Single Mamy

Single Mamy
Istri Syco


__ADS_3

"Eemm papa. Emil gak nyangka papa masih ingat itu" Ujar Emilia dan langsung memeluk papanya erat dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca


"Masih lah sayang. Papa masih ingat jelas apa yang pernah dulu kamu impikan saat sudah menikah. Maafkan papa yang sudah mengusir mu kala itu" Ujar Wirayudo sambil membalas pelukan Emilia


Widi yang melihat itu seketika menundukkan wajahnya. Wanita itu juga ingin merasakan apa yang saat ini Emilia rasakan. Di peluk oleh ayah kandungnya. Sosok yang selama ini tidak pernah Widi ketahui.


"Aku juga ingin merasakan itu pa. Aku anak mu papa. Anak papa yang tidak pernah papa tau. Semoga suatu saat nanti papa bisa tau kalau aku adalah dagingmu" Ucap Widi dalam batinnya sambil menahan kedua mata yang sudah semakin panas.


"Mami sama papi mau jalan-jalan ya. Nathan ikut dong" Ucap Nathan sambil menatap Emilia dan William secara bergantian


Mendengar itu membuat Emilia dan William saling pandang"Boleh dong sayang, Nanti Nathan akan ikut liburan bersama dengan papi dan mami ya"


"Yeeeaaa. Beneran kan papi, Nathan boleh ikut sama mami dan papi?"


Melihat Nathan tersenyum bahagia seperti itu membuat Emilia dan William juga ikut bahagia. Ini adalah pertama kalinya mereka liburan bersama. Apalagi statusnya sudah berbeda, Saat ini mereka sudah menjadi sebuah keluarga.


"Em. Sini sebentar nak. Mama mau memberitahu sesuatu" Ujar Melinda dan meminta Emilia untuk duduk di sampingnya.


"Iya ma, Ada apa ma?" Tanya Emilia sambil berjalan ke arah melinda yang saat ini sedang duduk di samping Liana dan Widi


Setelah Emilia sudah duduk di samping sang mama. Wanita itu cukup terkejut setelah mendengar apa yang di katakan oleh mamanya. Emilia tidak pernah menyangka jika adiknya harus melewati hidup yang cukup menyedihkan.


"Ada apa ma?" Tanya Emilia sambil menatap Melinda


Melinda tak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu terdiam sesaat sambil menatap Emilia. "Ada apa ma. Kenapa mama terlihat sedih seperti itu?" Tanya Emilia lagi setelah melihat raut sedih yang di tunjukkan Melinda.


"Ini soal adik kamu Em" Ucapnya sendu


"Ada apa dengan Siren memangnya ma? Apa yang terjadi? Kenapa mama terlihat begitu luka setelah menyebutkan nama Siren?" Tanya Emilia sambil menatap mamanya

__ADS_1


"Kasian Siren Em. Dia harus menerima karma dari apa yang sudah dia lakukan selama ini"


Mendengar perkataan sang mama membuat Emilia mengerutkan keningnya. Emilia masih tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja Melinda katakan. "Maksudnya bagaimana ma. Emil tidak paham" Tanya Emilia sambil menatap mamanya


"Dia sudah mendapat karma atas apa yang sudah Siren lakukan kepadamu Em"


"Mama sudah tau? Kalau semua ini karna ulah Siren?"


"Iya sayang, Siren yang sudah mengatakan pada mama. Tapi tidak dengan papa, Papa tidak tau menahu soal ini. Mama tidak memberitahu papa soal ini, Karna kalau sampai papa tau. Kamu bisa menebak sendiri apa yang bisa papa lakukan sama Siren"


"Lalu kenapa mama mengatakan jika Siren sudah menerima karma. Apa yang sebenarnya terjadi ma?" Tanya Emilia yang semakin penasaran


"Selama ini Siren hanya menjadi seperti bayangan buat David nak"


"Maksudnya bayangan gimana ma?"


"Iya Em. Selama pernikahannya dengan David, Siren tidak pernah mendapatkan cinta atau pun kasih sayang darinya. Karna sampai detik ini David masih begitu mencintai kamu"


"Dan yang lebih parahnya lagi, Bukan hanya Siren yang mendapat karma, Anaknya juga harus menanggung akibat perbuatan dari mamanya. Dini tidak pernah mendapat kasih sayang dari papanya sendiri. Menurut cerita yang mama dengar dari Siren, Katanya saat ini mereka sedang proses perceraian" Ucap Melinda lagi


"Apa!! Mama serius?"


"Iya sayang, Akhirnya Siren menyerah dengan pernikahannya. Dia sudah menerima tawaran yang David berikan"


Emilia mengerutkan keningnya"Tawaran! Tawaran apa ma?" Tanya Emilia penasaran


"Jadi beberapa tahun lang lalu. David pernah menawarkan satu hal yang saat itu langsung Siren tolak. Karna Siren masih sangat yakin jika dia bisa membuat David jatuh cinta dengan seiring berjalannya waktu."


"David menawarkan pada Siren, Jika Siren mau menggugat cerai David. Maka David akan menyayangi anak mereka dan akan memberikan perhatian yang seharusnya David berikan. Tapi Siren menolaknya"

__ADS_1


"Aku masih tidak menyangka dengan rumah tangga Siren dan David. Aku pikir rumah tangga mereka baik-baik saja"


"Begitulah nak. Kasian adik kamu. Dia harus melewati hidupnya yang pahit karna ulahnya sendiri"


"Aku ikut sedih dengan apa yang menimpa Siren ma. Tapi mau bagaimanapun, Itu adalah konsekuensi yang harus Siren terima. Semoga saja suatu saat nanti Siren bisa berubah"


Tanpa di sadari ternyata semua tamu undangan sudah pada pulang. Widi sudah membawa Nahan untuk tidur bersamanya seperti malam tadi agar tidak mengganggu kedua orang tuanya yang saat ini sedang menjadi pengantin baru.


Sedangkan kedua orang tua Emilia juga William juga sudah pamit untuk pulang ke Villa sebelah. Saat ini hanya ada Emilia dan William di sana.


"Wil, Kita pamit dulu ya. Gue mau nginap di hotel malam ini, Karna besok pagi gue ada meeting penting dan gue gak mau sampai telat" Ujar Andre pada William


"Yah kok kalian mau nginap di hotel. Kan di sini lebih enak. Gratis pula" Jawab William sambil menatap Andre dan Damar


"Enakan di hotel ya Dre, Kita gak mau gangguin elo yang lagi ehem ehem. Hahah. Iya kan Dre"


"Bener-bener. Takut kayak tadi malem ya Dam. Hahhah"


"Biar lo sama Emil tidak ada gangguan dari siapapun" Timpal Damar


Emilia yang mendengar itu tentu saja langsung merasa wajahnya terasa panas karna menahan malu. Apalagi saat ini kedua sahabat William sedang membicarakan kejadian malam tadi.


"Dasar William. Ini semua gara-gara dia. Kalau saja tadi malam dia tidak numpang mandi di kamar mereka ini semua tidak akan pernah terjadi. Ya ampun, Aku merasa sangat malu" Ucap Emilia dalam batinnya sambil menundukkan wajahnya malu


"Anjay kalian berdua. Sudah sana cepat pergi. Gue sama mami Emil mau mesra-mesraan. Biar gak jadi pengganggu"


Mendengar perkataan William membuat Emilia menginjak kaki suami tengilnya. William ini memang benar-benar menguji kesabaran Emilia.


William yang merasakan injakan Emilia tentu saja langsung merasa sangat kesakitan. Pria itu menoleh ke arah Emilia sambil mengisap kakinya yang sudah menjadi sasaran empuk istrinya.

__ADS_1


"Astaga mami. Mami kok seperti Syco saja dah. Masa iya papi di injak seperti ini. Atit tau mami"


"Syukuri. Siapa suruh tadi bilang seperti itu.


__ADS_2