
Melinda tiba-tiba saja merasa resah. Perasaannya menjadi tidak enak dan bayangan Wira serta Emilia melintas begitu saja.
"Ada apa ini. Kenapa perasaanku mendadak tidak enak seperti ini. Apa jangan-jangan ada sesuatu yabg terjadi pada mereka? Ya allah, Tolong lindungi anak dan juga suamiku" ucap Melinda sambil merapikan meja makan.
Widi baru saja keluar dari dapur, Wanita itu mencuci piring dan membersihkan dapur, Karna memang tadi setelah selesai masak Emilia tidak sempat membersihkan nya.
"Ada apa ma? Kenapa wajah mama terlihat gelisah seperti itu?" tanya Widi sambil mendekat pada Melinda
"Entahlah Wid. Tiba-tiba saja perasan mama tidak enak. Mama kepikiran sama Emil dan juga papa. Mama takut ada sesuatu yang terjadi pada mereka"
"Kenapa mama tidak menelpon Emilia saja"
"Kamu benar Wid. Kenapa dari tadi mama tidak kepikiran buat menelponnya ya"
Setelah itu Melinda mengambil ponselnya. Mencari nomor Emilia dan langsung menghubunginya. Dering pertama masih tidak ada jawaban. Kedua juga masih sama. Namun Melinda tidak menyerah. Wanita itu masih terus mencoba menghubungi Emilia lagi. Mencoba berpikir positif.
Kenapa tidak di angkat ya! pikirnya
"Kenapa ma. Tidak di angkat?"
"Iya Wid. Nomernya aktif, Namun tidak ada jawaban" ucap Melinda sambil terus menghubungi nomor Emilia
Tak lama kemudian. Panggilannya terhubung, Namun yang terdengar di ujung telpon bukan lah suara Emilia ataupun Wira, Melainkan suara orang asing.
π:Halo Em. Kamu sama papa sudah sampai mana?
π:Maaf bu. Pemilik ponsel ini sekarang sedang kecelakaan dan tidak sadarkan diri.
π:Apa!
Betapa terkejutnya Melinda mendengar apa yang baru saja orang itu katakan. Dadanya terasa sesak seakan susah untuk bernafas. Widi mendekat dan mencoba menenangkan Emilia sambil mengambil alih ponsel itu.
π:Maaf pak. Apa yang tadi bapak katakan?
π:Pemilik ponsel ini kecelakaan. Dan saat ini kondisinya sedang pingsan. Sedangkan yang satunya cukup parah
π:Apa! saya minta tolong bawakan mereka ke rumah sakit terdekat ya pak! Dan tolong sher lokasinya.
Setelah mengatakan hal itu, Widi langsung memutuskan sambungan telponnya dan memanggil William yang sedang menemani Nathan main di taman samping.
"William. Wil" teriak Widi dengan nada panik.
William yang mendengar teriakan itu langsung tentu saja merasa penasaran. Ada hal apa sehingga membuat Widi berteriak seperti itu.
"Papi, Ada apa di dalam. Kenapa bibi Widi berteriak seperti itu?" tanya Nathan sambil menoleh pada William
"Papi juga tidak tau sayang. Lebih baik kita masuk dan cari tau apa yang terjadi ya"
William menggendong Nathan masuk ke dalam rumah itu. Setelah tiba di sana. William mengerutkan keningnya saat mendapati Melinda sudah tak sadarkan diri dalam pangkuan Widi.
__ADS_1
"Astaga! Apa yang terjadi kak. Ada apa dengan mama?"
"Kita harus segera ke rumah sakit. Emilia dan pala Wira kecelakaan"
"Apa!" ucap Nathan dan William secara bersamaan.
****
Emilia dan Wira sudah di bawa ke rumah sakit terdekat oleh orang-orang yang ada di sana. Kondisi Wira cukup di bilang memperihatinkan.
"Tolong suster. Mereka adalah korban kecelakaan"
"Baik pak. Terimakasih"
Melihat kondisi Wira yang cukup menghawatirkan membuat tim medis menutup mulutnya. "Sus, Tolong segera hubungi keluarganya. Sepertinya ginjal bapak ini sangat rusak dan sudah tidak bisa berfungsi seperti seharusnya"
"Baik dokter"
30 Menit kemudian. Melinda, William dan juga Widi sudah tiba di rumah sakit. Dengan langkah lebar, William bisa sampai terlebih dahulu ke sana.
"Keluarga pasien kecelakaan?" tanya perawat itu pada William
"Iya sus. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Keadaan istri anda baik-baik saja. Dia hanya pingsan karna terlalu kaget mungkin. Tapi kondisi ayahnya sangat menghawatirkan"
"Mohon maaf ya bu. Kondisi bapak itu sangat menghawatirkan. Karna kecelakaan yang dia alami, Kondisi kedua ginjalnya rusak parah dan harus segera di lakukan transplantasi ginjal secepatnya"
"Apa!"
Melinda merasa sangat shock mendengar berita itu. kedua matanya terasa panas, Hingga tak lama. Air mata itu berhasil lolos begitu saja.
"Bagaimana ini" ucapnya yang terdengar sangat lirih
Widi yang mendengar semua penuturan suster langsunga mengambil nafas pelan. Mungkin ini memang sudah saatnya dia mengatakan jika dirinya adalah anak kandung dari Wirayudo.
"Biar saya yang mendonorkan ginjal untuk papa ma" ucap Widi sambil memeluk Melinda.
"Tapi bagaimana kalau ginjal kamu tidak cocok Wid?"
"Mama percaya sama aku. Ginjal aku akan cocok dengan papa"
"Bagaimana kamu bisa yakin jika ginjalmu akan cocok dengan papa?'
Widi tak langsung menjawab. Masih mengunpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini pada Melinda.
"Karna papa Wira adalah ayah kandungku ma"
"Apa! Jangan bercanda Wid"
__ADS_1
"Kita bahas lagi nanti ya ma. Sekarang yang lebih baik adalah kesehatannya papa"
Benar apa yang di katakan Widi. Untuk saat ini yang terpenting adalah kesehatan Wira suaminya.
"Ikut saya mbk. Kita cek terlebih dahulu, Apakah ginjal itu benar-benar cocok atau tidak" ucap perawat itu.
Widi mengangguk"Ma, Tunggu di sini sebentar ya. Aku pastikan jika ginjal ku cocok buat papa"
Melinda diam terpaku mendengar apa yang baru saja Widi katakan. Namun untuk kali ini Melinda memutuskan untuk mengesampingkan apa yang mengganggu pikirannya. Yang terpenting adalah kesehatan suaminya.
****
Kumala mengerjabkan kedua matanya. Memegang kepalanya yang terasa sakit."Akhirnya ibu sadar juga" ucap seorang perawat pada Kumala.
"Kenapa saya ada di ruangan ini. Ini ruangan ICU kan sus?"
"Iya bu, Kemarin ibu sempat kritis karna kehilangan banyak darah, Syukurlah ada seorang wanita yang datang dan memberikan darahnya buat ibu"
"Siapa dia sus?"
"Namanya Kanaya"
"Kanaya?"
"Iya bu, Wanita itu bernama Kanaya. Cantik dan tinggi"
"Baik sus. Terimakasih infonya ya"
"Iya mbk, Sebentar lagi saya akan memindahkan ibu ke ruangan rawat inap" ucap suster itu lagi dan langsung keluar dari sana.
Sejenak Emilia terdiam. Mencoba mengingat wanita yang di sebutkan oleh perawat tadi. Nama serta ciri-cirinya begitu mirip dengan Kanaya, Istri dari Danu.
"Apa wanita yang memberikan darahnya untukku adalah Kanaya itu"ucap Kumala pelan.
Kumala memejamkan kedua matanya sejenak. Dia mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan ke arahnya.
Cekleek
Pintu ruangan itu terbuka. Kumala menoleh ke arah pintu yang menampakkan Danu di sana.
"Selamat pagi sayang" ucap Danu sambil menatap Kumala. Menunjukkan rasa cintanya dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
"Ngapain kamu kesini, Mas? Bukan kah aku sudah mengatakan jika semua tentang kita sudah berakhir"
"Tapi aku tidak mau sayang"
"Sudah cukup, Mas. Aku tidak mau lagi menjadi sosok wanita egois yang hanya mementingkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasan wanita lain yang terluka karna ulahku!"
Melihat Kanaya seperti kemarin membuat Kumala sadar, Jika apa yang selama ini dia lakukan sudah sangat menyakiti hati Kanaya. Tidak bisa di pungkiri. Kumala benar-benar merasa sangat bersalah.
__ADS_1