Single Mamy

Single Mamy
Mencoba saling menyembuhkan luka


__ADS_3

Mendengar perkataan pengasuh Dini membuat Siren merasa sangat terkejut. Apa yang sudah terjadi. Pikirnya


Damar yang melihat raut wajah Siren mengerutkan keningnya. Jujur pria itu merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi padanya.


"Ada apa?"Tanya Damar pada Siren


"Anak aku Dam. Pengasuh anakku bilang jika rumah di sita pihak bank. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi. Aku harus segera kembali ke jakarta" Ucap Siren dengan wajah anaknya


"Aku antar kamu pulang"


Setelah mengatakan hal itu, Damar langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk di pesan kan 2 tiket pesawat untuknya dan juga untuk Siren


πŸ“ž:Halo tuan. Ada apa?


πŸ“ž:Pesan kan saya tiket pesawat yang penerbangannya sekarang atau 30 menit ke depan. Atas nama Damar Alexander dan Siren Wirayudo


πŸ“ž:Baiklah tuan. Secepatnya akan saya pesan kan


Setelah itu, Damar menatap Siren yang sudah terlihat panik. Pria itu menarik tangan Siren dan membawanya keluar.


Namun setelah tiba di luar. Ternyata di sana sudah ada mami Barbie yang menunggu bersama dengan seorang pria paruh baya yang sudah antre untuk memboking Siren.


"Akhirnya kalian keluar juga" Ujar Mami Barbie sambil menatap Siren dan Damar


"Siren, Kamu jangan kemana-mana. Sudah ada tuan Adam yang akan memboking kamu selanjutnya"


Mendengar itu membuat kedua mata Siren membulat"Apa maksudnya?" Tanya Siren pada mami Barbie


"Kamu kan sudah saya beli dari ayahmu. Jadi kamu sudah tidak bisa kemana-mana. Kamu akan selamanya di sini"


"Saya akan membeli Siren dari mami. Berapa uang yang mami mau?" Tanya Damar cepat


"1 Milyar. Karna dia aset berharga" Ucap mami barbie sambil menatap Damar


"Deal. Saya akan membayarnya sekarang"


Setelah itu Damar langsung mengambil ponselnya. Pria itu mengirimkan uang 1 milyar pada mami Barbie atas Siren. "Sudah saya transfer. Mulai sekarang mami sudah tidak ada hak atas Siren. Karna Siren sidah menjadi milik saya sepenuhnya" Ujar Damar dan langsung membawa Siren keluar dari sana.

__ADS_1


Wanita itu terdiam saat mendengar jika dirinya diperjual belikan. Rasanya teramat sakit. Damar yang menyadari Siren terdiam sejenak menghentikan langkahnya. Pria itu menatap kedua mata Siren yang terlihat berkaca-kaca. "Kenapa?" Tanya Damar lembut


Siren masih diam. Rasanya terlalu sesak untuk menjawabnya. Melihat wajah sayu Siren serta kedua matanya yang berkaca-kaca seketika membuat Damar paham.


Pria itu membawa Siren dalam dekapannya"Menangislah jika itu bisa mengurangi sesak dalam hatimu" Ujar Damar sambil mengusap rambut Siren lembut


Mendengar itu membuat tangis Siren pecah. "Aku tidak menyangka jika ayah kandungku tega menjual aku seperti ini Dam. Rasanya sangat sakit" Ucapnya di sela isak tangisnya.


Damar semakin mengeratkan dekapannya."Sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang kamu tidak akan pernah datang ke tempat ini lagi. Aku akan menikahi mu nanti" Ucapnya pelan sambil membelai rambut Siren


Siren mendongak menatap wajah Damar"Apa! Kamu mau menikahi ku?" Tanya Siren sambil menatap Damar


Damar mengangguk sambil menangkup kedua pipi Siren."Iya. Setelah masa iddah mu berakhir, Aku akan menikahi mu. Akan aku jadikan kamu wanita yang beruntung" Ucapnya sambil mengusap kedua mata Siren


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Dam?. Tapi apa alasan kamu mau menikahi ku. Bukankah kita baru saja kenal. Kamu belum tau seperti apa aku"


"Aku sangat yakin. Bukan kah kita memiliki nasib yang hampir serupa. Apa salahnya jika mencoba saling menyembuhkan luka itu. Masih ada banyak waktu untuk kita saling mengenal. Dan alasan aku mau menikahi mu, Agar ayah kandung mu tidak lagi berani menjual mu dan menjadikan kamu sebagai wanita penghibur. Selagi aku bisa membantu, Akan aku lakukan"Ucap Damar sambil mengusap kedua mata Siren


"Aku berhutang banyak padamu Damar. 1 Milyar. Bagaimana aku akan mengganti uang sebanyak itu" Ucap Siren sendu


"Sudah. Lebih baik kita segera ke bandara. Ini tiket buat kita sudah ada"


Siren tak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk dan menuruti perkataan Damar. Merasa bersyukur karna di pertemukan dengan pria seperri Damar.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Damar pada Siren


"Awalnya aku datang kesini karna mengikuti mantan suamiku yang memiliki rencana jahat atas anak kakak ku. Kebetulan kakak ku sedang bulan madu di sini"


"Jadi maksudnya, Awalnya kaku datang kesini karna mengikuti suami kamu yang memiliki niat tidak baik pada anak kakak kamu. Lalu bagaimana bisa kamu ada di tempat tadi?"


"Aku baru mengetahui fakta jika aku bukan anak kandung papa. Dan mamaku mengatakan jika ayah kandung ku tinggal di bali. Karna kebetulan aku ada di sini, Akhirnya aku memutuskan mencari sosok ayah yang tidak pernah aku tau"


"Berbekal ciri-ciri dan juga nama, Akhirnya aku bisa menemukan ayah kandungku. Aku meminta bantuannya untuk menggagalkan rencana mantan suamiku. Tanpa aku sadari, ternyata aku sudah masuk ke sarang buaya"


"Tidak pernah menyangka aku memiliki ayah kandung yang hanya gila uang" Ucap Siren yang terdengar sangat lirih


"Untung saja pria yang sudah membeli ku adalah kamu. Kalau orang lain, Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku selanjutnya"

__ADS_1


Di Tempat Lain


Widi dan Ferdian yang melihat Emilia dan William di taman langsung berjalan ke arah mereka. Tanpa sadar, Widi dan Ferdian bergandengan tangan. Sambil sesekali tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Tapi yang pasti senyum Widi terukir jelas dari kedua sudut bibirnya.


Emilia masih terus terdiam sambil menghabiskan eskrim ditangannya."Kamu kenapa sayang. Aku perhatiin kamu sejak tadi diam saja. Ada apa?" Tanya William lembut sambil menangkup kedua pipi Emilia.


"Entahlah Wil. Aku merasa sangat terluka saat melihat kondisi Berlin. Ada rasa sakit dari relung hatiku. Rasanya aku ingin menjadi orang gua angkat untuk anak itu" Ujar Emilia dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nanti kita bantu pengobatannya ya. Apa kamu tau di mana ruang rawatnya Berlin?" Tanya William sambil menatap Emilia.


Mendengar perkataan William, Seketika wajah Emilia terlihat sangat bahagia. "Benar ya Wil. Kita akan bantu pengobatannya"


"Iya sayang, Aku janji. Bahkan kalau perlu, Kita sendiri yang carikan dokter spesialis buat dia. Tapi kaki tidak boleh sedih lagi ya"


"Iya Wil. Tapi apa tidak sebaiknya kita angkat Berlin menjadi anak kita?" Ucap Emilia pada William


"Tidak perlu sayang. Karna Berlin tentunya harus selalu ada yang mendampingi. Sedangkan kita sama-sama sibuk dan jarang di rumah. Jadi akan lebih baik kalau Berlin tetap di panti asuhan"


"Kamu benar juga Wil. Terimakasih ya Wil. Terima Kasih karna kamu sudah mau ikut membiayai Berlin" Ucap Emilia sambil memeluk William.


Tak berselang lama, Ferdian dan Widi sudah tiba di sana. Kedua orang itu masih terus bergandengan tangan tanpa sadar.


Emilia dan William melihat langkah kaki. akhirnya melepaskan pelukan itu, Melihat Widi dan Ferdian bergandengan tangan membuat William dan Emilia saling lirik.


Ada apa dengan mereka berdua. Pikirnya


"Kak Widi. Kakak kok di sini?" Tanya Emilia pada Widi


"Iya Em. Saat mendengar jika kamu tertembak, Aku langsung panik dan khawatir. Awalnya aku kesini mau bareng Alex, Tapi tiba-tiba saja ada pekerjaan yang harus Alex selesaikan"


"Aku sudah tidak kenapa-napa kok kak. Emil sudah baik-baik saja. Terimakasih ya kalian sudah mau kesini. Terimakasih Fer" Ujar Emilia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Iya sama-sama Em."


Tiba-tiba saja William mengatakan hal yang membuat Widi dan Ferdian cukup terkejut.


"Apa kalian sedekat itu sampai tidak mau melepaskan tangan"

__ADS_1


__ADS_2