
Dengar baik-baik Siren. sampai matipun aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu. Karna rasa cintaku hanyalah untuk Emilia. Kamu itu hanyalah seperti toxic. perusak dan pengganggu. Kalau bukan karna kamu, Mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama dengan Emilia. Aku sangat membenciku Siren. Dasar Toxic!!
Perkataan itu terus terngiang dan mengganggu di kepala Siren. Entah kenapa Siren merasa begitu sulit untuk melupakan apa yang pernah dia dengar dari David.
Namun sebisa mungkin Siren bersikap biasa saja di depan Andini. Dia mencoba sebisa mungkin untuk menahan Air matanya agar tidak terjatuh di hadapan putri kecilnya.
"Kapan kita akan ke rumahnya Oma mama?" Tanya Andini pada Siren sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
Mendengar pertanyaan Andini membuat Siren duduk berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anaknya.
"Nunggu Andini libur sekolah dulu ya sayang. Sabtu kita berangkat, Bagaimana?"
"Boleh ma. Andini gak sabar mau bertemu dengan oma juga oppa" Ucap Andini penuh bahagia
Siren membelai rambut Andini sambil terus menatapnya. Melihat raut bahagia Andini, Seketika rasa sedih di hatinya hilang begitu saja. Senyuman itu langsung bisa membuat Siren ikut mengangkat kedua sudut bibirnya
"Sekarang Andini masuk kamar, Ganti baju lalu turun lagi ya. Mama siapkan makan siang buat Dini dulu"
"Iya ma."
Setelah kepergian Dini. Siren juga ikut masuk ke dalam rumahnya. Tanpa sengaja wanita itu mendengar sesuatu yang membuatnya langsung merasa begitu terkejut.
Siren Memutuskan untuk mendengarkan apa yang saat ini David bicarakan dengan seseorang di ujung telpon. Wanita itu bersembunyi di balik tembok depan tempat kerja David.
π:Kalian terus pantai keadaan di sana. Cari tau kemana mereka akan melakukan bulan madu. Setelah itu, Lakukan plan B
π:β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
π:Baiklah. Selalu kabarkan tentang apa yang menurut kalian penting
Siren yang mendengar obrolan David seketika mengerutkan keningnya. Wanita itu menumbuhkan rasa curiga dengan apa yang akan David rencanakan.
Wanita itu dengan cepat berlalu dari tempat persembunyiannya. Karna Siren tidak ingin David tai jika dia sudah menguping pembicaraan David lewat sambungan telpon.
"Apa yang sedang David rencanakan? Cari tau kemana mereka akan Honeymoon? Memangnya siapa yang menikah?" Ucap Siren sambil mencerna apa yang baru saja dia dengar
Sedetik kemudian. Siren membulatkan kedua matanya saat teringat akan pernikahan Emilia. Seketika Siren langsung paham siapa yang saat ini sedang David maksud.
"Apa orang yang David maksud adalah kak Emil. Memang nya rencana apa yang akan dia lakukan? Aku tidak akan membiarkan David berhasil dengan rencananya" Ucap Siren di sela langkahnya.
Wanita itu masuk ke dapur dan langsung membuatkan makan siang untuk anaknya. Kali ini Siren membuatkan udang Crispy yang memang sudah menjadi makanan kesukaan Andini.
__ADS_1
Sedangkan David. Setelah sambungan telponnya terputus. Pria itu menatap gambar Emilia yang selalu dia pasang sebagai Wallpaper di layar ponselnya.
David mengangkat kedua sudut bibirnya sambil terus menatap gambar Emilia. Gambar wanita yang sangat David cintai.
"Sebentar lagi kita akan bersama baby. Aku sangat mencintaimu" Ucap David sambil mencium layar ponselnya
"Bagaimanapun caranya, Aku harus bisa memiliki Emilia seperti apa yang dulu pernah kita rencanakan. Gara-gara Siren sialan, Impian yang pernah aku miliki bersama Emilia harus pupus begitu saja"
"Aku sudah tidak sabar menunggu hasil akhir dari pengadilan" Ucap David lagi
"Tidak ada yang bisa memiliki Emilia kecuali aku" Ucapnya sambil membayangkan kebersamaannya dengan Emilia.
Di Tempat Resepsi
"Kamu aku cari-cari ternyata ada disini. Ayo kita kembali ke tempat acara, Kita foto bersama dengan pak Wili juga nona Emil" Ujar Alex pada Widi
"Ooh iya sayang. Maaf ya tadi aku gak sempat bilang. Ayo kita kembali ke tempat acara, Aku juga sudah tidak sabar ingin berfoto bersama dengan Emil dan Willi" Balas Widi sambil menggandeng tangan Alex
"Aku duluan ya Fer. Jangan lama-lama disini. Ikut gabung bersama dengan tamu yang lain" Ucap Widi pada Ferdian sebelum pergi dari sana
"Iya kak, Sebentar lagi"
Ferdian menatap kepergian Widi dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Batinnya terasa perih melihat pemandangan di depan matanya.
Saat ini William dan Emilia sedang duduk di kursi pelaminan. Mereka berdua terlihat seperti raja dan ratu. Sangat serasi menjadi pasangan suami istri.
"Mami" Panggil William sambil melirik Emilia
"Hmmmm. Ada apa?" Jawab Emilia ketus
"Mami kenapa sih. Kok papi Willi di cuekin terus. Memangnya mami tidak sayang ya sama papi Willi?"
"Tau! Aku tuh masih kesel banget sama kamu Wil. kesel banget pokoknya"
"Mami mah gituan. Kan papi hanya bercanda soal tadi mami, Mami orangnya ngambekan deh"
"Apa kamu bilang, Bercanda? Tapi bercanda kamu tidak lucu Wil. Bisa gak sih sekali saja kamu gak membuat aku malu di depan semua orang" Ucap Emilia masih dengan nada ketusnya
"Ya elah mami, Malu lagi. Memangnya apa yang harus mami malukan. Kan memang bener tadi malem kita sedang berusaha membuatkan Nathan adik"
"Ita tapi kan tidak harus mengatakan pada semua orang William. Kamu itu ya, Memang benar-benar tidak peka dengan perasaan ku. Kamu itu pria menyebalkan yang pernah aku temui" Ucap Emilia sambil menoleh ke arah William
__ADS_1
Mendengar perkataan Emilia membuat William teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu
Beberapa saat yang lalu
"Kamu kenapa Wil. Kok jalannya pincang begitu?" Tanya Liana pada William yang berjalan sedikit pincang karna ulah Emilia
Mendengar pertanyaan itu membuat William melirik ke arah Emilia yang saat ini sedang mengulum bibir menahan tawa karna melihat cara berjalan William yang terlihat lucu.
William yang melihat Emilia seperti sedang menertawakannya, Seketika langsung muncul rasa ingin mengerjai Emilia balik. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya sambil terus memperhatikan Emilia
"Ini semua gara-gara Emilia ma. Masak semalem Emilia ngajakin Willi untuk membuat adiknya Nathan hingga pagi. Kan Willi capek ma. Sampek kek gini deh jadinya" Ucap William sambil mengulum bibir saat melihat raut wajah Emilia yang sudah mulai merah.
"Apa-apan William" Ucap Emilia dalam batinnya sambil menahan rasa malu karna apa yang baru saja William katakan dan di dengar oleh banyak orang
"Gak papa Wil. Biar cepat berhasil membuatkan Nathan adik" Ucap seseorang di sana
Emilia yang mendengar itu tentu saja merasa sangat malu. Telinganya terasa panas serta keringat dingin itu mulai keluar dari diri Emilia karna tidak kuat harus menahan malu.
"WILLIAAMMM. Awas saja nanti ya. Bisa-bisanya mengatakan hal yang memalukan seperti itu. Ya ampun, Ingin rasanya aku pergi dari tempat ini. Rasanya aku tidak punya muka. William menyebalkan memang" Emilia bermonolog dalam batinnya sambil menundukkan wajahnya yang terlihat merona karna godaan beberapa orang di sana
Flashback off
"Maafkan papi Willi mami" Ucap William sambil terus menatap Emilia
"Tau, Aku tuh benar-benar kesal sama kamu Wil. kok bisa mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaan aku. Kan aku malu. Kamu mengatakan seperti itu di depan banyak orang"
"Iya iya. Papi Willi minta maaf mami. Nggak lagi melakukan hal yang akan membuat mami malu. Habisnya mami tadi injak kaki papi, Kan atit mami"
"Mami, Ayo dong senyum. Masa iya pengantin baru seperti musuh begini. Papi Willi janji deh akan melakukan apapun agar mami mau senyum"
Mendengar perkataan William membuat Emilia yang sedang menahan kesal seketika langsung menoleh ke arahnya. Wanita itu mengangkat kedua sudut bibirnya dan membuat William menaruh rasa curiga
"Perasaanku seperti tidak enak melihat lirikannya" Ucap William dalam batinnya
"Baiklah. Aku akan memaafkan mu tapi dengan satu syarat" Ucap Emilia sambil tersenyum licik dan membuat William mengejutkan keningnya.
"Nah kan, Tepat seperti apa yang aku pikirkan" Batin William lagi
"Memang apa syaratnya?"
Emilia tak langsung menjawab. Wanita itu terus mengulum bibir sambil menatap William dan memainkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Syaratnya adalah"