
Jadi aku itu orangnya pelupa sayang. Sudah berapa kali ATM aku ke blokir karna lupa password. Tapi setelah aku ganti dengan tanggal lahir kamu. Kata lupa itu sudah tidak ada lagi" Ucap William sambil terkekeh
"Masa iya. Baru tau kalau ternyata kamu orangnya pelupa"
"Hanya sama saja aku yang tidak pernah bisa lupa sayang"
"Gombal" Jawab Emilia sambil memanyunkan bibirnya
"Kok gombal sih sayang. Ini tuh kata yang paling jujur dari relung hatiku. Kamu memang selalu terbayang dalam ingatanku" Ucap William lagi pada Emilia
"Sudah ah. Gak usah gombal mulu. Lebih baik kita kembali ke penginapan" Ujar Emiliaa sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Perkataan William sudah mampu membuat Emilia mengangkat kedua sudut bibirnya tanpa henti. Wanita itu terus saja tersenyum sambil melirik William yang sedang menggendong Nathan
"Kenapa rasanya aku begitu bahagia dengan apa yang William katakan. Apa iya aku sudah benar-benar mencintainya" Gumam Emilia
"Mami, Nathan ngantuk" Ujar Nathan saat sudah tiba di dalam mobil
Mendengar itu membuat Emilia memangku Nathan dan mengelus pipinya lembut"Tidurlah Nak. Mami akan menggendong Nathan" Ucapnya lembut
Di Jakarta
"Mama. Kapan papa akan pulang. Salsa sudah begitu merindukan papa ma. Sudah sangat lama papa pergi" Ucap Salsa pada sang mama
Mendengar perkataan Salsa membuat Kanaya mendekat dan langsung membawa tubuh mungil anak Salsa dalam dekapannya.
"Sabar ya sayang. Papa kan sedang bekerja buat mama dan juga Salsa. Salsa harus lebih sabar lagi ya" Ucap Kanaya sambil mengusap lembut rambut Salsa
Melihat anaknya bersedih seperti itu membuat Kanaya merasa sangat terluka. Bayangannya kembali pada saat dimana suaminya pamit karna sedang ada sebuah proyek yang sangat penting di paris.
"Sayang. Sepertinya kita akan berpisah untuk waktu yang cukup lama" Ucap Danu pada Kanaya
Mendengar itu membuat Kanaya meletakkan ponselnya dan langsung menoleh pada Danu yang ada di sampingnya.
"Memangnya kamu ada proyek di mana mas? Kenapa kita sampai harus tidak bertemu dalam waktu tang cukup lama?"Tanya Kanaya pada Danu
__ADS_1
"Ke paris sayang. Demi memajukan perusahaan ku kembali, Aku harus ikut dalam tender ini" Jawab Danu sambil menatap Kanaya begitu dalam
"Berapa lama mas?"
"Aku juga belum tau pasti sayang. Kalau misalnya aku terpilih. itu artinya aku harus stay di sana dalam beberapa waktu. Tapi kalau seandainya aku gagal, Aku juga harus stay di sana sementara untuk mencari ongkos buat kembali kesini. Kamu tau sendiri kan sayang bagaimana keadaan perusahaan ku saat ini"
Mendengar kata itu membuat Kanaya menunduk sedih. Mau bagaimanapun, Sebagai seorang istri Kanaya harus selalu mendukung apa yang menjadi keputusan suaminya.
Karna Kanaya istri yang penurut, Dengan berat hati wanita itu mengiyakan apa yang sudah menjadi keputusan suaminya"Baiklah mas. Doaku akan selalu menyertaimu. Semoga saja kamu berhasil ya mas, Agar kamu bisa kembali bangkit dari kondisi kita saat ini" Ucap Kanaya sambil menatap Danu
Mendengar perkataan istrinya membuat Danu langsung memeluk Kanaya"Terimakasih kamu selalu menjadi penyemangat aku sayang" Pungkas Danu lembut
Hari dan hari berlalu. Seperti yang sudah di katakan jika Danu akan pergi ke paris untuk mengikuti satu tender besar yang akan membuat perusahaanya kembali jaya seperti dulu.
"Aku berangkat ya sayang. Doakan aku biar semuanya lancar sesuai dengan yang kita harapkan" Pamit Danu sambil mencium kening Kanaya dan Salsa penuh cinta
"Tanpa kamu suruh pun, Aku akan selalu mendoakan yang terbaik mas. Hati-hati ya mas. Perasaan ku tidak enak" Balas Kanaya sambil mencium punggung tangan Danu
"Kamu doakan saja ya, Semoga aku selamat sampai tujuan. Aku berangkat. Jaga Salsa baik-baik ya" Pungkas Danu dan langsung naik pada pesawat yang akan membawanya terbang ke negara paris
2 jam berlalu. Kanaya yang baru saja tiba di rumahnya tiba-tiba saja mendapatkan panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Melihat nomor itu membuat Kanaya awalnya hanya melihat tanpa mau menjawab. Karna Kanaya pikir itu adalah nomor nyasar atau nomor orang iseng.
Namun ternyata nomor itu terus berusaha menghubunginya dan membuat Kanaya langsung menjawab. Dan betapa terkejutnya Kanaya saat sudah menjawab telpon itu.
π:Halo. Maaf ini dengan siapa?
π:Apa benar ini dengan ibu Kanaya? Istri dari bapak Danu
π:Benar saya sendiri. Ada apa ya pak
π:Maaf bu saya hanya mau mengabarkan jika pesawat yang suami anda tumpangi mengalami kecelakaan. Pesawat itu hilang kontak dan belum di temukan keberadaannya
Mendengar itu membuat Kanaya mematung. Wanita itu masih mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar"Tenang Kanaya, Ini hanyalah mimpi. Iya, ini hanyalah mimpi buruk" Ucap Kanaya dalam batinnya
π:Halo bu. Apa anda mendengar saya?
__ADS_1
π:Sekali lagi saya katakan ya bu. Pesawat yang di tumpangi suami anda hilang kontak dan belum di temui keberadaan nya. Terimakasih
Setelah itu. Orang di ujung telpon langsung memutuskan panggilannya. Sedangkan Kanaya masih mematung dengan kedua mata yang sudah di penuhi dengan air mata.
Mendengar itu membuat dunia Kanaya terasa berhenti berputar. Dadanya terasa sangat sesak. Wanita itu berusaha menganggap jika ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang sedang singgah dalam tidurnya.
"Ini pasti mimpi Kanaya. Suami kamu sedang baik-baik saja" Ucap Kanaya yang mencoba menguatkan dirinya sendiri
"Mama. mama kenapa diam saja. Kapan papa pulang ma. Salsa sudah sangat merindukan papa" Suara anaknya membuat Kanaya tersadar jika semuanya sudah berubah.
"Kamu tega mas. Aku benar-benar tega dengan aku dan Salsa. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan" Kanaya bermonolog dalam batinnya dengan kedua mata yang terlihat merah
Di Bali
Nathan ternyata sudah tertidur lelap dalam dekapan Emilia. Saat ini mobil yang William kendarai sudah tiba di penginapan."Sayang. Nathan sudah tidur ya?" Ucap William sambil menoleh ke arah Emilia
"Iya Wil. Nathan sudah tidur. Kasian dia, pasti sangat lelah" Ucap Emilia lembut sambil membelai rambut Nathan yang terlihat sudah basah dengan keringat
"Tolong bukakan pintunya ya Wil"
"Kok Wil sih sayang. Lupa sama panggilan kesayangan kamu?"
"Tolong bukakan pintunya ya Ayah Willi" Ulang Emilia lagi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Apa apa. Aku gak dengar sayang. Coba ulangi lagi"
"Bukakan pintunya ya ayang Willi"
Mendengar itu membuat William mengangkat kedua sudut bibirnya"Baiklah my Queen" Balas William sambil tersenyum manis
"Gombal terus deh ayang Willi"
"Biarin. Gombal sama istri sendiri. Gak bakal dosa kan sayang"
Di tempat yang sama, David masih terus memperhatikan Emilia dan William. Pria itu belum menyadari jika Siren juga menguntit dirinya sejak dari jakarta. "Sepertinya aku sudah tidak bisa membiarkan hal ini terus-terusan. Emilia hanyalah milikku. Milik David Winarto" Ucap David sambil mengepalkan kuat kedua tangannya
__ADS_1