
"Ya baguslah Em kalau kamu sudah tau berapa umurnya. Setidaknya kamu hanya tidak tau dengan wajahnya saja"
"Oh iya Em. Bagaimana jalan-jalannya tadi?"
"Entahlah kak. Aku dan William seperti memiliki satu harapan yang sama." Ucap Emilia sendu
"Apa maksud kamu Em. Kalian memiliki satu harapan yang sama?" Tanya Widi lagi
"Iya kak, Aku dan William ternyata memiliki keinginan yang sama, Yaitu hidup dalam satu keluarga dan membesarkan Nathan bersama-sama. Tapi itu semua sudah jelas-jelas tidak mungkin kak. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat. Begitu juga William yang juga akan menikah dengan wanita pilihan mamanya" Ucap Emilia yang terdengar begitu pilu
"Yang sabar Em. Kalau memang kalian jodoh, Bagaimanapun caranya, Suatu saat nanti kalian pasti akan bersatu, Percayalah" Ujar Widi sambil mengusap punggung Emilia
"Iya kak"
"Oh iya kak. Bagaimana tentang hubungan kakak dengan pacar kakak yang bernama Alex?"
Sekarang giliran Widi yang harus menjawab pertanyaan Emilia. Wili memang sudah menjalin hubungan dengan Bagas sejak 2 tahun yang lalu. Tepatnya setelah butiknya menjalin kerja sama dengan perusahaan BAGASKARA GROUP.
Mendengar pertanyaan Emilia membuat Widi mengangkat kedua sudut bibirnya. Mereka berdua memang sudah merencanakan sebuah pernikahan yang masih belum tau kapan. Tapi yang pasti rencana itu sudah ada.
"Hubungan kita sudah semakin serius sih Em. Aku dan Alex sudah merencanakan untuk menikah. Tapi kita masih belum tau pastinya kapan" Ucap Widi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Bagus dong kak. Alex itu yang waktu itu pernah menolongku kan kak. Waktu aku ada meeting pertaman dengan CEO BAGASKARA GROUP" Ujar Emilia
"Iya bener itu Em. Iya ya Em, 5 tahun yang lalu kan kamu sudah hampir bertemu dengan CEO BAGASKARA GROUP. Apa itu yang akan menjadi suami kamu Em?"
"Sepertinya iya sih kak"
"Aku masuk ke kamar dulu ya kak. Rasanya badan aku sudah sangat lelah mau istirahat" Pekik Emilia dan langsung berjalan ke arah kamarnya.
Setelah Emilia masuk ke dalam kamar nya. Widi mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Alex. Kenapa Widi baru kepikiran hal ini sekarang, Kenapa tidak dari kemarin-kemarin.
[ Malem sayang. Kamu sudah pulang? ] Send
Tak butuh waktu lama. Pesan yang Widi kirimkan langsung centang biru dan langsung di balas oleh Alex saat itu juga
Kring
[ Malem juga sayang. Aku malam ini sepertinya lembur. Apa kamu sudah pulang? ]
__ADS_1
[ Oooh lembur ya. Aku sudah pulang sejak 30 20 menit yang lalu sayang. Aku memang sengaja menutup butik lebih awal, Soalnya aku masih harus membantu Emilia untuk menulis siapa saja yang akan di undang ke acara pernikahannya ] Send
kring
[ Jangan capek-capek ya sayang. Oh iya, nanti kamu hadir juga kan pada acara pernikahannya? ]
[ Gak bakalan capek kok sayang. Iya nanti aku juga bakal hadir di pernikahan Emil. Boleh aki minta foto William anaknya bu Liana gak sayang? Aku pengen tau ] Send
Kring
Ada sebuah pesan gambar dari Alex. Dengan cepat Widi membuka pesan itu. Betapa terkejutnya Widi saat melihat wajah gambar anak ibu Liana.
"I..ini kan William ayahnya Nathan. Ini ayahnya Nathan. Gak mungkin aku salah liat kan?" Ucap Widi sambil terus memperhatikan gambar itu
[ Kami tidak salah kirim gambar kan sayang? Ini beneran anaknya bu Liana? Bukankah dia William tukang ojek? ] Send
Setelah mengirimkan pesan itu. Tak lama kemudian ponsel Widi langsung berdering. Ada panggilan masuk dari Alex. Melihat nama kekasihnya, Wanita itu dengan cepat mengusap tombol hijau di layar ponselnya.
π: Iya sayang kenapa?
π: Sayang. Aku mau tanya sesuatu
π: Kenapa kamu bisa tau kalau tuan muda William itu adalah tukang ojek?
π: Aku tau sendiri. Sebenarnya
Widi menghentikan ucapannya saat menyadari jika dia tidak punya hak untuk mengatakan apa yang sudah terjadi.
π:Sebenarnya apa sayang?
π: Oh tidak. Sebenarnya aku tidak yakin jika William tukang ojek itu adalah anak dari bapak Bagaskara. Atau CEO dari BAGASKARA GROUP
π: Oooh aku pikir apa tadi. Kamu jangan tidur terlalu malam ya. I Love You
π: Love you more sayang
Tut...tut..tut..
Setelah sambungan telponnya terputus. Widi kembali mengingat wajah ayahnya Nathan yang sempat Emilia perlihatkan padanya.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin salah. Dia memang benar-benat William yang sama" Ucap Widi pelan
Sedetik kemudian wanita itu baru menyadari sesuatu. "Tunggu-tunggu. Jika dia memang William yang sama, Itu artinya Emilia memang akan menikah dengan ayah kandungnya Nathan" Ucap Widi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Semoga saja dugaan aku ini benar Em. Supaya harapan yang kalian miliki benar-benar menjadi kenyataan" Ucap Widi lagi
Malam berlalu begitu cepat. Pagi ini Emilia bangun lebih dulu seperti biasa. Setelah selesai masak dan menyiapkan sarapan, Emilia membangunkan Nathan agar segera bersiap untuk sekolah.
"Nathan, Bangun sayang. Ini sudah pagi waktunya Nathan bersiap untuk sekolah" Ucap Emilia sambil membangunkan tubuh Nathan pelan
"Iya mami sebentar lagi ya. Mata Nathan masih sangat sulit untuk di buka" Ucap Nathan dengan suara seraknya.
"Gak ad sebentar-sebentar ya sayang, Ini sudah pagi nak. Ayo Nathan bangun nak, Mami sudah siapkan sarapan nasi goreng buat Nathan" Ucap Emilia lagi
"Iya mami Nathan bangun"
Di Tempat Lain
"Mama, Hari ini mama antar Andini kan?" Tanya Dini pada Siren
"Iya sayang. Hari ini mama akan antar Dini seperti biasa" Ucap Siren sambil mengoleskan selai coklat pada roti tawar di tangannya
"Papa ikut kan ma. Andini juga ingin di antar sama papa kayak teman-teman Andini"
Mendengar itu membuat Siren melirik ke arah David yang sama sekali tidak terganggu dengan apa yang Dini katakan. Selama ini David memang tidak terlalu perduli pada Andini. Biarpun usianya masih sekitar 3 tahun lebih, Namun Andini sudah sangat pintar. dan saat ini di batu masuk sekolah paud.
"Mas. Kamu bisa kan ikut anatar Dini sekolah?. Sejak dia masuk sekolah kamu belum pernah ikut mengantarnya kan mas" Tanya Siren pada David
"Kamu kan yang ngotot mau punya anak. Ya sudah, Urus saja sendiri jangan ngajak-ngajak aku. Aku tidak sudi dengan anak yang lahir dari rahim mu. Yang aku mau hanyalah anak dari Emilia" Ucap David dingin seperti biasa.
Andini yang mendengar ucapan David hanya bisa menundukkan wajahnya sambil meneteskan air matanya. Kemudian Andini langsung pergi dari sana.
"Lihat mas, Lihat apa yang sudah kamu lakukan! Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Andini. Ingat ya mas, Dia itu anak kandung kamu, bukan anak tiri. Tega-teganya kamu mengatakan hal itu di depan Dini. Benar-benar gak punya hati kamu mas!" Ucap Siren dan langsung mengejar Andini yang saat ini sudah terisak di dalam kamarnya.
Melihat anaknya menangis membuat Siren juga ikut meneteskan air matanya. Bukan ini yang Siren inginkan!
"Andini. Jangan pernah dengarkan apa yang papa katakan ya nak. Kamu tau kan papa suka bercanda" Ucap Siren sambil mengusap lembut rambut Andini
"Kenapa sih ma, Papa tidak pernah sayang pada Dini. Memangnya Dini bukan anak papa ya?"
__ADS_1
Biarpun usianya masih sangat kecil. Tapi Andini sudah bisa memahami apa yang sudah dia dengar.