Single Mamy

Single Mamy
Jangan macem-macem


__ADS_3

"Mesum mesum"cibir Damar sambil terkekeh


William yang melihat Damar terkekeh seperti itu membuat William merasa sangat kesal. "Awas saja kamu Damar. Akan aku balas nanti. Puas-puasin saja kamu tertawa. Nanti akan aku buat kamu terpojok seperti ayam tercebur kolam" ucap William dalam batinnya sambil menatap tajam Damar.


"Ngapain kamu liatin aku kayak gitu, Suami mesum" ucap Damar lagi


"Dasar menyebalkan! awas saja kamu. Tunggu saja akan ada masanya kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini" ucap William lagi


Siren hanya mengulum bibir melihat tingkah kedua pria dewasa yang ada di hadapannya. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti anak kecil saja.


Sedangkan Emilia, Sudah mengangkat sebelah sudut bibirnya, William ini ternyata benar-benar. Masa menonton film seperti itu. Memalukan!


"Sabar sabar aja Mil kalau punya suami kayak William, Dia memang sudah berlanjut umur, Tapi kelakuannya seperti anak kecil. Memalukan" ucap Damar lagi


"Damar, ngeselin banget sih kamu! Tidak usah dengarkan apa kata Damar mami, Dia itu memang suka menyebalkan. Dasar tidak tau diri, Bahkan dirinya sendiri lebih parah dari pada aku" ucap William sambil melirik Damar.


Siren mengerutkan keningnya"Apa maksud kak William?" tanya Siren penasaran


"Iya Siren, Damar bahkan lebih parah dari pada aku. Aku saja hanya menonton, Sedangkan Damar"


Perkataan William terhenti saat Damar menyadari apa yang akan William katakan pada Siren. Mendadak wajahnya menjadi sangat merah. Bahkan seperti tomat busuk.


"Jangan coba-coba mengatakan pada Siren" bisik Damar tepat di telinga William. Dan hanya pria itu yang bisa mendengarnya.


"Memangnya kenapa? Bukan kah kamu sudah merusak citra baik ku di depan istriku. Jadi, Ini juga sudah saat nya kamu merasakan apa yang baru saja aku rasakan"


"Jangan Wil. Masa kamu tega menghancurkan nama baikku di depan Siren"bisik Damar lagi


"Kenapa enggak. Kamu aja jug sudah tega menghancurkan citra baikku di depan Emilia"


Siren dan Emilia yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka berdua memang terlihat sangat aneh. Seperti ada seribu rahasia yang mereka tutupi.


"Gak jelas ya kak" ucap Siren sambil melirik pada Emilia


"Mereka berdua memang gak pernah jelas"

__ADS_1


Di Tempat Lain.


Ternyata Widi masih saja berduaan mojok dengan Ferdian. Entah apa yang saat ini mereka bicarakan. Tapi yang pasti, Mereka berdua sedang duduk di atas rumput taman di rumah Emilia. Namun mereka berdua tidak ikut berkumpul bersama Emilia dan juga William.


Ferdian sengaja mengajak Widi duduk di atas rumput taman itu, Sesekali mereka berdua memperhatikan bulan dan juga bintang yang terlihat sangat indah malam ini.


"Kak, Aku sangat merindukan bunda" ucap Ferdian yang terdengar sangat lirih


Widi menoleh sekilas pada Ferdian. "Sudah, Ikhlaskan bunda Fer. Lebih baik kamu berdoa buat nya, Aku tau bagaimana perasaan kamu saat ini, Karna aku juga merasakan hal itu. Merindukan seseorang yang sudah tiada memang rasanya sangat sakit" ucap Widi dan kembali menatap Bintang.


"Iya kak, Rasanya sakit banget. Apalagi saat teringat akan peristiwa hari itu kak. Rasanya aku ingin segera membalaskan apa yang sudah mereka lakukan sama bunda"


"Apa kamu sudah menemukan siapa pelakunya?"


Ferdian menggeleng"Tidak kak, Sampai detik ini aku tidak tau siapa yang sudah melakukan hal itu pada bunda. Tapi, Aku akan terus berusaha mencari siapa orang itu, Dia harus tetep merasakan apa yang sudah bunda rasakan hari itu"


"Sudah Fer. Jangan terlalu menaruh dendam, Apalagi kamu tidak tau siapa pelakunya. Hal itu hanya akan membuat hati kamu tidak tenang Fer"


"Justru aku merasa tidak tenang sebelum membalaskan apa yang sudah mereka lakukan, Kak. Karna ulah mereka bunda harus merasakan sakit." ucap Ferdian sambil menundukkan wajahnya.


Ferdian kembali merasakan detak jantungnya yang sangat cepat, Bahkan lebih cepat dari pada detak normal pada umumnya. "Aduuuuhh. Kenapa jantungku harus berdetak cepat seperti ini" ucap Ferdian dalam batinnya.


****


"Hei, Siapa kalian. Kenapa kalian malah mengikat saya seperti ini?" ucap seorang pria paruh baya


"Tidak usah banyak tanya, Anda yang bernama Baron bukan?"


"Kalau iya memangnya kenapa, Siapa kalian? Saya bahkan tidak mengenal kalian sama sekali"


"Anda memang tidak akan pernah mengenal saya, Tapi anda akan tau dengan siapa yabg sudah menyuruh kami"


Salah satu dari mereka mengambil ponselnya dan menghubungi Ferdian. Karna memang Ferdian sudah mengatakan jika mereka secepatnya harus mengabarkan Ferdian kalau sudah bertemu dengan pria yang bernama Baron. Pria yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.


πŸ“ž:Halo. Ada apa?

__ADS_1


πŸ“ž:Halo tuan, Saya sudah menemukan orang yang bernama Baron. Sekarang apa yang harus saya lakukan?


πŸ“ž:Bawa orang itu ke bogor. Saya akan menunggu kalian di tempat biasa


πŸ“ž:Baik tuan, Siap laksanakan


Setelah itu, Sambungan telponnya langsung di putus oleh Ferdian. Pria itu kembali ke tempat Widi dan langsung pamit untuk pulang dari sana, Karna malam ini, Ferdian akan menunggu kedatangan ayah kandungnya yang tak punya hati.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 00:00. Emilia dan William sudah kembali ke dalam kamar mereka. Seperti malam sebelumnya, Tidak ada Nathan di tengah-tengah mereka. Karna Nathan sedang tidur bersama dengan Melinda dan juga Wira.


"Mami, Liat sini dong. Masa papi di belakangi kayak gini. Mami gak romantis deh" ucap William sambil mengusap pundak Emilia.


Emilia diam tak bersuara. Wanita itu akan pura-pura tidur supaya malam ini William tidak mempraktekkan gaya yang sudah dia pelajari sejak dulu.


"Mami, Ayo dong mami liat papi"


"Dasar pria mesum! pantas saja malam itu dia terlihat sangat pandai melakukannya. Ternyata sudah belajar dari film biru. Bener-bener memang" ucap Emilia dalam batinnya sambil terus pura-pura tidur.


"Ayo dong mami, Mami gak sayang ya sama papi" ucap William lagi


"Mami, Ayo kita buatkan Nathan adek"


"Bicara aja terus sampek keluar busa. Aku tidak akan jawab. Aku akan tetap berpura-pura tidur seperti ini" batin Emilia lagi


Hingga tanpa sengaja William melihat Emilia mengulum bibir dari pantulan kaca di depan Emilia. Hal itu membuat William menumbuhkan akal bulusnya lagi.


"Ooohh pura-pura tidur. awas saja ya Em, Aku akan memberikan kamu pelajaran karna sudah mengerjaiku Dengan pura-pura tidur" ucap William dalam batinnya sambil memikirkan cara yang sangat pas untuk mengerjai Emilia.


"Sepertinya mami sudah benar-benar tidur. Baiklah, Ini adalah waktu hang tepat untuk memperaktekkan apa yang dulu sudah aku pelajari. Bukan kah kalau mami tidur seperti ini akan lebih mudah melakukannya" ucap William tepat di telinga Emilia sambil menggigit daun telinganya.


Dalam hati, Ingin rasanya William tertawa saat melihat raut wajah Emilia memerah" Aku mulai dari gaya apa ya" ucap William lagi


Emilia membuka kedua matanya"Apa yang mau kamu lakukan Wil. Mempraktekkan gaya apa? Jangan macem-macem kamu tuh ya" seru Emilia sambil memukul William dengan guling di tangannya.


"Gak macem-macem kok sayang, Paling cuma beberapa macem gaya saja"

__ADS_1


"William. Kamu itu benar-benar menyebalkan ya!"


__ADS_2