Single Mamy

Single Mamy
Emilia melahirkan


__ADS_3

William mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Apalagi saat mendengar suara kesakitan dari wanita yang ada di kursi pengemudi membuat William semakin mempercepat laju mobilnya.


"Sakit kak Widi"Ujar Emilia yang terdengar begitu sendu


"Suara itu. Kenapa seperti familiar sekali" Ucap William dalam batinnya


"Sabar ya Em. Sebentar lagi kita sampai"Ucap Widi sambil terus menggenggam tangan Emilia


"Sakit kak"


"Iya kakak tau. Kamu tarik nafas lalu buang. Ayo kamu pasti kuat Em"


Di saat Emilia mencoba mengambil nafas sesuai arahan yang di berikan oleh Widi. Entah kenapa membuat William seperti ikut melakukannya. William seperti merasakan bagaimana perjuangan seorang wanita saat mau melahirkan.


Usia kandungan Emilia memang masih masuk di minggu yang ke 30. Seharusnya masa persalinan Emilia masih 8 minggu lagi. Namun, Entah kenapa kali ini wanita itu merasa seperti ada dorongan dari dalam perutnya. Apa Emilia akan segera melahirkan?


Wajah Emilia semakin di penuhi oleh keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya. Melihat itu membuat Widi mengusapkan syalnya ke wajah Emilia kembali hingga menutupi sebagian dari wajahnya.


1 Jam kemudian. Mobil William sudah tiba di depan sebuah klinik yang ada di desa itu. Karna untuk membawa Emilia ke rumah sakit terlalu kejauhan. Oleh karena itu William sendiri yang berinisiatif menghentikan mobilnya di sebuah klinik yang batu saja dia lihat.


"Itu ada klinik. Untuk membawanya ke rumah sakit kota terlalu kejauhan. Kasian dia" Ucap William pada Wid


"Kamu benar. Kita tidak ada waktu lagi. Cepat bantu saya membawa dia ke dalam klinik" Ucap Widi pada William


Mendengar itu membuat William langsung turun dari tempat pengemudi. Pria itu mengendong tubuh Emilia yang terlihat sudah semakin melemas karna banyak cairan yang keluar saat masih dalam perjalanan. Air ketuban Emilia juga sudah pecah tepat saat William mengangkat tubuhnya.


"Aduh air apa ini. Kamu pipis ya" Ucap William saat ada air yang membasahi baju juga tangan kananya pada Emilia yang ada dalam gendongannya.


"Mas. tolong lebih cepat lagi ya. Itu bukan pipis tapi air ketuban saya sudah pecah" Ucap Emilia sambil mengeratkan pegangannya pada leher William.


Mendengar itu membuat William berjalan dengan langkah lebar"Saya pikir itu pipis tadi" Ucapnya


"Jangan banyak ngomong mas. Cepetan. Saya sudah gak kuat"


"Iya iya"

__ADS_1


William tidak mengetahui jika wanita yang ada dalam gendongannya adalah Emilia. Karna saat ini wajah Emilia tertutup oleh syal milik Widi.


Di saat William sudah hampir tiba di depan IGD. Tiba-tiba Emilia menarik rambutnya dan membuatnya kesakitan. Karna beberapa rambut ikut di tangan Emilia.


"Aduh sakit sekali perutku" Ucap Emilia saat sudah mulai kontraksi lagi. Bahkan rasa sakit kontraksinya lebih dari pada tadi saat ada di jalan.


"Eh eh. Kenapa kamu malah menarik rambut saya. Sakit tau"Gerutu William


"Itu gak seberapa sakit dengan apa yang saya rasakan mas. Dari tadi mas ini banyak omong ya. gak tau apa kalau perut saya kesakitan" omel Emilia sambil terus menarik rambut William


"Iya saya tau. Tapi tidak seperti itu juga. Ini namanya kamu malah menyiksa saya"


"Aduh kenapa kalian malah berantem. Tolong lebih cepat mas. kasian dia" Timpal Widi yang sejak tadi menyaksikan perdebatan antara Emilia dengan William.


Tak lama kemudian. Mereka sudah tiba di ruangan IGD. William langsung meletakkan tubuh Emilia di atas ranjang klinik tempat bersalin dan di sana sudah ada bidan yang akan membantu Emilia untuk persalinan.


"Silahkan tunggu di luar dulu ya. Bapak bisa menemani istrinya" Ucap bidan itu pada William


Mendengar ucapan sang bidan membuat William membulatkan kedua matanya. "Tidak bu bidan. Dia bukan suami saya. Amit-amit punya suami yang menyebalkan seperti itu" Teriak Emilia dari dalam bilik persalinan


"Huuuuu dasar wanita bawel. Bisa-bisanya ada laki-laki yang mau punya istri seperti dia"Ucap William setelah tiba di luar


"Terimakasih sudah mau membawanya kesini" Ucap Widi pelan


"Lain kali saya gak mau lagi ya mbk. Bisa-bisanya dia bilang saya pria menyebalkan. Kok ada ya laki-laki yang mau menikah dengan wanita seperti itu" Gerutu William sambil mencuci tangannya


"Kamu mungkin menganggap dia wanita bawel dan menyebalkan. Tapi asal kamu tau, dia adalah wanita terhebat yang pernah saya kenal" Ucap Widi pada William


"Hebat? Hebat dari mananya mbk. Eh ngomong-ngomong mbk sudah mengabari suaminya?"


Mendengar itu membuat Widi terdiam. Masih terlalu bingung dengan apa yang harus dia katakan pada William


"Kok diam mbk?"


"Suaminya.... Suaminya sudah meninggal. Iya suaminya sudah meninggal"Ucap Widi yang sengaja berbohong. Mau mengatakan yang sebenarnya juga dia tidak punya hak untuk itu

__ADS_1


"Innalilahi. Kasian juga ya nasibnya. Masih muda sudah jadi janda" Pekik William yang langsung merasa iba pada wanita yang dia sebut bawel


"Ya begitulah. Sebenarnya di bukan adik kandung saya.tapi karna dia tinggal sendiri dan saya juga sendiri, oleh karena itu aku mengangkatnya sebagai adikku"


"Begitu ya mbk"


"Iya. Membaca cerita yang dia tulis, Entah kenapa membuat saya juga merasakan sakit"


"Cerita? Cerita apa?"


"Selain Desainer. Dia juga seorang penulis di aplikasi berbayar. Judul novelnya adalah ' Story of Naura ' dengan nama pena Pelangi Senja"


Tak lama kemudian, Terdengar suara tangisan bayi dari ruangan IGD. Itu artinya jika Emilia sudah melahirkan anaknya dengan selamat.


"Bayinya sudah lahir" Ucap William dan langsung bangkit dari duduknya


Pintu ruangan IGD terbuka dan seorang bidan keluar dan meminta William untuk Adzan di telinga bayi laki-laki yang baru saja lahir ke dunia. Karna memang hanya William satu-satunya laki-laki di sana


"Maaf mas. apa saya boleh meminta tolong untuk adzan di telinga bayinya?"


Mendengar hal itu membuat William melirik ke arah Widi"Iya, tolong kamu adzani ya" Timpal Widi


"Baiklah"


William masuk dan mengekor di belakang bidan itu. setelah tiba di dalam ruangan IGD. Bidan itu langsung memberikan bayi mungil itu pada William.


"Ini pak, Nanti kalau sudah bisa di taruh di box bayi itu ya. Saya permisi dulu, oh iya. Ibunya tolong jangan di ganggu dulu ya. Biarkan dia istirahat" Ucap bidan itu dan langsung keluar dari ruangan IGD


"Baik bu"


William memandang bayi mungil yang ada dalam dekapannya. Bayi itu tersenyum ke arah William yang baru saja selesai adzan di telinga kanannya.


"Kamu tampan sekali nak" Ucap William dan mencium kening bayi Emilia


Memandang wajah bayi itu, Entah kenapa membuatnya teringat pada Emilia, "Apa dia juga sudah melahirkan?" Ucapnya sendu

__ADS_1


__ADS_2