Single Mamy

Single Mamy
Villa


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat. Hari ini Emilia akan datang ke Villa sesuai dengan kesepakatan dengan Liana malam tadi. Supir suruhan Liana akan menjemputnya pukul 09:00. Kali ini Emilia pergi di temani oleh Widi ke Villa. Karna Widi tidak mengijinkan Emilia datang seorang diri dengan perut yang sudah besar seperti itu.


Biarpun sudah bangun sejak tadi. Namun, Emilia masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Entah kenapa Emilia merasa perutnya sedikit mules.


"Kenapa perutku mules gini ya" Ucap sambil memegang perut bawahnya.


"Tapi aku harus ke Villanya bu Liana. Gak mungkin kalau aku batalin gitu aja" Ucap Emilia lagi


Tak lama kemudian. Widi datang dan mengetuk pintu kamar Emilia. Wanita itu mengira jika Emilia belum bangun dari tidurnya.


Tok....tok...tok...


"Em. Kamu sudah bangun belok?"


"Iya kak, Aku sudah bangun kok"


"Aku boleh masuk gak Em?"


"Masuk saja kak. Pintunya gak di kunci kok"


Mendengar jawaban Emilia membuat Widi langsung masuk ke dalam kamar Emilia. Memang selama tinggal bersama dengan Widi, Emilia memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya.


Setelah Widi masuk ke dalam kamarnya. wanita itu memicingkan matanya saat melihat ekspresi wajah Emilia yang seperti menahan rasa sakit.


"Kamu kenapa Em?. Kok wajah kamu terlihat pucat begitu"


"Gak tau kak. Tiba-tiba saja perut aku mules dari tadi"Terang Emilia


"Aku antar ke dokter ya Em. Takut kandungan kamu kenapa-napa"


"Tidak usah kak. Hari ini aku harus ke Villa bu Liana. Karna tadi malam aku sudah janji akan datang hari ini. Dan bu Liana akan mengirimkan supir untuk menjemput aku kak"


"Tapi Em. Kondisi kamu aja kayak gini. Bagaimana kalau kamu batalin dulu?"


"Aku gak enak kak. Biar bagaimanapun bu Liana sudah sangat baik memberikan DP sebanyak itu"


Liana memang sudah memberikan DP pada Emilia beberapa hari yang lalu sebesar 10 juta. Oleh karena itu Emilia tidak enak pada Liana untuk membatalkan janji temu mereka.


Di saat Widi masih terus membujuk Emilia untuk tidak pergi ke Villa. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan tempat tinggal Emilia.


"Tuh kan kak, Mobilnya buat menjemput aku kayaknya sudah sampai"


"Ya sudah, Kalau memang kamu tetap mau ke sana. Kakak akan ikut buat menemani kamu ya Em. Kakak takut terjadi apa-apa sama kamu" Ucap Widi begitu tulus


"Memangnya Emil tidak merepotkan kak Widi?"


"Nggak lah Em. Kamu gak pernah merepotkan kakak. Buat kakak kamu sudah seperti adik sendiri"


Mendengar ucapan Widi membuat Emilia begitu terharu. Widi bukan siapa-siapa namun begitu tulus memperlakukan Emilia seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


"Terimakasih kak" Ucap Emilia sambil memeluk Widi


"Tidak perlu berterimakasih Em. Kamu memang sudah seperti adik kakak sendiri"


30 Menit kemudian. Emilia dan Widi sudah selesai bersiap. Mereka keluar dengan membawa baju pesanan milik bu Liana. Selama 1 minggu, Emilia benar-benar menyelesaikan pesanan wanita itu.


Namun, Di saat Emilia dan Widi sudah ada di luar rumah. Tiba-tiba ada beberapa tetangga yang sedang belanja di tukang sayur keliling sedang membicarakan Emilia.


"Eh liat deh itu adiknya si Widi. Dia hamil tapi suaminya kemana ya. Dari awal pindah kesini sampai sekarang saya belum pernah melihat ada laki-laki di rumah mereka" Ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Emilia dan Widi


"Iya ya bu. Mana adiknya Widi terlihat masih sangat muda ya. Apa dia hamil tanpa suami ya. biasa lah bu anak jaman sekarang suka kebablasan kalau pacaran" Sahut salah satunya


"Bu. tidak boleh ngomongin orang. Tidak baik, Nanti jatuhnya fitnah lo bu. Ibu-ibu tau kan kalau fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan" Ucap Salah satu ibu-ibu yang menggunakan hijab


"Eh bu Siska. Siapa juga yang mau fitnah, Sudah kenyataan kali bu. Emangnya bu siska pernah melihat ada laki-laki yang datang ke rumah mereka. Kalau pun ada palingan tukang ojek"


"Ibu-ibu ini mau belanja apa ngomongin orang"Ucap si abang penjual sayur


Mendengar ucapan dari ibu-ibu itu Emilia menunduk kan wajahnya. Rasanya dia tidak punya muka untuk lewat di depan muka meraka.


"Sudah Em. Tidak perlu di dengarkan. Orang-orang disini memang begitu. Tidak perlu di ambil hati lagi ya Em" Widi mengelus pundak Emilia yang sudah terlihat sedih


Emilia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan langkahnya untuk melewati para ibu-ibu julid.


"Kak Widi benar. Ucapan mereka tidak perlu aku dengarkan. Bukankah aku sudah biasa dengan ucapan itu" Ucap Emilia sambil tersenyum


"Iya kak"


Emilia dan Widi berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu mereka sejak 30 menit yang lalu. Karna di depan rumah Widi jalannya cukup sempit dan tidak bisa buat parkir. Akhirnya supir itu memutuskan untuk menunggu Emilia dan Widi di sebrang jalan.


"Sudah siap kan mbk?" Tanya supir itu


"Sudah pak. Jalan saja ya"


Di tempat lain


William yang sudah bersiap dengan menggunakan baju santai. tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari orang suruhannya yang ada di jakarta. melihat siapa yang menelfon membuat William dengan cepat mengusap tombol hijau di layar ponselnya


πŸ“ž: Halo. Bagaimana perkembangan kalian tentang pencarian Emilia?


πŸ“ž: Mohon maaf tuan. Saya sempat mendapat kabar nika nona Emilia sempat tinggal di kampung sejahtera. Namun. saat saya ke sana ternyata nona Emilia sudah pindah sejak beberapa hari yang lalu


πŸ“ž: Bodoh. Disuruh cari wanita saja gak ketemu-ketemu


Setelah itu William langsung mematikan sambungan telponnya. Pria itu merasa begitu marah saat mendengar jika belum juga menemukan keberadaan Emilia.


"Kemana lagi aku harus mencari kamu Emil" Ucapnya sendu


William mengambil nafas berat lalu keluar dari dalam Apartemennya. Pria itu sudah berjanji pada sang mama jika hari ini akan datang ke Villa untuk menemui kedua orang tuanya.

__ADS_1


Kali ini William menggunakan mobil. Karna hari ini William tidak menjadi Daniel. Melainkan William bagaskara. Seorang CEO di Bagaskara Group.


Di saat seperti ini. Entah kenapa suara lembut Emilia kembali terngiang pada indra pendengarannya. "Semoga kita masih bisa di pertemukan lagi Emil. Aku ingin kamu menjadi ratu ku. Nyonya William" Ucap William pelan


1 Jam kemudian. Mobil yang menjemput Emilia sudah tiba di sebuah Villa dengan Desain sederhana namun terlihat begitu elegan. Semua yang ada di sana masih terlihat Asri. Villanya terlihat begitu terawat.


Emilia dan Widi turun dari dalam mobil. dan ternyata di sana sudah ada Liana yang menunggu kedatangan Emila


"Assalamualaikum bu" Ucap Emilia sangat sopan


"Waalaikum salam, Berlian ya? Ayo silahkan masuk nak"


"Iya bu. Saya Berlian dan ini kakak saya namanya Widi"


"Ayo nak silahkan masuk"


"Iya bu. Terimakasih"


Emilia dan Widi sudah duduk di ruang tamu yang ada di Villa. Villa ini terlihat begitu sepi. karna memang Bagaskara, Melinda dan Wirayudo sedang berkeliling mencari udara segar


"Bu, ini semua baju yang ibu pesan dari saya. Bisa di lihat dulu ya bu. Jika ada yang kurang nanti saya perbaiki"


Emilia memberikan lima baju yang sudah dia rancang khusus untuk Liana. Liana begitu langsung di buat jatuh hati dengan semua baju yang di berikan oleh Emilia.


"Ya ampun nak. Ini baju-bajunya bagus sekali. Saya sangat menyukainya. pokoknya mulai sekarang kamu akan saya jadikan Desainer langganan saya. Nanti saya juga akan merekomendasikan kamu pada teman-teman arisan" Ucap Liana sambil terus memperhatikan baju-baju di tangannya.


Di saat Liana masih sibuk melihat baju-baju itu. Tiba-tiba Emilia kembali memegang perutnya dan wajahnya terlihat semakin memucat


"Aaaaaaa" Ucap Emilia sambil terus memegang perutnya


"Emil. Kamu kenapa Em?"Tanya Widi panik dan langsung menghampiri Emilia


"Sakit kak. Perut Emilia sakit. Aaaaa"


"Maaf bu, saya harus bawa adik saya ke rumah sakit. Permisi" Ucap Widi dan memapah tubuh Emilia


"Ya allah nak Berlian. Iya ayo cepat di bawa ke rumah sakit. Saya ikut ya"


"Tidak usah bu. Terimakasih atas semuanya ya. Permisi"


Widi keluar dan membawa tubuh Emilia yang semakin menahan rasa sakit. Keringat dingin bercucuran keluar dari wajah Emilia. Melihat itu membuat Widi menggunakan Syal miliknya untuk mengusap keringat itu.


Tak lama kemudian William datang dan baru masuk ke dalam Villa. Namun, langkahnya terhenti saat suara sang mama meminta William untuk membantu Widi membawa Emilia ke rumah sakit.


"Wil. tolong kamu antar kan mereka ke rumah sakit terdekat. Sepertinya Berlian mau melahirkan" Ucap Liana dengan suara keras


"Iya ma" Ucap William.


William menggendong tubuh Emilia yang terlihat semakin lemas. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher William.

__ADS_1


__ADS_2