-kata itu. "Jangan harap. Karna aku tidak mau ayah. Lepasin, Aku mau pulang" Ucap Siren sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan ayahnya


"Tapi saya tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini. Kamu harus bekerja dan menghasilkan banyak uang untuk saya"


"Dasar ayah tidak tau malu. Apa ayah tidak perna berpikir sebelum melakukan sesuatu. Aku ini anakmu ayah, Anak kandung mu! Darah dagingmu" Ucap Siren yang terdengar sangat lirih


"Tapi saya tidak perduli. Bagi saya yang terpenting adalah uang. Uang adalah segalanya"


"Cepat bawa dia ke dalam mi. Dan saya tunggu sisa transferannya. 300 juta ya" Ucap Baron dan langsung pergi dari sana

__ADS_1


"Iya bawel ah" Jawab wanita paruh baya itu


Betapa sakitnya hati Siren mendengar akan hal itu. Ayah kandungnya sendiri rela menjualnya dengan harga 300 juta.


Siren di tarik paksa masuk ke dalam club itu. "Lepaskan aku. Aku tidak mau ada di tempat terkutuk ini" Ucap Siren sambil berusaha melepaskan tangannya dari mami Barbie.


"Jangan harap Siren. Karna saya sudah membayar Mahal kamu sama ayah kamu yang tidak tau diri itu" Ucap mami barbie pada Siren


"Cepat bawa dia ke kamar utama. Sudah ada tuan D yang menunggunya" Ucap Mami barbie pada anak buahnya


"Baik mami" Ucap mereka sambil terus menarik tangan Siren kasar


Di tempat lain


Alex yang awalnya sidah bersiap untuk mengantar Widi ke bali tiba-tiba saja mendapat kabar jika dia harus mengurus kerja sama dengan perusahaan Ferdian. Karna memang William sudah mempercayakan urusan perusahaannya pada Alex.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Alex harus membatalkan janjinya terhadap Widi. Pria itu mau tidak mau harus mengurus pengiriman ke luar negri dengan menggunakan jasa kirim perusahaan Ferdian.


Sebenarnya barang itu seharusnya sudah dikirim sejak kemarin. Namun ternyata ada beberapa data yang masih tidak sesuai dan membuat perusahaan Ferdian harus mengkonfirmasi kembali dengan perusahaan William.


"Ada-ada saja" Ucap Alex dengan nada lesu


Alex yang awalnya sudah melajukan mobilnya menuju rumah Widi harus memutar haluan dan mengurungkan niatnya untuk menemani pujaan hatinya.


****


"Nyonya Kanaya" Panggil seorang pria


Mendengar namanya di panggil, Kanaya membalikkan tubuhnya.


"Bagaimana, Apa yang saya perintahkan sudah kamu lakukan?" Tanya Kanaya pada pria itu


"Gagal Nyonya. Planning A kita gagal. Nanti kita akan lanjut dengan planning B. Tapi tunggu waktu yang tepat dulu. Saat ini tuan Danu sedang menemani istrinya di rumah sakit" Terang pria itu


"Menemani istrinya di rumah sakit. Bukan kah mereka sedang berbulan madu?"


"Memang nyonya. Tapi ada sebuah insiden yang membuat Nona Emilia tertembak" Terangnya lagi


"Benarkah. Kenapa kamu baru mengatakan hal ini?"


"Maaf nyonya. Karna saya pikir hal ini tidak penting buat nyonya"


"Apapun yang berhubungan dengan Danu akan menjadi penting. Sudah kami bisa kembali. Jangan lupa lakukan Planning B. Dan jangan sampai gagal"


"Baik nyonya"


Setelah itu, Pria suruhan Kanaya langsung berlalu dari sana. Kanya tersenyum senang saat mendengar sebuah kabar yang tak pernah dia duga sebelumnya.


"Kita lihat saja nanti Danu. Aku akan membuat hidup kalian tidak bisa bahagia" Ujar Kanaya sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya


Entah apa yang saat ini sedang Kanaya rencanakan. Tapi yabg pasti, Rencana itu tidak baik untuk Emilia dan juga William. Karna hingga detik ini Kanaya masih terus mengira jika William adalah Danu suaminya yang menghilang sejak satu tahun yang lalu karna kecelakaan pesawat.


Di Tempat lain


"Lepaskan aku!" Ucap Siren namun tak di hiraukan oleh kedua pria itu


"Diam! Jangan berisik. Di sini kamu hanya perlu bekerja dan menghasilkan banyak uang untuk ayahmu yang banyak hutangnya itu"


"Tapi apa hubungannya dengan ku?"


"Tentu saja ada hubungannya. Karna kamu adalah anaknya"


"Aku tidak mau! Lepaskan aku" Ucap Siren yang masih kekeh


Namun lagi-lagi kedua pria itu tidak menggubris perkataan Siren. Mereka langsung membuka sebuah kamar dan mendorong tubuh Siren untuk masuk ke dalam. Setelah itu mereka mengunci pintu kamarnya dari luar.


Siren menutup wajahnya"Tolong jangan apakan aku" Ujar Siren lirih


Pria itu tak bersuara. Dia mengerutkan keningnya saat merasa tidak asing dengan suara yang baru saja dia dengan" Siapa wanita ini. Kenapa suaranya tidak asing. Aku seperti pernah mendengarnya. Tapi di mama?" Ucap Damar dalam batinnya

__ADS_1


__ADS_2