
Setelah kepergian Bagas, William mengambil ponselnya dari dalam saku jaketnya. Saat ini William sudah siap dengan menggunakan jaket driver ojol. Entah kenapa William begitu menikmati profesinya yang sebagai driver online.
Tak butuh waktu lama, William bisa langsung mendengar nada dering ponsel orang yang saat ini sedang dia hubungi.
π:Halo Wil. Ada apa? Tumben kamu telpon?
π:Gak apa-apa kok Dam. Gue cuma mau mengatakan jika gue akan segera menikah. Dan gue mau elo hadir dan menjadi saksi dalam acara penting gue
π;Widih. Lama tidak ada kabar langsung mau nikah aja nih. Pasti gue hadir kok Wil. Kalau boleh tau, Lo menikah dengan siapa?
π:Mau gue kasih tau pun elo gak bakal tau Dam. Sudah dulu ya. Gue masih sangat sibuk. Pokoknya lo harus benget datang ya Dam
π:Kebiasaan selalu sibuk. Gue pasti datang Wil. Gue doakan semoga acaranya lancar sampai hari H ya Wil
π:Terimakasih Dam
Tut...tut...tut...
Setelah sambungan telponnya terputus. William mencari nomor ponsel Emilia, Entah kenapa setiap melihat foto Emilia bersama Nathan yang dia pasang sebagai foto profil membuat William ingin langsung bertemu dengan mereka berdua.
Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya sambil mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Emilia.
[ Hai mami, Selamat pagi. Bagaimana kabarnya mami? ]
Tak butuh waktu lama pesan yang William kirim untuk Emilia langsung centang dua dan biru saat itu juga.
Kring
Saat mendengar ponselnya ada satu notifikasi membuat William dengan cepat membuka pesan masuk yang pastinya dari Emilia.
[ Baru juga kemarin yang bertemu, Masa sudah menanyakan kabar ]
Melihat balasan Emilia membuat William mendengus kesal. Kenapa wanita itu tidak mengerti apa maksudku. Pikirnya
[ Masa mami tidak paham. Aku merindukan mami juga Nathan ] Send
Kring
[ Jangan merindukan calon istri orang. Nanti takut ada masalah, Apalagi kamu juga sudah menjadi calon suami orang, Aku tidak mau di anggap pengganggu hubungan orang lain ]
Setelah membaca pesan balasan dari Emilia membuat William mengambil nafas panjang. Pria itu memang sering melupakan jika dia dan Emilia sebentar lagi akan menikah dengan calon masing-masing.
Mengingat akan hal itu membuat William tersadar jika sebentar lagi dirinya memang akan menyandang sebuah status baru sebagai seorang suami. Suami dari wanita yang yak pernah William tau seperti apa wajahnya.
"Kenapa aku sering lupa jika kita akan menikah dengan calon masing-masing Em. Apa setelah itu aku akan benar-benar kehilangan kamu! Apakah semua penantianku selama ini hanya berakhir sia-sia dan tidak ada artinya apa-apa Em" Ucapnya yang terdengar begitu pilu sambil menatap foto Emilia.
Di tempat lain. Emilia juga masih menunggu balasan William atas apa yang sudah di balaskan pada William beberapa saat yang lalu.
Kring....kring
Mendengar ada notifikasi yang masuk membuat Emilia langsung menatap kembali ponselnya. Wanita itu membuka pesan yang sudah William kirim untuknya.
[ Terkadang aku memang suka lupa jika kita tidak akan pernah bisa bersama Em. Tapi apakah aku salah jika merindukan kalian berdua? Jujur, Kamu dan Nathan adalah hal terbesar yang ingin aku miliki ]
[ Maafkan aku yang hingga saat ini masih begitu menginginkan kebersamaan kita Emilia. I Love You so much ]
Setelah membaca pesan dari William, Emilia memejamkan kedua matanya yang sudah mulai terasa panas. Karna bukan hanya William yang menginginkan kebersamaan mereka, Emilia sebenarnya juga memiliki keinginan yang serupa dengan William.
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga begitu menginginkan kebersamaan kita Wil. Tapi apa boleh buat, Takdir tidak berpihak sama kita berdua, Kamu datang di saat yang tidak tepat" Ucap Emilia sambil menatap pesan William.
[ Sebaiknya mulai sekarang kita tidak perlu berhubungan lagi Wil, Karna semakin kita dekat, Maka akan semakin sulit kamu melupakan aku, Begitu juga sebaliknya ] Send
[ Biarpun berat, Tapi kita harus bisa mencoba sejak hari ini Wil. Karna jika kita masih bertemu, Perasaan yang kamu miliki akan semakin besar. Belajarlah membuang perasaan itu Wiliam. Karna mau bagaimanapun, Perasaan kita ini adalah sebuah kesalahan ] Send
"Kenapa rasanya begitu berat. Apakah aku juga sudah benar-benar mencintainya" Ucap Emilia pelan
Kring...kring...kring
Emillia kembali membuka ponselnya yang ada beberapa notifikasi pesan masuk.
[ Apakah aku bisa Em! Apakah aku bisa melupakan kamu dan membuang semua perasaan ini? Sedangkan kamu sendiri sudah pasti tau jika perasaanku saat ini sudah benar-benar sedalam itu Emilia ]
[ Tapi jika memang itu yang kamu inginkan, Aku akan mencobanya Em. Tapi aku mohon, Biarkan aku bertemu dengan kamu dan Nathan untuk yang terakhir kalinya Em. Karna setelah pernikahan itu benar-benar terjadi, Maka kita sudah tidak mungkin bisa walaupun hanya sekedar bertemu ]
[ Sebelum janur kuning melengkung. Aku mohon izinkan aku untuk menikmati waktu bersama kalian berdua. Setelah itu aku janji tidak akan pernah lagi menghubungi mu. Hanya saja aku pasti akan datang ke sekolah Nathan jika sedang merindukannya ]
Setelah membaca pesan itu, Emillia menundukkan wajahnya. Entah kenapa rasanya begitu berat saat William menyetujui apa yang sudah dia kirimkan.
[ Baiklah. Setelah itu aku mohon, Lupakan semua tentang apa yang sudah pernah terjadi di antara kita ] Send
Sesudah itu, Emilia meletakkan kembali ponselnya. Wanita itu melanjutkan pekerjaannya yang sudah dia lupakan beberapa saat yang lalu karna sibuk berbalas pesan dengan William.
"Sebaiknya aku segera selesaikan
pesanan bu Wika. Jangan sampai buat dia kecewa" Ucap Emilia sambil melanjutkan Design Nya.
Di tempat Lain
"Entahlah pa. Mama tiba-tiba saja mengingat anak kecil yang kemarin sempat mau papa tabrak" Ucap Melinda sendu
Wirayudo yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya. "Kenapa mama bisa kepikiran anak itu? Kita kan tidak pernah mengenalnya" Tanya Wira sambil mendekat ke arah Melinda
"Mama juga tidak tau pa. Melihat wajahnya membuat mama teringat sama Emilia. Mama benar-benar merindukan anak kita pa" Ucap Melinda lagi sambil menahan butiran bening itu yang sudah menumpuk di kedua pelupuk matanya
"Bukan hanya mama yang merindukan Emilia. Papa jug sangat merindukan Emilia ma. Mama tau sendiri kan jika papa begitu menyayangi Emilia" Pekik Wirayudo sambil memeluk melinda yang sudah terisak
"Jika saja saat itu papa tidak terlepas kata, Mungkin saat ini kita masih bisa berkumpul bersama dengan Emilia pa"
"Maafkan papa ma, Papa benar-benar menyesal" Ucap Wirayudo dengan penuh penyesalan
Mendengar perkataan Wirayudo membuat Melinda terdiam. Di sini Melinda tidak bisa sepenuhnya menyalahkan suaminya. Karna semua ini juga tidak akan pernah terjadi jika Emilia tidak membuat sebuah kesalahan yang sangat fatal. Sehingga membuat sang papa benar-benar merasa kecewa dan terluka dengan apa yang sudah terjadi pada Emilia.
"Apa papa sudah mencari tai tentang Emilia di kota ini?" Tanya Melinda setelah beberapa saat terdiam.
Wirayudo menatap Melinda, "Sudah ma. Tapi tidak ada satu orang pun yang tau di mana tempat tinggal Emilia. Yang mereka tau hanyalah Emilia seorang pengacara"
"Kapan kita bisa bertemu dengan Emilia pa. Mama sudah benar-benar ingin bertemu dengannya" Ucap Melinda lagi
"Sabar ma. Kita cari Emilia pelan-pelan. Setidaknya sekarang kita sudah tau jika Emilia tinggal di kota ini. Papa janji, Kita tidak akan kembali ke jakarta sebelum Emilia di temukan"
"Janji ya pa. Jangan pernah pulang ke jakarta sebelum Emilia kembali pada pelukan kita"
"Iya ma, Papa janji sama mama. Lagian kita juga di minta Bagas sama Liana untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan anaknya yang akan berlangsung 5 hari lagi"
"Iya pa. Di samping itu, Kita juga harus sambil mencari keberadaan Emilia"
__ADS_1
Di Tempat Lain
Hari ini adalah hari dimana Ferdian akan mengadakan janji temu bersama dengan salah satu klien yang selama ini Ferdian nantikan.
BAGASKARA GROUP. Sudah sekian lama Ferdian mengincar kerja sama dengan perusahaan besar itu. Selain bergerak di bidang Fashion. BAGASKARA GROUP Juga bergerak di bidang Ekspor impor. Dan Ferdian sudah sangat lama menantikan kerja sama dengan perusahaan itu.
"Akhirnya hari ini aku akan menjalin kerja sama dengan perusahaan BAGASKARA GROUP" Ucap Ferdian sambil mempersiapkan berkas-berkas yang akan dia gunakan untuk meeting hari ini.
Setelah itu, Ferdian keluar dari dalam kantornya. Pria itu naik ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju ke arah sebuah restoran yang akan menjadi tempat nya meeting bersama dengan CEO Bagaskara group.
Tak butuh waktu lama. Ferdian sudah tiba di sebuah restoran yang terkenal bagus dan makanannya enak-enak.
Namun sebelum masuk ke dalam restoran itu, Langkah Ferdian terhenti saat ada suara seseorang yang memanggil namanya. Mendengar namanya di panggil membuat Ferdian menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa kamu?" Tanya Ferdian pada wanita itu
"Masa kamu sudah lupa sama aku Fer. Ini aku Sintia, Sahabatnya Emilia. Lama ya kita tidak bertemu, Aku gak nyangka sekarang kamu sudah sangat berubah" Ucap Sintia pada Ferdian
"Aku juga tidak nyangka kamu sudah berubah semakin cantik Sin. Maaf ya kita ngobrol lain waktu, Aku sedang buru-buru" Ucap Ferdian dan langsung berlalu dari hadapan Sintia
Setelah itu, Akhirnya Sintia juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran dan mencari sebuah meja dengan nomor 07. Sesuai dengan nomor meja pesanan Alex.
Beberapa saat yang lalu. di saat sedang mau berangkat meeting, Alex mendapatkan sebuah pesan dari William. Pria itu meninta Alex untuk segera datang ke alamat yang sudah dia sherlock. Sedangkan meeting William minta untuk di handle pad Sintia. Selaku sekertaris di perusahaan itu.
Sintia belum sempat bertanya dengan siapa dia akan meeting siang ini. Yang Sintia tau hanyalah. Dia akan meeting dengan CEO dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Ekspedisi.
Sintia berjalan setelah menemukan nomor meja yang dia cari."Permisi, Selamat siang. Mohon maaf saya datang terlambat" Ucap Sintia yang belum melihat wajah pria yang ada di depannya.
Mendengar suara seorang wanita membuat Ferdian menoleh ke arahnya "Tidak apa-apa. saya juga baru saja sampa...i" Ucap Ferdian
"Ferdian. Sintia" Ucap mereka secara bersamaan
Di butik Widi
Sejak tadi Widi diam-diam memperhatikan Emilia yabg saat ini masih fokus pada pekerjaannya. Perempuan itu mengangkat kedua sudut bibirnya saat mengingat akan William.
"Ternyata allah memiliki cara lain untuk menyatukan kalian" Ucap Widi dalam batinnya.
Saat Widi teringat akan foto yang di kirim oleh Alex. Wanita itu baru menyadari satu hal. Widi baru sadar jika orang yang dulu pernah membantu membantunya membawa Emilia ke klinik serta memberikan sebuah gelang couple adalah William. Ayah kandung Nathan sendiri.
"Astaga. Kenapa aku baru menyadari hal itu" Ucap Widi keras tanpa sadar.
Emilia yang begitu terkejut langsung menaruh pensilnya dan menoleh ke arah Widi yang saat ini sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa aku baru menyadari hal itu, Ya ampun. Ternyata sejak dulu mereka sudah di pertemukan" Ucap Widi lagi
"Mereka siapa kak?" Tanya Emilia yang sejak tadi begitu penasaran dengan apa yang sudah Widi katakan.
Mendengar suara Emilia membuat Widi merasa panik. Namun dengan cepat wanita itu memberikan sebuah alasan yang langsung mampu membuat Emilia percaya dengan apa yang sudah Widi katakan padanya.
"Mereka siapa kak?" Tanya Emilia lagi
"Oooh itu mereka yang tinggal di depan kita Em. Mereka kan masih pengantin baru. Ternyata mereka sudah di pertemukan sejak dulu. Gitu Em" Terang Widi pada Emilia.
Entah kenapa Widi tiba-tiba saja teringat akan pasangan yang baru saja pindah di sebrang jalan rumah mereka beberapa hari yang lalu.
"Maafkan aku Em. Bukan maksudku membohongimu. Hanya saja aku mau ini menjadi sebuah kejutan untuk kalian. Aku doakan semoga pernikahan kalian lancar sampai hari H. Aku benar-benar terharu dengan kisah kalian berdua" Ucap Widi dalam batinnya
__ADS_1