
Melihat dokter dan juga beberapa perawat berlari pada ruangan rawat Emilia membuat William penasaran. Apa yang saat ini terjadi. Pria itu bangun dan langsung berlari untuk mencari tau apa yang membuat mereka sampai berlari seperti itu.
"Ada apa sus. Apa yang terjadi?" Tanya William begitu penasaran
"Detak jantung pasien berhenti pak" Jawabnya panik
"A..apa!"
Betapa terkejutnya William saat mendengar apa yang baru saja suster katakan. Dunianya seakan berhenti berputar untuk beberapa saat. Rasanya seperti di sambar petir di siang hari.
"Tolong keluar dulu ya pak. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik" Ucap suster itu pada William
"Tapi sus. Saya mau melihat istri saya" Ucapnya sangat pilu
"Iya pak. Tolong tunggu di luar dulu" Ucap suster itu lagi
Akhirnya dengan sangat terpaksa William keluar dengan membawa Nathan bersamanya. Berat rasanya untuk keluar dari ruangan Emilia.
"Papi, Mami kenapa?" Tanya Nathan yang tidak mengerti dengan kondisi Emilia
"Mami tidak apa-apa sayang. Hanya saja dokter periksa mami biar maminya Nathan cepat sadar" Ucap William sambil membelai rambut Nathan.
Pikirannya kemana-mana. William benar benar takut jika sampai Emilia tidak tertolong. Pria itu memejamkan kedua matanya yang terasa sangat panas. Ingin rasanya menangis, Tapi William masih memikirkan perasaan Nathan.
William tidak mau jika sampai Nathan tau apa yang sebenarnya terjadi pada maminya. "Tahan Wil. Jangan sampai kamu jatuhkan air mata itu di depan Nathan. Kamu tidak boleh membuatnya semakin takut" Ucap William dalam batinnya sambil terus memeluk Nathan erat.
Tak berselang lama, Siren datang karna juga merasa penasaran saat melihat William berlari beberapa saat yang lalu.
"Ada apa kak? Kok Nathan nangis?" Tanya Siren sambil menatap William
"E..emilia" Belum sempat William menyelesaikan perkataannya, Tiba-tiba saja pintu ruangan Emilia terbuka.
Melihat itu membuat William langsung berdiri karna begitu penasaran dengan keadaan Emilia. "Bagaimana keadaan istri saya Sus?" Tanya William dengan raut khawatirnya
Perawat itu tak langsung menjawab. Dia masih menatap William, Siren dan juga Nathan"Kok diam saja sus. Istri saya baik-baik saja kan?" Ulang William lagi
Perawat itu mengambil nafas panjang"Mohon maaf pak. Ibu Emilia tidak tertolong" Ucapnya
Mendengar kata itu membuat William terdiam. Ini hanya mimpi buruk. Iya ini hanyalah mimpi buruk yang tak sengaja singgah dalam tidur William.
__ADS_1
"Aku mohon, Semoga saja ini hanyalah mimpi. Jika memang ini hanya mimpi, Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini" Ucap William dalam batinnya
"Inalillahi" Ucap Siren sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya
Mendengar itu membuat William tersadar"Apa yang kamu katakan Siren. Ini hanya mimpi" Ucap William pada Siren
Melihat William seperti itu membuat Siren menjatuhkan air matanya. "Ini bukan mimpi kak, Ini kenyataan. Emilia tidak tertolong" Ucap Siren pada William dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jangan bercanda Siren. Tolong bangunkan kakak dari mimpi buruk ini. Mimpi ini terlalu buruk, Aku gak sanggup" Ucap William yang terdengar sangat lirih
"Ini bukan mimpi kak. Ini kenyataan" Ucap Siren lagi
Setelah itu William masuk ke dalam ruangan Emilia meninggalkan Nathan yang masih terlihat bingung. Kemudian Siren menggendong Nathan dan membelai rambutnya.
Dari ambang pintu, William langsung bisa melihat tubuh Emilia sudah di tutupi dengan kain kafan. Melihat itu membuat tubuhnya bergetar, Dadanya terasa sangat sesak. Hingga tak lama kemudian air mata itu berhasil lolos membasahi kedua pipinya.
"Kenapa dokter melakukan ini. Istri saya masih hidup dokter! Bisa-bisanya dokter menutupi wajah cantik istri saya dengan ini" Ucap William sambil membuang kain kafan yang tadi sempat menutupi wajah Emilia
Setelah itu. William memeluk Emilia sangat erat, Kedua matanya sudah sangat basah."Sayang, Ayo bangun. Jangan tidur terus seperti ini." Ucap William sambil memeluk tubuh Emilia yang sudah terlihat sangat pucat
"Sayang. Memangnya kamu tidak lelah tidur terus? Hmmm. Ayo dong bangun sayang. Kita kan sedang honeymoon. Tolong bangun buat aku dan juga Nathan anak kita" Ucap William lagi
"Aku mohon jangan seperti ini sayang. Tolong kamu bangun. Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpa kamu. Bagaimana caranya aku membesarkan Nathan tanpa ada kamu di sampingku. Aku mohon bangun sayang" Ucap William yang terdengar sangat lirih
"EMILIA BANGUN! JANGAN PRANK AKU DENGAN CARA INI. AKU TAU KAMU HANYA MAU MENGERJAI ALU KAN? KARNA AKU SELALU BIKIN KAMU KESEL. EMILIA AYO BANGUN!!" Teriak William sambil terus memeluk Emilia
DI BAWAH ALAM SADAR
Emilia berjalan di tengah kabut yang semuanya terlihat putih. Wanita itu melihat ke sekitar, Namun tidak ada siapapun di sana. Emilia terus berjalan dan berharap bisa bertemu seseorang disana. Namun lagi-lagi dia tidak menemukan siapapun di tempat itu.
"Aku dimana?" Ucapnya sambil terus melihat ke kanan dan ke kiri
"Di mana tempat ini. Kenapa aku bisa ada disini. Dimana William, Di mana Nathan" Ucap Emilia lagi
Dia merasa sangat takut karna hanya sendiri di tempat itu. Hingga tak lama, Emilia mendengar suara seseorang dan membuatnya langsung membalikkan tubuhnya.
"Kamu ngapain disini nak. Ini bukan tempat kamu" Ucap seorang wanita paruh baya
Mendengar suara itu membuat Emilia membalikkan tubuhnya. Kedua matanya memicing karna merasa tidak mengenal dengan wanita yang saat ini ada di depannya.
__ADS_1
"Ibu siapa?" Tanya Emilia sambil mendekat.
"Kamu tidak akan tau siapa saya. Saya Mira. Kembalilah, Tempat kamu bukan disini. Mereka sedang menunggu kamu untuk kembali" Ucap seseorang yang mengatakan jika namanya adalah Mira
"Ibu Mira. Kenapa ibu meminta saya untuk kembali. Saya ingin di sini bu. Tempat ini sangat nyaman, Dan saya sangat menyukai tempat ini" Seru Emilia sambil menatapnya
Mendengar itu membuat Mira mendekat dan langsung memeluk Emilia. "Percayalah, Di tempat mu jauh lebih indah. Ini bukan tempat kamu nak. Kembalilah, Mereka semua masih sangat membutuhkan kamu. Anak, Suami, Kedua orang tuamu dan juga kakak mu sangat menunggu kamu kembali" Ucapnya lagi
"Tapi saya tidak memiliki kakak bu"
"Ada, Hanya saja kamu belum tau siapa dia. Sekali lagi saya katakan, Kembalilah. Tempat ini memang indah, Tapi di tempat ini kamu hanya sendiri. Kembalilah mereka semua menunggumu" Ucap Mira dan langsung berlalu dari hadapan Emilia
"Bu, Tunggu. Kenapa ibu pergi meninggalkan saya" Ucap Emilia sambil mengejar bu Mira. Namun semakin Emilia mengejar, Sosok itu semakin menjauh dah hilang tiba-tiba.
"Kemana ibu itu" Ucap Emilia pelan
Tak berselang lama, Emilia mendengar suara isak tangis anak kecil dan juga suara William yang begitu pilu. Hal itu membuat Emilia terdiam untuk beberapa saat.
*Mami, Jangan pergi. Jangan tinggalkan Nathan mami. Kalau mami pergi, Nanti Nathan sama siapa. Nathan mohon bertahan demi Nathan mami
Sayang, Aku mohon jangan tinggalkan aku dan juga Nathan. Jangan biarkan aku merasakan mimpi buruk ini sayang. Ini terlalu menyakitkan. Aku mohon kembalilah, Bagaimana caranya aku hidup tanpa ada kamu di sampingku. Seharusnya aku yang tiada, Bukan kamu, Kenapa kamu harus berkorban untukku*.
Suara itu tiba-tiba terngiang pada indra pendengaran Emilia. "Itu kan suara mereka. Tapi di mana mereka, Kenapa aku hanya bisa mendengar suaranya saja"
Alam Sadar
"Sudah pak. Ikhlaskan istri anda, Mungkin ini memang sudah waktunya istri anda pergi" Ucap dokter itu pada William
"JANGAN ASAL BICARA DOKTER, SAYA SUDAH KATAKAN, ISTRI SAYA MASIH HIDUP. DIA BELUM MENINGGAL SEPERTI APA YANG SUDAH DOKTER KATAKAN. JIKA TIDAK BISA JADI DOKTER, MEMUNDURKAN DIRI SAJA" Sentak William pada dokter itu
Tanpa William sadari, Satu bulir bening itu jatuh pada pipi Emilia. Ini pertama kalinya William menangis setelah dewasa. Rasa cintanya terhadap Emilia membuatnya hampir gila.
Apalagi saat melihat Nathan menangis sambil menggenggam tangan Emilia, Membuat dada William terasa semakin sesak.
"Tuhan, Kenapa engkau harus menghadirkan mimpi buruk ini. Aku tidak kuat, Mimpi ini terlalu menyakitkan" Ucap William yang terdengar sangat pilu sambil terduduk di lantai
Tak berselang lama, Siren tak sengaja melihat jari-jari Emilia bergerak. Awalnya Siren mengira jika dia hanya salah liat, Tapi ternyata jari-jari itu kembali bergerak.
Melihat itu membuat Siren mengatakan kepada dokter jika jari-jari Emilia bergerak"Dokter, Jarinya kak Emil bergerak" Ucapnya sambil menatap dokter itu
__ADS_1