
Emilia yang mendengar cerita William seketika langsung tertawa. Bagaimana tidak, Membayangkan saja Emilia sudah bisa tau seperti apa raut wajah William saat tadi di goda oleh kedua sahabatnya.
William yang melihat Emilia menertawakannya langsung maju dan semakin mendekat ke arah wanita ini."Ketawa lagi, Akan aku gigit kamu" Ucap William sambil menatap Emilia yang sudah terlihat menegang setelah mendengar perkataan William
"Kenapa berhenti tertawanya mami. Hah! Ayo teruskan, Siap-siap akan papi Wili gigit" Ucap William lagi sambil terus mendekat ke arah Emilia yang juga berjalan mundur.
"Ayo mami. Tertawa Lah, Dan siap-siap akan menerima hukuman dari suami tampan mu ini"
Mendengar perkataan William seketika Emilia kembali tertawa. Entah apa yang lucu dari perkataan itu, Sehingga membuat tawa Emilia pecah. Tentu saja hal itu membuat William mengejutkan keningnya. Ada apa dengan Emilia. Pikirnya
"Hahahahhahhah. Kalau memang kamu mau menggigit ku, Silahkan saja papi Wili. Tapi setelah itu, Siap-siap aku yang akan memberikan mu hukuman" Ujarnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
Ucapan Emilia membuat William menatap curiga wanita itu. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Kali ini giliran William yang berjalan mundur. Karna Emilia semakin berjalan maju hingga membuat tubuh William menempel pada dinding.
"Aku akan sunat papi Willi kalau sampai berani menggigit mami Emilia" Ucap Emilia tepat di telinga William.
Glek. William menelan ludahnya susah sambil memperhatikan Emilia yang saat ini sedang menatapnya tajam."Astaga. Kenapa punya istri harus seperti Syco begini. Ya ampun mami, Kalau sampai mami sunat papi Willi lagi. Nanti yang ada Nathan gagal punya adik yang lucu"
"Dasar mesum memang. Heran deh Wil, Otak kamu itu kok bisa selalu mengarah ke sana"
"Mengarah kesana bagaimana mami? Bukan kah papi hanya mengatakan jika kalau sampai mami sunat papi lagi. Yang ada Nathan gagal memiliki adik. Memangnya apa yang salah mami, Hmmm? Memangnya apa yang mami pikirkan tentang papi, Hah! Atau jangan-jangan, Mami yang selalu mengarah ke sana" Ucap William sambil memainkan sebelah matanya
Emilia tak bisa menjawab. Wanita itu seketika menjadi bungkam dengan perkataan William. Emilia mendadak terpaku karna bingung harus menjawab apa.
"Kenapa tidak menjawab mami sayang. Memangnya pikiran papi mengarah kemana mami. Hmmm?"
"Tau ah Wil. Katanya mau sholat, Kok malah ngebacot aja sih"
"Gal bisa jawab ya mami. Pakek mengalihkan pembicaraan"
"Jadi apa tidak?" Tanya Emilia lagi
__ADS_1
"Ya jadi lah mami. Sensi sekali, Padahal tidak sedang datang bulan" Gerutu William sambil berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudhu
"Memang sensi. Habisnya jadi suami kok menyebalkan" Balas Emilia pelan
Di saat William sedang berwudhu. Emilia berjalan ke arah lemari dan mengambil mukena juga sajadah di sana. Ini adalah pertama kalinya mereka berdua akan menjalankan sholat berjamaah bersama.
Setelah menggunakan mukena, Emilia menyiapkan 2 sajadah untuknya juga William. Tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka, William menatap Emilia yang terlihat begitu cantik dengan mukena yang saat ini sedang Emilia gunakan.
"Ayo Wil. Aku sudah siapkan sarung juga koko buat kamu"Ucap Emilia sambil memberikan sarung juga baju koko itu pada William
Sedangkan William hanya terdiam sambil terus menatap Emilia tanpa mau berkedip sedetik pun. "Kamu kenapa melihat aku seperti itu Wil?"
"Kamu cantik sekali Em, Kamu benar-benar cantik seperti bidadari tak bersayap"
Perkataan itu membuat Emilia merona, Entah kenapa pujian William benar-benar membuatnya merasa sangat berbunga. Senyuman merekah terukir jelas dari kedua sudut bibir Emilia.
"Mama tidak salah memilihkan aku calon istri. Kamu benar-benar sempurna Em. Aku sangat mencintaimu" Ucap William yang terdengar begitu lembut pada indra pendengaran Emilia.
Jam sudah menunjukkan pukul 02:30, Namun Ferdian masih enggan untuk menutup kedua matanya. Bayangan Widi terus saja menghantui pikirannya. Pria itu masih mengingat jelas kejadian saat di acara ijab Qobul William juga Emilia.
"Ternyata kamu masih cantik seperti dulu kak Widi. Dan aku masih begitu mengagumimu. Kebaikan yang dulu kamu berikan sudah membuat cinta itu tumbuh dan masih ada hingga detik ini" Ucap Ferdian sambil menatap langit-langit kamarnya.
Setelah hampir 6 tahun tidak pernah bertemu, Akhirnya mereka di pertemukan lagi dalam keadaan yang sudah berbeda.
"Aku masih mengingat jelas bagaimana kak Widi menguatkan aku saat kepergian bunda. Dia sudah memperlakukan aku seperti adiknya sendiri, Tapi kenapa aku malah mencintainya"
Di saat seperti ini, Ingatan Ferdian terbawa pada kejadian 7 tahun yang lalu. Tepat di saat Ferdian kehilangan bundanya. Wanita serta keluarga satu-satunya yang Ferdian miliki
Flashback 7 tahun yang lalu
Ferdian yang baru saja pulang dari mencari kerja, Tiba-tiba saja dia melihat sudah begitu ramai orang di depan rumahnya. Melihat itu membuat Ferdian mengerutkan keningnya. Ada apa? Pikirnya
__ADS_1
Ferdian berjalan lebih cepat agar segera tiba di depan rumahnya. Setelah tiba di depan rumahnya, Betapa terkejutnya Ferdian saat melihat keadaan sang bunda sudah penuh dengan darah.
Melihat itu membuat William terpaku, Dunianya seakan berhenti berputar untuk beberapa saat. Apakah Ferdian sedang bermimpi? Tentu saja tidak. Karna itu adalah sebuah kenyataan pahit yang batu saja datang dalam hidup Ferdian.
Bagaikan di sambar petir di siang hari, Ferdian merasa dadanya terasa begitu sesak saat melihat keadaan bundanya yang sudah tidak bernyawa di depan matanya.
Kedua matanya terasa begitu panas, hingga tak lama, Butiran bening itu berhasil lolos dan membasahi kedua pipi putihnya. "Tidak mungkin, Ini hanya mimpi! Iya ini pasti hanya mimpi" Ucap Ferdian sambil mendekat ke arah bundanya.
Tak lama kemudian, Widi datang dan langsung memeluk Ferdian begitu erat. Widi sangat tau bagaimana perasaan Ferdian saat ini. Wanita itu mengusap air mata yang sudah semakin deras.
"Sabar Fer, Kakak tau ini sangat berat buat kamu. Tapi mau bagaimanapun, Ini sudah takdir. Sebaiknya sekarang kita urus jenazah bunda ya" Ucap Widi lembut sambil terus memeluk Ferdian
"Siapa yang sudah melakukan hal ini kak! Siapa yang sudah membuat bunda seperti ini?" Tanya Ferdian yang terdengar begitu lirih
"Kakak gak tau Fer. Kakak tidak tau siapa pelakunya"
"Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan. Nyawa harus di balas dengan nyawa" Ucap Ferdian sambil mengepal keras kedua tangannya
"Sudah Fer, Untuk saat ini lebih baik kamu kesampingkan dulu hal itu. Kita urus dulu jenazahnya bunda ya" Ucap Widi yang terdengar begitu lembut.
2 Hari berlalu. Widi masih begitu setia menemani Ferdian yang benar-benar terpuruk karna kehilangan sosok bundanya. Pria itu terlihat seperti tidak ada semangat hidup. Yang ada dalam otak Ferdian hanyalah ambisi untuk balas dendam.
"Aku harus balas dendam terhadap orang yang sudah melakukan ini" Ucap Ferdian sambil mengatupkan giginya
Widi yang mendengar itu kembali memeluk Ferdian sambil mengusap lembut rambutnya "Untuk balas dendam. Kamu harus bisa menjadi orang hebat. Karna segala sesuatu itu butuh uang. Jaman sekarang, Uang lah yang berkuasa" Ucap Widi sambil menatap Ferdian.
Mendengar hal itu membuat Ferdian mengangkat wajahnya. Sepertinya apa yang Widi katakan memang ada benarnya. Uang adalah segalanya. Dengan uang, Kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan.
Setelah hari itu, Ferdian mencoba memulai hidup barunya seorang diri tanpa ada sosok bundanya lagi yang akan menguatkan. Tepat saat itu juga, Widi mengatakan jika dia harus pergi dan mencari masa depannya sendiri.
Flashback off
__ADS_1
"Aku tidak menyangka. Setelah sekian lama tidak pernah bertemu, Ternyata perasaan ini masih sama kak"