
"Jangan gerogi mami. Anggap saja saat ini kita sedang berdua. Tidak ada orang lain disini. KITA HANYA BERDUA. Saat ini dunia hanya milik kita mami." Ucap William sambil menggenggam tangan Emilia.
"Emangnya yang lain ngungsi. Seenaknya bilang dunia milik kita berdua" Jawab Emilia sambil terus menuruni anak-anak tangga
"Mau nya begitu mami"
"Ada-ada saja kamu Wil"
Saat ini Emilia dan William terlihat seperti raja dan ratu yang sedang berjalan menyusuri setiap anak-anak tangga dengan sangat pelan. Semua orang menatap takjub pasangan pengantin baru yang saat sudah menjadi pusat perhatian.
Emilia yang menyadari itu tentu saja menjadi semakin grogi. Wanita itu masih sangat takut jika sampai bekas kissmark itu sampai terlihat orang lain.Ingin rasanya Emilia berlari keluar dari tempat ini.
"Ya Ampun bagaimana ini. Bagaimana kalau sampai ada yang menyadari jika dadaku terdapat banyak bekas kissmark. Aku benar-benar malu. Mama, Tolong Emilia ma" Ucap Emilia dalam batinnya
William yang menyadari tingkah Emilia langsung mengeratkan genggaman tangannya. Pria itu bisa menyadari jika saat ini Emilia sedang panik. Tangan Emilia sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Jangan panik mami. Semua akan baik-baik saja. Aku jamin itu sudah sangat waterproof, Jadi jangan khawatir bekas kisamark itu akan terlihat oleh orang lain" Bisik William tepat di telinga Emilia
Emilia yang mendengar itu tentu saja merasa sangat kesal. Karna ulah William dia seperti tidak bisa menikmati acara hari ini. Padahal sebelumnya Emilia sudah sangat menantikan hari resepsi pernikahan.
"Ini semua gara-gara kamu Wil. Coba saja semalam kamu tidak membuat tanda ini, Aku kan tidak akan seperti ini" Ucap Emilia yang terus menyalahkan William
"Apa-apaan mami nyalahin papi Willi. Lagian kenapa mami diam saja, Mami malah menikmatinya"
Perkataan William tentu saja membuat Emilia semakin kesal. William ini memang benar-benar menyebalkan. Menguji kesabaran!
Karna sudah terlalu kesal. Akhirnya sebuah rencana licik muncul dari otak Emilia. Wanita itu sengaja menginjak kaki William dengan sepatu yang saat ini Emilia gunakan.
William yang kakinya di injak seperti itu tentu saja langsung berteriak dan membuat semua orang menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Aaaaaaaa" Teriak William saat merasa sakit pada kaki depannya
Mendengar itu membuat semua orang menatap ke arah William yang saay ini sudah terlihat sedang menahan sakit. "Aduh maaf ya papi. Mami sengaja" Ucap Emilia dan langsung berjalan lebih cepat mendahului William
__ADS_1
"Awas aja kamu Em. Aku akan membalasnya nanti malam" Ucap William pelan sambil menatap kepergian Emilia
"Aduuuuh anak mama cantik sekali ya" Ujar Liana sambil memeluk tubuh Emilia penuh rasa sayang
Biarpun hanya sebatas menantu, Namun Liana sangat menyayangi Emilia seperti putrinya sendiri. Karna tidak memilik seorang anak perempuan membuat Liana memperlakukan Emilia dengan sangat baik dan penuh kasih.
Apalagi setelah mengetahui jika Emilia adalah anak dari sahabatnya sendiri. Membuat Liana semakin menyayangi Emilia.
"Mama bisa saja. Emil jadi malu" Ujar Emilia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Mami" Ucap Nathan sambil berlari ke arah Emilia
Mendengar suara itu membuat Emilia membalikkan tubuhnya. Wanita itu terlihat sangat bahagia saat melihat adanya Nathan di sana. Rasanya Emilia begitu merindukan anak itu.
"Eh sayang. Anaknya mami. Mami sangat merindukan Nathan" Ujar Emilia sambil mencium Nathan
"Nathan juga sangat merindukan mami"
"Memangnya Nathan hanya merindukan mami saja? Kalau papi bagaimana?"Ucap William yang baru saja berkumpul sama mereka
"Nathan juga sangat merindukan papi."
Tanpa mereka sadari. Sejak tadi ternyata Widi selalu memperhatikan Wira. Wanita itu membayangkan jika acara pernikahannya nanti dengan Alex bisa di hadiri oleh nya. Bukan sebagai tamu undangan, Tapi sebagai wali nikah.
"Apa aku bisa merasakan hal yang saat ini sedang Emilia rasakan. Apa harapan sku bisa jadi kenyataan tepat seperti Emilia dan William" Ucap Widi dalam batinnya
"Apa harapan itu masih bisa aku miliki. Tapi apa mungkin papa mau mengakui ku sebagai anaknya. Sedangkan ibu bilang jika papa tidak pernah tau tentang kehadiran ku"
"Tapi apakah aku salah jika memiliki harapan punya keluarga utuh seperti Emilia. apakah aku bisa" Batin Widi lagi
Tak berselang lama. Ada seseorang yang menarik tangan Widi. Pria itu membawa Widi ke tempat yang cukup sepi dari para tamu. "Eh, Apa-apaan ini. Kamu siapa?" Tanya Widi pada orang itu
"Ini aku kak. Ferdian." Ucap Ferdian sambil membalikkan tubuh Widi untuk menghadap ke arahnya
__ADS_1
"Ferdian. Kamu disini?"
"Iya kak. Aku masih ada begitu banyak hal yang harus aku katakan pada kak Widi"
"Ada apa Fer? Apa yang mau kamu katakan?"
"Sekian lama aku...." Perkataan Ferdian terpotong saat tiba-tiba ada seseorang yang datang memanggil Widi.
"Sayang. Aku cariin dimana-mana ternyata kamu disini" Ucap Alex sambil menatap Widi lembut
Ferdian yang mendengar itu entah kenapa merasa begitu tidak suka. Apa karna Ferdian sudah begitu mencintai Widi? Pria itu menundukkan wajahnya saat merasa hatinya begitu nyeri.
"Ada apa sayang.? Eh kenalin ini Ferdian . Dia itu sudah seperti adikku"
Alex yang sejak tadi hanya fokus pada Widi sampai tidak menyadari jika dia sudah mengenal Ferdian sebelumnya. Begitu juga dengan Ferdian. Dia baru menyadari jika kekasih Widi ini adalah salah satu rekan kerjanya
"Pak Alex. Pak Ferdian" Ucap mereka secara bersamaan.
Di Tempat Lain
"Mama. Dini perhatiin akhir-akhir ini mama sering bersedih. Kenapa ma, Ada apa?" Tanya Dini sambil menggenggam tangan Siren
Mendengar suara itu membuat Siren menoleh ke arah Dini yang saat ini sedang berdiri tepat di sampingnya.
"Mama tidak kenapa-napa sayang. Hanya saja mama sedang capek. Mama juga sangat merindukan oppa dan oma" Ucap Siren berbohong
"Apa Dini mai ikut mama menginap di rumahnya oppa sama oma?"
"Mau ma. Dini mau sekali, Tapi sama papa kan ma?"
Mendengar kata papa seketika Siren merasa dadanya terasa sesak. Kedua matanya terasa panas. Entah kenapa setiap kali mengingat David, Siren selalu merasa begitu terluka. Apalagi saat mengingat perkataan David yang selalu terngiang begitu saja.
Dengar baik-baik Siren. sampai matipun aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu. Karna rasa cintaku hanyalah untuk Emilia. Kamu itu hanyalah seperti toxic. perusak dan pengganggu. Kalau bukan karna kamu, Mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama dengan Emilia. Aku sangat membenciku Siren. Dasar Toxic!!
__ADS_1
Perkataan itu terus terngiang dan mengganggu di kepala Siren. Entah kenapa Siren merasa begitu sulit untuk melupakan apa yang pernah dia dengar dari David.