Single Mamy

Single Mamy
Masa lalu


__ADS_3

Setelah turun dari mobil Alex, Widi masuk ke dalam butiknya. Saat melihat ruangan Emilia, Tiba-tiba saja dia teringat akan foto William yang bersama dengan wanita lain.


"Awas saja kalau sampai William mempermainkan Emilia, Dia akan berurusan dengan ku" Ucap Widi pelan sambil menatap foto Emilia bersama dengan Nathan di sana


Setelah itu Widi duduk di kursi Emilia, Wanita itu mengambil ponselnya dan melihat sebuah gambar yang di ambil saat acara resepsi pernikahan Emilia.


Widi menatap fotonya yang bersebelahan dengan Wira"Papa, Seandainya saja kamu tau kalau aku ini adalah anakmu, Darah dagingmu. Apakah papa akan mengakui ku, Atau malah sebaliknya" Ucap Widi sambil terus menatap foto itu


"Pa. Aku tidak apa-apa biarpun saat ini papa belum tau siapa aku, Setidaknya aku sudah mengetahui siapa ayah kandung yang selama ini ingin aku ketahui" Ucap Widi lagi


Tanpa terasa air mata Widi berhasil lolos begitu saja. Dia masih teringat jelas bagaimana rasanya melalui masa kecil tanpa adanya sosok ayah di dalam hidupnya. Banyak yang mengatakan jika cinta pertama seorang wanita adalah ayahnya.


Namun sejak kecil Widi tidak bisa merasakan cinta itu karna memang dia terlahir tanpa adanya sosok ayah seperti anak anak pada umumnya.


"Ibu, Widi sudah menemukan papa. Seandainya ibu masih ada, Mungkin saat ini Widi tidak akan merasakan semua ini sendiri. Widi sangat merindukan ibu" Ucap Widi saat merasa sesak di dadanya


Di Tempat Lain


Ferdian mengambil sebuah foto dari dalam laci lemari yang ada di ruang kerjanya. Satu tangannya mengepal kuat saat melihat foto itu. Terlihat ada rasa kebencian yang sangat besar dari diri Ferdian.


Pria itu terus menatap sebuah foto pria paruh baya yang saat ini ada di tangannya"Aku sangat membenciku ayah, Kenapa harus anda yabg menjadi ayahku. Pria yang sama sekali tidak punya hati dan perasaan" Ucap Ferdian penuh kebencian sambil menatap foto yang ada di tangannya.


"Baron kusuma! Aku sangat membencimu" Seru Ferdian lagi


Di saat seperti ingatan Baron kembali pada kejadian masa lalunya. Masa di mana dia sering melihat kekerasan yang sering ayahnya lakukan pada mendiang ibunya.


"*Dasar wanita tidak berguna. Aku sangat membencimu Ratih!" Ucap Baron penuh penekanan pada wanita yang dia panggil Ratih


"Kenapa kamu begitu membenciku mas. Kenapa? Apa sebenarnya salahku?" Tanya Ratih yang terdengar sangat lirih

__ADS_1


"Kamu tidak memiliki kesalahan apapun. Tapi aku saja yang yang terlanjur tidak menyukaimu sejak jaman sekolah, Seperti mimpi buruk kamu sekarang menjadi istriku hanya karna perjodohan konyol antara kedua orang tua kita" Ucap Baron lagi


"Ajari aku bagaimana caranya agar kamu tidak membenciku mas. Aku akan berusaha untuk itu"


"Tidak ada. Sama sekali tidak ada cara untuk membuatku jatuh cinta kepadamu Ratih. Seumur hidup, Aku akan selalu membencimu" Ucap Baron yang terdengar begitu menyakitkan.


Tanpa mereka sadari. Ternyata sejak tadi ada seorang anak kecil kecil yang usianya sekitar 4 tahun mendengar pertengkaran itu. Ferdian menatap sang bunda dengan jantung yang berdenyut nyeri. Ingin rasanya Ferdian marah saat mendengar kata-kata kasar yang di ucapkan oleh ayahnya sendiri. Tapi apa boleh buat, Ferdian masih terlalu kecil untuk mencampuri urusan orang dewasa.


"Mau kemana kamu mas?" Tanya Ratih saat melihat Baron keluar dengan membawa tas ransel.


"Itu bukan urusan mu. minggir! Aku sudah tidak sudi lagi bersama dengan wanita tidak berguna sepertimu. Selama 5 tahun aku sudah berusaha menerima pernikahan ini, Tapi ternyata hingga detik ini hanya bisa melukai perasaaan ku" Ucap Baron dan langsung meninggalkan istri dan juga anaknya di sana


Pernikahan Baron dan Ratih memang terjadi hanya karna perjodohan di antara kedua keluarga mereka. Ratih yang sejak dulu menyukai Baron tentu saja langsung merasa sangat bahagia saat mendengar dia akan di jodohkan dengan laki-laki pujaan hatinya.


Tapi ternyata impian rumah tangga yang Ratih jalani tidak sesuai dengan harapannya juga harapan kedua orang tua mereka. Karna Baron tidak pernah menganggap keberadaan Ratih di dalam hidupnya.


"Mas, Aku mohon jangan pergi mas, Aku rela walaupun kamu hanya menganggap ku sebagai bayangan. Asal jangan tinggalkan aku dan Ferdian mas. Kasian dia masih kecil, Dia masih sangat membutuhkan sosok ayah mas" Teriak Ratih di sela isak tangisnya


Kata kata itu berhasil membuat Baron menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh pada Ratih yang sudah mengangkat kedua sudut bibirnya. Ratih pikir Baron membalikkan tubuhnya karna berubah pikiran, Tapi ternyata dia salah. Justru Boron mengatakan hal yang langsung mematahkan hatinya.


"Aku tau kamu akan berubah pikiran mas"Ujar Ratih sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Jangan terlalu kepedean kamu Ratih. Aku balik lagi bukan karna ingin bertahan dengan mu, Tapi aku hanya ingin mengatakan jika mulai saat ini aku talak kamu" Ucap Baron sambil membuka cincin pernikahannya


"Tidak, Ini hanyalah mimpi buruk, iya ini hanyalah mimpi buruk. Ayo bangun Ratih, Jangan biarkan mimpi buruk ini terus mengganggu tidurmu" Ucap Ratih dalam batinnya dengan kedua mata yang sudah basah


Tapi ini bukan mimpi buruk. Ini adalah kenyataan pahit yang harus Ratih terima. Kenyataan pahit yang amat melukai batinnya


"Tidak mas, Aku tidak mau" Ucap Ratih sambil bersimpuh di kaki Baron

__ADS_1


"Lepas. Mulai hari ini, Kita hanyalah masa lalu" Ucap Baron dan langsung pergi dari sana tanpa mau menghiraukan isak tangis Ratih yang sudah pecah


Setelah kepergian ayahnya. Ferdian keluar dan menghampiri sang bunda yang masih terduduk di lantai. "Sudah bunda. Tidak sudah menangisi ayah. Ayah tidak pantas menjadi bagian dalam hidup kita" Ucap Ferdian yang terdengar sangat dewasa


Ferdian sudah di paksa dewasa oleh keadaan. Dewasa sebelum waktunya sudah membuat Ferdian hidup dengan penuh tekanan.


"Maaf tuan. Ada apa tuan memanggil saya kesini?"


Suara itu langsung berhasil membuat Ferdian tersadar dari bayangan masa kecilnya. "Kamu cari orang ini" Ucapnya dingin sambil memberikan foto Baron pada anak buahnya


"Siapa dia tuan?" Tanya orang itu penasaran.


"Tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja apa yang saya perintahkan" Jawab Ferdian dan langsung meminta anak buahnya keluar dari dalam ruangannya


"Aku akan membalaskan rasa sakit hati bunda karna ulahmu Baron" Ucap Baron dengan penuh penekanan




Tanpa terasa hari sudah berlalu. Malam datang. Kali ini Emilia, William dan juga Nathan sudah siap untuk makan malam di sebuah restoran dekat pantai.


"Ayo mami, Papi kita berangkat. Nathan sudah tidak sabar mau makan di restoran dekat sana


"Iya sayang, Ayo kita berangkat" Ucap William dan Emilia secara bersamaan


Mereka keluar dari dalam penginapan, Tanpa mereka sadari ternyata sudah ada beberapa orang yang memperhatikan dari dalam mobil.


"Sekarang waktunya" Ucap David sambil melirik pada anak buahnya

__ADS_1


__ADS_2