
Emilia dan William berdansa dengan kedua mata yang saling memandang. Emilia memandang mata William, Begitu juga sebaliknya. Mereka berdua terlihat begitu serasi.
Entah kenapa Emilia merasa saat ini begitu bahagia. Rasa bahagia yang sudah sangat lama tidak pernah Emilia rasakan,
Baik Emilia ataupun William, Tidak ada yang mau memutuskan pandangan mereka. Keduanya masih sama-sama begitu menikmati suasana. romantis hari ini. Hingga tiba-tiba Emilia mendengar suatu hal yang tak pernah dia duga sebelumnya.
"Aku mencintaimu Emil. Sangat! Aku masih begitu berharap semoga suatu saat nanti kita masih bisa diperjodohkan" Ucap William yang terdengar begitu pilu.
Mendengar ucapan William membuat Emilia semakin menatap kedua bola mata sayu itu. Entah kenapa Emilia juga merasa punya harapan yang serupa dengan William.
"Jangan berharap sesuatu yang tidak mungkin Wil. Kita sudah sama-sama mau menikah. Buka lembaran baru dan mulai lah hidup baru bersama dengan istrimu nanti" Ujar Emilia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya yang begitu berat.
Emilia tau pasti apa yang sedang dirasakan oleh William saat ini. Karna dia juga merasakan hal yang sama. Rasanya begitu berat untuk menjalankan pernikahan dengan laki-laki yang tak pernah Emilia kenal.
Emilia menerima perjodohan itu karna Liana yang sudah begitu baik padanya juga Nathan. Kebaikan yang selalu Liana berikan untuk Emilia membuat dia tak mampu memberikan sebuah penolakan saat Liana memintanya untuk menikah dengan putra satu-satunya yang dia miliki.
"Tapi apa aku salah jika punya harapan untuk bisa bersama dengan kalian berdua?"
"Tidak ada yang salah dengan harapan yang kamu miliki Wil. Yang salah hanyalah perasaan yang kamu miliki untukku. Berjanjilah kamu akan mencintai wanita yang akan kamu nikahi" Ucap Emilia
"Aku tidak yakin untuk itu Emil. Sudah 5 tahun rasa cinta yang aku miliki ini untukmu. Tidak mudah membuang perasaan yang sudah mendarah daging"
"I Love you so much Emil" Pekik William begitu tulus dan dalam.
William membawa Emilia dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang menurut mereka akan menjadi pelukan terakhir.
"Jangan seperti ini Wil. Aku tidak enak di lihat orang lain" Ucap Emilia mencoba melepaskan pelukan William.
Walaupun sebenarnya dia juga menikmati pelukan William. Aroma tubuh William yang khas selalu mampu membuat jiwa Emilia terasa begitu tenang.
"Biarkan kita seperti ini Em" Ucap William lagi
Hingga tanpa Emilia dan William sadari, Mereka sudah hampir 1 jam berdansa dan berakhir berpelukan seperti saat ini. Mereka berdua sampai melupakan Nathan yang saat ini sudah tertidur di atas sofa meja VIP sesuai pesanan William.
__ADS_1
"Ya ampun Wil, Kita melupakan sesuatu" Ujar Emilia tiba-tiba
"Melupakan apa Emil?"
"Astaga, Nathan" Ucap mereka secara bersamaan.
Setelah itu, William dan Emilia langsung menyudahi acara dansanya. Mereka menoleh ke arah Nathan yang sudah begitu lelap dalam tidurnya.
"Kasian banget Nathan Wil. Apa kita dansanya begitu lama sampai Nathan ketiduran disini"
"Sepertinya begitu Em. Tadi kita sudah menghabiskan beberapa lagu romantis"
"Kita pulang sekarang ya Wil"
"Makan dulu saja Em. Kamu juga belum makan kan. Ini Nathan biarkan tidur dulu disini"
"Baiklah"
•
•
Entah kenapa wajah Emilia selalu terbayang dalam ingatan William. Rasa cinta yang William miliki sudah benar-benar mendarah daging.
"Kenapa perasaanku harus sebesar ini Emil. Aku benar-benar mencintai kamu" Ucap William sambil memandang foto Emilia.
Di saat William masih sibuk memperhatikan gambar Emilia. Tiba-tiba terdengar suara khas mamanya yang menerpa indra pendengaran William.
Liana datang dengan membawa undangan pernikahan milik William dan Emilia. Undangan itu Liana pesan saat bersama Emilia beberapa hari yang lalu. Emilia juga yang sudah memilih Design gambarnya.
"Wil. Jangan lupa nanti sebar undangan pernikahan kamu ya. Apa kamu tidak mau lihat seperti apa undangan kalian?" Ucap Liana pada William
"Nanti Wili suruh Bagas buat nyebar undangannya ma"
__ADS_1
"Apa kamu gak mau liat undangannya Wil. Itu undangannya yang pilihan calon istri kamu loh Wil" Ucap Liana lagi
"Gak usah ma. Wili liatnya nanti saja,Wili ke kamar dulu ya ma. Hari ini Wili benar-benar lelah" Ucap William dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Di Rumah Widi
Setelah tiba di rumah Widi. Emilia menidurkan Nathan ke dalam kamarnya lalu mendudukkan bokongnya di sofa panjang sambil merenggangkan otot-otot kakinya yang sudah mulai terasa pegal. Hari ini Emilia benar-benar merasa lelah.
Tak lama kemudian. Widi yang baru saja pulang langsung duduk di samping Emilia. Wanita itu memberikan undangan yang sudah dikirim oleh Liana ke butik 30 menit yang lalu.
"Kamu sudah pulang Em. Bagaimana jalan-jalannya?" Tanya Wido dan langsung ikut duduk di samping Emilia
"Baru saja aku sampai kak. Kak Widi juga baru pulang?"
"Iya Em. Hari ini kakak memang sengaja menutup butik lebih awal. Karna tadi bu Liana sudah mengirimkan undangan pernikahan kamu ke butik"
"Oh ya. Coba aku liat kak undangannya. Soalnya ini Design nya aku yang sudah memilih" Ujar Emilia sambil mengambil 1 buah undangan pernikahan yang di dalamnya sudah tertera nama EMILIA BERLIANTI tanpa ada embel-embel WIRAYUDO. Dan nama laki-lakinya WILLIAM BAGASKARA.
"Eh Em. Aku heran deh Em. Ini hanya sebuah kebetulan apa gimana ya. Kamu sadar gak si, Calon suami kamu itu namanya William juga ya. Kok bisa sama gitu sih sama nama ayahnya Nathan"
"Iya ya kak. Aku juga baru sadar sih kak. Mungkin cuma kebetulan aja kak. Ayahnya Nathan kan hanya tukang ojek. Sedangkan calon suamiku adalah anak dari ibu Liana dan bapak Bagaskara" Ucap Emilia sambil menoleh ke arah Widi
"Tapi apa kamu sudah bertemu atau lihat seperti apa wajah calon suami kamu gak Em? Tanya Widi lagi
"Belum pernah kak. Katanya mama Liana calon suami aku itu orangnya super sibuk. Jadi sampai tidak ada waktu walaupun hanya sekedar menemui aku"
"Apa kamu punya nomor ponselnya Em?"
"Tidak juga kak" Jawab Emilia polos
"Astaga Em. Jadi kalian mau menikah tanpa tau seperti apa wajah masing-masing. Bagaimana kalau calon suami kamu itu tua Em?"
"Ya kalau soal umur Emilia sudah tau sih kak. Katanya dia sudah berumur 30 tahun"
__ADS_1
"Ya baguslah kalau kamu sudah tau umurnya berapa. Setidaknya kamu hanya tidak tau sama wajahnya saja. Oh iya Em. Bagaimana tadi pas jalan sama ayahnya Nathan?"
"Entahlah kak. Kita seperti memiliki