Single Mamy

Single Mamy
Suami mesum


__ADS_3

"Aku mohon Kanaya, Bantu Kumala. Berikan darah untuknya, Hanya kamu satu-satunya harapan yang aku miliki. Aku mohon" ucap Danu dengan nada yang terdengar sangat lirih


Kanaya hanya terdiam mematung. Jujur, Cukup sakit saat pria yang masih begitu iya cinta memintanya untuk memberikan darah pada wanita lain yabg sudah menjadi perebut kebahagiaannya.


"Naya. Aku benar-benar mohon. Tolong aku untuk kali ini saja Nay" ucap Danu lagi yang masih terus berusaha memohon agar Kanaya mau memberikan sedikit darahnya pada Kumala yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Naya"


Sejenak Kamaya mengambil nafas panjang. Ternyata wanita itu masih memiliki hati nurani. Dia cukup tau bagaimana rasa berjuang untuk melahirkan seorang malaikat kecil.


"Baiklah, Aku akan membantu kamu, Mas. Tapi dengan satu syarat"


"Syarat apa yang mau kamu ajukan Kanaya. Akan aku lakukan selama kamu masih mau memberikan sedikit darah untuk Kumala"


"Aku akan memberikan darah itu, Tapi kamu harus kembali bersamaku, Kamu tarik kata talak yang sudah kamu ucapkan tadi siang"


"Kenapa harus seperti itu Naya?"


"Ya sudah, Kalau memang kamu tidak mau, Kamu boleh pergi sekarang dari rumahku mas" ucap Kanaya dan bersiap untuk menutup pintu rumahnya kembali.


"Baiklah. Aku akan lakukan syarat yang kamu ajukan. Tapi aku mohon, Sekarang kita harus kesana"


Kanaya mengerutkan keningnya"Kita? Aku aja yang kesana. Kamu di sini sama.Salsa. San satu lagi, Mulai malam ini, Kamu sudah tidak boleh lagi menemui wanita itu!"


"Apa!! Bagaimana bisa seperti itu Naya. Bukan kah tadi syaratnya hanya aku tetep tidak menceraikan kamu?"


"Kalau tidak mau ya sudah. Kita tunggu pihak rumah sakit menelfon dan mengatakan jika wanita kesayangan mu itu sudah tiada"


"Oke-oke. Aku turuti apa yang kamu mau. Puas!" setelah mengatakan hal itu. Danu langsung masuk ke dalam rumah Kanaya dan di ikuti Kanaya yang mengekor di belakang.


"Ini belum seberapa, Mas. Kamu lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Selama satu tahun aku setia menunggu kamu kembali, Tapi malah kata Talak yang aku terima dari kamu" ucap Kanaya dalam batinnya sambil menatap punggung Danu dengan rasa benci dan juga kecewa.


"Cepat jalan ke rumah sakit" ucap Danu saat melihat Kanaya masih duduk di kursi itu.


"Iya. Aku ambil kunci mobil dulu. Jangan kemana-mana. Tetap di sini"

__ADS_1


1 Jam kemudian. Kanaya sudah tiba di rumah sakit tempat Kanaya di rawat. Wanita itu berjalan cepat agar bisa segera tiba di ruangan Kumala dan memberikan darahnya untuk wanita itu.


Setelah tiba di sana, Kanaya menatap wajah Kumala hang masih setia memejamkan kedua matanya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Kanaya mendekat dan melihat pergelangan tangan Kumala yang ternyata sudah tidak ada denyut nadinya.


Merasakan hal itu, Tentu saja Kanaya menjadi sangat panik. "Astaga. Kenapa denyut nadinya berhenti" ucap Kanaya panik dan langsung memanggil dokter.


"Dokter tolong dokter" teriak Kanaya sambil berlari keluar dari ruangan Kumala.


"Dokter tolong" teriak Kanaya lagi dengan langkah yang semakin cepat


"Ada apa ibu teriak-teriak?"


"Dokter, Tolong. Keadaan pasien yang bernama Kumala anfal dokter"


"Mari kita segera kesana"ucap dokter itu dan langsung berjalan lebih cepat dari pada Kanaya.


Setelah tiba di ruangan Kumala. Ternyata memang benar apa yang dikatakan Kanaya, Keadaan Kumala kritis. Wajahnya benar-benar terlihat sangat pucat. Bibirnya kering serta kedua matanya tertutup rapat. Bahkan detak jantungnya juga sangat lemah.


"Pasien harus segera mendapatkan transfusi darah. Kalau tidak, Nyawanya tidak akan bisa tertolong. Pendarahan itu sudah membuatnya seperti ini" terangnya sambil melirik pada Kanaya


"Baiklah. Mari ikut saya"


*****


"Masih gak nyangka deh Wil. Kalo ternyata kamu adalah kakak iparnya Siren" ucap Damar pada William


"Aku juga gak nyangka. Kenapa Siran bisa membawa pria jadi-jadian sepertimu kesini" jawab William santai sambil menikmati kue ditangannya


"Kurang ajar lo. Sahabat laknat memang. Masa cowok sekeren ini di bilang pria jadi-jadian"


"Kan memang gitu, Lo sukanya sama terong"


"Gue masih normal kali Wil"


Seperti itulah jika William sedang bertemu dengan sahabatnya. Usia mereka memang sudah berkepala tiga, Namun tingkah lakunya masih kayak bocil.

__ADS_1


"Masa iya, Tapi kok gue gak pernah liat lo sama cewek. Palingan cuma sama si anu"


"Anu siapa?"


"Ya itu anu biasanya"


"Iiissshhh, Dasar gak jelas kau itu. Mentang-mentang sekarang sudah punya pawang. Gak ingat kalau dulu juga suka" Perkataan Damar terhenti saat William dengan cepat menyumbat mulutnya dengan kue yang ada di tangannya.


Hal itu tentu saja membuat Emilia dan juga Siren merasa sangat penasaran. Saat ini mereka memang hanya berempat di taman samping rumah Emilia. Karna kedua orang tua Emilia sedang sedang menemani cucu-cucu mereka. Nathan dan juga Dini.


"Dulu juga suka apa?" tanya Emilia sambil menatap Damar yang mulutnya sudah di penuhi dengan kue.


William memberikan kode pada Damar agar pria itu tidak mengatakan masa lalu William pada istrinya. Hal yang menurut William sangat memalukan. "Kok diem. Emangnya dulu William suka apa?" tanya Emilia lagi


"Oooh, Maksudnya, Dulu William juga suka jomblo" ucapnya berbohong.


Namun bukan Emilia namanya jika langsung percaya begitu saja dengan apa yang Damar katakan. Wanita itu menatap tajam Damar serta William secara bergantian.


"Baiklah, Kalau memang kalian tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Siap-siap saja khusus William, Malam ini tidur di ruang tamu. Dan buat Damar. Jangan harap aku memboleh kan Siren bersama kamu lagi"


Mereka berdua saling lirik saat mendengar perkataan Emilia. Seketika William langsung merasa takut jika Emilia tidak benar-benar memintanya untuk tidur di ruangan tamu.


"Sayang, Kamu itu emang sukanya ngancem-ngancem suami ya" ucap William pada Emilia


"Biarkan saja. Kalau kamu masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya, Malam ini Kamu benar-benar tidur di luar" ucap Emilia lagi


William mendengus sebal. Memang seperti itulah Emilia, Suka mengancam William jika membuat Emilia penasaran.


"Yaudah, Ayo cepat katakan. Apa?"


William melirik pada Damar yang sudah mengulum bibir. Kali ini William memiliki pawang yang sudah sangat tepat. Baru kali ini Damar melihat raut wajah William sangat lucu seperti itu saat mendengar perkataan Emilia. "Syukurin" Batin Damar sambil terus mengulum bibir


"Sebenarnya, Dulu William itu juga suka menonton film biru Mil. Katanya buat belajar kalau sudah menikah. Siap-siap saja menjadi percobaan gaya William yang sudah sejak dulu dia pelajari" terang Damar sambil mengulum bibirnya


"Pantas saja William sangat mesum. Astaga, Jadi dia suka nonton film itu" ucap Emilia sambil melirik William dengan sebelah sudut bibir yang terangkat.

__ADS_1


"Suami mesum" cibir Damar sambil terkekeh


__ADS_2