
"Kamu kenapa, Sayang? Kok terlihat gelisah begitu?" tanya William sambil melirik pada Emilia. .
"Entahlah, Wil. Aku masih kepikiran sama papa. Rasanya aku tidak ingin jauh dari papa dan juga mama. Tapi mau bagaimana lagi, Kalau aku tidak kembali ke bogor, Nanti bagaimana dengan klien-klien aku di sana. Mana banyak pesenan gaun yang belum aku desain lagi" balas Emilia sambil mengambil nafas panjang.
"Itu artinya nanti kita akan sama-sama sibuk, Sayang. Bagaimana kalau kita minta tolong mama buat antar Nathan sekolah, Mama pasti seneng banget"
"Memangnya Nathan mau? Dan mama juga memangnya bisa?" balas Emilia sambil menoleh pada Nathan.
"Kalau Nathan mau kok mami. Oma juga pasti mau nganter Nathan sekolah. Apalagi neneknya temen Nathan ada yang teman lama oma"
"Oh ya, Memangnya neneknya siapa, Nat?" tanya Emilia sambil menoleh pada Nathan.
"Itu loh mi. Neneknya Hanum"
"Ya sudah, Kalau begitu biar aku hubungi mama"
"Jangan, Wil. Lebih baik kita langsung ke tempat mama saja" usul Emilia pelan.
"Kamu benar juga sayang"
*
*
*
Tanpa terasa satu minggu sudah berlalu, Seperti yang sudah direncanakan, Nathan akan berangkat sekolah bersama dengan mamanya William.
"Sayang, Hari ini pekerjaanku padat banget. Nanti malem kamu kalau mau makan malam tidak usah tunggu aku ya, Insyaallah aku lembut entah sampai jam berapa" gumam William sambil menatap Emilia yang tengah sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.
__ADS_1
"Oh iya Wil. Hari ini aku juga sibuk. Mungkin sebaiknya nanti sepulang sekolah Nathan ikut mama dulu kali ya. Dari pada di sini tidak ada temennya. Mana gak ada kak Widi juga"
"Itu lebih baik sayang. Kamu jangan capek-capek ya. Karna mau bagaimanapun, Kondisi kamu juga belum terlalu baik. Aku tidak mau kamu kecapean sayang. Kamu paham maksud aku kan" kata William yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaran Emilia.
Mendengar itu membuat Emilia mengangkat kedua sudut bibirnya. Emilia menatap kedua manik mata William dengan hangat"Iya suami. Kamu tenang saja, Aku tidak akan capek-capek kok. Kamu juga jangan capek-capek ya. Karna aku juga tidak mau kalau sampek papi Willi sakit" balasnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Iya sayang pasti. Nanti siang kita makan siang bareng ya. Kebetulan aku ada meeting di daerah dekat butik milik kak Widi. Nanti aku belikan makanan kesukaan kamu. Mau kan sayang?"
"Gak mau" balas Emilia sambil mengulum bibirnya. .
William mengerutkan kecil keningnya"Kok gak mau, Sayang. Kamu gak suka ya makan bareng sama aku?" William menundukkan wajahnya sedih saat mendengar kata tidak mau dari Emilia.
Melihat raut wajah William membuat Emilia menangkup kedua pipi suami mesumnya"Bercanda, Sayangku. Lagian kenapa kamu masih tanya aku mau apa nggak. Tanpa aku jawab sekalipun, Seharusnya kamu tau apa jawaban dari pertanyaan kamu tadi" ucapnya pelan.
"Cup. Terimakasih sayang" Emilia membelalakkan kedua matanya saat mendapat kecupan singkat di bibirnya dari William. Apalagi ini di depan Nathan.
Nathan terkekeh sambil menutup kedua katanya"Cie mami sama papi" gumam Nathan sambil menutup kedua matanya.
"Biarkan saja, Lagian kamu kan istri aku, Suka suka aku dong mau melakukan apa saja. Lagian kan cuma Nathan, Tentunya Nathan senang melihat mami dan papinya romantis. Iya kan Nak?" ujarnya sambil melirik pada Nathan yang sudah menikmati roti dengan selai coklat buatan Emilia.
Setiap pagi. Nathan memang lebih suka sarapan dengan segelas susu putih hangat serta roti tawar dengan selai coklat atau stroberi. Atau nasi goreng buatan Emilia.
"Iya. Papi. Nathan bahagia, Akhirnya bisa memiliki keluarga yang utuh seperti harapan Nathan sejak dulu. Mulai sekarang tidak ada lagi yang bakal ngatain Nathan anak haram" ucap Nathan sambil menatap William
Mendengar perkataan Nathan membuat Emilia dan William saling lirik. Ada rasa sakit dari kata-kata anak haram..
"Maafkan aku yang baru bisa menemukan kalian, Maaf papi ya, Nathan. Maaf kau juga sayang. Maafkan aku yang sudah membuat kamu menanggung semuanya seorang diri" kata William lirih.
"Sudahlah, Wil. Semuanya sudah berlalu. Tidak usah lagi menoleh ke belakang, Untuk saat ini lebih baik kita fokus melihat ke depan. Fokus dengan masa depan nanti"
__ADS_1
"Apa yang di katakan mami benar, Papi. Lupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Yang terpenting saat ini semua sudah baik-baik saja dan tepat seperti apa yang Nathan harapkan selama ini" gumam Nathan pada William.
"Sekali lagi maafkan papi ya sayang. Maafkan papi yang tidak ada di saat mereka mengatakan kamu anak haram"
"Tidak apa-apa, Papi. Yang penting kan Nathan bukan anak haram. Nathan punya papi. Nathan sayang sama mami juga papi"
πππ
17 Tahun Kemudian
"Nathan. Bangun sayang, Ini sudah pagi, Yok bangun yok. Jangan males-malesan seperti itu" kata Emilia sambil menyibak selimut Nathan.
"Lima menit lagi ya, Mi. Nathan masih sangat mengantuk" balas Nathan dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"No, Gak ada lima menit lagi. Ayo bangun sekarang, Kamu lupa kalau hari ini harus menjemput Haruka. Ini kan hari pertama Haruka masuk sekolah di sekolah kamu Nathan"
Dengan malasnya, Akhirnya Nathan pun membuka kedua matanya yang masih terasa sangat berat. " kan bisa berangkat sendiri, Mi. Kenapa harus bersama dengan Nathan" protes Nathan pada Emilia.
"Sudah tidak usah protes. Cepat bangun lalu mandi. Mami sudah siapkan nasi goreng buat kamu sarapan"
Setelah mengatakan hal itu, Emilia keluar dari dalam kamar Emilia. Nathan mengacak rambutnya kasar ketika mendengar jika hari ini harus menjemput Haruka dan berangkat sekolah bersama.
"Aahhh. Kenapa juga gadis itu harus menyusahkan gue. Awas saja kalau sampai nanti di sekolah bikin ribet" gumam Nathan sambil berjalan ke arah kamar mandi.
15 menit kemudian, Nathan sudah siap dengan seragam sekolahnya. Topi hitam serta hoodie putih sudah menempel sempurna.
"Jangan sampai kebersamaan gue dengan Haruka membuat anak-anak salah paham. Kalau bukan karna om Daffi, Ogah banget gue mau jemput dan berangkat bersama dengan wanita rese yang menyebalkan itu" kata Nathan di sela langkahnya.
Nathan masih bisa teringat jelas bagaimana pertemuannya dengan Haruka satu minggu yang lalu. Karna memang setelah lulus sekolah dasar, William dan Emilia membawa Nathan keluar negri dan melanjutkan sekolah di sana.
__ADS_1
"Mimpi apa semalam, Kenapa harus kembali bertemu sama wanita jadi-jadian itu. Harus berangkat bareng lagi"